
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
" Sebaiknya kamu bawa adik mu pulang sekarang, pasti orang tua kamu tengah menunggunya juga." Ucap ku.
"Lalu, bagaimana dengan kamu?"
"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Lagian tidak begitu jauh juga,"
Rangga pun langsung menggandeng adiknya itu ke arah jalan pulang menuju rumahnya.
Aku yakin,kejadian yang menimpa Rangga hari ini pasti cukup buat dia terkejut. Meskipun dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya secara langsung, namun aku bisa melihatnya saat tadi dia datang.
Sepertinya dia sangat takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan menimpa Rangga saat ada di luar tadi. Terlebih lagi,adiknya itu baru beberapa hari tiba di Jakarta dan pastinya tidak tahu daerah sekitaran tempat tinggalnya sekarang.
Aku pun kembali pulang ke rumah dan mengurungkan niat untuk beli cemilan seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya.
Untungnya sesampainya di rumah, ayah sudah istirahat lebih duluan. Jadinya aku tidak perlu menjawab pertanyaan beliau,karena pulang tidak bawa apa-apa.
@
Rangga POV
"Harusnya kamu tidak nekat pergi seperti ini. Ayah dan ibu sangat mengkhawatirkan kamu," ucap ku.
"Aku merasa muak saja, selama ini mereka selalu menyudutkan kakak. Seperti halnya kejadian hari ini,padahal aku lah yang mengajak kakak untuk main game." Jelas Rafael.
"Sudahlah,"
"Tetap saja, aku tidak bisa menerimanya begitu saja." Timpalnya.
Kami pun mempercepat langkah kami menuju rumahnya paman,seperti dugaan ku paman dan orang tua ku tengah menunggu kami di lobi apartemen paman.
"Rafael........!" Seru ibu yang langsung berlari menyambut kedatangan kami.
"Maaf kan aku bu, karena sudah buat kekacauan hari ini."
"Sudah, sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicarakan ini nanti, kamu pasti belum makan." Balas ibu.
Beliau pun memapah Rafael menuju unit apartemen tempat tinggal paman. Aku sedikit lega setelah berhasil menemukan dia.
Ternyata aku salah selama ini, aku hanya mengira aku sendirilah yang menderita selama ini, tapi ternyata Rafael pun ikut menderita selama ini.
__ADS_1
Sesampainya di unit tempat tinggal kami, paman pun langsung mengeluarkan semua makanan yang sepertinya sudah di siapkan sebelumnya.
"Makanlah, kamu juga pasti belum makan." Ucap ibu sambil menarik tangan ku.
Sontak saja apa yang di lakukan oleh ibu sekarang buat aku terdiam sesaat, momen yang sangat aku rindukan sejak lama dan hari ini setelag sekian lama ibu memegang tangan ku dan meminta ku untuk makan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan paginya, setelah sarapan bersama aku dan paman pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
"Apa kamu mau ikut bersama paman?" Tanya beliau.
"Tidak paman, aku mau naik bus saja."
"Bilang saja kamu ingin berangkat dengan seseorang," balasnya sambil menaiki motornya.
Aku hanya bisa tersenyum tersipu malu,bisa-bisanya paman malah menyinggung hal itu.
Setelah berpamitan dengan beliau, aku langsung buru-buru menuju halte bus. Takutnya Xavi sudah pergi lebih dulu,semalam aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasih ku karena semalam dia sudah menemani adik ku.
Aku sangat beruntung, karena setibanya di halte bus,Xavi tengah duduk sendirian menunggu bus yang menuju sekolah kami datang.
"Xavi........!" Seru ku.
"Aku lupa, semalam belum sempat mengucapkan terima kasih sama kamu, berkat kamu juga Rafael dia merasa lebih tenang."
"Tidak juga, aku hanya membantu semampu ku saja."
"Itu pun aku tidak sengaja melihatnya semalam, bahkan tidak mengira itu Rafael." Jelasnya.
