When I See You

When I See You
Restu Ayah


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga minggu telah berlalu, namun Vira dan kak Angga salah satu dari mereka tidak ada yang menjelaskan tentang kejadian pada waktu itu.


Jujur sebenarnya aku tidak sabar ingin menanyakannya secara langsung, namun kak Rangga bilang sepertinya mereka berdua belum siap untuk menjelaskannya.


Sebagai teman, aku juga tak ingin egois. Terlebih lagi aku tahu sifat Vira seperti apa,nanti kalau aku banyak tanya yang ada takut malah dia tersinggung lagi. Meskipun feeling aku mengatakan, kalau saat ini mereka berdua tengah berpacaran.


Meskipun hari ini libur, aku dan kak Rangga tidak merencanakan apa-apa. Entah itu pergi untuk kencan untuk mengganti acara kencan yang batal beberapa minggu kemarin. Karena aku tahu, kak Rangga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk salah satu perguruan tinggi di Semarang.


Berat memang harus merelakan kak Rangga untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun mengingat perjalanan kami yang masih panjang kedepannya, aku tak mau hubungan kami ini mematahkan cita-cita kak Rangga atau pun aku.


Lagi pula, saat ada libur aku bisa pergi ke sana untuk mengunjunginya sambil main ke rumah kakek ku. Awalnya dia hendak meneruskan kuliah di Singapura,namun ternyata salah satu Universitas terbaik di Semarang sudah lebih dulu mengirimkan undangan untuk kak Rangga mengikuti tes di sana.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Xavi.......!" Seru ayah.


Mendengar ayah yang sudah memanggil ku, buru-buru aku langsung lari keluar kamar dan menghampiri beliau yang tengah berada di dapur.


"Iya ayah,"


"Tumben kamu di rumah, biasanya kan kamu udah pergi sejak pagi."


"Ah itu, hari ini aku hanya ingin di rumah saja istirahat."


"Ayah tahu sendiri, akhir-akhir ini di sekolah aku banyak mengikuti pelajaran tambahan." Lanjut ku.


"Enggak, biasanya kamu kan pergi ke tempat siapa itu."


"Kalau kamu tidak kemana-mana, temani ayah belanja mingguan hari ini. Sudah ada beberapa bahan yang habis,bunda sibuk tidak bisa pergi katanya.'' Jelas ayah.


"Baiklah,"


"Tapi aku mandi dulu ya......"


"Ya udah sana cepat."


Aku pun langsung balik lagi ke kamar untuk mandi. Dari pada seharian ini aku tidak ada aktivitas, mending aku ikut ayah saja. Nanti di sana aku bisa beli banyak cemilan kesukaan ku atau makan chicken yang favorite ku.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat sekitar jam 11 siang, aku dan ayah pun berangkat menuju salah satu supermarket yang berada di daerah kami. Mungkin karena hari ini libur, cukup banyak pengunjung hari ini. Ayah pun sempat mengantri untuk mendapatkan parkiran mobil karena saking banyaknya kendaraan yang ada.


"Nanti ayah mau ambil duku uang tunai, kamu duluan masuk aja ke supermarketnya."Ucap ayah sambil memberikan daftar belanjaan yang harus kami beli hari ini.


Aku pun turun lebih dulu dan langsung masuk ke dalam.Namun baru saja aku hendak masuk ke area supermarketnya,mata ku tertuju pada sosok yang tengah duduk sendirian di dekat lift.


"Kak......!" Seru ku.


Tampak kak Rangga kaget mendengar aku yang memanggil namanya cukup kencang, bahkan ada beberapa orang yang melihat ke arah ku juga.


Melihat kehadiran ku, kak Rangga langsung berdiri dan berjalan ke arah ku sambil tersenyum.


"Xavi,"


"Kenapa kamu bisa ada di sini,bukannya tadi kamu bilang mau di rumah saja istirahat."


