When I See You

When I See You
Hampir saja


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tepat jam 2 siang kami semua di minta untuk berkumpul di lapangan, letaknya sekitar 200 meter dari tempat kami menginap.


"Kira-kira kita bakalan melakukan apa yah?" Tanya Olive.


"Tidak tahu, mungkin semacam permainan kayak gitu. Biasanya kan kayak gitu," balas Vira.


Aku sendiri sibuk mencari keberadaan kak Angga dan berharap bisa berpapasan dengan dia saat di perjalanan menuju ke lapangan.


Namun sampai aku tiba di lapangan, sama sekali aku tidak bertemu atau melihat dia.


Dengan perasaan yang hampa, aku pun mengikuti permainannya. Karena ternyata antara kelas X dan kelas XI dalam permainan ini kami di pisah.


"Udah, kamu jangan kecewa dulu. Nanti juga bakalan ada kesempatan untuk kamu bisa bertemu dengan dia." Ucap Vira.


"Benar juga,"


Namun tetap saja, meskipun aku sudah berusaha untuk tetap tenang dan tidak memikirkan kak Angga. Hati aku tidak bisa bohong dan perhatian ku, selalu tertuju pada kumpulan kelas XI. Meskipun aku sama sekali tidak bisa melihat keberadaan kak Angga di sana.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tiba-tiba saja, di tengah-tengah permainan hujan turun cukup lebat.


"Xavi, ayo lari......" Ajaknya.


Namun mata ku tertuju pada kak Angga yang tengah membereskan karton yang terkena hujan.


"Hah itu dia,"


Aku pun langsung berlari ke arah dimana kak Angga berada saat ini. Namun sayangnya, karena terlalu banyak orang yang sama tengah berlarian aku kehilangan keberadaan kak Angga dengan cepat.


"Kemana dia?"


Jalan ku tertatih mencari keberadaan kak Angga, meskipun saat ini hujan sudah cukup membasahi sebagian baju ku.


*Bruk.......


Aku menabrak seseorang karena tidak hati-hati, karena yang ada di pikiran ku saat ini itu kak Angga.


"Kenapa kamu malah lari ke tengah lapangan? Harusnya kamu cari tempat untuk berteduh," ucap kak Angga.


"Ah itu......."


Dia tidak tahu saja, alasan yang buat aku sampai lari-lari ke arah tengah lapangan itu adalah dia.


"Malah diam lagi,"


"Ambil ini," ucapnya sambil memberikan kartonnya.


"Pakai itu,nanti baju kamu basah lagi."


"Kenapa kamu malah bersikap bodoh seperti itu, aneh." Lanjutnya.


Belum sempat aku menjawab ucapannya, dia sudah lebih dulu berlalu meninggalkan aku. Meskipun kata yang di ucapkannya terbilang kasar, namun aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Entahlah, mungkin omongan dia memang ada benarnya juga.

__ADS_1


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Yah hujan......."


"Padahal lagi seru-serunya banget." Ucap Vira.


"Eh bentar, Xavi kemana?"


Vira pun kebingungan mencari keberadaan Xavi yang menghilang entah kemana.


"Kemana dia, aku pikir dia mengikuti ku dari belakang."


Tiba-tiba saja datang sosok laki-laki yang langsung berdiri di samping Vira untuk ikut berteduh. Cowok itu langsung melihat ke arah Vira sambil tersenyum dan itu malah buat Vira keheranan.


"Kamu lihatin apa? Kok senyum-senyum sendirian?" Tanyanya.


"Kamu kan yang waktu itu makan di kantin,"


"Maksudnya? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan ini."


"Aku tahu, saat itu kamu dan satu teman kamu itu kalian tengah memperhatikan aku dan kedua teman ku."


"Hah?"


"Tidak usah kaget kayak gitu,"


"Aku tahu kalau selama ini, kamu tengah mencuri perhatian padaku." Ucap Angga dengan pede nya.


"Ih apaan sih, nggak jelas banget."


