Wedding Dust

Wedding Dust
30. Bagaskara Adewangsa


__ADS_3

...Happy Reading......


...🌹...



Jika aku bisa abai untuk hari-hari lain, aku tidak akan abai untuk hari ini. Hari dimana Nadya lahir kedunia, Hari dimana Nadya untuk pertama kalinya melihat gemerlapnya dunia.


Hari ini adalah hari yang selalu spesial buatku. Aku tidak akan pernah lupa, karena hari ini merupakan hari keberuntungan yang diberikan Tuhan untukku karena kehadiran Nadya didunia.


Dua bulan sebelum aku lahir, Nadya sudah menghirup udara yang sekarang menjadi udara bagiku juga. Hari ini selalu menjadi hari terbaik untukku karena dengan hari ini, aku bisa mengenal dan menjadikan Nadya teman baik, bahkan sekarang sudah menjadi teman hidup yang ingin selalu aku jaga dengan segenap jiwa dan raga milikku.


Dengan perasaan gugup dan takut di tertawakan karena suaraku yang tidak merdu, aku menyanyikan lagu ulang tahun sejuta umat kepada Nadya.


Happy birthday to you...


Dia terlihat terkejut dan menatapku lekat tanpa berkedip.


Happy birthday to you...


Matanya mulai bergetar, terlihat seperti ingin menangis. Aku harap dia tidak menangis, karena aku bisa berhenti romantis detik ini juga.


Happy birthday to my sweet heart...


Nadya masih menatapku lurus,


Semoga panjang, umur.


Aku tau dia sedang mengatakan sesuatu dalam hatinya sekarang. Tapi sayangnya, aku tidak tau, kalimat apa yang sedang ia katakan untuk dirinya sendiri saat ini. Yang bisa aku lihat, hanya sorot sendu dan pupil matanya bergetar menahan tangis.


Suasana berubah sedikit sendu karena pembicaraan kami setelah lagu ku selesai, terbilang cukup sensitif. Aku menciumnya lagi, karena mencium Nadya memanglah sebuah kebanggan tersendiri untukku. Nadya itu tipikal sulit sekali di takhlukkan. Jadi, berhasil mencium bibirnya, adalah sebuah pencapaian luar biasa. Dan aku adalah orang yang beruntung.


Tapi, itu tidak bertahan lama karena setelah itu, dentingan notifikasi dari ponsel Nadya membuyarkan romatisasi suasana kamar kami.


Nadya meraih ponselnya sejenak, kemudian meletakkan kembali diatas nakas di sisi ranjang tempatnya tidur.


“Makasih ya—”


“Tara?” potongku cepat, tidak ingin pikiran buruk dan praduga ku berkelana semakin menguasai diriku, lalu menyeret ku ke ranah emosi yang meledak-ledak.


Nadya mengangguk dan aku bisa bernafas sedikit lega, meskipun aku bisa menangkap sedikit keraguan dari ekspresi wajahnya. Nadya semakin mahir menyembunyikan sesuatu.


“Besok aku jemput di kantor.”


Nadya mengangguk patuh dengan deheman singkat sebagai jawaban.


“Sekarang, balas dulu pesan dari Tara, kemudian cepat tidur.”


***


Hari ini, sengaja aku mengambil jatah cuti tahunan ku. Karena izin yang terbilang dadakan, aku hanya memberitahu Angel—sekretarisku, melalui telepon tadi pagi-pagi. Aku memiliki janji dengan Letto dan Ko Ivan pukul sembilan pagi untuk mengambil mobil hadiah untuk Nadya.


Setelah mengantar Nadya ke kantor tadi, aku mampir ke sebuah toko kue ternama yang enak dan memesan kue ulang tahun disana untuk ku ambil sorean, sebelum jemput Nadya di kantor. Setelah itu, aku pulang sebentar untuk menjemur pakaian yang tadi sudah aku cuci, lalu menuju tempat Letto.


“Gue baru banget bangun tidur bro. Gue mau boker dulu.”


“Kebiasaan. Lu nggak bisa ya, janjian semenit aja nggak telat. Gimana kalau ko Ivan pergi sebelum kita sampai disana?”


“Yang penting, Lu udah bayar kontan, itu nggak akan jadi masalah.”


Temen settan. Sialan bibirnya itu, minta di grill saja biar nggak ngeselin begitu.


“Ya udah. Buru.” kesalku sedikit berteriak menanggapi kesantuy-an nya.


Dia berjalan santai masuk kerumahnya. Sedangkan aku, sibuk memikirkan sebuah rencana penyambutan untuk Nadya nanti sore.


