When I See You

When I See You
Akhirnya


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Cowok itu dengan telaten mengobati luka di kakinya Vira. Meskipun Vira harus menahan rasa perih yang menyakitkan sejak tadi.


"Nah sudah beres," ucapnya sambil memasukan kembali perlengkapan obatnya.


"Em......."


"Makasih yah,"


"Karena kamu sudah membantu ku."


"Aku minta maaf atas sikap ku tadi, karena sudah bersikap kasar sama kamu."


"Tidak apa-apa, aku tidak memasukannya ke dalam hati." Balasnya.


"Oh iya, kalau boleh tau nama kamu siapa? Sepertinya kamu anak baru yah?"


"Iya aku dari kelas X,"


"Nama ku Savira, panggil saja Vira."


"Oh Vira ......."


"Nah perkenalkan aku Angga, dari kelas XI." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Hah apa? Nama kamu siapa?" Tanya Vira meyakinkan.


"Angga,"


"Hah jadi, selama ini......."


Belum juga Vira menyelesaikan ucapannya, dia langsung berdiri dan hendak keluar dari dalam tendanya.


"Eh bentar, kamu kenapa?"


"Kamu kok seperti kaget gitu, setelah mendengar nama aku."


Vira di buat pusing tujuh keliling, setelah mengetahui kenyataannya. Ternyata selama ini Xavi salah paham tentang nama laki-laki yang bertemu dengannya waktu itu.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku pun memberanikan diri untuk pergi duluan ke arah toiletnya, meskipun di selimuti rasa takut.


Namun langkah ku langsung terhenti, karena melihat kak Angga tengah duduk sendirian di depan gedung yang berada dekat dengan toilet.


"Cowok itu,"


Aku sama sekali tidak merasa takut dan malu, tanpa menunggu lama aku langsung menghampiri cowok itu.


"Hai kak......" Ucap ku.


Dia pun langsung melihat ke arah ku, seperti biasa respon nya biasa saja dan datar.


"Ada apa?"


"Kakak lagi ngapain di sini sendirian?"


"Ah itu, tadi aku habis ke toilet."


"Ini lagi nunggu teman ku, karena lupa tidak bawa sabun cuci muka."

__ADS_1


"Oh gitu......."


"Kamu sendiri ngapain ke sini? Emangnya kamu nggak takut apa, pergi ke sini sendirian."


"Enggak lah, takut apa."


"Aku hanya tidak bisa tidur saja, makanya aku jalan-jalan untuk cari angin. Eh kebetulan banget, aku malah lihat kakak ada di sini."


"Yakin kamu nggak takut,"


"Padahal aku dengar, dulunya itu daerah ini bekas perkampungan dan katanya suka ada sosok yang gentayangan saat malam hari."


Mendengar ucapannya, aku langsung merasa takut dan mengurungkan niat ku untuk pergi ke toilet. Entah yang di katakannya itu benar atau tidak, karena pada kenyataannya aku memang seorang penakut.


Hanya saja aku malu untuk mengakuinya di hadapan cowok yang aku sukai.


"Ya udah kalau gitu, aku balik lagi ke tenda aja. Takutnya teman-teman aku yang lain cariin aku."


Aku pun buru-buru balik dengan setengah berlari, bisa-bisanya dia malah mengatakan hal horor pada ku. Saat melewati area yang gelap, aku merasa ada yang mengikuti ku dari belakang. Karena tidak tahan dan takut, aku pun langsung berjongkok sambil berteriak.


"Jangan tangkap aku,"


"Aku hanya numpang lewat saja. Aku tidak macam-macam di sini,"


"Maafkan aku......"


Aku sama sekali tidak berani untuk membuka kedua mata ku, pikiran ku sudah memikirkan hal yang tidak-tidak saja.


"Hem......."


"Bilangnya bukan penakut, tapi sepertinya kamu itu penakut."


Aku terkaget karena yang aku kira itu hantu, ternyata kak Angga yang berjalan di belakang ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Kalian kok bisa bareng?" Tanya Vira heran.


"Ah itu......"


"Tadi aku tidak sengaja melihat kak Angga, tengah duduk sendirian di depan gedung yang ada di dekat toilet itu." Jelas ku.


