When I See You

When I See You
Shy Shy


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di sekolah, aku langsung berpamitan untuk pergi ke kelas lebih dulu. Aku sudah merasa gugup sekali, sepanjang perjalanan tadi aku hanya bisa diam saja.


"Xavi.......!" Seruan Vira.


"Xavi.......!" Serunya kembali.


"Eh iya," aku pun langsung berhenti.


"Kamu kenapa sih? Apa ada yang ganggu pikiran kamu saat ini?"


"Aku tengah merasa malu sekarang," balas ku.


"Malu? Malu kenapa?"


"Ternyata selama ini, kak Rangga udah tahu tentang perasaan aku sama dia."


"Ya bagus dong,"


"Jadi, kenapa kamu harus malu. Menurut ku itu bagus,"


"Ya malu lah Vir,"


"Bukannya bagus yah, kamu kan nggak usah capek-capek lagi buat cari perhatian kak Rangga."


"Aku tanya deh sama kamu,"


"Kak Rangga, emangnya marah sama kamu? Setelah dia tahu kebenarannya,enggak kan?" Jelas Vira.


"Ya enggak sih,"


"Nah itu, jadi apa yang harus kamu takutkan."


"Dan sepertinya memang kak Rangga pun, menaruh hati sama kamu. Menurut pandangan aku sih, seperti itu."


"Iya tapi aku malu sekarang,kalau harus ketemu sama kak Rangga." Timpal ku.


"Ih ya ampun, kenapa kamu harus malu?"


"Kamu aneh deh, kemarin aja ngejar-ngejar kak Rangga. Sekarang udah giliran jalannya udah terbuka lebar, kamu malah kayak gini."


"Tau ah Vir, aku pusing......"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Rangga pun hanya bisa terdiam melepas kepergian Xavi, dia tidak menyangka kalau reaksi Xavi bakalan seperti itu.


"Bro......" Ucap Angga yang baru saja datang.


"Hem....."


"Kamu lagi lihatin apa sih? Serius banget."


"Sepertinya aku salah deh,"


"Maksudnya?" Tanya Angga heran.


"Jadi gini......"


Rangga pun mulai menceritakan kejadian saat di bus tadi.


"What? Kamu ngomong ke Xavi seperti itu."

__ADS_1


"Ya iyalah bro, dia pasti merasa tersinggung. Secara selama ini, dia berusaha untuk menyembunyikan perasaanya itu dari kamu."


"Iya tapi harus sampai kapan?"


"Enggak mungkin juga kan, dia bakalan berani untuk ngomong sama aku langsung." Lanjut Rangga.


"Ya memang sih,"


"Hanya saja, menurut aku sepertinya emang dia belum siap aja buat bicara jujur sama kamu untuk saat ini."


"Tapi jujur, aku pun tidak menyangka kamu bakalan terus terang ini sama Xavi."Lanjut Angga.


"Udah, yakin aja. Dia nggak bakalan jauhi kamu kok, hanya gara-gara masalah ini. Kasih waktu aja buat dia berpikir,"


"Harusnya kalau mau seperti itu, kamu ajak dia makan berdua. Terus baru kamu nyatakan perasaan kamu itu sama dia,kalau seperti itu caranya aku yakin dia gak bakalan marah seperti sekarang." Jelasnya.


"Aku nggak kepikiran sampai ke sana," timpal Rangga.


"Oke lah, aku memakluminya. Secara ini kali pertama kamu membuka hati untuk cewek."


"Udahlah, jangan terlalu di pikirkan. Sebaiknya kita ke kelas aja sekarang, aku belum cek tugas soalnya."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Hari pertama setelah masuk sekolah kembali, aku merasa lemas dan malas. Sepanjang pelajaran tadi sama sekali aku tidak fokus dan tidak menyimak pembahasan yang di sampaikan oleh guru tadi.


"Xavi, kamu kenapa sih? Tidak seperti biasanya kamu murung kayak hari ini." Bisik Yosef.


"Aku lagi malas saja,"


"Lagi galau mungkin," sambung Olive.


"Ya ampun, galau kenapa sih? Sampai bisa buat kamu seperti ini." Lanjut Yosef.


"Hem....."


