When I See You

When I See You
Pendekatan.


__ADS_3

...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di depan rumah, kak Rangga pun langsung berpamitan untuk pulang langsung. Aku sempat untuk menawarinya mampir dulu, tapi katanya dia masih ada urusan.


Aku pun tidak bisa memaksanya untuk mampir ke rumah, pastinya dia pun mungkin merasa tidak nyaman juga.


"Loh, kaki kamu kenapa itu nak?" Ucap ayah kaget.


"Ah ini, tadi pas di jalan aku nggak sengaja nabrak pembatas jalan. Jadinya seperti ini,"


"Lah kok bisa, apa yang tengah kamu pikirkan. Sampai-sampai kamu bisa nabrak pembatas jalan,"


"Sedang tidak fokus saja,"


"Ngomong-ngomong kamu ke klinik sendirian apa gimana? Kenapa tidak kasih tahu ayah atau bunda?"


"Itu tadi kebetulan aku ketemu sama Vira juga, jadinya dia yang anterin aku ke klinik."


"Oh syukurlah,"


"Kedepannya kamu harus lebih berhati-hati lagi. Pantas saja, tadi ayah tungguin kamu lama sekali. Tahunya pulang-pulang dalam keadaan seperti ini."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Senin pagi aku udah bersiap untuk berangkat sekolah, saat aku tengah menunggu bus di halte tiba-tiba saja kak Rangga berhenti tepat di depan ku.


"Xavi,"


"Apa kamu tengah menunggu bus?"


"Iya kak,"


"Sepertinya busnya hari ini datang terlambat. Setahu aku di jalan sana ada perbaikan jalan,"


"Kalau kamu mau, bisa bareng sama aku." Lanjutnya.


Aku sempat terdiam mendengar kak Rangga mengajak ku untuk berangkat sekolah bareng hari ini.


"Xavi......."


"Ah iya kak,"


"Boleh....."


Aku pun langsung beranjak dari duduk ku dan langsung naik ke atas motornya. Rasanya seperti mimpi, saat ini aku tengah di bonceng oleh kak Rangga.


Dia pun langsung tancap gas melajukan motornya itu.


"Gimana luka kamu? Apa kah sudah mendingan?"


"Sudah kak,"


"Kemarin orang tua ku, memanggil tukang urut juga."


"Syukurlah,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tanpa terasa kami pun akhirnya sampai di parkiran sekolah, ada banyak pasang mata yang tertuju melihat ke arah kami berdua.


"Sudah tidak apa-apa, jangan hiraukan mereka." Ucap kak Rangga.


Dia pun membantu untuk memapah ku sampai ke kelas. Seisi kelas ku di buat heboh melihat aku datang dengan di gandeng kak Rangga.


"Ini tas kamu,"

__ADS_1


"Makasih kak,"


"Kalau gitu aku duluan, sebentar lagi kelasnya akan segera di mulai."


"Iya kak,"


Kak Rangga pun berlalu keluar dari kelas ku dan saat itu juga anak-anak di kelas ku langsung berkumpul di meja ku.


"Xavi, kamu kok bisa bareng sama kak Rangga?"


"Ah itu,"


"Kami memang tidak sengaja saja, tadi ketemu di depan. Mungkin karena lihat aku yang kesulitan berjalan, jadinya kak Rangga berinisiatif untuk bantu aku." Jelas ku.


"Wah kamu beruntung banget, bisa di gandeng sama cowok populer di sekolah ini."


"Eh......."


"Kalian lagi pada ngapain? Kok malah berkumpul di mejanya Xavi." Ucap Vira yang baru saja datang.


"Tanya saja sama dia," timpal Hani.


"Udah bubar, sebentar lagi bel tanda masuk."


Mereka pun langsung membubarkan diri dan kembali ke meja mereka masing-masing.


"Memangnya ada apa sih? Kok aku ketinggalan berita."


Karena malu, aku pun hanya membisikkannya pada Vira. Reaksi dia tak kalah terkejutnya dan hampir saja dia berteriak.


