Wedding Dust

Wedding Dust
36. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

...Happy Reading.......


...🌹🌹🌹...



SHI*ttt!!


Aku mengumpat keras dalam hati ketika Hansel tiba-tiba hadir diantara ketengan kami.


Sumpah, aku ingin sekali melontarkan kata-kata kasar didepan wajahnya saat ini juga. Jantungku berdetak cepat, nafasku memburu, dan rahangku mengeras. Jika tidak ada anak dan istrinya, sudah aku pastikan wajah sok tampannya itu akan babak belur di tanganku.


“Kenalin, Ma. Ini Nadya, asistenku di kantor.”


Tiba-tiba emosiku naik ketika dia menyebut nama Nadya, lalu mengenalkan kepada istrinya.


““Yuana. Istri Hansel. Senang bertemu denganmu, Nadya.”


Ditambah ketika Nadya mengulurkan telapak tangannya untuk menyentuh pipi putri Hansel.


“Berdua saja nih?” tanya Hansel sambil tersenyum didepan kami setelah Nadya menurunkan telapak tangannya dari pipi si kecil yang tidak aku ketahui namanya.


Aku sudah hampir menjawab, akan tetapi Nadya mendahului. “Iya. Cuma berdua. Eh, siapa nama si cantik ini?” goda Nadya sembari kembali mengusap pipi si kecil. Tidak biasanya Nadya bersikap seperti itu kepada anak kecil. Tapi aku akui, putri Hansel memang cantik dan menggemaskan.


“Jessi, tante.” Jawab Hansel dengan suara lucu yang dibuat-buat yang justru membuatku muak ingin muntah.


Kenapa Hansel terlihat semangat sekali ketika Nadya bertanya ingin tau tentang bagian dari keluarganya?


“Wah, Jessi cantik banget loh.”


“Makasih Tante Nadya.” kali ini istri Hansel yang menyambut pujian Nadya. “Mbak Nadya dari mana?”


“Eh, kok panggil mbak sih? Panggil Nadya aja.”


Aku, menjadi pendengar saja. Sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan mereka.


“Ya harusnya memang panggil mbak, Nad. Usia kalian beda jauh.”


“Oh ya?”


Hansel tersenyum jumawa. Aku melihat ada perhatian diantara senyuman itu, entah untuk istri, anak, atau...Nadya.


“Dia masih 24 tahun.”


Cih! Pasti MBA tuh. Hansel jago kalau urusan seperti itu. Mukanya aja sok alim. Aku sudah hafal tingkah dan tindak tanduknya.


“Wah, mumpung ketemu begini, bagaimana kalau kita makan bareng yuk.”

__ADS_1


Aku terbelalak. Meraih telapak tangan Nadya dan hendak menariknya pergi.


“Iya mbak, mas. Biar silaturahmi keluarga kita semakin erat.”


Itu istrinya kenapa sok akrab begitu sih? Aku nggak suka.


“Kami masih ada urusan yang harus kami selesaikan. Maaf nggak bisa gabung.” sahutku sebelum Nadya membuka mulut untuk mengiyakan ajakan keluarga harmonis si Hansel. “Permisi.”


Tanpa banyak bicara, aku menarik tangan Nadya dan meninggalkan mereka. Sempat ada penolakan dari Nadya, dia meronta dan menarik tangannya dari cengkeraman ku.


Setelah aku rasa sudah jauh dari Hansel dan istrinya yang ternyata juga memilih pergi, aku melepaskan Nadya.


“Kamu kenapa, sih? Nggak enak sama Yuana, tau!”


Aku diam. Nggak mau tau karena aku nggak mau lagi berurusan sama Hansel.


“Ayo pulang.” ajakku. Suasana dan mood ku sudah terlanjur kacau, jadi aku memutuskan untuk mengajak Nadya pulang saja daripada nanti akhirnya kita adu mulut didepan khalayak ramai.


“Gas,”


“Pulang, Nad. Mood ku udah hancur.”


Aku bicara jujur. Nggak ada yang perlu aku sembunyikan, karena dia adalah Nadya. Wanita yang mulai beberapa waktu lalu menjadi prioritas utama bagiku karena kami ingin memperbaiki hubungan kami.


Nadya terlihat nggak suka dengan keputusan sepihakku yang entahlah, nanti saja dirumah saja dibicarakan.


Serius, hanya melihat wajah Hansel saja semua masa laluku seolah memaksa untuk kembali menyeretku ke masa kelam saat itu. Saat aku kehilangan Dinda.


“Kita putus, Gas!”


Aku ingat, dia memutuskan aku tepat di hari ulang tahunku. Itulah alasannya mengapa hari kelahiran ku itu tidak pernah terasa spesial untukku. Ada sebongkah rasa sakit hati dan kehancuran yang teramat sangat menyakitkan saat itu.


“Beri aku alasan mengapa kita harus berakhir seperti ini, Din.”


“Kamu egois.”


“Egois?”


“Ya! Dan Hansel lebih memperhatikan dan membuatku nyaman. Itulah alasan mengapa aku menjalin hubungan dengannya dibelakang kamu.”


