Wedding Dust

Wedding Dust
48. Other side's Garden (Decision)


__ADS_3

BAB INI MENGANDUNG BAWANG.


SILAHKAN BERI DUKUNGAN UNTUK WEDDING DUST. KARENA DUKUNGAN DARI KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK VI'S TERUS BERKARYA. 😊


TERIMA KASIH


SELAMAT MEMBACA


🌹🌹🌹



...Dan disini pula, kami memutuskan untuk berpisah...


...Sejenak,...


...Untuk memulai kembali semuanya dari awal...


...3...


Pertemuan ketiga ini merupakan puncak dari hubungan mereka. Pembicaraan serius sudah berlangsung lama, dan keduanya masih belum bisa menemukan titik terang untuk hubungan mereka.


“Tempati saja rumah itu. Aku yang akan keluar.”


Nadya tersenyum miring mendengar hal itu. “Apa kamu sudah gila? Mereka akan memanggilku apa jika sampai aku mengiyakan kata-katamu itu, Gas.” ketus Nadya sambil menggelengkan kepala tak percaya. “Wanita tidak tau malu? Begitu?”


“Nad,”


“Sekali lagi aku tegaskan ke kamu. Nggak akan ada yang keluar dari rumah itu.”


Egois, tapi Nadya tidak ingin ucapan Bagas waktu itu terwujud dan membuatnya menjadi terpuruk.


Dia sadar, dia tidak punya hak atas rumah itu yang sebenarnya memang milik Bagas. Tapi dua tahun yang lalu, Bagas sudah mengubah nama kepemilikan rumah tersebut atas nama dirinya. Jadi, Nadya menggunakan itu untuk menekan Bagas agar tidak keluar dari rumah mereka. Atau kalau tidak, Nadya mengancam akan menjual rumah tersebut.


“Kalau kamu memaksa pergi, aku juga akan pergi dari sana. Rumah itu bukan milikku.”


Bagas menatap lurus suasana sore dan matahari yang membiaskan cahaya diatas air danau yang kini terlihat lebih terawat dari tahun-tahun sebelumnya. Pikirannya kacau, dan rumah bukanlah tujuannya untuk kembali saat ini. Terlalu menyesakkan jika dia harus bertatap muka dengan Nadya dalam waktu yang cukup panjang.


“Kalau begitu, lakukan.”


Nadya menoleh kasar. Rahangnya mengeras dengan gigi mengerat kuat. Matanya bergetar, berkabut mendung oleh airmata.

__ADS_1


“Lakukan. Aku tidak akan pulang kesana.” kata Bagas sambil tertunduk lesu. “Ah, tapi maaf, aku mau mengambil mobil. Aku harus tetap bekerja, dan aku butuh mobilku.”


Nadya menggeleng tanpa sepengetahuan Bagas. Hatinya sudah hancur karena kesalahannya sendiri.


“A~h. Kamu juga sudah bisa menggunakan mobil mu. SIM nya sudah jadi, dan aku letakkan di laci nakas kamar.”


Nadya menunduk cepat ketika airmata nya jatuh beruntun.


“Sekali lagi maafin aku nggak bisa nemeni kamu sampai akhir. Tolong jangan cerita ke siapapun sampai kita berhasil melewati ini. Sampai kita menemukan jalan keluar untuk hubungan kita.”


Nadya tergugu pilu, tapi Bagas bergeming. Dia sama sekali tidak meletakkan pandangan matanya ke arah Nadya berada.


“Maaf bersikap seperti ini. Tapi aku nggak bisa memaksa diriku untuk nggak kecewa, Nad.” kata Bagas sambil meraih pegangan tas troli dan bersiap pergi.


“Jangan pergi...” pinta Nadya lirih nyaris nggak terdengar.


“Sorry.”


***


Nadya memutuskan kembali ke Jakarta hari ini. Memilih penerbangan yang ada untuk menyusul Bagas yang sejam yang lalu telah pergi meninggalkan Surabaya ke Jakarta.


Biarkan dia dianggap tidak tau diri. Nadya hanya tidak ingin kehilangan Bagas dengan menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja. Ini memang salahnya, untuk itu dia akan meminta ampun dan mengejar Bagas. Kalau perlu, dia akan bertekuk lutut di bawah kaki pria itu agar mendapat maaf dan pria itu tidak pergi meninggalkannya.


Persetan dengan persahabatan, dia ingin mengakui perasaannya mulai sekarang. Dia tidak ingin kehilangan Bagas, atau dia sendiri yang akan hancur kalau sampai Bagas tidak mengetahui perasaannya yang sesungguhnya .


Pesawat landing di Soetta jam sembilan malam. Nadya bergegas mencari dan mengambil kopernya, kemudian bertolak ke rumah dengan taxi. Ia merapal do'a dalam hati supaya Bagas luluh dan bersedia menunggunya sampai rumah sebelum benar-benar pergi.


Hampir satu jam terjebak macet, Nadya juga sudah memberondong Bagas dengan pesan agar tetap dirumah untuk menunggunya bersama ancaman-ancaman mengerikan. Suicide, diantaranya.


Dan sesampainya didepan rumah, Nadya bernafas lega karena mobil Pajero milik Bagas masih berada di dalam garasi rumah. Langkahnya kemudian ia pacu cepat untuk menggapai bilah pintu dan membukanya buru-buru.


Ia melihat Bagas sedang tertidur di atas sofa. Nadya menghampiri, dan dia tak mau melepas tatapan matanya sedikitpun dari wajah tampan Bagas yang sedang terlelap tenang. Tanpa sadar, matanya kembali berembun. Ia menyesal sudah menyakiti pria sebaik Bagas, meskipun laki-laki itu juga pernah menyakitinya.


