When I See You

When I See You
Tidak Tahan


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


*Rangga POV.......


Saat kecil hubungan ku dengan adik ku Rafael sangat dekat,kami sama-sama tergantung satu sama lain. Hal yang paling selalu ku ingat saat dia masuk kelas satu sekolah dasar, aku sangat senang karena kedepannya aku tidak akan sendirian lagi berangkat sekolah.


Aku pun jadi garda terdepan saat di sekolah ada yang mengganggu adik ku satu itu. Sampai pada akhirnya saat aku masuk SMP, aku merasakan dengan nyata bagaimana cara orang tua ku memperlakukan aku berbeda dengan Rafael.


Sama sekali aku tidak membenci adik ku itu,hanya saja aku merasa kesal karena orang tua ku yang selalu membandingkan aku dengan dia.


Aku pun mengakui,kemampuan dia jauh lebih bagus dibandingkan aku. Makanya dia mampu mengikuti beberapa kali tes akselerasi. Dia pun mampu mendapatkan nilai yang bagus bahkan melebihi pencapaian ku.


Jujur aku sangat bangga sama dia, karena dia tumbuh dengan baik dan bisa buat orang tua ku bangga padanya.


Sama seperti ku, dia juga sosok yang tidak suka bergaul atau berkumpul dengan banyak orang. Saat aku masih tinggal bersama kedua orang tua ku, saat liburan sekolah pun kami hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Entah itu di gunakan untuk belajar atau pun bermain, kami berdua tidak suka menghabiskan banyak waktu di luar sana.


Sampai akhirnya aku merasa jenuh dan tidak tahan, karena hampir setiap hari orang tua ku selalu membandingkan dan membanggakan adik ku itu. Entah di hadapan keluarga kami atau pun sama tetangga yang dekat dengan tempat tinggal kami.


Aku memutuskan untuk tinggal bersama paman ku dan sudah bertahan sampai sekarang. Hanya sesekali saja ibu dan ayah ku datang untuk mengunjungi ku.


Harusnya aku senang saat mereka datang untuk mengunjungi ku, namun nyatanya berbeda yang ada setiap kali mereka datang yang di bicarakannya hanyalah pencapaian yang sudah di raih oleh adik ku.


Mereka bahkan sama sekali tidak pernah menanyakan kabar ku atau sekedar bertanya apakah aku baik-baik saja. Yang mereka pedulikan hanya hasil dari ulangan atau nilai ujian yang aku dapat. Dan pastinya itu tidak sesuai dengan harapan mereka dan pada akhirnya aku hanya menerima cercaan dan kemarahan mereka berdua.


Sesungguhnya aku sangat merindukan saat dimana merek memperhatikan ku saat dulu, bukan aku menyalahkan kehadiran adik ku di dalam kehidupan kami. Hanya saja aku tidak setuju dengan sikap orang tua ku yang pilih kasih terhadap kami berdua. Dan itulah yang buat hubungan aku dan adik ku renggang saat ini.


Terlebih lagi, sekarang mereka berencana untuk menyekolahkan adik ku di satu sekolah yang sama dengan ku. Aku tahu maksud mereka,pasti mereka ingin aku melihat bagaimana cara adik ku bisa mencapai nilai yang bagus.


Makanya akhir-akhir ini, aku sengaja pulang sekolah sedikit terlambat dan memilih untuk mampir ke cafe milik keluarga Bastian sebelum pulang. Terlebih lagi saat ini adik ku tengah berada di rumah paman karena sebentar lagi di sekolah ku ada jadwal tes akselerasi bagi siswa yang berprestasi.


Sesampai nya di rumah, biasanya dia sudah tidur lebih dulu karena aku pulang tepat jam 8 malam. Di rumah paman hanya terdapat dua kamar tidur saja dan pastinya dia tidur bersama ku selama tinggal di sini.


Namun setelah beberapa hari dia di sini, tidak ada banyak waktu yang bisa kami manfaatkan. Padahal ini waktu yang tepat untuk buat aku dan adik ku itu bisa memperbaiki hubungan kami berdua.

__ADS_1


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Hari ini aku bermaksud untuk tidak pergi ke mana-mana, karena senin depan ada ulangan bahasa asing dan pelajaran matematika. Tadinya Angga mengajak ku untuk pergi belajar ke rumah dia, namun karena hari ini ibu dan ayah ku akan datang aku pun menolak ajakannya itu.


Tidak baik juga kalau aku malah berada di luar saat ada orang tua ku datang mengunjungi kami, meskipun aku sudah tahu mereka ke sini bukan untuk menemui ku.


"Kak, hari ini kamu tidak pergi?" Tanyanya.


"Tidak, ada yang harus aku pelajari." Balas ku singkat.


Dia tampak kecewa dan berlalu keluar dari kamar dengan wajah yang kecewa. Sebenarnya aku sudah belajar sejak semalam dan bisa saja sekarang waktunya untuk aku bersantai atau pergi keluar.


Tepat jam 2 siang setelah mandi aku pun keluar dari kamar ku dan bermaksud untuk mengambil camilan di dapur. Terlihat dia tengah duduk sendirian sembari main game di ruang tengah.


"Kak, apa kamu sudah selesai belajar?" Tanyanya lagi.


"Ah iya......"


"Itu......."


"Satu putaran saja kak, tidak akan lama kok."


Melihat dia yang tampak mengharapkan aku mengiyakan ajakannya itu, aku pun langsung menghampiri dia.


"Tapi janji yah, hanya satu putaran saja."


"Iya kak," balasnya tampak senang.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Baru saja kami memainkan gamenya setengah permainan,karena saking fokusnya aku bahkan tidak menyadari kedatangan kedua orang tua ku.


"Rangga......!" Teriak ayah.

__ADS_1


Mendengar teriakan ayah yang cukup menggelegar, aku dan Rafael pun langsung berdiri bersamaan.


"Apa yang kamu ajarkan sama adik kamu ini?"


"Kok kamu malah ngajakin dia main game seperti ini? Asal kamu tahu yah, di rumah dia bahkan tidak pernah main game."


"Baru saja beberapa hari dia tinggal di sini, kamu sudah mempengaruhi dia seperti ini." Lanjut ibu sambil menunjuk ku.


Aku hanya bisa diam saja tanpa membantah ucapan beliau, meski dalam hati aku merasa kesal dan sedih karena dia menyalahkan ku tanpa bertanya terlebih dulu.


Mendengar kekacauan yang terjadi, paman yang tengah tidur siang pun terbangun dan menghampiri kami.


"Sudahlah kak,"


"Tidak apa-apa lah, sekali-kali mereka memainkan permainan ini. Lagi pula ini kali pertama mereka bisa duduk berdua," lanjut paman.


"Kamu tidak usah membela dia,"


"Dia itu salah, karena memberi pengaruh yang tidak baik untuk adiknya. Udah tau adiknya di sini itu untuk mengikuti tes,ini malah di ajaknya main game." Timpal ibu.


"Bu......."


"Cukup." Rafael langsung berteriak.


Bukan hanya aku saja yang kaget, kedua orang tua ku pun kaget karena dia berteriak seperti itu.


"Harusnya ibu tanya dulu, jangan langsung marahin kakak. Yang salah di sini itu aku bukan kakak, aku yang ajak dia untuk main game ini."


"Aku tidak tahan dengan cara ibu dan ayah yang selalu menyudutkan kakak,"


"Kalian sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan kami berdua." Jelasnya.


Dia pun langsung keluar dari rumah dan membanting pintu dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2