Rencana ku, setelah sampai dirumah nanti, aku memberinya kejutan dengan hadiah dariku, sesudah itu aku memberinya kue ulang tahun, lalu mengajaknya makan malam disebuah restoran yang tadi sudah aku pesan. Semoga lancar dan nggak ada kendala.


Setelah menunggu Letto hampir tiga puluh menitan untuk boker dan mandi, akhirnya kami sekarang dalam perjalanan menuju showroom milik ko Ivan untuk mengambil mobil yang aku beli kemarin.

__ADS_1


“Nadya nggak bakal tersentuh sama hadiah yang Lo kasih, Gas.”


“Yang penting berguna. Dia bisa pake ke kantor biar nggak kepanasan dan kehujanan di jalan.”


“Ya itu tujuan Lo. Kalau dia nggak mau pake, gimana? Lo mau kasih ke gue nggak?”


“Ya Lo bayar dulu, baru gue kasih.”


“Sowak.”


Aku terkikik geli mendengar umpatan Letto untukku. Dia memang gampang badmood kayak Nadya, tapi Letto masih punya pengendalian emosi yang baik, nggak kayak Nadya yang gampang meledak-ledak.


“Ini nanti, mobil langsung Lo bawa pulang?” tanya Letto sambil menyalakan ponsel.


“Yo'i. Ntar parkir di garasi aja. Biar surprise.”


“Udah gua kata, nggak ngaruh ke Nadya.” cibirnya bikin sesak nafas.


“Terserah Lu dah, to, buto.” (*Buto: sejenis makhluk mitos yang sering disebut-sebut bisa memakan bulan.


“Njing. Settan Lo.”


Setengah jam menempuh perjalanan, kami akhirnya sampai di Showroom dan aku senang karena mobil itu terlihat elegan dan pasti akan cocok dipakai Nadya.


“Makasih ya Ko.”


“Ya harusnya saya yang terima kasih, mas Bagas.”


“Kalau begitu, berpelukan saja seperti teletubbies.” celetuk Letto mencoba membuat lelucon yang disambut tawa keras membumbung dari ko Ivan. Selera humor mereka berdua, jongkok.


“Oke lah. Kalau begitu, saya pamit. Makasih sudah meluangkan waktu untuk kami ya, Ko. Jangan kapok dapat customer seperti kami.” kataku sambil mengulurkan tangan berniat jabat tangan. Namun semua terhenti karena ucapan Letto.


“Ko, SPG nya yang itu lihat ke Bagas terus. Naksir kali.”


Letto ini, sangking ceplas-ceplos nya, kadang bikin ribet urusan. Contohnya sekarang. Untuk apa dia bicara begitu, biarkan saja SPG itu menatap sesuka hatinya. Julid amat jadi cowok.


Aku semakin melongo dibuatnya. Kelakuan dua orang ini nggak jauh beda.


“Eh, enggak Ko.”


“Tuh, mata Lo perlu periksa ke BPJS, lett.” celetukku kesal kemudian tawa ko Ivan kembali meledak.


Aku memutuskan menyetir Nissan Juke berwarna putih yang akan menjadi milik Nadya. Sedangkan Letto yang membawa mobilku.


Sampai di rumah, aku sudah memarkir mobil kedalam garasi dan menutup setengah pintunya. Biar nanti Nadya penasaran dan menebak mobil siapa itu, dan...aku akan mengatakan itu miliknya sebagai surprise. Begitu pikirku.


“Lo bareng gue aja sekalian nanti kalau mau jemput Nadya pulang kerja.”


“Lo pikir gue pengangguran? Nggak, anter gue balik ke Cafe. Mau cek keadaan disana.”


Letto merajuk setelah turun dari mobil. Kalau begini, mending tadi mobilku biar di bawa aja.


“Kalau gitu, bawa aja mobil gue. Ntar kalau Lo balik, sekalian ampirin ke sini, terus gue anter pulang.” putusku agar nggak semakin ribet puter-puter jalan raya. Capek.


“Lo nggak butuh? Nasib kue Lo gimana?”


“Ada motor. Ntar gue ambil sambil jemput Nadya bawa motor aja, biar romantis.”


“Taik. Najis gue lihat Lo ngebucin istri Lo sendiri kayak gini.”


“Sukurin. Iri bilang boss.”


***


Seperti rencana awal, aku menjemput Nadya di kantor nya dengan motor. Aku menunggu tidak jauh dari pintu masuk.


Kuraih ponsel untuk mengirim pesan ke Nadya, memberitahunya tentang posisiku berada.


