
...Happy Reading......
...🌹🌹🌹...
...jangan kesel sama Nadya ya? ✌️...
Tara mengajakku mampir ke kontrakannya. Aku juga sudah meminta izin ke Bagas pulang telat. Tapi nggak masalah, Bagas juga pulang agak maleman karena ada meeting di kantor pusat.
Dia apartemen, Tara menyuguhiku dengan beberapa Snack ringan dan minuman dingin yang biasa nongol di iklan televisi.
“Serius gue tanya, Lo ada masalah apa sih sama mbak Nana? Kok wanita itu kayak benci banget ke elu.” cerocos Tara setelah kembali dari kamar mandi. Dia duduk di sofa tepat disampingku dengan gerakan cukup brutal.
“Gue mau tanya elu dulu deh, Ra.”
“Tanya apa?”
Aku meremas rok bahan berwarna hitam yang aku kenakan. Dengan perasaan gelisah yang bercampur aduk, aku mulai menyusun kata demi kata agar Tara bisa mengerti maksudku tanpa harus menebak jika aku ada main dengan Hansel.
“Kamu tau masalah aku sama Bagas selama ini, kan?”
“So?”
“Menurut elo, kalau gue ngelakuin hal yang sama seperti yang dilakuin Bagas selama ini, apa gue salah?”
Tapi perhitunganku tidak tepat. Tara tahu dengan mudahnya.
Tara menyorot tajam padaku tanpa menunggu detik berubah. Wajahnya terlihat menegang dan rautnya penuh tanya. “Lo selingkuh?”
“Gue cuma tanya gimana pendapat elo Ra. Bukan malah balik tanya ke gue.”
Aku dapat melihat kerutan di kening Tara semakin menukik. Dia mulai terlihat tidak nyaman. “Salah. Elo salah banget kalau sampai ngelakuin itu dibelakang Bagas. Apalagi kalau elo punya tujuan untuk membalas si Bagas.”
Aku mengangguk setuju karena yang dikatakan Tara tidak ada salahnya sama sekali. Posisi ku yang salah disini.
“Elo nggak lagi ngerencanain buat balas Bagas kan?”
Aku menggeleng. Tubuhku rasanya seperti ditimpa gunung. Berat sekali, bahkan hanya untuk sekedar meraup udara.
“Lalu, masalah elo sama mbak Nana, apa?”
Otakku mulai membuat pertimbangan akan jawaban yang akan aku katakan kepada Antara. Dia bukan gadis kecil yang bisa dikelabui begitu saja. Mungkin dia tau, atau bahkan mendengar desas-desus di kantor tentang aku, tapi dia memilih diam dan menunggu aku bicara sendiri padanya.
“Aku...”
Tiba-tiba ponselku yang aku letakkan diatas meja bergetar. Nama yang muncul dilayar membuat Tara menoleh dengan mata membola kearahku. Aku menggigit bibir bawahku dengan perasaan khawatir.
“Pak Hans?”
Aku diam. Membiarkan panggilan di ponsel itu berhenti, sampai kemudian bergetar kembali.
“Jadi, berita yang tersebar di kantor itu, benar?”
Aku masih diam. Tidak ada kata yang ingin aku ucapkan. Otakku mendadak buntu, suaraku mendadak bisu.
“Nad. Elo nggak lagi ada main sama pak Hansel kan?”
Aku tersenyum getir. Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir Tara. Lalu dia menggeleng tidak percaya karena aku masih diam. Aku sama sekali tidak bisa bersuara. Lidahku kelu.
__ADS_1
Diamku, adalah jawaban bagi Tara.
“Nad,”
“Dia maksa, Ra.” sahutku cepat. Mulai membuanh beberapa beban yang menumpuk di pundak dan membuatku sulit bernafas.
“Astaga, Nad. Sejauh apa hubungan kalian?” tanya Tara dengan mulut tertutup telapak tangan. Haruskah aku mengungkapkan kebenaran jika aku merasa terancam dan terjebak saat ini? Atau, itu akan terdengar tidak masuk akal bagi Tara, lalu dia menarik kesimpulan jika aku yang gila karena sudah berani bermain dibelakang suamiku dengan atasanku sendiri?
“Gue—gue nggak tau Ra.”
Aku menunduk kalah. Tidak ada lagi kalimat pembelaan yang ingin aku perdengarkan kepada Tara. Ini salahku, sepenuhnya kesalahanku karena telah berani membuka hati untuk laki-laki lain. Dan ini risiko yang harus aku tanggung sendiri. Ya, sendirian.
