Wedding Dust

Wedding Dust
31. Nadya Ayunda


__ADS_3

...Happy Reading......


...🌹...



“Selamat ulang tahun.” katanya, sambil menyodorkan sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna pink yang entah apa isinya.


“Darimana bapak tau hari ini hari ulang tahun saya?”


“Aku ngga sengaja baca daftar riwayat hidup kamu di file nya Kirani.”


Aku kesal. Bukankah sengaja dia mencari tau? Lama-lama, aku tertekan dengan sifat pak Hansel.


“Pak, tolong berhenti. Saya sudah bersuami.”


“Tapi kamu butuh saya, Nad.”


“Bapak berlebihan. Rasa percaya diri bapak terlalu tinggi. Saya cerita masalah saya, karena—”


“Karena kamu nyaman sama saya.” sahutnya, makin menyebalkan. “Ya 'kan?” lanjutnya sambil menyeringai padaku.


Serius. Apa aku harus membuat surat pengunduran diri hari ini juga? Lingkungan kerja yang sekarang sangat berbeda dengan yang sebelumnya ketika masih di pegang atasan lamaku yang menghargai dan baik hati. Hansel memang baik, tapi caranya terlalu belok dan tidak masuk akal.


Aku menatapnya tajam. Rasa hormatku seolah hilang ditelan bumi. Orang yang berada di hadapanku ini, adalah orang pertama yang membuatku merasa dikungkung tali penyesalan yang melilit leher dan membuat harapanku nyaris mati. Hansel orang yang terlalu mendominasi dan berambisi.


Mungkin ambisinya saat ini, adalah mendapatkan aku dan membanggakan diri karena bisa merebut istri mantan juniornya di kampus dulu.


“Maaf. Lupakan saja tentang itu. Silahkan ambil kembali kado ini. Saya menyesal sudah menceritakan masalah rumah tangga saya sama bapak. Tolong lupakan apa yang pernah saya beritahu ke bapak, dan jauhi saya.”


“Tidak. Aku tau, kamu sudah bersuami. Tapi apa salahnya kalau kita masing-masing merasa nyaman? ” bujuknya. Masih berusaha untuk meyakinkanku agar mau menjalani hubungan dengannya dibelakang punggung Bagas.


Aku menghela nafas kelewat besar, menatap manik matanya yang sempat aku kagumi dengan sorot marah, lalu berkata. “Oke. Sekarang, apa mau bapak?”


“Kita jalani ini bersama. Sudah terlanjur, Nad. Aku udah sayang sama kamu. Aku janji, apa yang nggak bisa di kasih Bagas ke kamu, aku bakalan kasih.”


Aku menggeleng tidak percaya. “Pak, saya mencintai suami saya meskipun saya terkadang marah sama dia. Jadi, kalau bapak tetep maksa, saya akan mengundurkan diri.”


“Kamu nggak akan bisa pergi dariku, Nad. Atau Bagas akan tau semua tentang yang pernah kita lakukan dibelakangnya. Termasuk ciuman itu.”


Aku terbelalak. Ternyata benar, Bagas memintaku berhenti dan menjauhi Hansel bukan tanpa alasan. Pria ini begitu otoriter dan menakutkan.


Aku terjebak.


***


Bagaimana mendeskripsikan kebahagiaan ini ya? Bagas membuat diriku selalu menjadi wanita paling beruntung sedunia. Dia lebih mengutamakan diriku dari pada dirinya sendiri. Meskipun ada satu sisi darinya yang tidak aku sukai, yakni menjadikan Hera orang ketiga dalam hubungan kami, walaupun dia pernah berjanji akan menyudahi hubungan itu.

__ADS_1


Masalah yang aku dapat di kantor hari ini cukup membuat tertekan. Harusnya aku mendengarkan Bagas dari awal. Hansel yang menolak melepas bahkan mengancam akan mengatakan semuanya kepada Bagas jika aku berani melawan permintaannya, masih teringat jelas di dalam kepalaku. Jadi, terpaksa aku menerima—


Ah. Lupakan. Aku hanya ingin hanya ada aku dan Bagas hari ini.


