
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Karena takut ayah curiga, aku pun dengan sigap langsung meraih HP dari dalam saku jaket.
"Ah ini, tadi aku habis baca obrolan di grup. Mereka membahas hal yang lucu, jadi aku tertawa."
Buru-buru aku pun langsung naik menuju kamar ku, meninggalkan ayah yang masih kebingungan dengan tingkah ku barusan.
Jujur saja, ayah itu sosok yang gampang sekali peka terhadap sesuatu. Makanya aku buru-buru pergi untuk menghindari beliau.
Sesampainya di kamar, aku tidak langsung mandi. Yang ada aku malah bersantai sambil rebahan di atas kasur, aku masih terbayang kejadian saat tadi kak Rangga mencium ku.
Ini kali pertama untuk ku, belum pernah aku merasakan perasaan sebahagia ini. Perasaan yang sulit untuk di jelaskan,karena saking bahagianya.
Namun aku bingung, harus bersikap seperti apa saat nanti aku bertemu dengan dia. Rasanya malu sekali setelah melakukan hal itu dengan dia, takutnya aku malah membayangkan hal-hal yang aneh saat bertemu dengannya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya kak Rangga menelpon ku saat aku tengah mengerjakan tugas, awalnya aku berniat untuk melewatkannya. Namun takut juga malah buat dia bertanya-tanya,kenapa aku malah menghindari dia setelah apa yang terjadi pada kami hari ini.
Untungnya kak Rangga sama sekali tidak menyinggung tentang kejadian hari ini, dia malah membahas tentang pelajaran bahas asing. Karena memang aku cukup ahli dalam pelajaran itu,dia pun mengatakan kalau orang tuanya saat ini menuntut supaya nanti nilai bahasa asing dia mendapatkan nilai tertinggi.
Padahal setahu aku, nilainya tidak cukup jelek dan terbilang bagus juga. Aku sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran orang tua dia. Padahal selama ini kak Rangga sudah berusaha keras untuk berada di posisinya saat ini, namun sepertinya itu semua tidak cukup di hadapan kedua orang tuanya.
Aku merasa sedih mengetahui kenyataannya seperti itu, selama ini kak Rangga sama sekali tidak pernah menyinggung tentang masalahnya ini. Aku pun tahu ini karena kak Angga dan kak Bastian lah, yang menceritakannya pada ku.
Sangat berbanding terbalik dengan kedua orang tua ku, apapun hasil dari nilai ku selama ini mereka selalu memberi aku selamat. Kalau pun ada saat dimana nilai ku buruk, mereka malah menyemangati ku dan menyarankan ku untuk lebih giat dalam belajar.
Pasti selama ini kak Rangga cukup tertekan dengan tekanan yang di berikan oleh kedua orang tuanya itu. Aku mengerti, mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya itu. Hanya saja cara mereka saja yang salah dan meminta lebih dari anaknya sendiri.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Beberapa hari kemudian......
"Aku dengar sekarang adiknya kak Rangga tengah ada di sini," ucapnya.
"Di sini dimana maksud kamu?"
"Di rumah pamannya kak Rangga. Kalau tidak salah kata Angga dia bakal mengikuti tes untuk bisa masuk ke sekolah kita." Jelas Vira.
"Kamu yakin? Kamu tidak salah dengar kan?" Tanya ku meyakinkan.
__ADS_1
"Tentu saja, mana ada aku salah dengar."
Mendengar cerita dari Vira barusan, aku merasa khawatir dengan kak Rangga. Pasti dia merasa tidak nyaman saat ini, karena kalau adiknya berhasil masuk ke sekolah kami. Bukan hanya orang tua dia saja yang membandingkan kemampuan mereka berdua, tapi siswa di sekolah kami pun bakal ikut membandingkan mereka berdua.
Meskipun aku lihat beberapa hari ini dia tidak menunjukan sikap yang aneh dan rasa tidak nyaman tentang rencana adiknya ini.