Entah apa yang salah dengan ucapan ku barusan, kak Angga dan cowok yang tadi bersama Vira langsung tertawa.


"Ada apa dengan mereka, perasaan aku nggak mengatakan hal yang aneh." Bisik ku dalam hati.


Vira pun kemudian mendekati aku dan langsung membisikan sesuatu pada ku.


"Orang yang bersama kamu saat ini,namanya bukan Angga. Selama ini kamu salah paham," bisiknya.


"Apa?"


"Maksudnya gimana?" Tanya ku panik.


Aku langsung di buat malu dengan ucapan ku sendiri, aku merasa ingin segera pergi dari hadapan mereka berdua.


"Jadi selama ini kamu beranggapan yang namanya Angga itu dia," tunjuk cowok itu.


"Iya......" Angguk ku.


Dia pun terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Angga itu aku,bukan dia."


"Cowok yang bersama kamu tadi itu, namanya Rangga." Lanjutnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di dalam tenda tidak hentinya aku terus menyalahkan diri ku sendiri, sampai-sampai Olive yang tengah tidur pulas pun sempat terbangun karena berisik.


"Ya ampun, mau di simpan di mana muka ku ini. Aku bahkan malu sekali untuk bertemu lagi dengan dia,"


"Makanya sejak awal kan aku udah ngomong, kamu yakin enggak dengan nama cowok itu."


"Sekarang mau gimana lagi,semuanya sudah terjadi."


"Kita ambil saja hikmahnya, dengan kejadian ini kamu kan bisa tahu nama asli dia siapa." Lanjut Vira.


"Iya sih,"


"Tetap saja, aku malu sekarang untuk bertemu dengan dia."


"Terus maksudnya kamu mau menyerah begitu saja, karena kesalah pahaman ini."


"Belum juga kamu dekat dengan dia, udah menyerah begitu saja."


"Bukan seperti itu,"


"Aku hanya merasa malu saja, untuk beberapa waktu kedepan. Sepertinya aku harus menghindarinya dulu untuk saat ini."


"Ya terserah kamu saja," balas Vira pasrah.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Dua hari telah berlalu, selama itu pula aku berusaha untuk menghindari kak Rangga. Entah kenapa disaat aku mencoba untuk menghindarinya, aku malah sering kali melihat atau bahkan hampir berpapasan dengan dia.


Setelah memasukan koper ke dalam bagasi bus, aku dan Vira pun langsung masuk ke dalam busnya.


Aku berusaha untuk menghindari kontak mata dengan kak Rangga dan sebisa mungkin tidak ada kesempatan untuk aku bicara dengan dia.


"Eh kalian naik bus ini lagi," ucap kak Angga sambil tersenyum.


"Iya lah, memangnya kami mau naik bus yang mana lagi. Kalau nggak naik bus ini, kami nggak bakalan bisa pulang lagi."


Saat Vira menjawab ucapan kak Angga, aku berusaha untuk menarik bajunya dan memintanya untuk membiarkannya begitu saja. Namun Vira memang mempunyai sikap yang seperti itu, jadinya aku hanya bisa pasrah saja.


"Xavi......." Sapa kak Angga.


"Hai kak....." Balas ku sambil menundukkan kepala ku.


"Kenapa dengan kamu, apa terjadi sesuatu sama kamu. Kok kamu sepertinya enggan sekali melihat ke arah kami, bukannya......"


Vira pun dengan sigap langsung membungkam mulut kak Angga yang ember itu.


"Sudahlah,"


"Tadi malam dia tidak bisa tidur, wajahnya sedikit bengkak. Makanya dia malu untuk memperlihatkan wajahnya."


Untung saja ada Vira, kalau tidak ada dia pasti kak Angga bakalan terus mencecar ku. Secara dia sudah tahu kalau aku itu suka sama kak Rangga.


Vira pun langsung menarik ku untuk duduk di kursi yang waktu itu kami duduki saat berangkat.


"Makasih ya,"

__ADS_1


"Untuk kesekian kalinya kamu udah menolongku di hadapan kak Rangga."


__ADS_2