Dia menjemputku hari ini, dan dia memberi kabar melalui pesan jika dia sudah menunggu didepan. Aku bergegas dan meninggalkan Hansel yang masih berusaha mengejar langkahku.


Sesampainya ditempat Bagas berada, aku sengaja menciumnya singkat, tepat di bibir. Aku berharap Hansel melihat itu dan membuatnya berubah pikiran. Aku kacau, pikiranku penuh akan suara-suara yang menyesakkan. Termasuk rasa bersalah kepada Bagas setelah tak berdaya menerima permintaan Hansel untuk menjalin hubungan terlarang itu.


Oke, mari lupakan sejenak tentang Hansel dan sifat pemaksanya.


Bagas mengajakku kesebuah toko kue ternama di Jakarta. Katanya, untuk merayakan ulang tahunku dengan pesta tiup lilin kecil-kecilan dirumah. Aku makin tersiksa oleh rasa bersalah karena perlakuan Bagas.


Dan sesampainya di rumah, Bagas memberikan kejutan lain yang nggak ku duga sama sekali, yakni sebuah hadiah yang cukup besar dan mahal. Sebuah mobil.


Aku memeluknya dan hendak menangis, tapi dengan tegas dia melarangku untuk menangisi hal seperti ini. Dia bahkan mencibirku cengeng. Dia juga mengatakan kata-kata manis yang membuatku luluh.


Setelah drama pemberian hadiah itu berakhir mengesankan bagiku, kami berdua masuk kedalam rumah. Kami membersihkan diri kami masing-masing, kemudian berkumpul berdua di meja makan dengan kue yang lilinnya sudah menyala. Bagas menyanyikan lagu ulang tahun lagi untukku, lalu menyuruhku meniup lilin itu dalam sekali hempas.


“Makasih ya untuk kue dan hadiahnya.” kataku sambil mengunyah black forest yang rasanya lumer dan maknyus. Harga memang tidak membohongi rasa.


“Eumm.” jawabnya singkat, lalu melahap sisa kue di piringnya.


“Dua bulan lagi kamu ulang tahun, minta kado apa?” tanyaku ingin tau. Karena Bagas tidak pernah menyebutkan hal Edia inginkan secara spesifik, jadi aku membelikan apapun yang aku sukai saja sebagai hadiah. Itupun tidak ada maksud dan tujuan lain, selain hanya ingin memberi. Tidak ada hati berdebar, atau jantung berdetak hingga darah berdesir dingin. Hanya sekedar memberi, begitu saja. Tapi, tahun ini rasanya pasti akan berbeda.


“Nggak perlu. Cukup do'a dan kehadiran kamu aja udah cukup kok.”


Bagas menyemburkan tawanya sampai isi dalam mulutnya muncrat diatas meja, dan beberapa yang lain mengenai ku.


“Bagas, jijik ih.” protesku sambil mengusap potongan-potongan kecil kue yang hampir hancur dan basah yang menyembur dari dalam mulut Bagas.


“Sorry, sorry. Lagian kamu kenapa ngomong gitu sih. Jadinya nyembur beneran kan?” katanya sambil membersihkan meja dan beberapa yang menempel di dasterku.


Aku memanyunkan bibir kesal. Ah, tidak. Sebenarnya cuma cari perhatian dia aja sih, siapa tau diberi. Gak peduli, aku akan jadi binnal untuk suamiku sendiri, khusus hari ini.


Bagas terlihat hot hari ini. Wajah tampan khas Jawa yang menurutku sangat sempurna kharisma nya. Alisnya tebal, matanya bulat berseri dan bening kecoklatan, hidungnya mancung dengan tulang yang cukup tinggi, bibirnya sedikit kemerahan dan bentuknya yang unik dan seksih. Rambutnya yang masih setengah basah, tank top yang ia kenakan memperlihatkan kulit kuning Langsat nya lengkap beserta gundukan-gundukan dikedua lengannya, dan celana pendek selutut yang tentu saja memperlihatkan kaki jenjang nan kekar berbulu yang begitu menggoda. Liurku ingin menetes dibuatnya.


