
...Happy Reading......
...🌹...
Mungkin, aku dan Bagas perlu bicara lebih banyak tentang rencana kedepan kami untuk memperbaiki hubungan kami yang sudah lama terbengkalai dan tak terurus. Baik aku maupun Bagas memutuskan untuk berusaha mengerti dan menjaga privasi satu sama lain selama ini. Tapi karena ingin memperbaiki hubungan—setidaknya—kami harus saling tau tentang apapun yang sempat kami jadikan sebuah rahasia untuk diri sendiri.
Malam ini kami berencana untuk melakukan pembicaraan serius, dari hati ke hati, setelah melakukan tugas ranjang yang sudah kami rencanakan sejak pagi tadi. Dan ya, semua berjalan sesuai harapan.
Lima belas menit lalu, kami telah melakukannya. Bahkan kami sudah membersihkan diri dengan cara mandi air hangat bersama-sama tadi. Sekarang, aku dan Bagas sedang berada dibalik selimut dengan posisi saling memeluk. Udara dingin yang berembus dari pendingin ruangan memancing untuk kami terus mencari kehangatan.
Pelukan yang selama ini terasa hampa, entah mengapa berubah lebih terasa sekarang. Begitu hangat, nyaman, menenangkan, dan juga menyenangkan. Sesekali, Bagas mengecup puncak kepalaku dan mengusap lenganku yang tidak tertutup kain, karena aku memakai daster tanpa lengan untuk tidur kali ini.
“Capek ngga?”
Aku mengangguk. Butuh tenaga ekstra untuk meladeni Bagas yang sedang dalam mode On. Tenagaku tidak ada separuhnya.
“Capeklah. Kamu ih.” rajukku menahan malu sambil mencubit dadanya yang mungkin sekarang sedang bertransformasi menjadi seekor cheetah jantan. Aku terlalu bersemangat tadi, dadanya menjadi sasaran ku.
Bagas menghela nafas diantara tawa renyahnya. “Nggak sampai sejam lho, nggak seperti biasanya. Biasanya kuat sampai dua jam-an. Sekarang masa udah KO?”
“Kamu terlalu semangat.”
“Lho, bukannya kamu tadi yang semangat banget? Dadaku sampai biru-biru tuh.”
“Ish...!” kutinju dadanya pelan, tapi dia menyambarku lagi dalam pelukan nyamannya. Aku tak menolak, karena malam ini terasa begitu istimewa. Bagas seperti menjadi milikku seutuhnya.
“Nad,”
“Hm?”
“Ngga apa-apa tadi? Kalau...jadi, gimana?”
“Ya gak apa-apa. Memangnya kamu nggak mau?”
“Siapa bilang. Mau lah. Siapa yang nggak pingin dipanggil ayah? Cuma, aku takut kamu—”
“Aku baik-baik aja, Gas.”
Ah oke. Kenapa juga Bagas harus membahas ini. Wajahku tiba-tiba saja terasa panas. Untung saja lampu yang kami gunakan adalah lampu malam, atau jika tidak, Bagas pasti bisa melihat bagaimana kondisi wajahku sekarang. Jadi, ini maksudnya Bagas, dia pingin jadi ayah dari anakku ’kan?
“Kamu tadi, ada urusan apa sama Letto?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan sambil semakin mencari kenyamanan di dada bidangnya yang kokoh.
“Urusan penting.”
“Udah beres?”
“Udah.”
Aku mendengar Bagas kembali mengembuskan nafas.
“Aku lebih lega sekarang, Nad. Meluk kamu kayak gini udah nggak canggung lagi.” katanya, sambil menekan tubuhku semakin rapat padanya.
“Benarkah? Bukankah dari dulu kamu suka peluk-peluk aku?”
“Iya. Tapi rasanya ngga kayak sekarang gini. Dulu, kalau mau peluk kamu, aku selalu mikirin gimana caranya biar kamu nggak nolak atau ngerasa nggak nyaman sama aku.”
Benar. Selama ini, aku selalu menjaga semua perlakuan Bagas ke aku. Tujuannya masih saja sama, kalian pasti tau.
“Ah begitu ya? Maaf.”
“Nggak perlu minta maaf. Aku memang nggak bisa bikin kamu nyaman—”
“Aku nyaman, kok.”
Aku mendongak, mendapatkan fitur wajahnya yang sekarang sedang menatap ke arahku. Lalu, dia tersenyum lembut. “Kamu bohong. Aku tau kamu lebih dari dirimu sendiri, Nad. Jadi, mulai sekarang, biasakan bicara jujur padaku meskipun menyakitkan, Okey?”
__ADS_1
Matanya memancarkan ketulusan. Bagas tidak pernah meminta pamrih apapun padaku, selain mengutamakan kenyamanan untukku.
Ku beri dia anggukan lantas kembali menunduk, menarik menjauhkan tubuhku dari tubuh Bagas dan meletakkan kepala diatas bantal untuk bersiap tidur karena hampir pukul dua belas malam. Lebih tepatnya kurang lima menit.
“Kamu mau tidur?”
“Eumm. Kamu juga, besok kerja.”
“Jangan tidur dulu lah Nad, nanggung nunggu jam dua belas malam sekalian.” rengeknya mendekat lalu memelukku dari belakang.
“Apaan sih Gas. Geli tau.”
“Biarin. Temeni aku sebentar lagi.”
Aku berdecak sebal, tidak memberi jawaban dan memilih memejamkan mata. Lima menit bersama Bagas dengan posisi seperti ini, bisa terasa seperti lima puluh tahun.
“Dah ah. Tidur. Capek.”
Dia tidak menjawab, hanya mencari tempat yang ia sukai, yakni di belakang pundakku yang sedikit terbuka.
