When I See You

When I See You
Perhatian


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sabtu pagi aku sengaja bangun agak siang, karena mumpung libur sekolah juga. Namun isi perut ku tidak bisa di ajak kompromi dan mengharuskan aku untuk beranjak dari tempat tidur ku.


"Pagi ayah......" Sapa ku.


Beliau tengah membuat kopi di dapur.


"Eh Xavi, ayah kira kamu masih tiduran di kamar."


"Bunda mana, Xavi nggak lihat. Biasanya bunda tengah beres-beres jam segini."


"Bunda lagi ke rumahnya tante Qory, katanya anaknya baru pulang dari Balikpapan."


"Lah terus kenapa ayah nggak ikut? Bukannya itu saudara dari ayah kan."


"Ya ayah sudah lebih dulu pulang lah, ngapain lama-lama di sana. Asal kamu tahu aja, di sana udah kaya meet and great . Ayah pusing kalau harus lama-lama di sana," jelasnya.


"Oh....."


"Tapi wajar juga sih, kan emang kak Panji jarang pulang juga kan. Wajarlah kalau banyak saudara yang menyapanya."


"Iya......."


"Dengar-dengar semester depan dia mau pindah sekolah ke sini. Soalnya saudaranya yang di sana pun, di pindah tugaskan ke Papua."


"Oh gitu,"


"Baguslah, kan dia bisa kumpul sama orang tuanya di sini."


Aku pun membuka tudung saji yang ada di atas meja. Biasanya kalau hari libur bunda suka buat nasi uduk atau nasi kuning.


"Lah ayah, ini kok enggak ada apa-apa. Tadinya aku berniat untuk sarapan,"


"Udah lapar sekali."


"Hehe......."


"Berhubung tadi bunda buru-buru pergi, jadinya beliau meminta untuk sarapannya beli saja."


"Nah karena sekarang kamu udah bangun, beli lah nasi kuning langganan kita itu, sepertinya masih buka."


"Ih ayah, kok malah aku."


"Sama ayah aja bareng ke sana,"


"Tidak perlu, tadi ayah sudah sarapan di rumahnya paman Mahesa. Ayah masih kenyang ini, udah kamu saja yang pergi."


"Nanti ayah kasih lebih deh, uangnya."


Mendengar hal itu, aku langsung semangat dan beranjak dari tempat duduk ku.


"Kalau kayak gitu ceritanya, aku mau."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepanjang jalan menuju tempat yang jual nasi kuningnya, aku sangat menikmati suasana pagi ini. Langitnya begitu cerah dan mataharinya pun tidak begitu terik.


Saat melewati taman kota, mata ku langsung tertuju pada kak Rangga yang tengah bersantai di dekat air mancur. Saking tidak memperhatikan jalan, aku bahkan tidak sadar kalau aku malah menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


*Bruk.......


"Ah......."


Kak Rangga yang tengah bersantai pun langsung bangkit dan membantu ku untuk berdiri.


"Sakit......"


"Apanya yang sakit?" Tanyanya.


"Sepertinya kaki ku terkilir, sakit banget."


Dia pun kemudian menyingkirkan sepeda ku dan meletakkannya di bawah pohon.


"Ya udah, aku akan bantu kamu untuk ke klinik."


"Klinik?"


"Aduh, sepertinya tidak perlu. Aku mau pulang saja,"


"Terus, kamu mau membiarkan luka kamu ini."


"Bukan seperti itu,"


"Sudahlah, aku akan bantu kamu untuk pergi ke sana. Tenang saja,"


Dia pun kemudian langsung menggendong ku, bahkan aku sama sekali tidak pikiran untuk di gendongnya. Karena setahu aku, klinik yang terdekat dari taman itu jaraknya cukup jauh juga.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Akhirnya kami pun sampai di kliniknya dan kak Rangga pun meminta ku untuk duduk di kursi roda.


"Om Frans,"


"Kamu ngapain di sini? Ini kan masih pagi,"


"Ah itu, tadi teman ku terjatuh dari sepeda. Kebetulan aku bantu dia untuk mengantarnya ke sini,"


"Oh gitu, cepatlah kamu bawa ke bagian ruangan yang ada di sebelah sana."