“Gas,”


“Hmm.”


“Mau kado apa?”


Lagi-lagi aku di suguhi senyuman manis dan lembut yang baru aku sadari, terlihat begitu indah. “Apa ya?” pikirnya sambil mengetuk dagu dengan telunjuk dan menatap ke langit-langit ruangan. “Hadiah yang paling spesial.”


“Apa? Yang jelas dong.”


“Kado yang belum pernah ada di antara kita.”

__ADS_1


Belum pernah ada diantara kita? Apa sih?!


“Gas, ngomong yang jelas. Aku—” kalimatku terhenti tiba-tiba dan nyaris tersedak saat sebuah jawaban terbesit di otakku. Mungkin dugaanku benar, bisa jadi juga salah. “Maksud kamu, anak?”


Bagas meraih tanganku pelan dan menggenggamnya. “Semoga terkabul ya? Semoga usaha kita berhasil, dan dia hadir diantara kita.”


Aku membalas genggamannya cukup erat. Hatiku seperti diiris. Bagaimana cara memulai bicara dengannya tentang hubunganku bersama Hansel? Apa aku harus merahasiakannya saja sampai Hansel bosan dan meninggalkan aku? Dan Bagas tidak perlu tau agar tidak merasa dikhianati dan sakit hati? Atau...lebih baik jujur saja sekarang sebelum terlambat. Siapa eBagas bisa memberi solusi.


“Gas,”


“Hmm? Kenapa?”


Aku memikirkannya lagi. Semua akan hancur jika aku bicara sekarang. Oke, Nad. Simpan saja sendiri untuk saat ini.


“Nggak. Nggak jadi.”


“Kamu keberatan dengan kado yang aku inginkan?”


Aku menggeleng ragu.


“Aku juga nggak bakalan berambisi sendirian untuk itu, Nad. Jika kamu keberatan, kamu bisa memberitahuku dari sekarang.”


“Tidak.” sahutku cepat sambil berdiri dan berjalan memangkas jarak dengan Bagas. Persetan Hansel. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Hansel sendiri. Bagas tidak boleh tau. “Kamu akan mendapatkannya jika kamu rajin mengusahakannya.”


Entah Bagas menilaiku seperti apa sekarang. Kalimatku barusan, benar-benar tidak seperti diriku. Tapi, aku lega bisa mengatakan itu.


Aku duduk dipangkuan Bagas, menatap fitur wajahnya yang begitu sempurna menurutku, lalu mengusap satu sisi pipinya dengan gerakan pelan dan lembut. “Ayo, kita usahakan bersama.”


“Tapi, aku tidak mau melakukan itu jika kamu tidak memiliki perasaan padaku, Nad.”


Aku tertohok.


“Anak harus tumbuh dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bukan hanya aku, bukan hanya kamu.”


“Iya, kamu pernah bilang gitu.”


“Dan sekarang kamu belum ada rasa itu ke aku, 'kan?” tembaknya tepat sasaran, memancing seluruh kesedihan dalam hatiku untuk nampak ke permukaan. Haruskah aku menyangkal perasaan ku untuk Bagas, lagi?


Tidak. Aku harus mengambil keputusan secara tegas. Aku harus mengakui perasaan yang selama ini sudah hadir diam-diam untuknya.


“Kamu salah,” aku menjeda diantara rasa khawatirku sendiri tentang bagaimana kemungkinan yang akan di berikan Bagas setelah ini. “Aku mencintaimu, Gas.” Dan dia terpaku menatapku. “Tapi, ada satu hal yang membuatku tidak bisa memberikan perasaan itu seutuhnya sama kamu.”


Bagas menekuk alisnya cukup dalam. “Apa itu?”


Aku menggeleng dengan satu-dua bukit air mata yang mulai berjatuhan tanpa aku minta. “Satu hal, yang tidak bisa aku katakan padamu. Karena ini akan sangat menyakitkan untukmu.” kataku dalam hati. []


^^^to be continued.^^^

__ADS_1


__ADS_2