
WEDDING DUST UPDATE LAGI
SELAMAT MEMBACA
JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG KARYA OTHOR YA,
TERIMA KASIH 🤗
🌹🌹🌹
Sudah beberapa bulan Nadya mengundurkan diri dari pekerjaan. Beberapa waktu lalu, Nadya bilang Hansel menghubunginya dengan nomor baru—karena nomor lama sudah di block, mengajak bertemu untuk membicarakan sesuatu. Nadya menolak karena dia tidak mau berurusan lagi dengan laki-laki tersebut. Aku salut dengan dia yang gigih pada tujuan kami sekarang.
Aku sendiri fokus ke perkerjaan dan juga program kami yang ingin memiliki momongan. Selain itu, kami juga konsultasi di salah satu dokter Sp.OG kenalanku. Dan kami bersyukur karena kami berdua baik-baik saja, dan kemungkinan besar akan cepat memiliki momongan. Dokter menyarankan agar kami menjalani pola hidup sehat dan juga berhubungan sesuai instruksi dari dokter, tidak sembarangan melakukan.
Hari ini, aku dan Nadya kembali mengunjungi dokter untuk berkonsultasi.
“Bagaimana, dok?” tanyaku penasaran melirik ke arah dokter Adrian karena aku tidak mengerti sama sekali mengenai gambar 4D yang terpampang jelas di layar monitor tertempel di dinding.
Hening, dokter Adrian masih menatap layar kecil didepannya, kemudian tersenyum.
“Coba lihat ke layar deh, pak Bagas.” katanya, membuatku sontak kembali menoleh ke layar tertempel didinding. “Perhatikan apa yang saya lingkari disana.”
Aku menatap sebuah kursor yang membentuk lingkaran di satu bulatan kecil, kemudian menuju bulatan kecil lainnya dan dilingkari sekali lagi.
“Bagaimana menurut anda?” dokter Adrian membalik pertanyaan kepadaku. Untuk sesaat aku tidak mengerti dan mencoba memahami apa maksud ucapan dokter muda nan tampan ini, lalu aku melirik ke arah Nadya yang sudah lebih dulu paham. “Masa' papa nggak ngerti kalau aku ada, pa?” katanya menggoda.
Aku membeku sesaat, kemudian menoleh lagi ke arah layar dinding sambil membekap mulut. “God,” bisikku lirih sambil menutup mulut dengan telapak tanganku. “Jadi Nadya—”
Dokter Adrian tersenyum lembut dan hangat. Dia kembali menggerakkan kursor nya pada dua bulatan kecil disana, memamerkan dua Bagas kecil yang sedang bertumbuh di dalam rahim Nadya. “Aku kembar lho, papa.”
Kulihat Nadya menitihkan air mata disana, sedangkan aku yang tidak lagi bisa menahan kebahagiaan, ikut menangis bahagia karena kerja keras dan kesabaran kami melewati segala bentuk ujian, terbayar dengan sesuatu yang tidak ternilai harganya.
Ternyata, do'a kami terkabul. Mimpi kami terwujud. Aku segera bangkit untuk melakukan selebrasi atas keberhasilanku menghadirkan makhluk kecil menggemaskan dalam diri Nadya. Kembar pula. Gen keluarga Nadya bekerja dengan baik.
Dokter Adrian mencetak hasil USG kemudian berdiri meninggalkan kursi yang ada disebelah brankar menuju meja nya. Suster pendampingnya membantu Nadya membersihkan sisa Gel di perut rata yang dihuni oleh dua makhluk kecilku, kemudian membantu Nadya bangkit dan menuruni tempat tidur berwarna putih itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Aku tak mau kalah. Kuraih telapak tangan Nadya antusias, kemudian memeluk erat wanita yang paling aku cintai itu kedalam dekapan. Setelah itu, aku menuntun dan membawa tubuh Nadya duduk di kursi pasien didepan kursi meja dokter Adrian.
“Usianya sudah masuk delapan minggu.” tutur dokter kepada kami. Nadya masih belum bisa berhenti nangis sangking bahagianya. “Apa ibu Nadya merasakan mual saat pagi hari?”
Aku menggenggam telapak tangan Nadya mencoba menenangkannya, lalu menatapnya lembut penuh kasih sayang.
Nadya mengangguk. “Ya, tapi tidak seberapa parah. Hanya mual biasa ketika mencium aroma harum.”