"Iya niatnya,hanya saja ayah mengajak ku untuk belanja mingguan. Kasian kalau beliau pergi sendirian,mana laki-laki lagi." Jelas ku.


"Terus mana ayah kamu?"


Kak Rangga pun langsung memegang tangan ku, aku tidak lagi terkejut atau pun malu. Karena rasanya sudah jadi kebiasaan yang biasa, meskipun aku harus celingukan melihat ke sekeliling takutnya ayah melihat kami berdua.


"Kakak sendiri ngapain di sini?" Tanyaku.


"Habis beli hadiah,adik dari pacar paman minggu ini ulang tahun.Aku merasa tidak enak saja,kalau tidak beli apa-apa untuknya."


"Ah anak kecil yang waktu itu,"


"Iya Lolly."


Karena keasikan ngobrol aku atau pun kak Rangga sama-sama tidak menyadari kehadiran ayah. Orang yang pertama melihat ayah adalah kak Rangga, makanya dia langsung melepaskan tangannya.


Sontak saja aku kaget dan ikut melihat ke arah yang di tuju oleh kak Rangga.


"Ayah......"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ayah pun membawa kami ke salah satu restoran,di lihat dari raut wajahnya tidak tampak seperti orang yang tengah marah. Namun aku pun tidak boleh menyepelekannya,karena memang sifat ayah yang santai.


"Sejak kapan?" Tanya beliau langsung.


"4 bulan.......'' Jawab kami bersamaan.


"4 bulan? Dan selama itu tidak ada satupun dari kalian yang memberitahu ayah."


"Xavi, kamu anggap ayah ini apa nak?" Lanjut ayah sambil menatap ku.


"Bukan seperti itu ayah, kami memang sudah ada niatan untuk memberitahu ayah dan bunda. Hanya saja belum menemukan waktu yang tepat saja, makanya kami belum memberitahukannya." Jelas ku.


"Waktu yang tepat kapan?"


"Maaf, aku dan kak Rangga tidak bermaksud untuk mengecewakan ayah."


Ayah pun hanya bisa terdiam sambil melihat aku dan kak Rangga bergantian. Aku paham betul bagaimana perasaan ayah saat ini, biar bagaimana pun aku anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Selama ini orang tua ku memang tidak pernah menuntut apa-apa pada ku,namun rasa takutlah yang buat aku mengulur waktu untuk memberitahu mereka berdua.


"Ayah kaget,lihat kamu dan Rangga bisa berpegangan tangan seperti itu di depan umum."


"Ternyata anak ayah sudah besar," ucap beliau.


"Ayah tidak akan menentang hubungan kalian, selama kalian bisa menjaga apa yang selama ini ayah dan bunda minta. Jaga diri kamu,sikap kamu,sekolah kamu,karena kamu masih kecil. Sekolah pun baru kelas XI." Lanjutnya.


"Aku minta maaf om, kalau buat om kecewa. Sebenarnya saya ingin menyampaikan ini lebih awal, tapi ternyata malah kejadiannya seperti ini."


"Saya janji akan menjaga Xavi dan tidak akan mengecewakan om dan tante. Kedepannya saya juga akan bicara langsung sama tante dan meminta ijin beliau." Lanjut kak Rangga.


"Memang harusnya seperti itu,"


"Om pun tidak akan menyalahkan kamu sepenuhnya. Om paham betul,karena kalian masih muda."


"Om ijinkan kalian untuk menjalin hubungan, asalkan kalian berdua harus bisa saling menjaga dan tidak melewati batas. Ingat perjalanan kalian masih panjang,ada banyak cita-cita yang harus kalian gapai." Jelas ayah.


Mendengar ucapan ayah barusan, aku pun langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa,karena saat ini aku sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti beliau.


"Makasih ayah,"


"Sudahlah,"

__ADS_1


"Kamu beruntung, karena kamu pacaran sama Rangga. Kalau bukan sama dia, ayah tidak yakin akan segampang ini mengijinkan kamu untuk pacaran."


__ADS_2