Makanya dia belum siap untuk menceritakan masalah ini padaku dan aku malah mendengarnya dari Vira barusan.
"Hei, kenapa kamu malah bengong? Emangnya ada yang salah yah, dengan ceritaku barusan." Ucap Vira.
"Tidak ada, hanya saja aku menyadari sesuatu."
"Eh......."
Vira keheranan dengan jawaban yang aku berikan. Meskipun dia sudah tahu tentang masalah kak Rangga, tapi aku yakin dia tidak akan menyadarinya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat istirahat tiba, sehabis makan siang aku meminta kak Rangga untuk pergi dengan ku lebih dulu. Aku sudah tidak tahan ingin membahas masalah ini dengan dia.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Ah masalah itu,"
"Aku lupa belum menceritakannya sama kamu."
"Sepertinya orang tua ku saat ini, hendak membuat kedua anaknya berperang di dalam satu sekolah yang sama." Ucapnya dengan nada suara sedikit bergetar.
Aku tahu pasti saat ini kak Rangga memendam kekesalannya itu, terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah saat aku menyinggung masalah ini.
"Secara tidak langsung mereka ingin membuat hubungan aku dan Rafael semakin renggang. Namun sayangnya, mereka tidak pernah menyadari hal itu."
"Seolah aku dan Rafael selama ini tidak terluka, karena perlakuan mereka terhadap kami berdua." Lanjutnya.
Apa yang di katakan oleh kak Rangga memang benar, orang tuanya saat ini tidak menyadarinya.
Aku berusaha untuk menguatkan kak Rangga dengan menggenggam tangannya. Karena aku lihat sejak tadi dia berusaha menahan kekesalannya dengan mengepalkan tangannya.
"Aku tahu, ini pasti sulit untuk kakak. Tapi ada satu hal yang harus kakak tahu,di mata ku kakak tetap yang terbaik di antara yang terbaik."
Dia pun tersenyum malu sambil mengelus rambut ku.
__ADS_1
"Kamu selalu bisa buat aku tersenyum,"
"Makasih ya, karena kamu selalu jadi garda terdepan untuk ku." Lanjutnya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat kami tengah hendak kembali ke kelas bersama yang lainnya, di dekat tangga aku lihat ada seorang yang tengah berdiri sendirian.
"Eh bukannya itu adik kamu," ucap kak Angga sambil menunjuknya.
"Lalu?" Balas kak Rangga singkat.
Melihat ekspresi kak Rangga yang langsung berubah, spontan Vira pun mencubit perutnya kak Angga.
"Ah sakit......"
"Eh bukanya tadi kamu bilang mau ke perpustakaan dulu yah," ucap Vira pada ku.
"Ah iya, aku baru ingat. Untung saja kamu mengingatkan ku,"
"Kak, kamu mau kan menemani aku ke perpustakaan?"
Belum juga kak Rangga menjawab ajakan ku barusan, aku lebih dulu menariknya. Aku merasa takut saja, dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran adiknya saat ini.
"Perasaan tadi kamu nggak bilang mau pergi ke perpustakaan." Ucapnya.
"Aku hanya cerita sama Vira saja,"
Namun sepertinya kak Rangga menyadari maksud ku kali ini dan langsung menghentikan ku tiba-tiba.
"Jangan bilang kamu bermaksud untuk mencegah ku agar tidak bertemu dengan Rafael?" Tanyanya.
"Hem......."
"Sepertinya aku tidak pandai dalam berakting." Balas ku.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya sampai sejauh ini."
"Aku hanya tidak suka saja, melihat kakak Sedih." Timpal ku sambil merangkul manja tangannya.
Yang tadinya kami tidak ada niatan untuk pergi ke perpustakaan, akhirnya kami pun terpaksa pergi. Meskipun sesampainya di sana, kami hanya duduk-duduk saja menunggu bel tanda istirahat usai.
__ADS_1