Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
10. Surat untuk kamu


__ADS_3

Aku memilih mencintaimu dalam diam, karena dalam diam aku tak mendapatkan penolakan.


Aku memilih mencintaimu dalam kesepian, karena dalam kesepian tak ada yang memilikimu selain aku.


Aku memilih mengagumimu dari jauh, karena jarak akan melindungiku dari luka.


Aku memilih memelukmu dalam mimpi, karena dalam mimpi kau tak pernah berakhir.


~Jalaludin Rumi


Rafka mengucek matanya dan kembali membaca kertas kecil berwarna putih yang ia temukan di atas spedometer motornya. Ia memeriksa bagian belakang kertas itu namun tidak ada apapun.


"Siapa yang menulis ini? Jalaludin Rumi? Siapa? Cowok?" Tanyanya kepada diri sendiri, ia tidak menghiraukan orang-orang di sampingnya yang berusaha mengeluarkan motor yang diparkirkan. Rafka terlihat sangat bingung. Ia lalu memasukkan kertas itu pada sakunya. Ia masih tidak sadar ada yang memperhatikan setiap gerak-geriknya saat ini. Ia memakai helmnya yang berwarna merah dan menghidupkan mesin motor sepeda beat merah miliknya.


"Dia kalau pakai helm selalu deh ikat helmnya nggak pernah dipake." Gerutunya pelan sambil terus tersenyum menatap pujaan hatinya. Hanya kali ini kesempatan yang ada, namun Rumi menyia-nyiakan kesempatan ini karena hatinya belum siap dengan kata 'Tidak mau' belum juga mencobanya ia sudah tahu jawabannya. Saat tuhan benar-benar mengabulkan doanya nanti, Rumi berjanji tidak akan menyia-nyiakan makhluk tuhan yang paling ia cintai itu.


Rafka mulai menarik gas motornya dan saat ia merasa ada yang melihatnya, ia lalu melirik ke arah gadis gempal yang tengah duduk-duduk di gazebo. "Argh gadis itu lagi." Gerutunya di dalam hati. "Jangan-jangan dia yang bernama Jalaludin Rumi?" Ucapnya sambil terus menyetir. Namun, karena saking penasarannya. Ia menghentikan motornya lalu mengejar gadis yang melihatnya tadi sedang tergesa-gesa menuju tempat parkir, Rafka mengerti pasti gadis itu akan menguntitnya lagi. Rafka berlari dengan menenteng helmnya lalu akhirnya ia meraih dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu hingga membuat gadis itu berbalik.


"Eh," Rumi menatap mata tajam Rafka dan memalingkan muka.


"Kenapa?" Tanya Rafka lalu melepaskan cengkramannya.


Rumi hanya menggelengkan kepalanya.


Rafka memberikan kertas putih tadi,"ini lo, kan?" Tanyanya kali ini tidak peduli dengan mana orang yang lebih tua darinya.


Jantung Rumi berdebar-debar tidak karuan hingga tubuhnya bergetar gugup, Rumi mencengkeram rok panjangnya untuk menahan rasa gugup ini. Tidak banyak siswa-siswi yang menghiraukan mereka berdua.


"Kalau ditanya tuh jawab!!!" Teriak Rafka.


Rumi mendongakkan kepalanya terlihat mata merah yang menahan tangis, ia terpaksa untuk mengatakannya sekarang meskipun belum siap. "Gue-suka sama lo."

__ADS_1


Rafka mendesah panjang,"Lo tahu kan kalau gue itu udah punya pacar? Please lah jangan ngerusak hubungan gue."


"Yang ngerusak itu siapa? Disitu gue kan udah bilang. Apa perasaan gue sama lo membuat lo dalam masalah?" Tunjuknya kepada kertas putih tadi.


"Ya!" Cetusnya.


"Gue nggak minta aneh-aneh, iya udah lanjutin hidup lo seperti biasa. Bertahan aja meskipun ketemu gue yang elo benci. Sampai gue lulus dari sini gampang kan?" Rumi hendak pergi namun Rafka menarik tas Rumi.


"Hapus tu perasaan lo ke gue, nggak usah curi-curi pandang sama gue lagi, ganggu tau nggak? Lo bikin mata gue sepet."