“Astaga.” keluh Tara sekali lagi sambil menyugar rambutnya kebelakang kemudian meremasnya.
“Awalnya gue cuma mau berbagi keluh kesah pada pak Hansel tentang masalah ku sama Bagas, karena dia terus memberikan aku kenyamanan. Sampai akhirnya aku berusaha menolak ketika dia terus mendesakku agar kami menjalin hubungan. Aku sudah berusaha menolaknya, Ra.”
Mata kami bertemu sekilas, namun aku langsung mengalihkannya karena merasa malu. Malu pada kelakuanku sendiri yang tidak ada benarnya.
“Mendingan, Lo udahan sebelum Bagas tau dari orang lain, Nad.”
“Masalahnya, nggak semudah itu, Ra. Hansel mengancamku akan memberitahu Bagas tentang hubungan—” sulutku mulai berapi-api karena merasa terpojok oleh kata-kata Tara yang sekali lagi, benar. Tapi langsung terhenti ketika mengingat kalimat ancaman yang dikatakan Hansel saat itu.
“Seenggaknya, elo ngomong ke Bagas.”
Entah aku menggeleng untuk ke berapa kalinya. “Gue belum siap kehilangan bagas.”
“Dari pada semakin berlarut-larut dan elo terlalu jauh ngejalaninnya? Mendingan elo jujur ke Bagas. Jelasin ke dia—”
“Gue nggak siap kehilangan dia Ra. Firasat gue, dia nggak bakalan mau merima apapun alasan dan penjelasan gue nantinya.”
“Itu cuma pikiran Lo yang pecundang aja, Nad. Bagas baik. Dia pasti mau dengerin elo dan mengambil jalan tengah sebagai solusi.”
Aku ingin sekali menangis sekarang. Namun aku masih berusaha untuk terlihat tegar didepan Tara.
“Gue takut dia ninggalin gue, Ra.” gumamku menahan pilu dan sesak di dada hingga tepukan beberapa kali aku layangkan ke sumber sakit dalam diriku saat ini. “Gue—”
“Percaya sama gue. Bagas akan lebih bisa nerima kalau elo sendiri yang bicara. Percaya sama gue. Oke.”
***
Semua pembicaraan dengan Tara tadi sore, masih teringat dan terngiang jelas di telingaku. Dua sisi diriku saling berebut untuk menentukan pilihan. Hingga Nissan Juke yang aku naiki bersama Bagas, sudah memasuki area parkir taman kota yang malam ini tidak begitu ramai seperti akhir pekan.
Kata-kata Tara kembali memenuhi otakku. Dan aku membulatkan tekadku untuk memberitahu Bagas tentang masalah ini nanti.
Setelah keluar dari mobil, Bagas meraih telapak tanganku untuk ia gandeng dan genggam erat. Telapak tangannya yang besar begitu hangat yang menjalar hingga ke ulu hati dan membuat ngilu. Aku menatap fitur sampingnya yang sempurna, lantas berfikir. Bagaimana jika dia tidak bisa memaafkan aku dan memilih pergi?
Satu tarikan mengejutkan aku dari lamunan yang ternyata sudah terjadi sangat lama. Bagas sudah menatapku lurus dari atas kursi besi yang dipenuhi aksen liaukan pada sandaran yang ia duduki. Astaga, mengapa aku melakukan ini?
“Kamu ngelamun? Ada masalah?”
Aku tersenyum kikuk. “Nggak.”
Bagas menepuk kursi kosong disampingnya, dan aku duduk begitu saja dengan perasaan yang sudah hampir meledak. Aku takut sekali membayangkan kenyataan jika orang sebaik Bagas, sudah aku permainkan. Aku menyesal.
“Aku pingin kasih tau sesuatu ke kamu.”
Aku merotasikan kepala, menatapnya dengan mata yang sedikit mekburam karena menahan tangis.
Kemudian, dia merogoh saku celananya dan meraih tanganku untuk ia letakkan diatas pahanya. Dia tersenyum lembut dan aku tercengang melihat apa yang saat ini ada di atas telapak tangan terbuka milikku. Sebuah tiket pesawat ke Surabaya, untukku.
__ADS_1
“Maaf, kantor sedang ada masalah cukup besar, jadi pengajuan cutiku ditolak Nad.”
Aku hampir menangis mendengarnya. Bagaimana aku bisa kembali sendirian ke rumah ibu dan ayahku? Mungkin aku bisa menjawab dengan realita kalau Bagas memang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, kepada siapapun yang bertanya. Tapi, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan perasaanku nanti?