“Wah, bahaya nih untuk papa.” goda dokter Adrian padaku. Entah apa alasannya, dia tidak menyebutkan secara spesifik. “Saya resepkan vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mualnya ya bunda. Pola makan harus selalu sehat dan dijaga dengan baik.” Kata dokter Adrian memberi wejangan dan ilmu baru kepada calon orang tua baru seperti kami. “Kalau bunda merasa malas makan, atau mual dan ndak nafsu sama sekali saat melihat nasi atau sejenisnya, bunda bisa menambahkan buah dan biskuit atau roti sebagai opsi. Tapi ingat, jangan sampai ndak makan sama sekali. Janinnya dalam proses berkembang dan harus banyak mendapatkan sokongan vitamin dari makanan.”
Aku dan Nadya mengangguk bersamaan. Lantas ku ulurkan tangan mengusap puncak kepalanya.
“Untuk hubungan suami istri, papa harus sabar dulu ya? Tunggu sampai usia janin lebih kuat di dalam rahim mama.”
Aku sedikit kecewa, tapi nggak apa-apa. Demi si kembar, aku harus bisa. Semangat! Semangat apa nih maksudnya?
“Boleh sih, tapi harus ekstra hati-hati dan intensitas nya tidak boleh terlalu sering. Saya menegaskan ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama keguguran.”
Tentu. Aku akan melakukan yang terbaik demi Nadya dan calon buah hati kami.
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Kalau begitu ini resepnya. Tolong diminum secara rutin ya bunda, agar janinnya sehat dan kuat.”
Nadya mengangguk paham ketika aku meraih lembar resep yang baru saja di sodorkan oleh dokter Adrian.
“Hubungi saja nomor saya jika butuh bantuan atau penjelasan dari saya. Saya siap membantu kapanpun di butuhkan.” lanjut dokter Adrian sambil menatap kami secara bergantian.
“Terima kasih dokter. Kami akan berusaha yang terbaik untuk calon bayi kami.”
Dokter Adrian tertawa jumawa. “Tentu. Jaga mereka dengan baik.”
***
Sesampainya dirumah, aku sama sekali tidak ingin berjauhan dengan Nadya. Wanita cantik itu kini sedang mengandung anak-anakku. Sangking senangnya, besok aku berencana bolos kerja dan berduaan bersama Nadya saja dirumah. Kangen soalnya.
“Telepon ibu sama mama nggak?” tanya Nadya padaku. Tentu saja, mereka harus tau kalau mereka akan menjadi nenek.
__ADS_1
Aku bersyukur karena Juwita benar-benar merahasiakan masalah waktu itu kepada mama. Jadi aku tidak canggung untuk mengatakan jika Nadya sedang hamil sekarang.
“Harus sekarang banget ya?” tanyaku sambil mengecup pipi Nadya yang terlihat sedikit mengembung.
“Ya udah. Besok aja.”
Aku menghela nafas, mengusap rambut hitamnya, kemudian mendaratkan satu kecupan lain untuk si kembar.
“Kamu ngapain?” tanya Nadya terkejut karena tiba-tiba aku mencium perutnya.
Kuusap perut Nadya dengan gerakan lembut, kemudian menciumnya sekali lagi. “Biar mereka tau, kalau papanya sayang banget sama mereka.”
Nadya meraih wajahku kemudian mengusapnya. “Mereka pasti senang dan beruntung punya papa kayak kamu.”
“Mereka juga beruntung, punya mama kayak kamu. Mama yang cantik, dan pengertian.”
Entah mengapa, kami ingin sekali bermanja-manja seperti ini. Entah bawaan bayi, atau memang kami menikmati moment bahagia kami yang sempat hilang.
“Gombal.”
“Lho, aku serius Nad.” jawabku dengan logat Jawa medok tingkat dewa.
Memang, kami sering berinteraksi dengan bahasa lahir kami, yakni Jawa. Tapi hidup di ibu kota mengharuskan kami berbaur dan bicara dengan orang lain yang umum menggunakan bahasa kebangsaan yang sudah ditanamkan sejak kami kecil. Bahasa Indonesia.
“Kalau mereka cowok, aku bakalan ketat ajarin ke mereka supaya nggak jadi playboy macam bapaknya.”
“Hey, aku nggak playboy lho. Mereka aja yang ngejar aku. Katanya aku ganteng.”
Kulihat Nadya tertawa. Tawa yang sangat aku sukai sejak dulu pertama kali melihatnya. Tawa yang membuatku nggak bisa ninggalin dia, dan tawa yang sekarang menjadi salah satu hal paling aku rindukan jika sedang berjauhan.
Nadya bilang jika aku segalanya bagi dia. Dan sekarang Nadya harus tau, jika Nadya adalah nafasku, dia adalah sumber semangat hidupku.
Kami berjanji akan bahagia, saling menyayangi, dan saling mengerti satu sama lain, selamanya. []
^^^to be continue.^^^
Mohon koreksi jika ada salah kata dalam bab ini.
__ADS_1
Terima kasih.