"Aduh, kalian berisik banget sih, udah tahu aku lagi pusing ini. Udah sana kalian istirahat aja, aku mau sendirian."


"Ya ampun galak banget Xavi,"


"Ya udah kita pergi, supaya kamu bisa sendirian di sini."


Yosef dan Olive pun buru-buru keluar untuk istirahat,tidak lama setelah itu Vira datang menghampiri ku.


"Xavi, ayo kita istirahat. Yang lain udah pada pergi, hanya tinggal kita berdua aja di sini."


"Kamu saja, aku malas untuk pergi ke kantin."


"Ya ampun,Xavi."


"Vir........"


"Ya udah deh, aku ke kantinnya sendirian aja. Nanti aku bawain minum sama cemilan buat kamu."


"Iya......." Balas ku malas.


Sambil terheran-heran, Vira pun keluar dari kelas dan langsung menuju kantin.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di kantin seperti biasa Vira langsung ambil jatah makan dan duduk di tempat biasa. Baru saja Vira makan beberapa suap, Angga dan kedua temannya datang menghampiri dia.


"Loh, kamu tumben sendirian? Xavi mana?" Tanya Angga.

__ADS_1


"Di kelas,"


"Katanya dia lagi mau di kelas aja hari ini." Balas Vira.


Mendengar hal itu, Rangga pun langsung menyadari sesuatu dan langsung pergi meninggalkan makanan yang sudah di ambilnya tadi.


"Eh......" Ucap Bastian heran melepas kepergian Rangga.


"Udah biarkan saja, biarin Rangga dan Xavi menyelesaikan urusan mereka berdua."


"Menurut ku, Xavi hanya salah tanggap saja." Sambung Vira.


"Ya aku setuju."


"Harap di maklum saja, ini kali pertama juga buat Rangga. Selama ini dia belum pernah suka sama cewek," lanjut Angga.


"Ya udahlah, kita tunggu hasilnya saja." Ucap Bastian sambil menarik tempat makan milik Rangga.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di kelas Xavi, Rangga pun sempat ragu untuk masuk ke kelas Xavi. Namun, melihat Xavi yang tengah tidur sendirian di kelas, dia pun memberanikan diri.


"Xavi......" Ucapnya pelan.


Xavi pun langsung tersadar dan bangun dari tidurnya.


"Kak Rangga, kenapa kakak bisa ada di sini? Bukan seharusnya saat ini waktunya untuk makan siang?"


"Harusnya itu yang kakak tanyakan sama kamu,"


"Kamu kenapa nggak pergi ke kantin hari ini? Dan malah lebih milih tiduran di kelas sendirian."


"Memangnya kamu nggak lapar apa?" Lanjutnya.


"Itu......."


Rangga pun kemudian duduk di tempat yang biasa di duduki oleh Olive.


"Kalau kamu murung, gara-gara masalah tadi pagi itu. Aku minta maaf sama kamu,"


"Harusnya aku cari waktu yang tepat untuk mengatakannya sama kamu, ini malah aku ngomong di bus. Pastinya kamu pun terkejut dan tidak menyangka juga, aku bakalan bilang seperti itu tadi." Jelas Rangga.


Xavi hanya bisa terdiam sambil menatap Rangga pekat.


"Aku hanya merasa, tidak mungkin juga kan nantinya kamu yang bakalan lebih dulu mengatakannya. Sedangkan aku cowok, aku hanya berinisiatif saja untuk mengatakannya lebih dulu." Lanjutnya.


"Aku merasa malu saja kak,"


"Aku pikir kakak nggak menyadarinya selama ini." Balas ku.


"Kamu itu lucu,"


"Mana mungkin aku tidak sadar, secara perlakuan kamu selama ini menunjukan seperti itu." Balasnya.


Xavi pun mulai tersenyum sambil tertunduk malu.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepeninggal kak Rangga, aku pun berpindah posisi dan duduk di tempatnya Vira. Karena meja dia letaknya dekat dengan jendela dan aku bisa lihat pemandangan yang ada di kuar sana.


"Harusnya aku tidak bersikap seperti tadi,gimana kalau kak Rangga malah menganggap perasaan ku ini tidak serius lagi sama dia." Gumam ku.


"Nanti sepulang sekolah, aku harus ngomong sama dia."

__ADS_1


__ADS_2