Wedding Dust

Wedding Dust
52. Nadya Ayunda


__ADS_3

WEDDING DUST UPDATE


SELAMAT MEMBACA,


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE KOMENTAR DAN SIMPAN DI LIST FAVORIT KALIAN YA...


TERIMA KASIH


🌹🌹🌹



“Bagaimana pertemuan mu dengan dia, tadi?” tanyaku dalam pelukan nyaman Bagas.


“Biasa aja. Hansel masih sama kayak dulu.”


“Hansel ngirim WA ke aku.”


“Ngapain?”


“Baca sendiri.” titahku kaku sambil menyodorkan ponsel didepannya.


Hansel: Bilang sama suamimu, jangan sok jadi orang bener. Padahal dianya nggak jauh beda sama penghianat.


Setelah itu, Bagas meletakkan ponselku diatas meja nakas kamar.


Entah cuma perasaanku saja, atau memang benar, jika Bagas seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, aku tidak akan menanyakan itu sampai dia sendiri yang akan memberitahukannya padaku.


“Dia...nggak mau berhenti Nad.”


Inilah yang aku maksud. Mungkin sejak tadi Bagas kesulitan mencari cara untuk memberitahuku tentang keputusan Hansel dari pembicaraan mereka tadi sore.


Ada jeda cukup lama, aku juga nggak tau harus menjawab seperti apa. Karena Hansel memang pernah berkata begitu. Bahkan, dia akan rela melepas keluarganya demi aku. Gila bukan?


“Jangan khawatir. Aku nggak akan ngulangi kesalahanku lagi. Aku nggak peduli lagi sama dia.” kataku mencoba menyalurkan energi positif untuk Bagas yang terlihat putus asa. Masa lalu yang tidak aku ketahui sepenuhnya itu seperti menjadi bom waktu untuk hubungan kami. Terlebih Bagas yang memilih menyimpan dan menutup rapat-rapat masa lalu itu dariku. Hanya beberapa bagian saja yang dia beritahukan padaku. “Aku ingin memperbaiki semuanya sama kamu, hidup tenang dan bahagia sama kamu, Gas.”


Bagas menarikku kedalam pelukannya semakin erat. “Terima kasih sudah percaya sama aku. Aku harap kita akan berhasil memperbaiki semuanya.”


Aku mengangguk dan mengusap dada bidangnya lembut.


“Tentu. Kita pasti akan berhasil.” kataku.


“Nad,”

__ADS_1


“Hmm?”


“Sebesar apa beban yang kamu pikul selama menikah denganku?” tanya Bagas tiba-tiba. Ini bukan Bagas sekali, pasti Hansel sudah mengatakan sesuatu padanya.


Aku menatap wajahnya yang terlihat sedih. Dia terlihat lelah dan, entahlah, aku tidak bisa membaca mimik wajahnya saat ini.


“Ngomong apa dia sama kamu?”


Bagas menggeleng, tapi ekspresinya tidak bisa berbohong. Dia sedang memikirkan sesuatu. “Nggak. Aku cuma pingin tau aja, sejauh mana aku bersikap brengsek ke kamu selama ini.”


Aku kembali tertunduk, menghela nafas berat lalu mulai merangkai kata. Oke, aku harus terbuka, seperti apa yang udah jadi kesepakatan kita berdua.


“Aku nggak tau apa yang di omongin Hansel ke kamu, tapi aku nggak mau nyembunyiin apapun lagi dari kamu, termasuk perasaan aku.” aku merasakan Bagas mengusap rambutku pelan. “Kamu nggak keberatan aku ngomong jujur?”


“Eumm. Ngomong aja.”


Sekali lagi aku mencari dan meraup udara sebesar mungkin agar aku tenang. Berada diperlukan Bagas seperti, membuat aku sedikit nggak nyaman ketika membahas masa lalu. Tapi nggak apa-apa, mari kita coba.


“Sebenarnya, sejak kamu setuju kita menikah, aku nggak yakin karena ada Hera untuk kamu.” kataku membuka keterbukaan diantara kami. “Kamu bilang, kamu mencintai dia, dan aku nggak berharap banyak pada hubungan seperti yang sedang berusaha kamu tawarkan saat itu.


Tapi, karena aku nggak bisa sama sekali nolak keinginan kamu, aku pun akhirnya berusaha nerima kita. Termasuk Hera, dalam pernikahan kita.


Awalnya aku pikir semua akan sulit, tapi tidak. Semuanya terlewat begitu saja bahkan sampai di usia pernikahan kita yang nggak sedikit sampai saat ini, dan tentu saja, pernikahan kita yang nggak memiliki sama sekali tujuan.


“Hingga Hansel datang dan semuanya jadi seperti ini.” lanjutku lirih.


Aku menggenggam T-shirt yang di kenakan Bagas, menahan nyeri yang datang begitu saja ketika mengingat kesalahan yang sudah aku perbuat, meskipun tidak bertujuan membalas perlakuan Bagas, aku bersalah telah bermain api di belakangnya. “Aku melakukan itu bukan karena mencintai Hansel. Aku hanya merasa nyaman sama seperti dulu kamu memberiku kenyamanan ketika aku membagi beban padamu. Cuma itu.”