"Cowok aneh." Lanjutnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Karena sikap ku yang bodoh tadi, aku pun merasa pusing dan agak panas. Untung saja, Vira membawa bekal obat dari rumah. Jadinya aku bisa beristirahat, meskipun kali ini aku tidak bisa mengikuti acara api unggun yang di adakan di lapangan tadi.


Aku sendiri di temani oleh Vira, karena pak Hamdan sendiri yang menyarankan agar ada yang menjaga ku di tenda.


"Lagian tadi malah pergi kemana sih? Aku nyariin kamu tau." Ucap Vira.


"Aku?"


"Jangan bilang kamu nyari kak Angga lagi, ya ampun Xavi."


"Aku tidak habis pikir sama kamu, bisa-bisanya kamu ceroboh banget. Hanya demi bisa bertemu dengan cowok itu," lanjutnya.


Dan sekarang malah balik Vira yang curhat pada ku, prihal kejadian yang menimpa dia tadi. Dia menceritakan prihal pertemuanya dengan seorang siswa laki-laki yang di anggapnya aneh.


"Cowo aneh gimana, maksud kamu?" Tanya ku heran.


"Itu cowok yang selalu bareng sama cowok yang kamu taksir itu."


"Aneh gimana maksud kamu?"


"Masa dia kiranya, kita itu naksir sama dia. Pede banget kan jadi cowok,"

__ADS_1


"Lah kok dia bisa bilang begitu?"


"Ya itu, gara-gara pas di kantin waktu itu. Saat kita melihat ke arah meja mereka makan, di sangkanya kita itu lagi memperhatikan dia." Jelas Vira.


"Iya sih, aneh juga."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya, karena merasa kebelet ingin buang air kecil. Aku pun membangunkan Vira untuk memintanya mengantar aku.Untungnya dia tipe orang yang gampang sekali saat di bangunkan.


Sialnya, di pertengahan jalan aku malah lupa tidak membawa uang. Karena tadi aku terlalu buru-buru hendak pergi ke toilet umumnya.


"Ya udah mending kamu tunggu dulu di sini, biar aku saja yang ambil uang ke tenda sebentar."


"Ih gak mau ah, aku takut......"


"Mana di sini gelap lagi,"


"Udah nggak apa-apa, lagian mana ada hantu sih di tempat seperti ini. Kalau enggak kamu coba tunggu di dekat toilet aja, barangkali ada orang yang jaga di sana."


"Baiklah......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah berhasil mengambil uangnya, Vira pun langsung kembali ke luar untuk pergi menghampiri Xavi. Namun karena jalannya yang gelap, Vira malah tersandung dan jatuh.


"Aduh......." Meringis kesakitan.


"Eh kamu nggak apa-apa kan?"


Tangan itu pun langsung meraih pundaknya dan membantu Vira untuk bangun.


"Kamu......." Ucap Vira kaget.


"Jangan salah paham, aku tadi tidak sengaja lewat di sekitar sini. Dan dengar suara meringis kesakitan, karena itu aku langsung ke sini." Jelasnya.


"Apanya yang sakit? Biar aku bantu kamu."


"Ini sepertinya kaki ku tergores,"


Cowok itu pun langsung melihat kondisi kaki Vira dan benar saja ada luka goresan karena terkena batu.


"Sebaiknya kita ke tenda PMI sekarang, lukanya harus segera di obati."


"Tapi......."


"Nggak usah takut, tenang aja. Aku nggak bakalan melakukan hal yang aneh sama kamu, tenang aja."


"Bukan itu, tapi teman aku tengah menunggu ku di dekat gedung itu sendirian."


"Gedung mana maksud kamu?"


"Itu gedung dekat toilet itu, tadi aku dan dia hendak pergi ke toilet. Namun kita lupa nggak bawa uang, makanya aku tadi terburu-buru untuk kembali ke sana." Jelas Vira.


"Udah gampang, nanti kamu bisa menyusul dia. Setelah luka kamu ini di obati, tidak akan lama kok."

__ADS_1


Vira pun pasrah mengikuti laki-laki itu ke arah tenda PMI, dimana semua perlengkapan obat-obatan berada.


__ADS_2