"Tetap saja, aku harus berterima kasih sama kamu."
Dia pun hanya membalasnya dengan senyuman yang khas, senyuman yang selama ini buat aku terhibur di saat aku melewati hal yang tersulit dalam hidup ku.
Tidak lama setelah itu,bus yang kami tunggu pun tiba. Tanpa menunggu lama, aku langsung menarik tangannya masuk ke dalam bus.
Aku berharap setelah apa yang aku lewati selama ini,entah itu penderitaan yang aku alami. Semoga kedepannya tidak ada lagi hal yang membuat aku kecewa,terlebih lagi terhadap keluarga ku sendiri.
"Kenapa?" Tanyanya.
Menyadari aku yang sejak tadi hanya diam saja sambil memegang tangannya.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya merasa senang saja hari ini." Balas ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah kejadian semalam,ada beberapa hal yang berubah pada sikap orang tua ku. Sekarang mereka juga memperhatikan ku,terlebih lagi rencana mereka yang ingin menyekolahkan Rafael di satu sekolah yang sama dengan ku pun di batalkan.
Adik ku tetap akan mengikuti tes akselerasi seperti rencana awal, namun di sekolah yang lain tepatnya di kampung halaman ku di Bekasi.
Mendengar hal itu ada rasa senang dan sedih juga, dalam artian bukan aku tidak merasa senang bisa satu sekolah dengan dia. Hanya saja aku dan dia sepakat supaya tidak terjadi kesalah pahaman diantara kami kedepannya. Dan sepertinya memang itulah yang terbaik untuk kami saat ini.
Aku pun menyempatkan waktu untuk ikut menemani adik dan orang tua ku dan mengantarnya ke asrama dia. Kebetulan sekolah yang di pilih oleh Rafael itu hanya di peruntukan untuk siswa laki-laki saja dalam artian bukan sekolah campuran.
Katanya dia ingin fokus dengan pendidikannya,karena ternyata semasa di sekolahnya dulu ada beberapa siswa perempuan yang sempat mendekati dia dan itu mengganggu dia dalam pelajaran.
Berbeda dengan aku, sepertinya setelah aku mengenal Xavi hari-hari ku akan terasa sepi dan hampa tanpa kehadirannya itu.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Xavi POV
Kebetulan karena hari ini libur, aku pun pergi ke cafenya kak Bastian. Kemarin sepulang sekolah kami janjian untuk berkumpul di sana,meskipun kak Rangga tidak bisa hadir karena harus mengantar adiknya ke asrama.
"Sepertinya ada yang tengah galau hari ini," ucap kak Angga.
"Kayaknya...." Timpal Vira dan kak Bastian bersamaan.
"Ayolah Xavi, jangan hanya diam saja. Nanti juga Rangga bakalan balik lagi, gak bakalan selamanya juga dia di sana." Lanjut kak Angga.
"Ih bukan seperti itu,"
"Hey kamu juga jangan ngeledek dia kayak gitu lah, namanya juga dua orang yang baru jadian. Jadi maklumlah,jauh sedikit pasti kangen." Sambung kak Bastian.
"Iya ih, makanya punya pacar dong."
"Biar ngerasain gimana posisi aku saat ini," lanjut ku.
Mendengar ucapan ku barusan kak Angga udah seperti tersambar petir di siang bolong. Dia langsung terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah luar.
"Tidak terasa, sebentar lagi kita akan naik kelas XII." Ucap kak Bastian memecah keheningan.
"Iya, aku sama Xavi udah mau kelas XI aja yah." Sambung Vira.
__ADS_1
"Iya juga yah, perasaan baru kemarin kita itu kenal satu sama lain. Tapi ternyata udah mau satu tahun aja," timpal kak Angga.
Akhirnya dia pun merespon obrolan kami, aku tahu betul dia bukan tipe yang suka lama-lama ngambek orangnya.