When I See You

When I See You
Belum Saatnya


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Yang benar bunda? Mungkin bunda salah lihat." Ucap ku meyakinkan.


"Bunda yakin itu Rangga,"


"Soalnya kak Angga bilang, dia tengah pulang ke rumahnya."


"Ya kan bisa saja,kalau dia udah pulang. Gimana sih kamu, malah meragukan bunda."


"Iya juga sih, bisa saja."


"Ya udah sana kamu mandi dulu, bunda lihat kamu kucel banget."


"Ya enggak kucel gimana, seharian aku berada di luar."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya aku coba menghubungi nomor kak Rangga yang baru. Kebetulan waktu itu dia sempat memberikannya juga pada ku. Hal yang buat aku terkejut adalah, dia langsung mengajak ku untuk bertemu di luar.


Tanpa pikir-pikir lagi, aku langsung beranjak dan tidak lupa dengan bingkisan yang di titipkan oleh Vira tadi.


"Eh Xavi, kamu mau kemana nak?" Tanya ayah yang tengah bersantai di ruang tamu.


"Ini ayah, aku mau kasih titipan dari Vira sama kak Rangga."


"Oh......"


"Tapi ingat, jangan lama-lama yah."


"Lihat ini udah jam 8 malam," lanjut ayah.


"Iya siap, tenang aja. Lagian aku nggak bakalan lama-lama juga,"


Setelah mendapatkan ijin, aku pun langsung menuju tempat yang sudah di janjikan. Karena taman yang terdekat dengan rumah kami tengah di perbaiki, aku pun mengusulkan untuk bertemu di dekat taman yang berada di belakang perumahan ku.


Meski pun kami harus pergi sedikit lebih jauh, tapi hanya di sana lah tempat yang cocok untuk kami bertemu saat ini.


Setelah berjalan sekitar 15 menitan, akhirnya aku pun sampai. Ternyata kak Rangga sudah lebih duluan sampai dan tengah duduk di ayunan.


"Kak......!" Seru ku.


Dia pun langsung berbalik dan melihat ke arah ku.


"Udah lama,kakak sampai di sini?"


"Tidak juga, mungkin ada sekitar 5 menit yang lalu."


"Maaf yah, karena harus menunggu aku."


"Iya gak apa-apa,"


"Oh iya, hampir saja aku lupa. Ini ada bingkisan dari Vira, tadi dia menitipkannya sama aku." Ucap ku sambil memberikan bingkisannya.


"Ah......."


Dia pun langsung meraihnya dan mengajak ku untuk duduk di ayunan yang satunya lagi.


"Aku dengar kakak,habis pulang yah?" Tanya ku.


"Iya,"


"Paman yang lebih dulu mengajak ku untuk pulang ke sana. Kebetulan ada salah satu keluarga ku yang mengadakan acara."

__ADS_1


"Jadinya paman mengajak ku, sekalian pulang." Jelasnya.


"Oh......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Di sana kami tidak begitu banyak ngobrol dan hanya menghabiskan waktu sebentar saja. Namun ada yang mengganggu pikiran ku sejak tadi, aku melihat raut wajah kak Rangga tampan murung. Sepertinya ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya saat ini.


Jujur ingin sekali aku menanyakannya,namun urung aku tanyakan karena takut aku terlalu kelewatan.


Meskipun aku dan kak Rangga cukup dekat saat ini, tapi kalau sampai menyinggung masalah pribadi aku tidak berani untuk menanyakannya. Beda hal jika dia yang lebih dulu mengatakannya pada ku.


"Udah pulang nak," ucap ayah.


"Iya......"


"Kenapa? Kok pulang-pulang kamu malah murung kayak gitu."


"Enggak kenapa-kenapa, aku hanya merasa capek saja habis jalan kaki."


"Lah emang kamu nggak naik sepeda listrik kamu itu?" Tanya ayah heran.


"Tidak, aku lupa belum mencharger nya."


"Hem......."


"Ya udah sana, sebaiknya kamu cepat istirahat. Besok kan kamu udah mulai sekolah lagi,"


"Iya ini juga mau."


"Tapi ngomong-ngomong bunda mana? Tadi sebelum aku pergi, aku nggak lihat bunda juga."


