
Rumi menelan ludahnya dengan susah payah, beruntung hari ini ia memakai flatshoes. Rumi berusaha mencari kontak Irfan agar cowok itu menjemputnya sekarang. Rumi sudah berlari dari tempat itu sejauh mungkin. Belum juga satu minggu mereka berpacaran, namun rasa-rasanya hanya Rumi yang memiliki perasaan. Rumi melepas kontak lensanya karena terasa perih dan langsung membuangnya begitu saja. Rumi bersembunyi di balik gedung bagian belakang yang jarang ada orang yang melewati jalan itu. Irfan si cepat langsung mengangkat teleponnya.
"Ada apasih? Banyak banget..."
"Irpannn!!! Jemput aku sekarang di gedung pernikahan, yang waktu itu. Buruan gue mohon!"
"Lo nangis? Astaga oke."
Rumi langsung menutup teleponnya. Ia pergi ke pinggir jalan menunggu Irfan agar cepat datang dan terselamatkan. Hatinya benar-benar sakit. Inilah akibat menjadi seorang bucin, bahkan perasaanmu padanya saja di anggap main-main. Rumi terus menoleh kebelakang, mungkin Rafka mengejarnya. Tetapi, tidak. Tidak terlihat wajag Rafka yang panik saat Rumi berlari keluar dari tempat itu.
Dari jauh, Rumi bisa melihat mobil Ferrari merah milik Irfan, Rumi langsung melambaikan tangan. Begitu masuk ke dalam mobil itu, Rumi bernapas lega. Ia memegangi dadanya yang perih. Sakit sekali. Seluruh tubuhnya seakan-akan di bakar oleh rasa cemburu.
"Ada apa sih? Cerita sama gue." Perintahnya.
"Ke cafe aja deh. Gue bakal nyanyi pakai kebaya gimana? Oke nggak?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Rumi berdiam diri dan menatap pemandangan di balik jendela mobil. Ia lalu melihat Rafka yang tengah mencarinya, tetapi Rumi tidak peduli meskipun Rafka terlihat sangat frustasi. Rumi sangat tidak suka dibohongi, dikhianati, dan Rafka juga telah ingkar janji. Bukan maksud untuk kekanak-kanakan tetapi, hal seperti itu memang benar-benar menyeyet hati hingga remuk.
Akhirnya, Rumi menceritakan semuanya. Dari ia menyukai seseorang, lalu seseorang itu menjadi pacarnya sekarang. "Irfan, gue nggak mau pulang. Kita ke cafe lo aja ya?"
"Nggak mau! Lo harus pulang istirahat, nanti gue temenin. Kan kasian adek lo sendirian."
__ADS_1
"Adek gue kan ikut ibu." Jelasnya.
"Iya nggak apa-apa pokoknya harus pulang. Nanti gue mau main PSnya bentaran ya... Hehehe."
"Terserah lo. Pokoknya jangan di bawa pulang. Kenapa coba lo nggak beli PS aja terus elo taruh du cafe?"
"Bokap gue kebiasaan ke cafe bego! Lo lupa?"
"Oh iya lupa."
Saat sampai Irfan memasukkan mobilnya hingga ke halaman depan Rumah Rumi. Begitu masuk Rumi langsung melepas semua pakaiannya dengan kasar di dalam kamarnya. Sedangkan, Irfan mengotak-atik PS. Setelah Rumi berganti piyama, ia ikut ke ruang tamu untuk melihat Irfan. Saat ini mungkin memang game adalah penenang hati.
Rafka mencari-cari keberadaan Rumi. Ia tidak bisa menelepon karena tidak ada koneksi WI-FI untuk aplikasi chatnya. Tanpa berpikir panjang, ia menyusul Rumi hingga ke rumah gadis itu, dan ternyata benar. Gadis itu sudah pulang. Rafka bisa melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah ini. Mobil ini adalah mobil cowok yang mengantar Rumi beberapa hari yang lalu. Rafka langsung masuk ke dalam halaman Rumah. Ia menguping sebentar, tetapi tidak ada suara, hanya suara game saja. Rafka mengintip sedikit, ternyata mereka sedang berpelukan. Adil sudah mereka berdua. Rafka merasa tersayat-sayat oleh pisaunya seorang psikopat kejam. Ia kemudian mengetok pintu, dan bola mata mereka bertemu. Rafka bisa melihat mata merah dan sembab milik Rumi.
