
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah menunggu hampir 15 menit lamanya, akhirnya bus yang sedari kita tunggu pun datang. Kak Angga yang melihat lebih dulu pun, langsung masuk paling pertama sambil menarik tangan kak Bastian.
Kami semua pun langsung menyusul masuk, tidak lupa untuk membayarnya terlebih dulu. Untung saja semalam aku sudah mengisi ulang kartu transportasi ku ke mini market.
Entah kebetulan atau gimana, aku kebagian tempat duduk satu seat dengan kak Rangga. Di lihat dari raut wajahnya Vira, aku langsung tahu ini pasti ulah dia.
"Ayo cepat duduk, sebentar lagi busnya maju." Ucap kak Rangga.
Aku malah di buat terkesima dan tidak langsung duduk.
"Ah iya kak......"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan kami, setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih. Karena hari ini merupakan hari libur, jadinya pengunjungnya pun cukup banyak. Kami bahkan harus mengantri cukup lama di bagian pembelian tiket,karena antrian yang mengular sampai ke area parkiran.
"Seharusnya kita datang ke sini tuh, di hari biasa. Nggak pas hari libur seperti ini," ucap kak Bastian.
"Ya kan emang ini libur panjang, wajarlah kalau banyak pengunjung." Timpal kak Angga.
"Ya setidaknya kalah kita datang di hari senin, mungkin nggak bakalan rame gini."
Setelah mengantri beberapa menit, kami pun akhirnya mendapatkan tiketnya. Untung saja cuaca hari ini tidak begitu terik, coba saja kalau pas terik-teriknya di tambah harus antri tiket, itu udah jadi paket lengkap. Aku pasti dari tadi sudah meminta untuk balik lagi dan mengurungkan niat kami untuk berkunjung
"Nih......." Kak Rangga tiba-tiba saja memberikan kipas karakter pada ku.
"Kakak dapat dari mana?" Tanya ku heran.
"Tadi ada yang bagiin, tapi sepertinya hanya sampai antrian ku saja."
"Wah ini penolong sekali, tau aja aku gerah."
Aku pun langsung meraihnya dengan senang hati aku langsung mengibaskan nya.
"Enak yah, kalau ada yang merhatiin." Bisik Vira.
"Aku pun tidak tahu, kalau kak Rangga akan memberikannya pada ku."
"Itu karena dia mulai perhatian sama kamu,"
"Benarkah?"
Aku pun di buat tersenyum dengan ucapan Vira barusan, semoga saja apa yang di katakan Vira barusan itu benar adanya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah berkeliling dan mencoba beberapa wahana permainan, kami pun memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang.
"Habis ini, gimana kalau kita coba buat masuk ke rumah hantu."
"Aku penasaran banget. Kata teman-teman yang pernah coba sih, seru." Ucap kak Bastian.
"Enggak ah, aku nggak mau." Timpal ku langsung.
"Jangan bilang kamu takut lagi," Sambung kak Angga.
"Ya emang aku takut,"
__ADS_1
"Ya sudah, yang mau pergi ke wahana rumah hantu siapa saja?" Tanya Vira.
Hanya Vira, kak Angga dan kak Bastian lah yang mengacungkan tangannya. Sedangkan aku dan kak Rangga tidak.
"Heh......."
"Jangan bilang kamu juga penakut," ucap kak Angga.
"Bukan seperti itu,"
"Ngga baik juga kan, kalau kita tinggalin Xavi di sini sendirian."
"Aku akan menunggu kalian selesai dengan Xavi di sini." Lanjutnya.
"Tidak apa-apa kak,"
"Aku bisa kok, di sini sendirian. Takutnya kakak mau mencobanya juga,"
"Tidak perlu, aku pun tidak terlalu tertarik untuk mencoba wahana permainan itu."
"Ya sudah kalau kamu tidak mau,"
"Kita-kita saja yang pergi. Kamu tunggu saja di sini atau kamu pun bisa coba wahana lain sambil menunggu kita selesai." Jelas kak Bastian.
