
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Aduh, gimana ini....."
"Mana aku pakai piyama beruang ini lagi."
"Ya ampun, kenapa bisa ada kak Rangga di sini?" Bisik ku dalam hati.
"Kak, awas jangan sampai lepas." Ucap Kenzo menyadarkan ku.
Dengan cepat aku pun langsung menariknya dengan keras,hinga buat ibu itu pun hampir terjungkal.
"Yes....."
"Akhirnya....." Ucap Kenzo girang.
... ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah membayar semua barang belanjaannya, aku pun keluar dengan di temani oleh kak Rangga.
Aku bahkan belum sempat menanyakan, prihal kehadiran dia di Semarang saat ini. Tidak mungkin juga dia datang dengan sengaja,untuk mengunjungi ku ke sini.
"Tadi kamu lagi ngapain?" Tanyanya.
"Ah itu,"
"Aku tadi tengah rebutan cemilan sama ibu itu."
"Ini gara-gara anak satu ini, dia marah pada ku karena cemilan yang dia mau sudah habis dan hanya tinggal satu ini. Itu pun aku harus berjuang, karena rebutan dengan ibu tadi." Jelas ku.
Mendengar penjelasan ku barusan, kak Rangga tampak menahan tawanya.
"Aku tahu, mungkin ini terdengar konyol. Tapi memang seperti itulah kenyataannya," lanjut ku.
Sedangkan Kenzo, dia malah tengah asik menikmati cemilan kesukaannya itu sambil mendengarkan aku dan kak Rangga ngobrol.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu di sini." Ucapnya.
"Aku juga,"
"Ngomong-ngomong, kok kakak bisa sampai di sini?" Tanya ku.
"Ah itu,"
"Aku ikut dengan paman ku,"
"Kebetulan beliau tengah menghadiri seminar di sini selama 2 hari."
"Karena bosan di hotel sendirian, aku jalan-jalan ke sini saja sekalian lihat-lihat."
"Tidak di sangka, aku malah ketemu sama kamu."
"Itulah yang di namakan takdir......." Gumam ku dalam hati.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanyanya.
"Tidak ada,"
"Ngomong-ngomong, kamu serius pergi ke supermarket dengan mengenakan piyama beruang ini?"
"Ah tidak, itu karena tadi aku buru-buru saja. Aku bahkan tidak sempat untuk mengganti pakaian ku,"
"Benarkah itu? Bukanya tante Sonya, meminta kak Xavi buat ganti pakaian dulu."
__ADS_1
"Kak Xavi saja yang malas untuk mandi," lanjut Kenzo.
"Ih benar-benar anak ini, tidak bisa diam saja. Bisa-bisanya dia malah membuka aib ku di depan kak Rangga." Bisik ku dalam hati.
"Udah kamu mending diam saja, tidak usah ikut campur." Ucap ku pelan.
Kenzo hanya membalasnya dengan menyeringai puas. Melihat tingkah kami berdua, kak Rangga pun tertawa hingga wajahnya tampak memerah.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Karena sudah terlanjur, aku pun menawarkan kak Rangga untuk datang berkunjung ke rumah ku. Awalnya aku sempat ragu dan takut dia menolak ajakan ku ini. Tapi di luar dugaan, dia mengiyakan ajakan ku kali ini tanpa ragu.
Aku merasa senang sekali, karena sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi dia. Mungkin ini buah dari kesabaran ku, menunggu kabar darinya.
"Apa yang kamu lakukan selama di sini?" Tanyanya.
"Tidak ada,"
"Sesekali aku menyempatkan untuk belajar. Meskipun ini hari libur, tapi belajar itu penting." Balas ku.
"Ya ampun, bukannya tiap hari kerjaan kamu nonton film di kamar." Timpal Kenzo.
Aku pun buru-buru menutup mulutnya yang ember itu, bisa-bisa dia membuka aib ku yang lainnya juga.
"Hush kamu ini, hobi banget menguping pembicaraan orang dewasa."
"Sepertinya, sekarang kamu udah pandai berbohong sama aku." Ucap kak Rangga.
