
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat kami tengah asik ngobrol, aku menerima non aktifasi pesan masuk. Ternyata itu pesan yang di kirimkan oleh kak Rangga, besok dia mengajak ku untuk pergi kencan. Aku pun belum tahu dia akan mengajak ku pergi ke mana, yang aku lakukan adalah langsung mengiyakan ajakannya itu.
"Ada apa nih, kok kamu senyum-senyum sendiri?" Bisik Vira.
"Tidak ada,"
Sepertinya kak Rangga masih belum belum pulang, karena dia hanya membahas tentang rencana kami besok. Tapi tidak apa-apa juga, yang terpenting besok aku dan dia bakalan pergi berdua.
Kami pun pulang sekitar jam 4 sore, sesampainya di rumah terlihat bunda tengah duduk santai di depan rumah. Di lihat dari raut wajahnya bukan berniat untuk memarahi ku,karena aku pulang sedikit telat.
Tadi pagi aku ijin sama bunda akan pulang sekitar jam 2 atau jam 3, tapi ini aku pulang terlambat satu jam.
"Akhirnya pulang juga kamu nak," ucap bunda tepat saat aku menutup pagar.
"Iya bunda,"
"Soalnya tadi busnya telat dan di jalan pun macet juga." Balas ku.
"Ya sudah langsung masuk saja, ini sudah sore sebaiknya kamu langsung mandi saja."
"Nanti kita makan malam di luar, sekalian bunda mau belanja bulanan." Lanjut bunda.
"Baik bunda,"
Aku pun buru-buru masuk, karena takut bunda malah berbicara panjang lebar dan menyinggung prihal aku yang pulang telat. Meskipun bunda tidak marah, tapi aku bisa lihat bagaimana ekspresi wajahnya barusan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan paginya, aku sengaja bangun pagi-pagi seperti halnya saat hari biasa. Melihat aku yang sudah berkeliaran di pagi hari, ayah yang tengah bersantai di depan rumah pun keheranan dan langsung memanggil ku.
"Biasanya kalau hari libur kamu bangun siang, paling pagi itu jam 9."
"Ini kenapa tiba-tiba jam segini kamu udah berkeliaran aja?" Lanjut ayah.
"Ah itu,"
"Bukannya bagus ayah, kan sama dengan aku itu mengurangi kebiasaan yang tidak baik. Aku belajar untuk pulang lebih awal, bahkan saat hari libur juga." Jelas ku.
"Benarkah itu? Bukan karena apa-apa?" Tanya ayah meyakinkan.
Memang ayah ku itu, sosok yang sangat peka terhadap apa pun itu. Di balik sikap santainya itu, beliau memang sosok yang peka dan tebakannya itu tidak pernah meleset.
"Hem......."
__ADS_1
"Sejujurnya hari ini itu, aku berniat untuk pergi."
"Pergi lagi? Bukannya kemarin kamu habis keluar bersama teman-teman kamu itu. Lalu hari ini,kamu mau pergi kemana lagi?" Tanya ayah.
"Aku tidak bisa memberitahu ayah alasannya apa,"
"Ijinkan aku untuk pergi hari ini." Lanjut ku.
"Ayah tentu akan memberi ijin pada kamu, masalahnya itu ada pada bunda kamu. Apa kamu sudah bicara sama bunda dan meminta ijin beliau?"
"Belum,"
"Ya ampun nak, harusnya kamu itu minta ijin lebih dulu sama bunda. Meskipun ayah sudah memberi ijin, belum tentu bunda kasih ijinnya pada kamu." Jelas ayah.
"Benar juga,"
Meskipun ayah merupakan kepala keluarga di keluarga kami, namun ibu terkadang suka menentang dan sulit sekali dalam memberikan ijin. Aku paham, bunda hanya merasa khawatir dan takut saat anak gadisnya itu terlalu sering atau pun lama berada di luaran sana.
