
...Happy Reading......
...🌹🌹 🌹...
Ada meeting penting dengan para atasan hari ini. Salah satu nasabah prioritas mengajukan klaim, dan salah satu staff tidak mengabulkan klaim tersebut dengan alasan yang aku juga tidak mengerti mengapa dia lakukan dan alhasil, masalah pun terjadi. Nasabah tersebut mengundurkan diri dan menarik semua simpanan yang tentu saja berdampak pada kas di bank karena jumlah nominal nya yang cukup atau bahkan terbilang sangat besar.
Di tempat kami, nasabah itu bagaikan raja yang harus kami utamakan kenyamanannya. Tidak peduli dari kalangan bawah, menengah ataupun atas. Mereka akan mendapatkan pelayanan yang sama dari kami.
Kejadian itu tidak terjadi di kantorku, melainkan di kantor lain yang ruang lingkupnya jauh lebih besar dari pada kantor cabang yang aku pegang.
Biasanya, jika ada problem seperti ini, aku akan berubah menjadi orang yang super sensitif dan mudah sekali tersulut emosi. Beban menjadi seorang atasan tidaklah ringan. Kami akan dimintai pertanggungjawaban atas semua tindak tanduk staff dan juga kinerja yang terjadi di kantor yang kita pimpin akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang pimpinan. Untuk itu, aku selalu menegaskan kepada semua staff yang aku pegang pada setiap briefing pagi, untuk selalu teliti agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan yang berdampak pada semua orang yang berada didalam satu lingkup.
Meeting dilakukan di kantor pusat. Disana, aku bertemu dengan manager-manager lain dari berbagai kantor cabang yang bisa aku ajak sharing bertukar pendapat masalah pekerjaan. Salah satunya bernama Patricia, wanita berusia sama denganku ini sudah pernah menyabet berbagai penghargaan dari kantor pusat karena kinerjanya yang luar biasa. Dia selalu menjadi pusat perhatian ketika ada meeting besar begini, dan kali ini, aku diberi kesempatan untuk duduk bersisian dengannya.
Ada break selama lebih kurang enam puluh menit karena menunggu salah satu data yang hendak dibahas juga di dalam meeting kali ini. Para peserta meeting dipersilahkan untuk menikmati makan siang di kantin terlebih dahulu, menunya juga sudah di persiapkan khusus untuk kami peserta meeting. Dan aku duduk satu meja dengan Patricia dan beberapa lainnya.
“Aku tidak begitu suka dengan menunya, pak Bagas. Aku ada riwayat alergi dengan udang.” katanya, membuka pembicaraan kami di atas meja makan kantin yang terbuat dari kaca dengan empat kursi.
“Mau tukar dengan bekal saya? Istri saya bikin nasi goreng telur.” kataku sembari membuka kotak bekal yang sengaja aku bawa, dan lebih memilih memakan bekal buatan Nadya dari pada menu mewah yang sudah disiapkan kantor.
“Memangnya boleh? Apa pak Bagas tidak keberatan?”
Aku tersenyum, menyodorkan kotak bekalku padanya. “Ngga masalah. Silahkan.”
Patricia tersenyum jumawa dan menarik kotak biru dongker milikku untuk semakin dekat padanya, dan menukarnya dengan kotak berisi makanan dengan berbagai lauk pauk ke arahku.
“Maaf merepotkan, tapi saya benar-benar nggak bisa makan udang.”
“Oke. Cuma hari ini, nggak masalah.” kelakarku yang disambut tawa sedikit keras oleh Patricia yang kini membuka kotak bekal dan takjub dengan isiannya.
“Oh, wow! Pasti istri anda pandai masak ya Pak Bagas. Kenapa menggiurkan sekali?” pekiknya terlihat tidak percaya dengan isi kotak bekal tersebut.
“Ya tentu saja menggiurkan, Bu Patricia. Istri saya sangat cantik, dan juga pandai memasak.”
“Anda pria yang beruntung.”
Mendengar itu, aku semakin percaya diri dan bangga memiliki Nadya. Tanpa tau Nadya pun, Patricia dapat menilai jika aku adalah pria paling beruntung karena bersanding dengan wanita seperti Nadya.
“Lain kali, kalau ada family gathering, ajak istrinya dong pak. Saya penasaran.”
Aku terkikik geli mendengar itu. Tapi mau bagaimana pun, aku akan mengabulkan itu jika ada kesempatan, karena selama ini Nadya selalu menolak jika ada acara kantor yang melibatkan banyak orang asing untuknya seperti family gathering ini.
“Akan saya usahakan. Karena istri saya kurang suka dengan acara seperti itu.”
__ADS_1
***
Sesampainya rumah ketika jarum jam menunjuk angka tujuh malam, aku disambut oleh hidangan yang menggiurkan buatan Nadya. Wanita cantik milikku itu masih terlihat sibuk dibalik meja dapur yang entah membuat apalagi.
Aku berjalan mendekat dan menepuk pundaknya pelan. Tidak ada adegan romantis atau jika terjadi, sendok kuah akan melayang ke wajahku beserta isinya.
