
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak harus lewat aku, ternyata kak Rangga pun lebih dulu mengetahui masalah ini. Awalnya dia sempat marah pada ku,karena aku tidak langsung menceritakan masalah ini padanya. Meskipun begitu, karena tahu alasan kenapa aku tidak bisa langsung memberitahunya, kak Rangga pun mengerti dan meminta ku untuk tidak memusingkan masalah ini. Dia cerita dia sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini, karena biar bagaimana pun katanya masalah ini timbul karena dia.
Ternyata kak Rangga tahu masalah ini dari kak Ilham, itu pun karena kak Ilham tidak sengaja mendengar percakapan antara Tasya dan temannya.
Jujur aku sedikit merasa lega,sekaligus khawatir juga. Aku penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh kak Rangga terhadap kak Tasya kali ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rangga sudah mengatur pertemuan nya dengan Tasya atas bantuan dari Ilham,mendengar berita dari ilham itu Tasya langsung heboh.
"Kamu serius kan?" Tanya nya.
"Iya serius,"
"Tapi bentar, dalam rangka apa dulu ini? Bukanya Rangga itu masih marah pada ku?"
"Sepertinya dia sudah melupakan masalah yang kemarin itu. Kita cuma mau makan-makan saja di cafe, sekalian perpisahan dengan dia. Karena kan dia minggu depan udah mau pindah ke kos yang baru." Jelas Ilham.
Tanpa berpikir lagi Tasya langsung mengiyakan ajakan Ilham barusan.
"Nanti aku kirim alamatnya lewat WA aja yah," lanjut Ilham.
"Oh iya siap. Tenang aja aku pasti datang,"
Dalam hati Ilham hanya bisa tertawa,padahal sebenarnya dia sendiri tidak akan ikut pergi namun hanya membantu Rangga saja supaya bisa bertemu dengan Tasya dan menyelesaikan masalah mereka. Meskipun Ilham itu orang yang paling duluan kenal sama Tasya, namun dia juga tidak setuju dengan apa yang di lakukan oleh Tasya baru-baru ini.
Ilham tidak membenarkan apa yang di lakukan Tasya terhadap pacar sahabatnya itu, meskipun resikonya Tasya pasti akan balik marah juga sama Ilham karena dia yang kasih tahu Rangga.
Setelah berhasil mengajak Tasya, Ilham pun langsung pergi untuk menemui Rangga yang sudah menunggunya di lantai 4.
"Gimana?" Tanya Rangga setelah Ilham datang.
"Dia mau,"
"Makasih ya, karena kamu sudah kasih jalan untuk aku bisa bicara dengan dia. Padahal hubungan kamu sendiri cukup dekat dengan dia." Ucap Rangga.
__ADS_1
"Ya meskipun begitu, aku tidak membenarkan apa yang di lakukannya ini. Dia sudah kelewat batas,belum juga kalian baikan gara-gara masalah kemarin itu. Sekarang dia udah buat masalah baru aja dan lebih parahnya sampai berani teror pacar kamu." Jelas Ilham.
"Aku juga tidak menyangka dia bakalan melangkah sejauh ini. Padahal dia itu sebenarnya anaknya baik selama ini,"
"Ya namanya sudah di butakan oleh cinta, apapun pasti di lakukannya."
"Aku hanya berpesan saja sama kamu. Sekesal apapun kamu nanti,tolong jangan kasar sama dia." Lanjut Ilham.
"Aku mengerti, kamu tenang aja. Atau gimana kalau nanti kamu ikut saja,tapi kamu sembunyi dulu gitu di mana." Ucap Rangga.
"Begitu yah,"
"Itu ide yang bagus juga. Takutnya kan,terjadi hal yang tidak di inginkan,setidaknya aku bisa melerai kalian nanti." Balasnya.
Setelah mereka berhasil merencanakan rencananya,Ilham pun kembali ke kelasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sorenya Tasya sudah sampai di Cafe yang sudah di janjikan sebelumnya, dia tampak sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Rangga.
