
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Percuma kamu ngeluh sekarang,toh udah di lakuin ini juga." Balas kak Rangga.
"Iya sih,"
"Untung aja kamu tadi nggak ikut masuk." Lanjutnya.
"Udah sore nih, sebaiknya kita langsung pulang saja. Takutnya orang yang di rumah khawatir," ajak kak Angga.
Kami pun langsung keluar dari area itu dan berjalan sebentar menuju halte untuk menunggu bus.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
**Rangga POV*
"Dari mana saja kamu?"
"Bukannya belajar, ini malah kelayapan."
"Lihat tuh adik kamu, di contoh. Dia liburan ini hanya di rumah saja, tidak kemana-mana. Yang di lakukannya itu belajar," lanjut ibu.
Rangga pun hanya bisa terdiam mendengar omelan yang di dapatkannya setelah sampai di rumah pamannya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Rangga memang memilih tinggal bersama pamannya, sedangkan keluarganya tinggal di rumahnya yang ada di luar kota. Hanya sesekali saja ibu atau ayahnya menjenguk dia ke Jakarta.
Alasan Rangga memilih untuk sekolah di Jakarta bukan karena di kotanya tidak ada sekolah yang jauh lebih baik, namun karena dia menghindari perselisihan yang terjadi di keluarganya. Terlebih lagi kalau orang tuanya sudah membanding-bandingkan dia dan adiknya Rafael.
Sebenarnya dia tidak benci sama adiknya itu, hanya saja perlakuan orang tuanya lah yang membuat dia dan Rafael menjauh satu sama lain.
Tapi untungnya saat dia memasuki SMP adik ibunya mendapatkan pekerjaan untuk mengajar di Jakarta. Dia pun langsung berinisiatif untuk ikut bersama pamannya itu.
Hamdan yang merupakan wali kelas dari kelas X, adalah merupakan paman dari Rangga. Namun tidak banyak siswa yang tahu, kalau mereka berdua itu bersaudara. Rangga tidak mau, siswa lain beranggapan kalau dia itu pintar dan mendapatkan nilai yang bagus atas dasar bantuan dari pamannya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Sudahlah kak, jangan marahin Rangga seperti itu."
"Lagian wajar juga kalau dia pergi untuk jalan-jalan. Selama ini dia pun tidak pernah macam-macam atau pergi kemana-mana."
"Anggaplah ini sebagai hiburan dia setelah ujian kemarin," jelas paman Hamdan.
"Kamu jangan malah belain dia,"
"Nanti yang ada dia malah ngelunjak dan kebiasaan main. Harusnya dia tuh lebih fokus lagi dalam belajar, apalagi nilai pelajaran IPA dia kemarin belum mendapatkan nilai 100." Timpal ibunya.
Rangga hanya bisa menarik nafasnya dalam, dia sudah merasa tertekan dan frustasi mendengar ibunya berbicara seperti itu. Seolah perjuangannya selama ini tidak ada nilai apa-apa di mata ibunya.
"Rangga......"
"Masuk, biar paman tenangkan ibu kamu."
Dengan lesu Rangga pun masuk ke dalam kamarnya dan langsung duduk di atas kasur sambil menundukkan kepalanya.
Masih terdengar kegaduhan di luar kamar, ibunya seolah belum puas memarahinya.
Rangga pun teringat dengan boneka yang di berikan oleh Xavi tadi, dia pun kemudian meraih bonekanya dari dalam tas.
Karena penasaran Rangga pun menekan bagian dada dari boneka itu dan benar saja boneka itu mengeluarkan suara.
..."Semangat kakak, aku selalu mendukungmu."...
__ADS_1
Rangga pun tersenyum setelah mendengar bunyi dari boneka pemberian Xavi tadi.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah kak Angga, kak Bastian dan Vira turun lebih dulu, sekarang giliran aku dan kak Rangga yang turun.
Hari ini aku merasa senang sekali, karena bisa menghabiskan liburan kali ini dengan orang yang aku sukai.
"Aku perhatikan dari tadi kamu terus mengelus bonekanya," ucap kak Rangga.
"Ya karena aku suka,"
"Oh iya hampir saja aku lupa......"