"Hem........"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah menghabiskan makan siangnya, mereka bertiga langsung berlarian menuju wahana rumah hantu penuh semangat. Sedangkan aku dan kak Rangga masih duduk terpaku sambil menikmati suasana yang ada di sekitar kami.
"Gimana kalau kita lihat-lihat ke arah sana," tunjuk kak Rangga.
Kami pun memutuskan untuk pergi berkeliling ke tempat wahana pertunjukan. Di sana aku langsung tertarik untuk mencoba permainan mesin capit boneka. Namun setelah mencoba beberapa kali, aku tidak berhasil mendapatkan boneka bebek yang aku inginkan.
Mungkin karena melihat aku yang sudah kecewa, kak Rangga yang tadinya tengah melihat pun menawarkan diri untuk membantu ku untuk mendapatkannya.
"Koinnya tingga satu lagi," ucap ku.
"Sudah coba saja masukin, kamu berdoa saja. Semoga aku bisa mendapatkannya,"
"Baiklah....."
"Itu kan, bonek bebek yang warna biru itu." Lanjutnya.
"Iya itu kak,"
Kak Rangga pun memulai permainannya dengan fokus dia mengoperasikan mesinnya dan akhirnya berhasil. Melihat boneka bebek yang berhasil di tangkap, dengan reflek aku langsung memeluk ka Rangga.
"Eh maaf kak,"
"Aku sampai tidak bisa mengontrolnya. Saking senangnya......"
"Tidak apa-apa," balasnya.
"Hah? Maksud dia bilang tidak apa-apa,gimana yah?" Bisik ku dalam hati.
"Maksudnya, aku paham gimana senangnya kamu tadi." Lanjutnya.
"Iya kak......"
__ADS_1
Dia pun membantu ku untuk mengambilkan bonekanya dari dalam mesin bagian bawah.
"Wah........"
"Lucu sekali,"
"Kamu suka?"
"Banget,"
"Apalagi ini hasil dari permainan yang di lakukan oleh kakak." Lanjut ku.
Dia pun hany tersenyum sekilas dan langsung berbalik membelakangi ku.
"Ngomong-ngomong, mereka udah balik belum yah?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tahu,"
"Bukannya biasanya lama yah, ini kan baru setengah jam yang lalu."
"Mending kita keliling-keliling area sini saja, sambil menunggu mereka keluar."
"Baiklah....."
Aku dan kak Rangga pun berkeliling sambil menunggu mereka bertiga keluar. Sepanjang itu pula aku terus memainkan bonekanya dan mengelusnya.
" Sesuka itu yah, kamu sama boneka bebek?" Tanyanya.
"Bisa di bilang seperti itu,"
"Tapi kali ini, jauh berbeda. Karena ini hasil permainan tadi, aku jarang sekali mendapatkan boneka hasil dari permainan capit seperti tadi. Biasanya aku dapat dari orang tua atau pun kerabat saat ulang tahun saja." Jelas ku.
"Terlebih lagi, ini kan pemberian dari........." Ucapan ku langsung terhenti sambil melihat ke arah kak Rangga.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Hasil dari bantuan kakak,"
"Kalau saja tadi sama aku, pastinya aku tidak bakalan punya boneka ini." Jelas ku.
"Oh........"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami pun memutuskan untuk kembali ke tempat istirahat tadi. Ternyata ketiga teman kami sudah selesai dan tengah bersantai sambil mengibaskan kipas.
"Kalian kenapa?" Tanya kak Rangga.
"Aduh, aku menyerah deh."
"Nggak mau lagi aku, kalau harus pergi nyobain ke rumah hantu." Ucap kak Bastian tampak tertekan.
"Apalagi tadi di dalam, sialnya aku malah sendirian. Karena Angga dan Vira nggak tahu pergi kemana," lanjutnya.
"Kamu yang ninggalin kita duluan,"
"Kan aku bilang sama kamu, untuk berpegangan dan tidak jalan sendirian. Ini kamu malah dengan santainya malah jalan sendirian dan meninggalkan kita." Jelas kak Angga.
"Ih gila......."
__ADS_1
"Gak mau-mau lagi aku, kalau pun harus di kasih imbalan. Hantu-hantunya serem banget," ucap kak Bastian.