Rumi geram namun ia berusaha untuk tidak marah. "Kamu kira semudah itu? Hati-hati sama mulut, kadang mulut juga bisa menghianati diri kamu sendiri."


"Jika lo adalah gue, maka apa yang lo lakuin sama orang seperti gue?" Tanya Rafka.


"Ya, gue akan lakukan hal yang sama. Karena gue tahu nggak ada pilihan lain selain memaksa lo buat ngilangin perasaan ke seseorang yang bahkan belum lo miliki." Rumi berkata dengan mata yang sayu lalu pergi meninggalkan Rafka yang kehilangan kata-kata.


Gagal ketemu sama pacar si Kresna dan ditambah lagi dengan kata-kata sampah dari mulut Rumi yang diucapkannya secara halus namun sangat menusuk hatinya hingga ke saraf-saraf pusatnya. Rafka merasa mual sejak pulang sekolah tadi, entah mengapa semua badannya jadi terasa sakit setelah menghina kakak kelasnya yang menyukai dirinya. Ia bisa-bisa hancur begitu ada sebuah acara yang melibatkan kakak kelas itu, rasa-rasanya ia ingin ganti wajah agar tidak dikenali si Rumi tadi.


Rafka menggosokkan handuk pada rambutnya setelah keramas sambil membuka aplikasi chat melihat mungkin pacarnya mengirim pesan—ternyata tidak. Ia melemparkan ponselnya pada tempat tidur lalu menuju depan komputer untuk bermain game online. Hari ini ia harus mengalahkan seseorang yang menantangnya dengan username  'Adbler' . Bisa dibilang username itu benar-benar musuh bebuyutannya yang tidak pernah sekalipun ia menang darinya.


"Oh hai," sapanya.


"Sayang lagi ngapain?" Tanya pacarnya yang berada di seberang telepon genggam ini.


"Habis main game yang, kamu?"


"Ohiya maaf sebentar aja, aku lagi sibuk. Paipai." Dengan cepat Bella menutup teleponnya.


"Hallo, yang, kenapa berubah sih?" Merasa kesal ia lagi-lagi melempar ponselnya.


"Sialan!" Umpatnya.

__ADS_1


"Rafka... Ada temenmu nyariin." Teriak ibunya mungkin dari dapur.


"Iya bu."dengan segera Rafka bangkit dan pergi menuju ruang tamu.


"Oh elo? Ngapain? Tumben." Melihat Andrea yang sedang menunggu di ruang tamu sambil duduk dan bermain ponsel Rafka sedikit terkejut.


"Gue mau kasih tahu elo sesuatu yang gue lihat tadi."


"Harus gitu sekarang juga?"


"Iya dong karena besok sampai tiga hari kedepan gue nggak masuk soalnya ikut wirakarya di kota."


"Oh begitu? Apa?"


"Elo udah tahu nama gadis itu kan?"


"Udah!" Jawabnya cepat.


"Dia ternyata ikut organisasi loh. Ternyata dia anak yang biasa nyanyi pas radio kelas dinyalain. Btw gue baru tahu tadi. Terus pas pulang sekolah tadi dia—nangis njjirr..."


"Hah?"


"Iya dia nangis sampai nyesek banget lah pokoknya, gue rasanya pengen meluk dia, dan asal lo tau gue paling nggak bisa ngelihat cewek nangis." Tiba-tiba sebuah bantal kecil terlempar begitu saja mengenai wajah Andrea.


"Apa-apaan lo ini, inget lo udah ada pacar yang setia dong. Tapi kalau boleh tahu, dia nangis sendirian? Dimana?"


"Ditempat parkir, tadi kan udah sepi cuma ada gue yang lagi nungguin nanang buat bareng pulang, eh tiba-tiba dia datang sambil nutupin mukanya. Gue ya cuma liatin dia aja di atas sepeda."


"Sejujurnya, gue tadi ngobrol sama dia."


"Ngobrol?" Akhirnya, Rafka menceritakan kejadian tadi dan refleks Andrea marah mendengar cerita itu.

__ADS_1


"Lo gila?! Jangan ngomong ngawur dong lo nggak tahu betapa sensitifnya hati seorang cewek meskipun dia lebih tua dari lo, bego! Argh tahu argh gue kesel sama lo." Andrea bersedekap dan ekspresi wajahnya memang sangat kesal.


"Terus gue harus gimana sekarang?"


__ADS_2