When I See You

When I See You
Sedikit Terbuka


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sorenya kak Rangga pun berpamitan untuk pulang kembali ke hotel. Bunda pun tidak lupa membekali kak Rangga beberapa makanan untuk dia dan pamannya nanti di hotel.


Bunda pun meminta aku untuk mengantar kak Rangga sampai ke depan, tepatnya di persimpangan jalan yang dekat dengan jalan raya.


"Makasih ya,untuk hari ini." Ucapnya.


"Loh kok kakak malah kebalik sih,ngomong kayak gitu."


"Harusnya aku yang bilang terima kasih sama kakak, karena kakak sudah bersedia untuk mampir ke rumah ku."


"Aku merasa senang hari ini, orang tua kamu memperlakukan ku dengan baik. Mereka bahkan terus merangkul ku saat di rumah tadi."


"Memang mereka seperti itu kak,"


"Jangan kapok yah,"


"Nanti kalau di Jakarta pun, kakak jangan segan untuk mampir ke rumah ku."


"Jujur awalnya aku ragu dan takut ayah akan memarahi aku. Karena aku sudah berani membawa pulang anak laki-laki ke rumah."


"Tapi ternyata respon ayah cukup baik," lanjut ku.


"Dilihat dari sikap ayah mu tadi, dia orang yang baik dan gampang berbaur dengan siapa saja."


"Oh iy, berarti besok kakak balik lagi ke Jakarta?"


"Sepertinya iya,"


"Kalau tidak salah jam 10 pagi."


"Ngomong-ngomong, kenapa kakak malah memilih untuk ikut bersama paman kakak. Bukanya akan lebih baik,jika kakak menghabiskan liburan sekolah ini dengan keluarga kakak."


"Aku pun inginnya begitu,"


"Hanya saja ada beberapa hal yang buat aku lebih memilih untuk pergi dengan paman."


"Kenapa?"


"Aku merasa kurang nyaman saja saat berada di rumah ku sendiri dan lebih nyaman dengan paman."


"Oh seperti itu......."


Aku tidak berani menanyakan alasannya lebih detail lagi, karena itu masalah pribadi kak Rangga.Lebih baik aku menunggu dia yang lebih dulu menceritakannya pada ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya karena penasaran, aku pun menghampiri bunda yang tengah bersantai sendirian di ruang TV.


"Bunda......"


"Kenapa?"


"Aku hanya penasaran saja,dengan apa yang bunda bisikan sama ayah tadi."


"Ah masalah itu,"

__ADS_1


"Jadi begini, bunda hanya sedikit tahu saja tentang Rangga. Itu pun bunda mendengarnya dari tetangga rumah,"


"Bukannya dia itu salah satu anak yang berprestasi di sekolah kamu? Bunda hanya beranggapan akan lebih baik saja, jika kamu bergaul dengan dia."


"Kamu kan bisa,kapan-kapan belajar dengan dia. Secara nilai pelajaran matematika kamu bisa di bilang masih pas-pasan." Jelas bunda.


"Sebenarnya bukan hanya itu saja, bunda lihat dia itu anaknya sopan dan baik juga. Coba kamu pikir, jarang loh ada laki-laki yang berani untuk datang ke rumah anak perempuan."


"Biasanya kebanyakan dari mereka hanya berani saat di luar rumah saja, tapi Rangga dengan sopannya datang ke sini dan menyapa ayah dan kakek mu tadi." Lanjutnya.


"Jadi maksud bunda, aku cocok gitu kalau pacaran sama kak Rangga?"


"Eh Xavi......"


"Bukan seperti itu konsepnya nak,''


"Kok kamu malah bahas pacaran sama dia? Ya ampun anak ini, malah salah paham."


"Kirain," balas ku merasa kecewa.


"Atau jangan-jangan, kamu memang suka lagi sama Rangga."


"Kalau itu, aku tidak bisa jawab." Aku pun buru-buru masuk lagi ke dalam kamar dan langsung menutup pintu.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tidak terasa dua minggu sudah berlalu, akhirnya hari ini aku sudah kembali ke Jakarta. Karena senin besok, aku sudah harus kembali sekolah seperti biasanya.