Ilham sendiri sengaja memilih cafe yang tidak begitu rame dan memilih tempat duduk yang di lantai atas. Diiringi alunan musik yang berada di lantai bawah, Tasya pun terhanyut sambil ikut bernyanyi mengikuti liriknya.
"Hai......" Sapa Tasya.
"Kamu kok sendiri? Mana Ilham?" Tanyanya.
"Nggak tahu,mungkin dia telat kali."
"Ngomong-ngomong, aku tidak tahu loh. Inu juga karena Ilham yang mengajak ku ke sini,nggak apa-apa kan?"Ucapnya.
"Ah itu, tidak apa-apa."
Dengan polosnya Tasya senyum-senyum sendiri, seolah dia malah merasa senang mengetahui Ilham yang datang terlambat. Dia bahkan beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk duduk tepat di samping Rangga.
"Nggak apa-apa kan, kalau aku duduk di sini?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Oh, silahkan saja."
__ADS_1
Karena merasa tidak tahan, Rangga pun berniat untuk langsung menegur Tasya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu,"
"Apa itu?" Balas Tasya penuh semangat.
"Kamu kenapa nekat sampai meneror pacar ku Xavi?"
Mendengar ucapan Rangga barusan,raut wajahnya langsung berubah kebingungan dan langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Rangga.
"Maksud kamu apa? Aku sama sekali tidak mengerti." Balasnya.
"Aku sudah tahu semuanya Tasya, jadi kamu tidak perlu lagi berkilat atau beralasan apapun. Karena percuma,aku sudah tahu semua."
"Oh jangan-jangan pacar kamu yang masih kecil itu, yang ngadu ke kamu." Timpalnya.
"Aku hanya bicara kenyataan saja dan meminta dia untuk mundur."
"Kamu punya hak apa untuk mengatakan hal itu sama dia?" Bentak Rangga.
"Ingat yah, dari awal aku sudah jelaskan sama kamu. Aku hanya anggap kamu itu teman tidak lebih dan aku sudah kasih kesempatan untuk kamu memperbaiki diri. Namun apa yang yang kamu lakukan kali ini,yang ada kamu udah kehilangan kesempatan itu." Jelas Rangga.
"Aku tidak ingin lagi melihat kamu atau pun kenal sama kamu."
"Jadi aku harap dan mohon sama kamu, jauhi aku dan pacar ku Xavi. Karena percuma Tasya, mau kamu melakukan cara apapun untuk memisahkan aku dengan dia, kamu tidak akan berhasil. Karena di hatiku saat ini dan untuk selamanya itu hanya ada Xavi." Lanjutnya.
Rangga pun langsung beranjak dari tempat duduknya,melihat Rangga yang hendak pergi Tasya dengan sekuat tenaga berusaha meraih tangannya. Namun Rangga langsung menepisnya langsung dan pergi begitu saja tanpa melihat kembali ke arah Tasya.
Tasya pun hanya bisa meratapi nasibnya saat ini sambil menatap kepergian Rangga. Seseorang yang sangat di idamkannya sejak lama,sejak awal mereka di pertemukan oleh Ilham.
Tidak lama setelah kepergian Rangga, Ilham pun langsung naik untuk melihat kondisi Tasya.
"Loh, kamu kenapa? Kok malah jongkok di bawah gitu?" Tanyanya polos.
"Diam kamu," bentak Tasya.
"Lah kenapa kamu malah membentak ku? Memangnya apa yang sudah terjadi? Dan mana Rangga,bukannya tadi dia bilang sudah sampai duluan."
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Ilham barusan, Tasya malah menagis sejadi-jadinya. Dan sepertinya tangisnya ini sampai ke lantai bawah saking kencangnya.
"Eh diam dong, malu di dengar sama orang lain. Kami kenapa sih?" Ucap Ilham yang masih pura-pura tidak tahu.