“Mandi dulu sana.” ketusnya sambil mencicipi rasa kuah lalu menyodorkannya kepadaku.
“Iya, iya sayang.” jawabku singkat lalu menerima sendok berisi kuah sambel goreng daging dari Nadya dan menyeruputnya. “Baru juga nyampe. Nggak mau di sun dulu ini suaminya yang ganteng maksimal ini?” candaku garing.
Nadya berbalik menatap dengan ekspresi seperti menahan buang air. “Kamu kesambet apa? Sok romantis. Nggak suka ih, cepet mandi dulu. Makan malemnya udah hampir siap, keburu dingin.”
Aku meraih tas kerja yang sebelumnya aku letakkan tak jauh dari westafel, kemudian menuruti keinginan Nadya sebelum dia berubah menjadi singa betina yang akan menerkam mangsanya dengan brutal karena kesal.
“Habis ini aku mau ajak kamu jalan-jalan sebentar deh. Buat penyegaran. Otakku lagi ngebul nad.”
“Yaudah cepetan mandi sana. Setelah itu langsung makan.”
“Iya, Ay.”
Aku terkikik geli. Sedangkan Nadya, melongo tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan padanya. Ay, mungkin terlalu cepat memberikan dia panggilan sayang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah nggak tahan ingin nyebut Nadya dengan panggilan itu.
Lima belas menit aku sudah kembali bergabung dengan Nadya yang sudah menungguku di meja makan. Aku mandi kilat, biar Nadya nggak terlalu lama menungguku.
Disana, Nadya sedang fokus bermain hape dengan kaki yang dia naikkan ke atas kursi. Sesekali dia tersenyum, sesekali dia menggigit kuku jari telunjuknya seperti menahan sipu.
“Tara.”
“Kok sampe senyum-senyum gitu?” lanjutku sedikit menyelidik. Takutnya dia menipuku. Hahaha...canda. Aku udah percaya ke Nadya kok. Tenang saja.
“Kalau nggak percaya, sini. Deket aku. Ayo baca sama-sama.”
Nggak mau menolak, aku segera mengubah tempatku duduk di sebelah Nadya. Membaca beberapa pesan yang masih terlihat di layar.
“Kamu serius mau jodohin dia sama Letto.”
“Eung. Kenapa?”
Aku menggeleng kemudian mengarahkan poninya yang jatuh didepan wajah, lalu ke selipkan di belakang telinga. “Enggak kenapa-kenapa sih.”
“Tara yang berisik, cocok buat Letto yang batu.”
Aku tertawa. Sekaku itu Nadya memberikan julukan untuk Letto.
“Kamu salah kalau lihat Letto cuma dari satu sisi. Dia memang kaku dan batu. Tapi Letto itu baik banget, terus jangan lupain hobbynya yang ekstrim itu.”
__ADS_1
Nadya meletakkan hapenya di meja, lalu meraih piring untukku dan untuknya.
“Orang banyak duit kayak dia itu, hobbynya aneh-aneh.” katanya dengan ekspresi lempeng. “Hobby kok bikin diri sendiri bahaya.”
“Ada kesenangan tersendiri untuk itu, Nad.”
“Iya, tapi nggak balapan liar juga.”
Memang, Letto sering mengisi waktu senggangnya dengan berkumpul satu komunitas balap yang dia ikuti. Kemudian mereka akan ikut balapan.
“Dia balapannya di sirkuit Nad. Bukan di jalan raya tanpa izin. Jadi bisa dibilang, dia itu balapan legal, nggak liar seperti yang kamu duga.”
“Kamu. Jaman kamu dulu balapan liar kan?”
Aku menggaruk pelipis karena Nadya kembali membuka kartu hitamku. “Ya, maaf. Itu cuma masa lalu Nad. Lagian sejak menikah sama kamu, aku udah nggak pernah aktif lagi disana. Bahkan aku mengundurkan diri dari komunitas.”
“Syukur deh.” ketus Nadya sambil meraih centong nasi dan mengisi piringku dengan dua centong nasi.
“Kalau nggak ikut begituan, pasti kamu nggak bisa lihat aku disini sekarang.” kataku dalam hati.
Kami diam beberapa saat ketika Nadya melayaniku dimeja makan. Mengisi piringku dengan semua masakan buatannya, lalu menyodorkan padaku.
“Gimana meeting nya tadi?”
“Lancar.” jawabku singkat lalu menyendok nasi, setelah berdo'a.
“Lalu, karyawan yang nolak klaim itu, dapat sangsi nggak?”
“Dia di mutasi di kantor cabang Makassar.”
“Wah, jauh tuh.”
“Kalau dia nggak mau, dia bakalan di lepas.”
Nadya mengangguk paham. “Kamu, mau ngajak jalan kemana?”
Ah, hampir lupa. “Ke taman kota.”
“Mau ngapain?”
Aku tidak ingin mengatakannya dulu. Nanti saja kalau sudah sampai disana. Biar jadi surprise.
“Rahasia.”
“Ish! Awas kalau nggak seru!”
__ADS_1
Aku hampir menyemburkan nasi didalam mulutku. “Kamu pasti senang.” jawabku penuh percaya diri. []
^^^to be continued.^^^