" Kenapa?"
Aku pun mengeluarkan hadiah yang sudah aku siapkan untuk kak Rangga. Awalnya aku berniat untuk memberikannya di sekolah, namun keburu kami libur.
"Hadiah untuk kakak,"
"Hadiah? Dalam rangka apa?" Tanyanya heran.
"Aku lihat nilai rata-rata ujian kakak itu diatas 90, itu sudah sangat bagus menurut ku."
"Oh iya, itu bonekanya bisa ngomong loh. Tapi nanti saja kakak dengarnya, saat sudah di rumah." Lanjut ku.
Dia pun hanya tersenyum tipis sambil memegang bonekanya.
"Kalau begitu, aku duluan yah....."
"Dah......"
Aku pun buru-buru lari, karena takut kak Rangga lebih dulu memencet bonekanya. Aku merasa malu saja kalau harus ikut mendengarnya di hadapan dia.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Aku pulang......."
"Eh Xavi, kamu udah pulang nak."
"Kebetulan sekali, ayah dan ibu tengah memasak mie instan. Apa kamu mau?" Lanjut ayah.
"Tentu saja aku mau, kebetulan sekali aku lapar."
Aku pun langsung duduk dan bersiap untuk menyantap mie yang di masak oleh bunda.
"Gimana tadi jalan-jalannya, apa kamu senang?" Tanya bunda.
"Tentu saja, aku bahkan sampai lupa waktu."
"Pantas saja, jam segini kamu baru pulang."
"Kamu bahkan tidak mengabari kami, saking asiknya tengah main." Lanjut bunda.
"Hehe......"
"Maaf,"
"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kamu sudah pulang dengan selamat."
"Nikmati masa muda kamu dengan teman-teman kamu itu, yang terpenting buat kita itu kamu pun harus bisa membagi waktu kamu. Antara waktunya untuk belajar dan bermain," jelas ayah.
"Iya ayah......."
__ADS_1
"Oh iya nak, libur sekolah kamu masih lama kan?" Tanya bunda.
"Masih, kenapa bunda?"
"Lusa kami bermaksud untuk pergi mengunjungi kakek dan paman kamu. Mumpung kamu libur sekolah, kami harap kamu bisa ikut bersama kami." Jelas bunda.
"Boleh deh, lagian aku juga tidak ada rencana apa pun."
"Ya sudah kalau begitu, besok kamu siapkan barang-barang yang mau kamu bawa. Sorenya kita langsung berangkat,"
"Oke,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Paginya sepulang dari toko, kebetulan sekali aku bertemu dengan kak Rangga di depan taman. Tanpa basa-basi aku langsung menghampiri dia yang tengah duduk sendirian sambil memangku kucing.
"Kak......!" Seru ku.
"Eh Xavi,"
"Kakak sendirian aja?"
"Iya,"
Aku pun berinisiatif langsung duduk di samping dia, aku berniat untuk memberitahu dia prihal kepergian ku kali ini.
"Kamu habis belanja?" Tanyanya.
"Iya,"
"Aku habis beli beberapa cemilan untuk di perjalanan nanti."
"Perjalanan?"
"Iya......."
"Orang tua ku mengajak untuk pulang ke Semarang nanti Sore. Karena kami sudah lumayan lama tidak mengunjungi kakek dan paman di sana."
"Kemarin kamu tidak cerita, kalau kamu bakalan pergi."
"Aku pun tahu ini saat tiba di rumah,"
"Makanya kebetulan sekali aku bertemu kakak di sini, sekalian aku kasih tahu kakak juga."
"Apa kamu akan lama di sana?"
"Belum tahu, tapi sepertinya iya deh."
"Soalnya kan liburan sekolah kita pun masih lama,"
Aku sangat berharap kak Rangga melarang ku untuk pergi, supaya aku bisa menghabiskan sisa liburan sekolah ku dengan dia.
"Ya udah, hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku saat kamu sudah sampai di sana."
"Eh......"
"Aku sedikit kecewa," balas ku.
"Kenapa?"
"Aku kira, kakak bakalan melarang ku untuk pergi."
Dia pun hanya tersenyum sambil menatap ku lekat.
__ADS_1