"Bukan seperti itu,"
"Hanya saja, tidak mungkin juga untuk aku menceritakan keburukan aku di depan kakak."
"Aku lebih suka kamu yang apa adanya,jadi kamu tidak perlu lagi berbohong." Balasnya.
"Jangan bilang, dia udah mulai tertarik sama aku." Bisik ku dalam hati.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tanpa terasa saking asiknya mengobrol sambil jalan dengan kak Rangga, kami pun akhirnya sampai di depan rumah. Tampak ayah dan kakek tengah berdiri di depan pagar menunggu kedatangan kami.
"Gawat ini,"
"Kenapa?" Tanya kak Rangga.
"Sepertinya kakek dan ayah ku, sudah menerima kabar."
"Kabar apa, maksud kamu?" Tanyanya heran.
"Kabar dari saudara ku yang rumahnya di sepanjang jalan tadi."
"Karena aku pulang dengan membawa laki-laki ke sini." Lanjut ku.
"Asal kak tahu aja, mereka punya grup chat. Untuk saling bertukar informasi, apapun itu." Jelas Kenzo.
"Siap-siap aja, kakak bakalan di sidang oleh kakek dan paman." Lanjutnya.
Mendengar ucapan Kenzo barusan, kak Rangga pun langsung terlihat gugup.
"Mumpung kita belum masuk, kakak boleh pulang." Ucap ku.
"Tidak apa-apa, setidaknya aku harus menyapa keluarga kamu kan?"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
__ADS_1
Tatapan ayah dan kakek tampak menyeramkan, di tambah ayah malah tengah memegang sapu lidi di tangannya.
Melihat itu, kak Rangga yang tadinya sudah siap pun sempat mundur.
"Ayah......."
"Tolong singkirkan sapunya,"
"Ayah malah menakutinya." Lanjut ku.
"Siapa dia, Xavi?" Ucap ayah.
"Kak Rangga, dia kakak kelas ku di sekolah."
"Kebetulan kami bertemu saat di supermarket tadi. Aku sengaja mengajaknya ke sini, karena dia tengah kesepian di hotel sendirian." Jelas ku.
Kakek sendiri dia tengah mengawasi kak Rangga, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ya ampun, siapa ini........" Ucap bunda dari dalam rumah.
Beliau pun langsung meraih sapu lidi di tangan ayah dan langsung melemparnya.
"Ayah, memangnya ayah lupa apa......."
"Dia ini kan anak yang tinggal bersama pak Hamdan itu."
"Itu loh," terlihat bunda membisikkan sesuatu ke telinga ayah.
Tampak raut wajah ayah pun langsung berubah dan langsung tersenyum.
"Ya ampun, aku tidak menyangka bakalan kedatangan Rangga ke sini."
"Ayo masuk nak,"
"Anggap saja rumah sendiri." Lanjut ayah.
Perubahan sikap ayah barusan, cukup buat kak Rangga keheranan di buatnya. Setelah tadi di buat tegang, sekarang malah kebalikannya.
Ayah dan bunda pun berebutan merangkul kak Rangga dan membawanya masuk ke dalam rumah. Melihat hal itu, kakek pun hanya bisa diam dan mengikuti dari belakang.
Aku pun di buat penasaran, dengan apa yang di katakan oleh bunda sama ayah tadi.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Ibu dan aya pun sibuk mengambil beberapa cemilan dan minuman dari dapur untuk kak Rangga.
Kau yang melihatnya pun merasa heran dengan sikap kedua orang tua ku kali ini.
"Aneh sekali," gumam ku.
"Ayo nak, dimakan."
"Kebetulan sekali, bunda tadi habis membuat kue basah."
"Bunda?"
"Ya ampun, aku benar-benar dibuat pusing oleh kelakuan orang tua ku ini."
"Makanlah, mumpung masih hangat." Ucap ayah.
"Iya nak,"
"Kami merasa senang sekali, karena kamu datang berkunjung ke rumah kami ini." Sambung ayah.
__ADS_1
"Mumpung kamu tengah di sini, gimana kalau sekalian nanti kita makan siang. Bunda akan siapkan menu makan siang yang enak untuk kamu." Lanjut bunda.