Apalagi hari ini aku akan pergi untuk berkencan dengan kak Angga, salahnya aku belum menceritakan tentang hubungan kami sekarang ini pada bunda dan ayah. Meskipun bunda tampak menyukai kak Rangga, aku sendiri tidak yakin beliau akan menyetujui hubungan kami. Mengingat kami berdua yang masih duduk di bangku sekolah.
... ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Selsai mandi dan berganti pakaian, aku mengintip keberadaan bunda dari balik pintu kamar ku. Terlihat beliau tengah memasak sesuatu di dapur, di bantu oleh ayah yang tengah duduk di meja makan.
"Aku harus bicara apa yah? Supaya bunda memberiku ijin." Ucap ku.
"Halo kak,"
"Xavi,"
"Iya kak,"
"Sepertinya kita tidak jadi pergi hari ini."
*Deg........
Jujur saja aku sangat kecewa setelah mendengar kak Rangga membatalkan rencana kami hari ini. Padahal dia sendiri yang lebih dulu mengajak ku untuk pergi dan sekarang pun dia juga yang membatalkannya.
"Iya kak, tidak apa-apa."
"Masalahnya Rafael melupakan kartu tesnya di rumah paman dan tadi pagi aku langsung balik lagi ke tempat dia untuk mengantarkannya langsung."
"Kita bisa pergi lain kali lagi,"
"Maaf yah....."
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak, lagi pula aku juga belum siap-siap ini."
"Ya sudah kalau begitu,"
Dia pun kemudian menutup telponnya lebih dulu, sepertinya dia tengah berada di jalan saat ini. Aku bisa mendengar bunyi dari kendaraan yang cukup berisik saat barusan kami bicara.
Aku pun tidak bisa menyalahkan kak Rangga sepenuhnya, karena semua itu terjadi di luar dugaan dan rencana kami. Aku pun tidak ingin egois, meskipun aku sangat mengharapkan kencan kami hari ini. Memang sejak awal sepertinya kami berdua belum di takdirkan untuk pergi hari ini.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun memutuskan untuk nonton film kesukaan ku di kamar,dengan sesekali saling mengirim pesan dengan kak Rangga.
"Xavi......." Panggil ayah.
"Iya ayah, masuk saja."
"Loh, kok kamu malah bersantai di kamar. Bukanya tadi kamu bilang mau pergi? Atau mungkin bunda tidak kasih ijin sama kamu?" Tanya ayah.
"Tidak jadi,"
"Kenapa?" Tanya ayah kembali.
"Ada keperluan mendadak dan rencananya gagal."
"Hem, ya sudah tidak usah kecewa seperti itu. Anggap saja hari ini, waktunya untuk kamu beristirahat dan bersantai sebelum besok sekolah kembali."
"Iya......."
Setelah menghibur ku, ayah pun kembali keluar dari kamar ku. Sepeninggal ayah, aku hanya bisa menghela nafasku dalam-dalam. Sekuat apapun aku menerima kenyataannya, tetap saja rasa kecewa itu masih membekas di hati ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Paginya aku sudah janjian dengan kak Rangga di halte bus, ternyata dia sudah tiba lebih awal dan tengah menunggu ku di sana.
"Pagi......." Sapa ku lebih dulu.
"Eh hai......." Dia pun langsung berbalik melihat ke arah ku dan tidak lupa dengan menyunggingkan senyuman yang indah.
"Maaf yah, tentang kemarin itu."
"Tidak apa-apa, kita kan hanya bisa berencana saja. Lagi pula alasan kakak membatalkannya itu kan bukan karena apa-apa, tapi kakak harus mengantarkan. Kalau tidak hari ini, adik kakak nggak bisa ikut tesnya karena kartunya ketinggalan." Jelas ku.
Aku hanya tidak ingin kak Rangga merasa bersalah,karena telah membatalkan rencana kami kemarin.
"Makasih ya, karena kamu sudah mau mengerti. Sepertinya kita harus menjadwalkan rencana kencan kita kedepannya." Balasnya.
__ADS_1
"Haruslah,"
" Setelah kita pacaran,kita bahkan belum pernah pergi untuk berkencan berduaan saja." Timpal ku.