“Kamu nggak bakal merubah keputusan dan berubah pikiran 'kan Nad?”
Apa maksudnya?
“Tentang apa?” tanyaku dingin, masih berusaha memejam. Meskipun Bagas tidak mengganggu, aku merasa nggak nyaman berada diposisi seperti sekarang. Jantungku sedang berisik karena berdebar tidak karuan, aku takut Bagas mendengarnya.
“Tentang kita yang memperbaiki pernikahan. Tentang,” ada nada ragu di intonasi bicaranya. “—rencana memiliki anak denganku.”
Aku membeku ditempat. Tubuhku rasanya seperti disiram air es yang seketika bisa mematikan rasa dan meledakkan pembulu darah.
“Nggak.”
“Hah, syukurlah kalau begitu. Aku takut jika kamu tiba-tiba berhenti, lalu mundur dan memilih berpis—”
“Stop. Jangan sampai apa yang kamu katakan malam ini menjadi do'a yang didengar Tuhan. Tolong jaga pikiran kamu tentang semuanya, Gas.” sahutku tanpa ragu. “Jika kamu memang memiliki hal yang kamu anggap buruk, cukup simpan saja baik-baik. Jangan sampai kamu ucapkan, lalu menjadi do'a.” omelku panjang lebar.
“Tolong. Jangan bicara seperti itu lagi.” mohonku agar dia mau mengerti, lalu menerimanya tanpa syarat.
Pelukan Bagas kembali rapat. Dia mengecup pundakku singkat. “Sorry.”
Tidak ada yang perlu dimintai maaf, Gas. Kamu nggak salah. Mungkin apa yang sedang aku pikirkan sekarang, adalah ketakutan ku semata. Aku takut semuanya gagal, aku takut kamu mundur, aku takut kamu melepaskan aku, karena Hansel ada diantara kita. Aku yang membiarkannya masuk ke dalam tempat yang seharusnya aku tutup rapat karena sudah ada kamu. Seharusnya aku tidak membiarkan dia memberikan aku perhatian, lalu mengulurkan tangannya menawarkan kenyamanan.
Aku terlalu bodoh jika sampai kamu tau semua yang aku lakukan sekarang. Aku bahkan tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai kamu terluka karena ulahku ini, Gas.
Ditengah kekacauan otak didalam kepalaku, ponsel Bagas tiba-tiba berdering. Tidak terlalu bising karena volume ia setel rendah.
“Telepon?” tanyaku memastikan, menoleh kearah Bagas dan ponsel yang masih berdering secara bergantian.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Alarm.”
Bagas melepas pelukan posesifnya, lalu bangkit dari tiduran santai dan meraih ponselnya, setelah mematikan alarm dia kembali meletakkannya diatas nakas.
“Kamu, cantik.”
Aku terbelalak. Bagas terlihat aneh karena tiba-tiba bicara seperti itu. “Kamu kenapa sih? Tiba-tiba bicara begitu.”
Bagas meraih telapak tanganku, menarikku pelan sebagai isyarat agar aku ikut bangkit dan duduk berhadapan dengannya.
“Gas, serius kamu kenapa ih?!”
Bukannya membalas cibiran ku, Bagas justru meraih satu telapak tanganku yang lain dan menggabungkannya menjadi satu dalam kungkungan telapak tangan besar miliknya.
Dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi diantara sinar temaram lampu kamar, manis dan lembut sekali.
__ADS_1
Happy birthday to you...
Oh my God, aku lupa jika tepat pada hari ini, lebih tepatnya tiga puluh tahun lalu aku lahir ke dunia. Dan Bagas selalu menjadi orang pertama yang menyanyi lagu ulang tahun untukku. Aku kehilangan kata-kata sekarang.
Happy birthday to you...
Aku ingin sekali menangis sekarang. Bahkan aku sendiri tidak mengingat hari ini. Hari yang selalu diistimewakan Bagas. Dia selalu bilang jika hari kelahiran ku kedunia, adalah hari keberuntungan baginya. Karena dia bisa memiliki sahabat seperti aku, begitu katanya dulu.
Happy birthday to my sweet heart...
Gas,
Semoga panjang, umur.
I, LOVE, YOU.
Aku menatap lekat kedua manik Bagas yang ternyata lebih indah dari yang aku duga. Mata bulat itu terlihat berpendar meskipun ruangan gelap.
Sekarang, dia mengangkat telapak kami yang bersatu dalam genggaman, mengarahkan ke arah bibirnya, kemudian menyarangkan satu kecupan panjang tepat di telapak tanganku.
“Selamat hari lahir, istriku.”
Bolehkah aku menangis sekarang? Dia sangat tulus ketika menyebutku sebagai istrinya.
“Semoga panjang umur. Dimudahkan segala urusan, dilancarkan rezeki, dan apa yang menjadi mimpimu selama ini, terwujud.”
Amin... Aku membisikkannya dalam hati.
“Maaf tidak ada kue malam ini karena aku mengacaukan semuanya karena jadwal pekerjaanku yang akhir-akhir ini padat.”
Aku menggeleng. Ini bukan salahnya. Aku saja tidak ingat kalau hari ini, adalah hari ulang tahunku.
“Besok aku—”
“Bersama kamu aja cukup Gas.”
Dia terpaku, menatapku tanpa berkedip.
“Ada kamu disini, itu udah cukup bagiku. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah mengingat hari ini.”
Bagas mendekat dan kembali menciumku dibibir. Lama, karena aku turut andil dalam membalas ciuman tersebut. Menangis karena merasa bahagia, dan itu semua karena Bagas.
“Nadya, aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Never.” []
^^^to be continued.^^^
Mampir juga,
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Romansa Modern)
—WHITE (Romansa Modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.
__ADS_1