Wedding Dust

Wedding Dust
49. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK UNTUK NADYA DAN BAGAS YA...


TERIMA KASIH


🌹🌹🌹



Aku mendengar suara deru mesin mobil dari luar rumah. Aku yakin itu Nadya karena dia memberitahuku akan kembali ke Jakarta juga. Tepat setengah jam setelah aku membeli tiket dan kembali terbang untuk pulang ke Jakarta.


Aku merebahkan diri. Sebenarnya tidak ingin berbohong dengan berpura-pura begini. Tapi untuk saat ini, aku masih merasa sangat di kecewakan oleh kebohongan yang dibuat Nadya, dan tidak ingin berbicara dengannya dulu sampai hatiku kembali tenang.


Aku memang berencana pulang dan mengambil mobil, lalu menyewa hotel dua atau tiga malam sampai menemukan tempat baru untuk tinggal setelah keluar dari rumah ini. Tapi, Nadya terus meminta dan memohon agar aku tidak pergi dari rumah. Bahkan dia mengancam akan melakukan suicide jika aku memaksa pergi.


Ku rilexkan kedua mataku agar tidak berkedut. Meskipun sebenarnya aku juga lelah dan ingin beristirahat, aku hanya ingin memastikan Nadya sampai dirumah dengan selamat terlebih dahulu.


Ku dengar pintu rumah berderit dan terkatup. Kemudian tak lama, aroma Nadya yang masih saja menjadi kesukaanku terhirup oleh rongga hidungku. Semakin jelas, hingga akhirnya aku bisa merasakan Nadya duduk tepat didepanku.


Tak lama kemudian, Nadya mulai berbicara mengenai kesalahannya, bahkan perasaannya yang membuatku terkejut bukan main.


Mau tau satu hal yang aku simpan sejak dulu? Sejak pertama kali aku melihatmu?


Ya. Aku ingin tau.


Aku mungkin seorang wanita munafik, dan tidak bisa menepati janji kita untuk hanya meletakkan perasaan kita hanya sebagai sahabat,


...


Aku menyukai kamu, sejak pertama kali kamu mendatangiku di taman. Dan kamu nggak pernah tau akan hal itu. Aku...mencintaimu, Bagaskara Adewangsa. Jangan tinggalkan aku.


Kalimat itu begitu mengejutkan untukku. Mataku yang semula aku paksa menutup, terbuka begitu saja. Aku melihat Nadya tertunduk dan menangis sendirian. Hatiku terenyuh, hingga tanganku terulur menyentuh puncak kepalanya begitu saja. Kami saling tatap, dan disana, untuk pertama kalinya kami berdua menangis tanpa merasa malu atau menjaga image masing-masing. Kami menumpahkan semua isi hati kami. Kami menangisi nasib pernikahan kami yang begitu menyedihkan. Hingga tangis itu berhenti dengan sendirinya.


Aku masih memeluk dan mengusuk punggung Nadya yang sudah tenang. Wanita cantik yang aku cintai ini, kini sudah merasa nyaman dalam pelukanku.


“Kamu sudah makan malam?” tanyaku, memecah keheningan setelah tangis.


Dia menggeleng, dan aku terkikik. Dia pasti kelaparan sekarang. “Mau aku buatkan makanan?”


“Nggak. Kalau kamu yang buat makanan, bisa-bisa aku kena diare.”


Aku tertawa karena ejekan Nadya. Tidak ada sakit hati, yang ada aku merasa senang karena Nadya sudah kembali menjadi Nadya yang aku kenal. Judes nya minta ampun.


“Gofood yuk!” ajakku, barangkali dia setuju membeli makanan cepat saji.


Nadya melepaskan pelukannya, dan melihat kondisi dadaku yang basah akibat airmatanya. “Maaf, pakaianmu jadi basah semua.”


Aku memeluknya lagi. Semua beban dalam dadaku sepertinya sudah hilang terbawa angin. Aku seperti menjadi orang yang baru saja merasakan apa arti cinta yang sebenarnya. ”Nggak apa-apa, sayang. Kapanpun kamu mau menangis disini, jangan sungkan. Nangis aja, tempat ini spesial untuk kamu.”


Bukannya terharu, Nadya malah menepuk dadaku dan bangkit. Kulihat mata sembabnya begitu besar hingga nyaris menutup semua inci penglihatannya itu. “Cantik sekali.”

__ADS_1


“Aku tau. Dari dulu juga aku cantik. Orang-orang aja yang lihat dan bilang aku jutek itu, rabun.”


Tak bisa menahan tawa, aku terbahak dan sadar jika mataku juga membengkak seperti Nadya.


“Iya. Mereka rabun.” celetukku membuat wajah Nadya merona merah. Cantiknya, jangan ditanya. Dia adalah wanita paling cantik, setelah mama.


Nadya menurunkan kaki dan hendak berlalu. “Mau kemana?” tanyaku ingin tau sambil mencegahnya pergi dengan menarik lengannya pelan.


“Masak. Kamu pasti juga belum makan, 'kan?”


Aku mengangguk dengan bibir yang aku gigit kecil dibagian ujung. Perutku benar-benar kosong dan nyaris keroncongan karena kelaparan. Belum makan sejak berangkat dari Jakarta ke Surabaya, dan dari Surabaya kembali ke Jakarta lagi. Hebat bukan?


“Untung kamu nggak pingsan di pesawat.”


“Aku dapat Snack enak disana, Nad.”