Kondisi rumah ku yang di tinggal hampir 2 minggu lamanya pun, tampak berdebu dan usang. Makanya bunda sengaja memanggil tukang untuk memperbaiki dan membersihkan rumah ku saat ini.


"Kalau kamu bosan, sana pergi jalan-jalan saja. Atau enggak kamu main ke rumahnya Vira,"


"Iya tadinya aku memang berniat untuk mengungsi ke rumah dia. Tapi ternyata dia masih di Bandung dan baru pulang nanti sore."


"Ya udah deh, aku jalan-jalan di sekitaran sini saja."


"Bunda kasih tahu aku saja, kalau semuanya sudah selesai."


"Iya........."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku pun berniat untuk pergi ke taman, barangkali di sana aku bisa bertemu dengan kak Rangga. Namun di pertengahan jalan, aku malah tidak sengaja bertemu dengan kak Angga yang tengah menaiki sepeda motornya.


"Eh Xavi......." Sapanya.


"Eh kak, darimana?" Tanya ku basa-basi.


"Ini habis dari rumahnya Rangga. Tapi sepertinya dia tengah pergi,soalnya udah aku ketuk-ketuk tidak ada satu pun yang keluar."


"Kamu sendiri mau kemana?" Tanyanya balik.


"Mau ke taman,"


"Mendingan jangan deh,"


"Aku lihat tadi tamannya tengah di bersihkan oleh petugasnya."

__ADS_1


"Ah yang benar?" Tanya ku tidak percaya.


"Buat apa aku bohong,bahkan akses jalannya pun di tutup."


"Gimana kalau kita main ke kedainya Bastian aja, dekat kok dari sini." Ajaknya.


Karena sudah terlanjur berada di luar, aku pun mengiyakan ajakan kak Angga kali ini.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di sana, kak Bastian tengah membantu orang tuanya membereskan meja yang ada di bagian luar kedai dan mengelapnya.


"Bas.......!" Seru kak Angga.


Melihat kedatangan kami berdua, dia tampak sumringah dan langsung melambaikan tangannya.


"Yuk......" Ajaknya.


Sayang sekali, coba saja kalau saat ini ada kak Rangga. Pasti rasanya akan lebih seru lagi dari pada saat ini.


"Kalian berdua saja? Yang lain mana?" Tanya kak Bastian.


"Vira masih di Bandung," balas ku.


"Rangga aku tidak tahu, dia kemana." Sambung kak Angga.


"Sepertinya dia tengah pulang ke rumah orang tuanya deh,"


"Masa sih?" Tanya kak Angga tidak percaya.


"Ya, kemarin aku tidak sengaja melihat dia saat aku hendak ke pasar. Aku lihat dia naik mobil dengan ibunya,menuju Bekasi."


"Tumben banget dia mau pulang," timpal kak Angga.


"Memangnya kenapa kak?"


"Emangnya Rangga nggak pernah cerita yah?"


"Hubungan dia dan orang tuanya itu kurang baik. Makanya dia lebih memilih untuk tinggal bersama pamannya di sini."


"Alasannya?" Tanya ku kembali.


"Karena orang tuanya selalu membandingkan dia dengan adiknya Rafael, yang saat ini baru saja kelas 3 SMP."


"Kalau tidak salah, adiknya itu jenius. Seharusnya di umur dia sekarang, dia itu kelas 1 SMP. Namun karena kejeniusan Rafael, sekolahnya memberikan akselerasi sama dia."


"Makanya dia mampu menyelesaikan sekolah SMP nya hanya dalam kurung waktu 2 tahun saja." Jelas kak Angga.


"Orang tua Rangga itu, selalu menuntut lebih sama dia. Agar dia mampu menyamai pencapaian yang di dapat oleh Rafael." Lanjutnya.


"Ya nggak bisa seperti itu lah,"


"Kan setiap anak itu punya pencapaian yang berbeda-beda. Tidak bisa juga kalau harus di bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain.


"Namanya manusia kan punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing." Balas ku tidak terima.


"Ya kalau orang tuanya punya pemikiran seperti kamu. Nyatanya kan enggak," timpal kak Angga.

__ADS_1


__ADS_2