Nadya semakin memangkas jarak, duduk bersimpuh diatas karpet bulu berwarna abu-abu gelap demi mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bagas. Lantas, ia tersenyum.


“Kamu pasti kecewa sama aku, kan?” bisiknya tepat didepan wajah Bagas. Telapak tangannya terulur begitu saja untuk mengusap ragu surai hitam dan lebat milik Bagas penuh perasaan. “Ya. Kita sama. Aku juga kecewa pada diriku sendiri, Gas.” kata Nadya jujur.


Lagi-lagi Nadya mengulas senyuman semakin lebar dan tulus untuk Bagas. “Kamu tau, aku takut sekali pas kamu lihat Hansel menggandeng tanganku. Aku benar-benar takut, Gas. Aku takut.”


Bagas masih terlelap dalam mimpi dan sepertinya tidak merasa terganggu sedikitpun karena Nadya berkata sangat pelan. “Mau tau satu hal yang aku simpan sejak dulu? Sejak pertama kali aku melihatmu?” bisik Nadya, kembali mengarahkan Surai Bagas dengan usapan lembut. “Aku mungkin seorang wanita munafik, dan tidak bisa menepati janji kita untuk hanya meletakkan perasaan kita hanya sebagai sahabat,” Nadya mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Bagas pertama kali di SMA saat itu. Sangat menyenangkan, dan juga mengesankan. “Aku menyukai kamu, sejak pertama kali kamu mendatangiku di taman. Dan kamu nggak pernah tau akan hal itu. Aku...mencintaimu, Bagaskara Adewangsa. Jangan tinggalkan aku.”

__ADS_1


Suasana tetap hening, hanya suara desir mesin pendingin ruangan yang mengalun lembut menjadi pemecah kesunyian diantara mereka. Nadya tertunduk dalam, menahan tangis hingga bahunya berguncang. Bibir ia gigit hingga ngilu, dan airmata mengalir tanpa mau berkompromi.


Hingga...


Nadya terkejut akan sentuhan dipuncak kepalanya yang begitu lembut. Tangis dan waktunya seolah terhenti saat itu juga. Perlahan, dia mengangkat kepala dan menemukan manik mata Bagas yang sedang memandang sayu penuh kesedihan ke arahnya. Pupil mereka terkunci, dan Nadya menumpahkan tangisnya dihadapan Bagas. Suara tangis itu semakin terdengar ketika telapak tangan Bagas menyentuh pipi putih Nadya yang memerah.


“Aku juga mencintaimu, Nadya Ayunda. Mengapa perasaan itu kita simpan begitu lama, dan baru kita ungkapkan sekarang?” tanya Bagas yang menyusul Nadya untuk menitihkan air mata. Bagas masih membiarkan dirinya berbaring miring diatas sofa, sebab dengan posisi ini, dia bisa melihat bagaimana cantiknya wajah sang istri. “Mengapa selama ini kita saling bersembunyi dibalik ego kita?” sambung Bagas tersedu. Bibirnya bergetar hebat ketika hatinya terasa begitu nyeri dalam tangisan yang baru pertama kali ia tumpahkan ini.


Nadya mengangguk disela tangisnya yang semakin menjadi.


“Aku juga tidak ingin kehilangan kamu, tapi—”


“Ssshhh...” Nadya menghentikan kata-kata Bagas dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


“Mengapa kita seperti ini, Sayang?” tanya Bagas lagi.


Kemudian...


Bagas sedikit mengangkat tubuhnya, la menangkup kedua bahu sempit Nadya dan membawanya bangkit untuk naik ke sofa yang sama dengannya. Lantas, ia membawa Nadya kepelukan hingga posisi mereka kini berbaring miring berhadapan, dengan Nadya dalam dekapan hangat Bagas.


Sangat erat, seakan mengisyaratkan jika Bagas juga tidak ingin kehilangan Nadya. Kini, mereka berdua menangis. Meratapi dan menangisi nasib pernikahan mereka yang menyedihkan.


“Maafkan aku ya, Nad.” kata Bagas disela isak tangisnya yang tak kalah keras dari suara isak tangis Nadya. Bagas mengecup puncak kepala Nadya, memberikan kenyamanan pada wanita kesayangannya itu agar merasa aman.


Nadya menggelengkan kepala di dada Bagas. Semua bukan salah lelaki itu, semua itu salahnya. Tak sanggup berkata-kata, Nadya hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya di pinggang Bagas.


Dan ada perasaan lega dalam benak masing-masing setelah mengungkapkan semua kemelut dalam rumah tangga dan juga kecurangan yang sempat terjadi.


Nadya membenamkan kepalanya semakin dalam di dada Bagas.


“Aku cinta kamu. Jangan tinggalin aku, kumohon.”


Bagas mengecup puncak kepala Nadya dan memberikan jawaban pasti untuk pernyataan wanitanya itu. “Aku juga mencintaimu, sayang. Mari kita mulai semua dari awal dengan sungguh-sungguh. Mari kita saling berjanji, tidak akan ada rahasia atau kecurangan lagi diantara kita.” []


^^^to be continue.^^^


Bagaimana pendapat pembaca sekalian tentang bab ini?


Tinggalin komentar dong...☺️


Teruntuk yang mengikuti cerita ini dari awal, terima kasih banyak ya

__ADS_1


Semoga kebaikan kalian yang memberi dukungan untuk cerita ini, di balas kebaikan juga oleh Yang Maha Kuasa, Amin...


__ADS_2