Rumi yang bermata sembab dan memakai piyama berwarna pink itu keluar dan mengajak Rafka untuk berbicara. "Udah, kamu pulang aja. Udah malem." Sarannya.
"Kan aku minta jelasin alasannya apa?"
"Rafka kamu nggak sadar gitu apa salah kamu? Kamu mengingkari janji Raf, kamu bilang kan kalau kamu nggak bakalan peluk Bella."
"Itu semua refleks."
"Setelah lima menit itu refleks? Kita berdua kan anak IPA—belajar biologi. Apakah itu gerak refleks? Bukankah itu gerak sadar? Sadar nggak sih, kamu udah nyakitin aku. Aku merasa hanya aku yang sayang dan suka sama kamu."
__ADS_1
"Ternyata, kamu belum dewasa! Berengsek!" Rafka langsung pergi meninggalkan rumah Rumi.
Satu juta pisau menusuk hati Rumi saat ini karena kata-kata kasar itu. Rumi langsung terkulai lemas terduduk di lantai depan rumahnya. Ia benar-benar merasa hancur saat ini. Irfan yang tahu itu, tidak mencampuri urusan mereka berdua. Irfan hanya menolong Rumi dan membantunya berdiri. Gadis ini menangis terus-menerus.
Irfan memeluknya dengan erat begitu sampai di dalam. Rumi menangis sangat keras. Irfan mengelus rambut Rumi perlahan agar tenang. "Udah, jangan nangis lagi dong."
"Sakit banget karena terlalu sayang. Padahal gue yang nyuruh dia buat sayang sama gue sewajarnya, tetapi ternyata gue yang tidak wajar." Ucapnya, lalu melepaskan diri dari pelukan Irfan. "Nanti, tutupin rumah gue. Gue mau tidur." Rumi kembali ke dalam kamarnya untuk melanjutkan kegelisahan hatinya.
***
Setelah apa yang terjadi, Rafka bersikap seakan-akan tidak ada masalah. Ia menganggap semua akan baik-baik saja seperti semula. Tetapi, malam ini ia benar-benar tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan kata-kata yang ia lontarkan tadi kepada Rumi. Pasti gadis itu benar-benar kesakitan sekarang, apalagi ia sangat nge-bucin Rafka. Rafka merasa frustasi setengah mati. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang ini. Rafka juga terus-menerus menelepon Rumi, tetapi sepertinya ponsel Rumi sedang di mode pesawat untuk mengindari dirinya.
"Astaga, apa sih yang ada di pikiran gue tadi? Keceplosan kok gitu amat sih?" Rafka memegangi kepalanya yang hampir pecah karena frustasi berlebihan.
Ia melihat jam dinding di dinding kamarnya. Pukul 23:47. Jam saja sudah tengah malam. Tetapi, ia benar-benar tidak bisa tidur jika ia tidak meminta maaf kepada Rumi. Tanpa berpikir panjang, ia lalu menyambar ponsel dan hoodie berwarna putih, malam-malam seperti ini lebih baik memakai hoodie agar ia tidak kedinginan dan cocok sekali karena warnanya putih. Ia berjalan berjinjit-jinjit sampai ke depan rumahnya. Lalu, ia membuka gerbang depan dengan pelan. Lalu menuntun motornya hingga di gang rumahnya. Baru kali ini ia merasakan sensasi berdebar-debar kabur dari rumah.
Ketika sampai di rumah Rumi, Rafka berkeliling mencari jendela kamar Rumi. Dan ia bisa melihat jika lampunya masih menyala. Lantas, ia mengetok-ngetok jendela itu.
'tok tok tok'
"Yang... Bukain, Ini aku." Bisiknya entah terdengar atau tidak. Tidak lama Rumi membukanya. Iya, itu benar-benar Rumi. Ia masih belum tidur, dan masih saja menangis. Tetapi, setelah tahu yang mengetuk jendelanya adalah Rafka. Rumi hanya membukanya sebentar, lalu mereka saling menatap satu sama lain. Rafka benar-benar terluka melihat Rumi yang benar-benar kacau. "Udah, pulang aja sana!" Ucapnya untuk terakhir kali, lalu menutup kembali jendela itu. Meskipun Rafka sudah menahannya, Rumi tetap saja tidak mau membukanya. "Jangan gangguin aku! Kamu pulang aja!" Kalimat itulah yang membuat Rafka kembali pulang dengan sia-sia.
*
__ADS_1