When I See You

When I See You
Kedatangan Rangga


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesuai rencana awal, aku dan keluarga ku pun berangkat menuju Semarang menjelang malam. Karena ayah lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya dan aku pun menyempatkan untuk berkunjung ke rumahnya Vira sebelum pergi.


Sepanjang perjalanan aku malah tidur dan tidak begitu menikmati perjalanan kami kali ini. Jujur aku masih kepikiran dengan kak Rangga, andai dia meminta ku untuk tinggal dan tidak ikut dengan orang tua ku.


Bukan aku mementingkan urusan pribadi, dibandingkan dengan keluarga ku. Hanya saja saat ini aku memang ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan dia.


"Xavi......"


"Kamu kenapa? Bunda perhatikan dari tadi kamu hanya diam saja."


"Sepertinya kamu tidak begitu senang." Lanjut bunda.


"Tidak kok,"


"Iya, biasanya kamu berisik sekali saat di perjalanan. Ini kamu malah tidur aja," sambung ayah.


"Aku hanya merasa lelah saja, mungkin karena kemarin habis jalan-jalan dengan teman-teman ku."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di rumah kami yang dulu. Tidak ada yang berubah, hanya saja sekarang terdapat lebih banyak tanaman bonsai koleksi kakek.


Tampak kakek sudah menunggu kedatangan kami di ambang pintu, beliau tampak senang melihat mobil yang kami tumpangi sudah sampai di halaman rumah.


Aku pun turun lebih dulu dan langsung menghampiri kakek.


"Kakek......." Aku langsung memeluk beliau.


"Ya ampun, kamu tambah tinggi saja." Ucapnya.


"Iya dong, sekarang kan aku udah jadi anak SMA." Balas ku sambil tersenyum.


"Kakek, roda mobilnya lepas......" Ucap seorang anak kecil dari dalam rumah.


"Eh, ini siapa?" Tanya ku heran.


"Masa kamu udah lupa, inikan anaknya om Dodi sama tante Inez. Itu loh, Kenzo....." Sambung bunda.


"Ya ampun,"


"Gimana aku mau mengenali dia, terakhir kan aku bertemu dengan dia saat Kenzo belajar merangkak."


"Kakek, wanita ini siapa?" Tanya Kenzo dengan sinis nya.


"Ini saudara kamu juga Ken,"


"Ih ya ampun anak kecil ini, sinis banget sama aku."


"Dia memang suka seperti itu, apalagi sama orang yang baru bertemu sama dia." Jelas kakek.


"Kenapa dia ada di sini?" Tanya ku.


"Dia memang suka main ke rumah kakek ke sini, kebetulan juga kan sekarang tengah liburan sekolah."

__ADS_1


"Oh......"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tidak terasa sudah tiga hari lamanya aku menghabiskan liburan ku disini dan selama itu pula hari-hari ku terus di ganggu dengan tingkah usil Kenzo.


Beberapa hari ini juga, aku tidak bisa menghubungi kak Rangga. Entah kenapa nomornya pun tidak aktif secara tiba-tiba.


"Kamu lagi ngapain di sini sendirian?" Tanya bunda.


"Bosan saja di dalam, makanya aku nongkrong di depan. Lumayan bisa lihat orang-orang yang tengah hilir mudik."


"Nah kebetulan sekali,"


"Perasaan ku tidak enak, ada apa nih?"


"Bunda boleh minta tolong nggak sama kamu?"


"Tuh kan, apa aku bilang."


"Ayolah Xavi, kali ini saja."


"Bunda tengah buat kue basah sekarang, tapi Kenzo merengek minta di belikan cemilan. Ayah dan kakek kamu tengah pergi ke kolam untuk mancing."


"Antar lah dia untuk beli cemilan sama ada beberapa barang juga yang mau bunda titipkan sama kamu."


"Ya udah lah, dari pada disini aku bete."


"Bentar, kamu yakin mau pergi dengan menggunakan baju beruang kamu ini?" Tanya bunda.


"Malas aku, kalau harus ganti pakaian terlebih dulu. Nanti yang ada lama lagi, belum aku dandannya." Jelas ku.


"Ya sudahlah, terserah kamu saja."