"Tadi bunda kamu habis perawatan,maskeran gitu. Eh tahunya pas ayah lihat, beliau malah bablas ketiduran." Jelas ayah.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Keesokan paginya, aku sangat bersemangat untuk kembali sekolah hari ini. Saat aku turun ke bawah untuk sarapan, aku mendapati memo yang di tulis oleh bunda pastinya.


"Nak, maaf ya. Hari ini bunda harus masuk lebih awal, karena ada pelanggan yang sudah menelpon. Dan ayah pun berangkat sekalian mengantarkan bunda."


Bunda memang memiliki klinik perawatan yang di kelolanya sejak setahun yang lalu. Biasanya kak Rosa yang mengambil alih klinik itu setiap harinya, tapi sepertinya bunda mendapatkan pelanggan yang mau langsung di tangani oleh bunda.


Baru saja aku hendak menikmati roti dan susu yang udah di siapkan oleh bunda, terdengar suara bel yang berbunyi.


"Hem, siapa yah?" Gumam ku sambil berjalan menuju pintu depan.


Aku cukup terkejut melihat kak Rangga saat ini tengah berdiri di depan pintu rumah ku.


"Hai......"


"Kak, kenapa kakak bisa ada di sini?"


"Aku mau mengajak kamu untuk pergi ke sekolah bareng,"


"Biasanya kan kita janjian di halte bis....."


"Tidak apa-apa, aku sengaja berangkat lebih awal biar bisa jemput kamu ke sini."


"Em ya udah tapi tunggu dulu yah, sebentar saja."


"Iya......."


"Kakak duduk aja dulu, aku tidak lama kok."

__ADS_1


Dengan cepat aku langsung balik lagi masuk ke dalam rumah, aku pun buru-buru memasukan roti kedalam wadah dan meminum susunya. Tidak lupa juga aku mengambil susu kemasan untuk aku bekal ke sekolah.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku dan kak Rangga pun kebagian bus yang pertama. Dan kami pun memilih untuk duduk di bagian kursi yang paling belakang.


"Kamu bawa bekal, hari ini?" Tanya nya.


"Ah ini, sebenarnya tadi saat kakak datang aku hendak sarapan."


"Jadi aku ganggu dong,"


"Tidak juga, aku kan bisa makan bekal ku ini sesampainya nanti di sekolah."


"Aku jadi merasa tidak enak sama kamu,"


"Tidak apa-apa kak, jangan merasa bersalah gitu."


Aku berusaha untuk buat kak Rangga merasa nyaman dan tidak merasa bersalah pada ku dan meyakinkannya.


"Tidak terasa yah, kita udah kenal udah mau satu semester."


"Iya......"


"Kenapa memang?" Tanya ku.


"Aku hanya merasa, baru kemarin aku kenal sama kamu."


Di pun tampak menyunggingkan senyuman yang khas.


"Kenapa ih?"


"Aku suka merasa terhibur saja, kalau mengingat kenangan saat dulu pertama kami kenal sama kamu." Balasnya.


"Ih kakak......" Aku dengan reflek menepuk pundaknya.


"Aku kan malu,"


"Udah ah, jangan di bahas lagi."


"Tapi aku senang,"


"Semenjak bertemu sama kamu, ada beberapa hal yang berubah dalam hidup ku." Ucapnya sambil menatap ku.


"Aku tahu, sekarang kakak udah banyak tertawa. Beda hal dengan dulu, kakak itu dingin banget."


"Aku bahkan sempat ragu untuk......"


"Untuk apa?"


"Itu......."


"Untuk apa yah, aku lupa." Balas ku.


"Padahal aku berharap kamu mengatakan,"


"Untuk mendekati ku." Lanjutnya.


"Ih kakak......"


Bisa-bisanya kak Rangga mengatakan hal itu, tapi memang benar sih. Hanya saja aku suka merasa malu saja,kalau harus mengatakannya langsung di depan dia.


"Aku tahu, selama ini kamu pasti kesulitan. Karena harus memendam perasaan kamu itu sendirian." Lanjutnya.

__ADS_1


"Hah, bagaimana bisa kakak tahu?" Timpal ku kaget.


__ADS_2