“Ya udah. Mau makan apa, biar aku masakin.”


Tanpa berfikir aku meminta Nadya membuat makanan yang cepat selesai dan nggak ribet. Ini sudah malam.


“Mie instan saja deh. Kasih telur sama sayur.”


“Ini sudah malam. Nggak baik makan—”


“Kalau gitu gofood aja.” ancamku membuat Nadya kalah telak dan menuruti kemauanku. Dia membuat dua porsi mie instan lengkap dengan sayuran dan telur, lalu membawanya ke meja makan.


Canggung, tapi aku mencoba menetralisir keadaan dengan mengajaknya bicara. Apapun, semua kami bahas, kecuali satu masalah yang membuat kami jadi seperti ini. Hansel. Aku perlu bicara dengan laki-laki itu.


Keesokan harinya, masih ada sisa cuti untukku dan Nadya.


Pagi ini terasa begitu hangat. Bangun dari tidur, aku melihat Nadya yang sibuk didapur menyiapkan makanan. Sedangkan aku, menuju bilik cuci untuk melihat apa pakaian sudah di masukkan kedalam mesin cuci atau belum. Jika memang belum, aku yang akan bertugas melakukan itu.


Ternyata belum.


Setelah itu, aku kembali masuk dan berdiri bersandar di pantry sambil melihat keluwesan Nadya ketika memasak. Tentu saja setelah aku melakukan tugasku mencuci pakaian.


Aroma harum bumbu yang di tumis, seketika membuat imajinasiku tentang makanan enak berkelebat dan membuat perutku terasa perih ingin segera di isi.


“Eh, sudah bangun?” tanya Nadya sambil mengaduk tumisan bumbu di dalam penggorengan. Kuperhatikan lamat, bukti pembicaraan serius kami semalam masih tersisa di wajah Nadya, mata sembab itu masih terlihat begitu jelas. Namun sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikan Nadya.


“Eumm. Baru aja.”


“Udah Sho—”


“Udah sayang ku.” sahutku cepat menanggapi Nadya.


“Balik tidur lagi aja. Nanti kalau udah selesai masaknya, aku bangunin buat sarapan.”


“Nggak ah. Lagi nyuci juga.”


Nadya menoleh dengan ekspresi datarnya yang khas. “Biar aku yang lanjutin. Kamu mandi atau apalah gitu,”

__ADS_1


Aku malah melipat kedua lengan didepan dada. “Di usir nih?”


“Nggak gitu, Gas. Badan kamu itu gede,” jawab Nadya sambil berjalan menuju pantry hendak mengambil sesuatu dari sana. “Jadi penuh-penuhi dapur. Tuh, kan. Minggir gih!”


Aku tertawa tanpa suara. Nadya yang sarkas seperti inilah yang aku suka. Dia tidak akan segan bicara jujur kalau sedang tidak suka atau tidak setuju dengan sesuatu.


Mengikuti perintah si ratu rumah, aku minggir beberapa centi dari pintu pantry, dan memperhatikan Nadya yang memilih sesuatu didalam sana.


“Masak apa?” tanyaku basa-basi.


“Rendang.”


Aku mengangguk. Rendang buatan Nadya sangat enak. Dia pandai meracik bumbu dan rasanya, sangat lezat.


“Aku juga mau bikin nasi kuning, kamu mau?”


“Ya mau lah.”


Nadya melirikku, kemudian menutup pintu aluminium itu sembari membawa satu ruas jari kunyit di tangannya. “Kamu itu. Apa yang nggak kamu makan sih, Gas?”


Menyandarkan sisi kanan tubuhku di pintu pantry sekali lagi, aku menjawab pertanyaan Nadya. “Habisnya, masakan kamu enak. Aku nggak mau melewatkannya dengan membeli makanan di luar.”


Nadya menggeleng dengan wajah penuh senyuman dan telinga memerah. Dia sedang malu.


“Bilang aja ada maunya. Pake muji-muji makanan buatanku segala.”


Interaksi seperti ini yang aku rindukan. Meskipun terdengar seperti sedang beradu argumen, tapi percayalah, kami hanya sedang bercakap-cakap biasa. Memang seperti itu saja cara kami, berbeda dari orang lain.


Semalam, aku meminta Nadya untuk tidak menyembunyikan apapun karena kami ingin memulai semuanya dari awal. Jadi, aku juga harus terbuka, membicarakan apa yang hendak aku lakukan hari ini adalah langkah awalnya.


“Nad,”


“Hemm.” jawabnya berdehem ringan sambil mencicipi kuah dari penggorengan yang terlihat meletup-letup.


“Aku ada perlu sore ini.”


“Perlu apa? Ke tempat Letto?”


Aku diam sejenak untuk berfikir ulang untuk mengatakan tujuanku meminta izin tersebut mengatakannya atau tidak.


“Nggak.”


“Lalu?”


Aku menarik nafas dari hidung agar paru-paru ku bekerja dengan baik. Jantungku sedikit berdebar dan nyaris meragukan niatanku untuk pergi sore ini.


“Apa, Gas? Kamu mau kemana?” tanya Nadya mengulang dengan kalimat tanya lain yang lebih spesifik.


“Aku,” aku menjeda dan meyakinkan diriku sendiri untuk tidak terlalu emosional ketika menyebut nama itu. “—aku ingin menemui Hansel, dan bicara banyak dengannya.” [].


^^^to be continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2