Tapi lihatlah, siapa yang berdiri disampingnya sekarang? Bukan Dinda. Bukan wanita yang dulu dia rebut mati-matian dariku hingga aku nyaris gila karena dampaknya, melainkan Yuana yang entah siapa. Lalu, bagaimana dengan Dinda sekarang?


Pikiranku tiba-tiba terbelenggu oleh masa lalu.


Sejak saat itu aku lebih sering menghabiskan waktu di jalan dengan balapan liar, ke diskotik, bahkan aku sempat mengkonsumsi obat penenang dan anti depresan hanya untuk mengurangi depresi serta kecemasan berlebih yang saat itu sedang menggerogoti hatiku yang berantakan dan kacau.


Lalu, mengapa disaat semua sekarang sudah membaik, dia hadir kembali dan terlihat sekali ingin ikut campur di kehidupan rumah tanggaku?

__ADS_1


Sebenarnya apa mau Hansel? Melihatku hancur? Atau lebih dari itu, apakah dia ingin melihat aku mati karena gila?


Oh come on, kenapa hanya karena masalah sepele saja, ego dan dendamnya padaku harus sampai dibawanya mati?


Dinda, adalah gebetannya. Sedangkan Dinda, mengejar ku dan pada akhirnya kami jadian. Begitulah. Dan dia salah faham menganggap ku merebut Dinda darinya hingga balas dendam dengan mengacaukan hubunganku dengan Dinda yang saat itu masih seumur jagung.


Langkahku sampai didepan pintu mobil. Aku menekan tombol buka kunci, kemudian menarik handle dan masuk ke dalam tanpa menunggu Nadya yang masih terlihat berjalan di kejauhan.


Sumpah. Mood ku hancur sekarang.


***


Aku tidur membelakangi Nadya. Bukannya aku marah pada dia, tapi aku sedikit kecewa karena dia terlihat ingin menerima tawaran Hansel dari pada menjaga perasaanku yang jelas-jelas sudah ia tau, jika aku tidak suka dengan sosok Hansel.


“Jangan diemin aku.” kata Nadya memecah keheningan. Aku membuka mata yang sebelumnya ku paksa mengatup agar terpejam ke alam mimpi. Namun kenyataannya, suara Nadya kembali membawaku ke dalam realita.


“Aku capek Nad. Masalah di kantor bikin mood ku naik turun.” ucapku mencoba memberi penjelasan agar Nadya tidak salah faham.


“Iya, aku tau. Tapi diam mu itu lebih karena Hansel, kan?”


Aku diam kembali. Mengapa Nadya ini gambar sekali membuat aku terdiam dengan kalimat-kalimat menohok-nya.


“Ya. Itu salah satunya.”


“Gas. Jangan salah sangka, aku hanya tidak ingin kita terlihat aneh dimata istrinya pak Hansel.”


“Udah, nggak perlu pikirin itu. Sekarang kamu tidur, besok kerja.” titah ku yang di iringi decak sebal dari arah belakang punggungku, dimana Nadya berada.


“Nggak. Semua harus clear dan nggak ada yang tersisa lalu berakhir diam seperti yang sudah-sudah.” cerocos Nadya nggak terima. “Ingat kita sudah sejauh ini lho Gas berusaha memperbaiki hubungan ini. Masa' kamu mau ngerusak lagi?”


Bukan itu tujuanku Nad. Aku juga udah berusaha abai terhadap Hansel, tapi tetep nggak bisa. Luka itu ternyata masih ada. Masih terasa sakit seperti dikuliti lagi ketika bertatap muka langsung dengan dia.


“Terus aku kudu gimana? Aku nggak ada maksud ngebuat usaha kita gagal. Tapi Hansel—” aku menjeda, mencoba menahan sesuatu yang bergolak menyakiti dalam diriku. “...Hansel, aku tidak bisa nerima dia dalam kondisi apapun. Jadi aku mohon jangan paksa aku untuk bisa nerima dia, atau siapapun yang ada hubungannya dengan dia, Nad.”


Aku masih enggan berbalik untuk melihat Nadya. Tapi setelah mengatakan itu, aku merasakan lengan Nadya di pinggangku, memelukku dari belakang.


“Sedalam apa luka yang pernah dibuat Hansel padamu di masa lalu?”


Aku menghela nafas, “Terlalu menyakitkan.”


Nadya menyandarkan kepalanya di punggung ku. “Sangat menyakitkan sampai aku nyaris gila karena kehilangan seseorang yang berharga untukku.” sambungku, suara ku juga sudah berubah parau karena menahan buncahan masa lalu yang menyakitkan itu. “Itulah kenapa, aku pernah memintamu untuk berhenti bekerja dari sana saat tau Hansel ada disekitar kamu. Yang artinya dia ada disekitar orang yang aku sayangi, sekali lagi.”


Aku merasakan punggungku seperti basah oleh sesuatu ketika Nadya mengeratkan pelukan. “Aku nggak mau, Hansel mengambil orang yang aku sayangi lagi. Karena kali ini, jika aku kehilangan kamu, aku nggak tau apa yang bakal terjadi pada diriku sendiri.”


“Maaf.” katanya disela sendu dan isakan yang terdengar samar. Nadya menangis. “Maafkan aku ” []


^^^to be continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2