
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepeninggal Rafael, paman pun meminta kedua orang tua ku untuk menenangkan diri terlebih dulu. Sedangkan aku memilih untuk masuk kembali kedalam kamar ku,itu pun sama karena aku ingin menenangkan pikiran ku setelah perdebatan yang terjadi barusan.
Hal yang aku lakukan adalah dengan mendengarkan musik sambi membaca buku. Meskipun dalam hati,ingin sekali rasanya menyusul Rafael yang sekarang entah pergi kemana.
Aku khawatir, karena dia sama sekali tidak tahu daerah di sekitar tempat tinggal paman. Semenjak kedatangannya dia bahkan belum pernah aku ajak keluar atau pun sekedar berkeliling di sekitar tempat tinggal paman. Saat aku dan paman di sekolah pun, yang dia lakukan hanya berdiam diri di rumah.
"Semoga saja dia tidak melakukan hal yang aneh," gumam ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Waktu sudah menunjukan jam 7 malam, setelah selesai mandi aku pun kembali membuka buku pelajaran yang tadi aky baca. Namun baru saja aku hendak membuka buku itu, paman sudah lebih dulu masuk dengan raut wajah cemas.
"Paman,"
"Kenapa?"
"Loh, Rafael belum kembali?" Tanya beliau.
"Belum, dari tadi aku di kamar terus. Aku kira dia ada di luar,"
"Tidak ada, bahkan nomornya pun tidak bisa di hubungi."
"Bukannya dia tidak bawa HP, sepertinya dia meninggalkannya di kasur." Tunjuk ku.
"Paman khawatir dia pergi entah kemana, sedangkan dia kan tidak tahu daerah sini. Sebaiknya kita cari dia sekarang," ucap paman.
"Baiklah......"
Aku pun langsung menutup kembali bukunya dan mengikuti paman dari belakang.
"Kalian mau kemana?" Tanya ibu.
"Rafael kak, sepertinya dia belum kembali." Balas paman.
"Gimana bisa? Rangga, harusnya kamu itu...."
"Sudahlah kak, sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan."
"Sebaiknya kita berpencar saja cari dia," lanjut paman.
Aku heran dengan ibu, bisa-bisanya dia tetap menyalahkan aku atas kepergian Rafael kali ini. Padahal sudah sangat jelas, itu semua karena sikap ibu dan ayah yang suka membandingkan kami berdua. Terlebih lagi, ibu suka lebih dulu menyalahkan aku atas apa yang terjadi di antara kami berdua.
Kami pun berpencar untuk mencari keberadaan Rafael, saking khawatirnya ibu dan ayah menyarankan untuk lapor polisi. Namun pama menolaknya karena yakin adik ku itu,pergi tidak jauh dari sekitaran tempat tinggal kami.
__ADS_1
Aku berlari menuju taman dan berharap dia ada di sana.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Xavi POV.......
Seperti biasa sehabis menyelesaikan tugas, aku langsung turun ke bawah untuk mengambil minum dan cemilan.
Namun saat aku membuka lemari tempat penyimpanan cemilan tidak ada satupun cemilan yang tersedia.
"Cemilannya habis nak? Sepertinya ibu lupa belum belanja lagi." Ucap ayah yang tengah nonton TV di ruang tengah.
"Ya sudah, kalau gitu aku beli sendiri saja."
"Belilah,"
Ayah pun memberi ku uang untuk membeli cemilannya, dengan senang hati aku langsung menerimanya.
Karena toko yang di dekat rumah sudah tutup, aku pun terpaksa harus pergi ke toko yang satunya lagi. Dan harus menempuh jarak sedikit lebih jauh dari tempat tinggal ku.
Saat aku hendak menyebrang jalan, mata ku langsung tertuju pada sosok yang tengah duduk sendirian di pinggir danau.
Awalnya aku ragu untuk menghampirinya, namun aku juga khawatir dia melakukan hal yang tidak-tidak. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menghampiri orang itu.