Aku didepan pintu gerbang kantor. Bawa motor.

__ADS_1


Nggak lama kemudian balasan masuk.


Nadya: Lho, mobil kamu kemana?


Aku tersenyum, lalu membalasnya. Sama Letto.


Nadya: Oke, aku lagi jalan keluar nih. Tunggu bentar.


Aku mengangkat bahu untuk menghirup udara lebih banyak. Jantungku berdebar seperti baru pertama kali jadian. Senyuman tak lekas hilang dari bibirku ketika membayangkan wajah terkejut Nadya nanti.


Dan tidak butuh sampai lima menit, Nadya muncul dan berjalan mendekat padaku. Dia itu cantik, banget. Apalagi kalau orang yang menganggapnya jutek itu tau sifat aslinya, mereka pasti akan langsung jatuh cinta pada wanita yang satu ini.


Sampai didepanku, Nadya mendekat dan mengecup singkat bibirku. Aku terkejut, tentu saja. Karena selama ini Nadya tidak pernah melakukan itu.


“Dilihatin satpam tuh.” kataku menginterupsi.


Nadya menoleh dan mengangguk ke arah pak satpam yang memang sedang melihat kearah kami berdua.


“Nggak masalah tuh.”


Aku tertawa lebar dan meraih puncak kepalanya, mengacak surainya gemas dan mencubit pipinya yang terlihat sedikit berisi. Kemudian, aku menyerahkan helm dan memakaikan di kepalanya. Setelah itu, Nadya naik, melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, dan aku akan membawanya ke toko kue sebelum pulang.


“Kamu pulang jam berapa? Kok udah pake baju santai aja?”


“Izin pulang cepet.” sengaja aku berbohong agar rencana surprise ku tidak berantakan. Dan Nadya menanggapinya dengan ber Oh-ria.


Aku membawanya ke toko kue yang kemarin aku datangi untuk mengambil kue yang ku pesan kemarin. “Mau beli kue?” tanya Nadya.


“Eumm. Buat perayaan kecil-kecilan.”


“Kamu ini, ada-ada aja sih Gas.”


“Nggak masalah, buat istri tercinta.” candaku, nggak berharap Nadya bakal ngerespon. Tapi ternyata semua itu nggak sesuai dugaan, Nadya malah memberikan senyuman yang sudah lama aku rindukan selama ini. Wajahku panas seketika.


“Makasih.”


Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Nadya melingkarkan satu tangannya di pinggangku tanpa lepas barang sejenak. Hal seperti ini saja sudah membuat aku bahagia dan merasa menjadi laki-laki paling sempurna di dunia.


Ketika roda motor sudah mengantar kami sampai di depan rumah, seperti yang aku harapkan, Nadya menelisik penasaran.


“Ada tamu ya?” tanyanya saat turun dari boncengan motor.


“Tamu?” tanyaku balik, pura-pura demi peran terbaik untuk drama ulang tahun Nadya hari ini.


“Tuh?” katanya sambil menunjuk bodi mobil yang terlihat sebagian dari dalam garasi.


“Oh, itu.”Sahutku santai sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana yang aku pakai. Lantas aku menekankan salah satu tombol di remote kontrol, dan lampu Hazard berkedip. Kali ini, Nadya melotot ke arahku. “Hadiah kecil dari aku, buat kamu.” lanjutku meraih tangannya dan memberikan kunci mobil itu padanya. “Selamat ulang tahun, Ay.” akhirnya, aku bisa memanggil Nadya dengan sebutan itu ketika dia sadar sepenuhnya.


Nadya memandangku dengan wajah merah dan seperti ingin menangis. Lalu aku bawa dia kedalam pelukan dan mengusuk punggungnya pelan. “Jangan nangis. Aku nggak akan bisa memaafkan diriku kalau melihat kamu nangis lagi.”


“Bodoh.”


“Bodoh?”


“Ya. Kenapa kamu rela ngelakuin semua ini demi aku, Hah?!”


Aku mempererat pelukan, menyalurkan semua kasih sayang yang selama ini ku pendam dalam diam. “Karena aku mencintai dan menyayangimu, Nad. I Love You, forever. Jangan pernah tinggalin aku, ya?” []


^^^to be continued.^^^


...Ď€...


Yang manis-manis dulu deh, sebelum...Booom....🤯


Jangan lupa selalu dukung Nadya dan Bagas ya, agar aku semangat nulisnya. Jangan lupa juga mampir ke cerita-cerita novel karya Vi's lainnya yang nggak kalah seru


Thank You


See you...

__ADS_1


__ADS_2