"Ya ampun, aku tidak menyangka. Kalian bisa secepat ini,"


"Ternyata di balik musibah yang menimpa kakimu ini, ada hikmahnya juga." Lanjutnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Eh tidak apa-apa kan, kami ikut duduk di sini?" Tanyanya.


"Duduk aja, tidak ada yang larang kok." Balas Vira.


"Kemana kak Rangga? Kok dia tidak bareng sama mereka." Bisik ku dalam hati.


"Kalian berduaan aja, kak Rangga mana?" Tanya Vira.


Sepertinya dia paham betul dengan apa yang ada di dalam pikiran ku saat ini.


"Tadi dia di panggil ke ruang guru,"


"Hah? Kenapa memangnya?"


"Ya ampun, masa kamu lupa sih.''


"Bentar lagi kan bakalan ada turnamen lomba pelajaran fisika. Ya ngapain lagi, kalau bukan dia yang di rekomendasikan untuk ikut turnamen itu." Jelas kak Bastian.


"Aku nggak tahu,"


"Emang ada yah?"


"Ya ampun, kamu tahunya apa sih?" Timpal kak Angga.


"Ih kamu ini,"


"Memangnya kak Rangga suka ikutan loba-loba gitu?" Tanya ku.


"Iya, tiap ada lomba pasti dia ikutan."

__ADS_1


"Hampir......." Sambung kak Bastian.


Mendengar hal itu, aku semakin kagum saja dengan kak Rangga. Tidak hanya parasnya yang tampan, tapi dia pintar juga.


"Kenapa kamu, kok senyum-senyum sendiri kayak gitu." Ucap kak Bastian.


"Ah enggak,"


"Itu dia," ucap Vira.


Terlihat kak Rangga tengah berjalan ke arah meja kami. Aku sungguh di buat terpesona oleh dia untuk yang kesekian kalinya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Selepas makan siang, ketiga kakak kelas ku itu mengajak aku dan Vira untuk makan es krim. Kebetulan memang di sekolah kami ini, ada terdapat mini market yang biasa di gunakan oleh siswa atau staf guru yang mengajar di sini.


Hari ini kak Rangga yang mentraktir kami, katanya dia baru saja mendapatkan uang tambahan dari ayahnya.


"Aku dengar dari kak Rangga, katanya kakak bakalan ikutan lomba fisika. Benar yah?" Tanya ku ragu.


"Ah itu,"


"Sepertinya, aku pun baru di kasih tahu oleh wali kelas tadi."


"Sepertinya aku harus banyak belajar dari kakak. Soalnya pelajaran fisika ku, nilainya kurang bagus."


"Aku pun masih harus banyak belajar,"


"Ya kapan-kapan aku bantuin kamu." Balasnya.


Aku pun tersenyum mendapati jawaban dari kak Rangga barusan. Akhirnya aku bakalan punya kesempatan untuk menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan dia.


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya senang saja."


"Oh iya, semalam aku lihat di sosial media. Katanya wahana permainannya sekarang lagi ada diskon gitu,"


"Nah, gimana kalau liburan nanti kita pergi ke sana. Lumayan kan," ucap Vira.


"Boleh juga, aku juga udah lama nggak main ke sana." Balas kak Angga.


"Kalau aku sih, ngikut aja." Sambung kak Bastian.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di kelas, aku dan Vira langsung duduk. Karena ternyata waktu istirahatnya masih tersisa lama.


"Wah sepertinya, sebentar lagi akan ada yang jadian nih." Ucap Vira.


"Ih apaan sih,"


"Enggak secepat itu juga kali, baru aja pendekatan."


"Ya aku lihat sepertinya kak Rangga pun mulai merespon kamu."


"Lah emang iya?"


"Iya lah, emang kamu nggak sadar apa?"


"Buktinya dia mau nganterin kamu tadi pagi sampai ke kelas. Padahal kan dia bukan kelas ini,terus kelas dia juga cukup jauh dari kelas kita."


"Tau ah,"


"Aku tidak mau kepedean dulu. Takutnya nanti malah kecewa lagi,"

__ADS_1


"Hem kamu ini,"


"Enggak lah, aku yakin." Lanjutnya.


__ADS_2