“Lalu, bagaimana perasaanmu padaku sekarang? Apa masih sama?” pertanyaan Bagas membuatku terkesiap dalam kejut. Lalu aku mengangguk.


Kurasakan hembusan nafas hangat beraroma mint dari Bagas. “Syukurlah, kalau begitu. Setidaknya, kamu masih mencintaiku. Masih ingin bersama aku.”


Aku menelusupkan lenganku diantara lengan dan ketiaknya, memeluknya erat. “Aku cinta kamu.”


“Iya. Aku tau.” jawab Bagas sambil terkikik menggoda. Aku mencoba menahan senyuman, tapi aku kesal dengan godaannya yang membuat ku malu itu.


Kucubit punggungnya hingga dia mengaduh dan mengecup keningku. “Iya, aku juga cinta kamu.” kata-kata inilah yang aku inginkan. Aku ingin selalu yakin jika Bagas memang masih mencintaiku setelah semua yang terjadi diantara kami.


“Aku, akan mengundurkan diri dari kantor.”


Bagas melepas pelukan kami dan menjauhkan diri. “Serius?”


Aku mengangguk dan dapat menangkap binar bahagia dan lega dari manik matanya. “Ya. Aku akan fokus pada rumah tangga, dan juga program kita untuk memiliki—”

__ADS_1


“Ya. Aku senang mendengar itu Nad. Aku senang kita sama-sama ingin memiliki anak. Wah, aku udah nggak sabar untuk nanti malam. Atau, sekarang saja?”


“Hey—”


***


Bukan Bagas namanya kalau melepas aku begitu saja. Tiga hari kami menghabiskan sisa cuti, tiga hari itu pula kami bergumul di ranjang siang malam macam pengantin baru. Tenaga Bagas seolah tak ada habisnya, dan aku nggak bisa nolak saat Bagas mulai menyentuhku lagi dan lagi.


Besok kami sudah harus kembali bergelut dengan dunia hidup manusia dewasa yang rumit. Apalagi aku harus bertemu dengan Hansel dan kembali berada satu ruangan dengannya. Sabar, hanya tinggal menghitung hari setelah aku mengajukan surat pengunduran diri.


“Gas, udah ih!” protesku ketika Bagas ingin memulainya lagi setelah dua ronde berjalan tanpa jeda. Tubuhku lemas, tenagaku habis terkuras karena mengimbangi permainan ranjang Bagas yang...WOW.


Jika dipikir lagi, Bagas memang mumpuni dalam hal ini. Dia pandai membuat ku bertekuk lutut, dan hanya memanggil namanya ketika bergumul di atas ranjang. Bagas selalu membuatku sulit untuk lupa akan perlakuan menyenangkannya ketika kami bersetu-buh. Ya, aku mengakui itu.


“Satu kali lagi ya? Janji habis ini tidur.” pintanya manja padaku yang sudah tumbang.


“Tadi kamu juga janjinya begitu.” rajukku tanpa mau menjauhkan diri dari dekapan Bagas. “Tapi apa?”


“Yang ini beneran deh. Janji, habis ini aku bakalan tidur.”


Aku luluh, membalik badan dan menangkup wajah yang akhir-akhir ini membuatku selalu memikirkannya.


“Oke. Satu kali, setelah itu mandi terus tidur.”


Bagas tertawa dan mulai memposisikan dirinya diatas ku.


“Setuju.”


***


Aku memasuki ruangan dengan perasaan campur aduk. Semua ingatan beberapa hari yang lalu terputar paksa menyerbu rasa percaya diriku. Aku takut, tapi aku harus tetap pada tujuan awalku, yakni mengundurkan diri dari kantor dan fokus pada rumah tanggaku bersama Bagas.


Tatapan orang-orang terlihat aneh padaku. Mereka melihat seolah aku adalah wanita yang tidak seharusnya ada disini. Biarkan saja, toh sebentar lagi juga kami nggak ketemu.


Setelah kulewati bilah pintu kaca ruangan, aku melihat Hansel duduk dimeja kerjanya. Berkutat dengan komputer dan tersenyum ketika melihatku masuk ke ruangan.


“Bagaimana liburannya, Nad?” tanyanya seolah tidak terjadi apapun beberapa hari yang lalu.


Aku tidak memberikan jawaban, hanya meletakkan tas dan menyalakan komputer milikku sendiri, kemudian mengisi absensi. Setelah itu, aku mengeluarkan amplop coklat bersih surat pengunduran diriku dan berjalan ke meja Hansel. Dia menyeringai, dan aku semakin yakin dengan keputusanku.


“Resign?” tanyanya padaku sambil mempertemukan manik kami.


“Ya. Saya mengundurkan diri. Tidak ada lagi yang perlu saya takutkan untuk pergi dari sini. Terima kasih sudah mempermudah semuanya. Bagas juga nitip salam buat kamu. Terima kasih, katanya.” []

__ADS_1


^^^to be continue.^^^


__ADS_2