"Hei......"
Karena posisi orang itu yang membelakangi, aku pun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Terlebih lagi di dekat danau itu minim penerangan juga.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya anak laki-laki itu pun berbalik melihat ke arah ku.
"Rafael?" Ucap ku kaget.
"Bagaimana kami bisa tahu nama ku?"
"Tentu saja aku tahu, kamu adiknya Rangga kan?"
"Aku teman sekolahnya Rangga, nama ku Xavi." Lanjut ku.
Dia pun sempat terdiam sejenak sambil memperhatikan ku dengan seksama. Aku pun memberanikan diri untuk duduk di samping dia.
"Jadi, kenapa kamu bisa sampai di sini? Kenapa kamu sendirian,mana kakak kamu?" Tanya ku.
"Aku kabur,"
"Hah?"
__ADS_1
"Ceritanya panjang,"
"Aku ingin sendirian sambil menenangkan diri di sini." Lanjutnya.
"Aku tidan tahu apa yang sudah terjadi sama kamu, tapi tidak baik juga buat kamu duduk di sini sendirian."
"Bagaimana kalau ada orang jahat lewat, apa kamu tidak takut?"
Dia pun menghela nafas dengan berat dan menatap kosong ke arah danau. Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang buat dia tertekan seperti sekarang ini. Meskipun penasaran, aku sama sekali tidak berani untuk menanyakannya lebih dalam.
"Sepertinya kakak semakin membenci ku sekarang," ucapnya parau.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
" Setahu aku, dia itu sangat bangga sama kamu. Tidak ada alasan untuk dia membenci adik satu-satunya yang dia miliki."
"Ya mungkin rasa kesal ada, tapi bukan sama kamu. Melainkan sama orang tua kalian, karena mereka memperlakukan kalian dengan tidak adil." Jelas ku.
"Aku muak,selama ini kakak pasti sangat terluka. Terlebih lagi dia hanya diam saja saat orang tua ku menghakiminya."
"Itulah kakak kamu, meskipun dia tidak banyak bicara tapi asal kamu tahu dia itu sebenarnya perhatian dengan orang-orang yang ada di sekitarnya."
"Hanya saja keadaan lah yang buat kamu dan kakak mu itu seperti saat ini. Dia sering menceritakan tentang kamu pada ku, betapa bangganya dia karena mempunyai adik yang berprestasi dan membanggakan keluarga." Lanjut ku.
Rafael pun berbalik melihat ke arah ku, tampaknya dia terkejut dengan apa yang aku ceritakan barusan. Dan sepertinya dia pun tidak menyangka bahwa selama ini,di belakangnya Rangga selalu membanggakannya.
"Benarkah kah?"
"Tentu saja." Balas ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun memutuskan untuk menemani dia, sampai dia merasa tenang. Sialnya aku lupa tidak membawa HP ku, padahal aku ingin sekali memberitahu Rangga tentang keberadaan adiknya saat ini.
Pasti sekarang ini dia dan keluarganya kehilangan Rafael, karena menurut penuturannya dia sudah ada di sini sejak tadi sore. Padahal sekarang waktu sudah menunjukan pukul jam 8 malam.
30 menit sudah berlalu dan kami pun hanya diam saja sambil memandangi danau yang luas. Sampai pada akhirnya, terdengar suara teriakan Rangga dari kejauhan.
Rafael pun langsung beranjak dari duduknya dan melihat ke arah sumber suara, terlihat Rangga yang tengah berdiri dengan nafas yang terengah-engah.
"Kak......." Ucap Rafael.
Tanpa mengatakan apa-apa, Rangga berjalan ke arah kami dan langsung memeluk adiknya itu dengan erat.
"Kenapa tidak pulang? Kami semua mengkhawatirkan kamu."
__ADS_1
"Aku merasa malu sama kakak, gara-gara aku tadi kakak malah di salahkan oleh ibu dan ayah." Balas Rafael.