"Baik om, makasih."


Bapak itu pun berlalu sambil melihat ke arah kami. Karena penasaran aku pun memberanikan diri untuk menanyakannya pada kak Rangga.


"Yang barusan itu siapa kak?"


"Ayahnya Angga, dia pemilik dari klinik ini."


"Oh......"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Untungnya luka ku tidak begitu serius dan hanya di obati saja. Aku pikir kaki ku itu patah, karena rasanya cukup menyakitkan saat aku gerakan.


Hanya saja dokter memang menyarankan aku untuk tidak begitu banyak bergerak, apalagi sampai kaki ku ini di gunakan untuk menahan.


Setelah selesai melakukan pemerikasaan, aku dan kak Rangga pun tidak langsung pulang. Kami harus menunggu resep obat yang tadi di kasih oleh dokter.


Aku pun sempat mengabari Vira kalau saat ini aku tengah berada di klinik, karena kami memang sudah janjian untuk pergi hari ini.

__ADS_1


"Eh......"


"Kok kalian berdua bisa ada di sini?" Ucapan kak Angga barusan mengagetkan aku dan kak Rangga.


"Ini aku antar dia, kakinya terluka. Karena jatuh dari sepeda,"


"Tidak maksud aku itu, kenapa kamu bisa bersama bareng dia?"


"Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan."


"Kebetulan kamu ada di sini, aku bisa minta tolong jagain dia dulu, soalnya aku harus mengambil resep obatnya." Lanjut kak Rangga.


"Bisa aja,"


Kak Rangga pun langsung berlalu menuju tempat pengambilan obatnya dan aku pasrah karena harus di temani oleh kak Angga.


"Kalian emang ketemu di mana? Kok bisa bareng,"


"Kebetulan tempat tinggal aku itu, jaraknya lumayan dekat dari tempat tinggal kak Angga."


"Tadi pagi aku hendak pergi untuk cari sarapan,tahunya pas lewat taman kota aku melihat kak Angga tengah bersantai di sana sendirian."


"Karena tidak fokus melihat jalan, aku malah menabrak pembatas jalan. Jadinya begini deh,"


"Oh jadi gitu ceritanya,"


"Oh iya, mumpung aku ketemu sama kamu di sini. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, tapi ingat kamu jangan bilang sama siapa-siapa."


"Iya........"


"Itu teman yang biasa bareng sama kamu itu,Vira. Kalau boleh tahu dia udah punya pacar belum?"


Aku langsung di buat tertawa oleh pertanyaan kak Angga barusan. Aku tidak habis pikir saja, apa mungkin dia naksir sama Vira.


"Kok kamu malah ketawa sih,"


"Setahu aku tidak,"


"Soalnya dia itu tipe cewek yang sulit untuk di dekati juga." Lanjut ku.


Tampak raut wajahnya terlihat senang, sampai-sampai dia mengepalkan tangannya tanda dia merasa senang dengan jawaban ku.


"Emangnya kenapa sih? Kok kakak tiba-tiba nanyain Vira."


"Ah enggak, aku hanya mau tahu aja."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kak Rangga pun kembali dengan membawa resep obatnya.


Aku pun pamitan sama kak Angga karena harus pulang lebih dulu. Mungkin kak Rangga merasa tidak enak, makanya dia sendiri menyarankan untuk mengantarkan aku pulang.


"Maaf ya kak, padahal seharusnya kakak saat ini bersantai di rumah. Ini malah direpotkan oleh aku,"


"Tidak apa-apa,"


"Aku merasa tidak enak saja." Balas ku.


"Udah sewajarnya kita saling menolong satu sama lain, apalagi sama yang butuh bantuan kita. Masa iya aku harus pura-pura tidak peduli." Jelasnya.

__ADS_1


"Pokoknya aku sangat berterima kasih hari ini, karena kakak udah mau bantuin aku. Bahkan sampai mau mengantarkan aku pulang,"


__ADS_2