Bunda pun tersenyum puas, karena berhasil membujuk ku untuk pergi bersama Kenzo. Sebenarnya aku tahu, bunda itu nggak mau di ganggu saat dia tengah masak. Karena Kenzo anaknya emang super aktif, dia memang suka sekali gangguin bunda saat tengah masak.


Aku dan Kenzo pun berjalan kaki menuju supermarketnya, kebetulan memang jaraknya yang cukup dekat dari rumah kakek hanya berjarak 300 meteran saja.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun melewati beberapa rumah yang masih saudaraan dari keluarga kakek. Sepanjang jalan itu pula aku harus menyapa mereka semua, kalau tidak aku bakalan di bilang sombong oleh mereka.


Setelah berjalan sekitar 10 menitan, akhirnya kami pun sampai di supermarketnya. Aku pun lebih dulu mementingkan untuk mencari barang titipan bunda di bandingkan langsung mengambil cemilannya Kenzo.


"Ih kak Xavi, kita kan kesini buat beli cemilan aku."


"Tapi kenapa kakak malah membawa ku ke lorong ini?"


"Kan cemilan aku bukan di sini tempatnya." Rengek dia.


"Iya sabar dulu,"


"Kak Xavi harus cari dulu beberapa barang titipan bunda. Kalau cemilan kan gampang, nanti sambil lewat ke kasir pun bisa."


"Iya aku tahu, tapi masalahnya cemilan kesukaan aku itu jarang ada. Sekalinya ada pasti bakalan jadi rebutan orang lain juga." Jelasnya.

__ADS_1


"Enggak bakalan, tenang aja."


"Emang kamu tadi nggak lihat apa, hari ini pengunjungnya tidak begitu banyak."


"Udah tenang aja," ucap ku berusaha menenangkan Kenzo yang sudah tidak sabaran.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah berkeliling dan berhasil mendapatkan semua pesanan bunda, Kenzo pun langsung menarik aku menuju lorong tempat dimana cemilan kesukaannya di simpan.


"Tuh kan, apa aku bilang......."


"Cemilannya udah habis dan lihatlah, raknya kosong."


"Ya emang mungkin udah kosong dari tadinya. Kenapa kamu malah marah sama kakak?"


"Udah, kamu sebaiknya cari cemilan yang lain saja."


"Ayo pilih,"


"Enggak mau, aku maunya cemilan rasa jagung itu." Timpalnya.


Aku dan Kenzo malah berjalan tidak tentu arah, aku hanya bisa pasrah mengikuti kemana arah Kenzo jalan. Dia masih ngambek sama aku, karena cemilan kesukaannya sudah habis.


"Bentar, maksud kamu itu bukan sih?" Tunjuk ku.


Aku melihat cemilan yang di maksud Kenzo tadi, di pajang di meja yang berada di tengah lorong. Ternyata cemilannya tengah promo dan hanya tinggal satu saja.


"Iya kak, benar......"


"Ayo kak, cepat sebelum di ambil orang."


Aku pun buru-buru lari untuk meraih cemilannya. Baru saja aku berhasil meraihnya, udah ada ibu-ibu yang merebutnya.


"Eh bu, aku udah lebih dulu memegangnya."


"Tidak, saya yang lebih dulu."


"Mengalah lah nak, sama orang tua."


"Eh bukan seperti itu konsepnya, siapa cepat dia dapat." Balas ku.


"Kali ini saja, biarkan cemilan ini jadi milik saya."


"Tidak bisa bu,"


"Sepupu ku, tengah marah pada ku. Karena dia menginginkan cemilan ini, kalau aku memberikannya sama ibu, bisa saja dia ngamuk di sini." Jelas ku.


Tanpa mendengar penjelasan ku, ibu itu berusaha untuk merebutnya dengan kencang. Aku pun mengeluarkan semua tenaga ku, supaya cemilannya tidak berhasil di rebut oleh ibu itu.


"Sini kak, aku bantu." Kenzo pun datang membantu ku untuk bersaing dengan ibu itu.


"Xavi........!" Seru seseorang mengagetkan ku.


Alangkah kagetnya aku, karena mendapati kak Rangga tengah berdiri melihat aku yang tengah berebut cemilan dengan ibu-ibu. Di tambah, saat ini aku hanya menggunakan piyama saja.

__ADS_1


__ADS_2