“Kalau begitu, nggak usah.” sahutku cepat dan mengembalikan tiket pesawat itu kedalam genggaman tangan Bagas. Juga, niat yang sudah aku kumpulkan untuk mengatakan semuanya kepada Bagas, tentang hubunganku dengan Hansel, menguar begitu saja ketika membayangkan aku pergi sendirian tanpa dia. “Nunggu kamu dapat cuti aja.”
“Hey. Sayang dong tiketnya, Nad.”
“Nggak peduli.” sahutku terbakar emosi. Kamu hanya tidak tau bagaimana rasanya hatiku saat ini Gas. Mendengar kamu tidak bisa ikut kembali ke Surabaya saja, sudah membuat aku seperti orang putus asa. Bagaimana jika aku benar-benar kehilangan kamu?
Oh God. Bagaimana ini?
“Dengerin aku dulu.”
“Enggak. Sekali enggak ya enggak. Ngerti?!”
Bagas terlihat terkejut atas suara bentakan ku yang cukup keras hingga berhasil menarik beberapa orang yang berada disekitar kami.
“Nad,”
“Kamu libur, kita berangkat sama-sama. Itu yang aku inginkan. Bukannya pulang sendirian tanpa kamu begini?”
Bagas menengadahkan wajah ke langit dengan kata terpejam dan bibir terbuka. Dia frustasi.
“Lain kali aku akan temani kamu. Lain kali, kita pulang bareng. Tapi kali ini, aku beneran nggak bisa Nad.”
Aku diam dan menatap lurus jalan raya yang semakin malam, semakin padat dan ramai.
“Aku janji, kalau pengajuan cutiku lain kali diterima, kita pulang bareng.”
“Nggak.”
“Nad, ibu dan ayah kamu nelepon aku semalam.” katanya sendu. Ini gawat. Kalau mereka sudah menelepon Bagas, itu artinya sedang ada apa-apa yang mereka inginkan. “Ayah minta tolong ke aku, agar mentransfer uang untuk biaya perawatan sawah.”
Mereka masih saja sama. “Jadi, aku nitip ke kamu. Kasihkan ke mereka secara langsung, ya?”
“Kenapa kamu sanggupi?”
Mataku mulai berembun dan butiran bening yang sedari tadi aku tahan, terjatuh di pipi. “Sampaikan salam dan permintaan maaf ku ke mereka karena nggak bisa nganter kami pulang.” kata Bagas kembali meraih telapak tanganku dan meletakkan tiket itu kembali.
Masih patutkah aku membuka penghianatan yang aku lakukan didepan Bagas? Dia terlalu baik, dan aku tidak ingin kehilangan dia.
“Pulang, ya?”
Aku menatap lurus pada manik bulat Bagas yang baru aku sadari, begitu indah meskipun di bawah sinar temaram lampu malam diantara pepohonan yang menjulang tinggi. Tatapan mata itu begitu hangat. Hingga pada akhirnya aku mengangguk dan nggak bisa menolak nya lagi.
“Nah, gitu dong. Masa pake adegan mellow dulu sih? Kamu mah,” cerocosnya bercanda sambil mengusap airmataku yang kembali jatuh.
“Senyum dong. Aku nggak suka lihat kamu nangis gini.”
Aku berusaha tersenyum meskipun sulit. Hingga aku dan Bagas dikejutkan oleh suara sapaan seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat kami duduk.
“Nadya?” panggilnya antusias yang seketika itu membuat telapak tanganku basah dan dingin.
Dia, Hansel. Berdiri di depanku dan Bagas. Tangan kirinya menggendong seorang gadis kecil cantik yang memiliki mata sipit mirip seperti hansel dan berpipi bulat menggemaskan, dan satu tangan lainnya... menggenggam telapak tangan seorang wanita yang memiliki senyum menawan yang begitu indah. Senyuman yang semakin membuatku dibelenggu rasa bersalah.
“Kenalin, Ma. Ini Nadya, asistenku di kantor.”
Wanita cantik berwajah oriental itu mengulurkan tangan didepanku tanpa ragu. Dia menyebutkan namanya tanpa tau siapa aku bagi suaminya. “Yuana. Istri Hansel. Senang bertemu denganmu, Nadya.” []
__ADS_1
^^^to be continued.^^^
Coba tebak, apakah Nadya akan sendirian di Surabaya?