Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
28. Gosip


__ADS_3

Rafka membulatkan matanya saat mendengar gosip tidak benar itu, ia langsung menyergap dan emosi kepada teman-teman wanitanya. "Siapa yang nyebarin gosip nggak bener itu?!"


"Ya nggak tahu, maka dari itu kita ngasih tahu elo, mungkin aja semua ini nggak bener, jadi kita semua bisa ngeberhentiin gosip ini, atau ngerubah jalan ceritanya."


Rafka memegangi kepalanya yang merasa pusing. "Apa kedengaran sampai kelas 12?"


"Seluruh sekolah, Raf." Imbuhnya.


Rafka bergegas keluar kelas, namun Andrea mencegahnya. "Jangan sekarang, Raf. Habis ini pelajaran akan dimulai." Dengan terpaksa Rafka kembali duduk ke bangkunya dengan perasaan takut dan gelisah. Takut mungkin Rumi percaya dan gelisah mungkin Rumi meminta berpisah dengannya. Otaknya untuk saat ini tidak bisa berpikir positif sama sekali.


***


Rumi berjalan menuju kelasnya bersama dengan Kresna. Mereka berdua mengobrol tentang pelajaran, sama sekali tidak membahas tentang gosip yang beredar atau bahkan perasaan Rumi saat ini.


"Jadi, kalau nanti lo nggak bisa, ingat pilih nomor 3 aja. Pilihan ketiga." Lanjutnya yang memberikan solusi ketika Rumi benar-benar ragu dengan soal-soal simulasi.


"Siap deh, gue pokoknya mau cepet lulus!!!"


"Yang lo ucap tiap sekolah itu mulu, bosen gue dengernya." Hampir setiap hari memang Kresna mendengar kalimat yang selalu Rumi ucapkan tiap kali ia mulai jenuh dengan kegiatan sekolah. Gitu katanya mau jadi dokter.


Saat istirahat tiba Rafka pergi ke kelas Rumi. Rumi sedang mengerjakan tugas, Rafka bisa melihatnya di depan pintu. Ia langsung memasuki kelas itu, meskipun suasananya sedikit berbeda. Karena banyak yang menatap sinis dirinya. Rafka duduk di bangku depan Rumi. Ia bisa menghadap Rumi dan menatapnya dengan jelas. Rumi tersenyum. "Ada apa?" Tanya Rumi.


Karena Rafka tidak suka basa-basi ia langsung bertanya ke intinya. Sebelum itu ia membuka makanan ringan berupa biskuit kesukaan Rumi, sehingga Rumi juga ikut memakannya meskipun tatapan matanya masih terus pada sebuah buku. "Tunggu, simulasi kok ada tugas?"


"Bukan tugas, ini nulis aja, buat pengalihan." Mendengar kata pengalihan Rafka langsung tertohok.


"Yang, aku benar-benar nggak ada niat buat mainin kamu, apalagi mainin hubungan kita. Aku tulus pacaran sama kamu nggak cuma buat status doang, apalagi buat pengalihan nggak sama sekali. Aku—"

__ADS_1


"AKU APA?" Tanya teman Rumi yang ada di belakangnya, ia bernama Reka, dia pernah mengobrol dengan Rafka namun saat ini tatapan marah seorang Reka sangat menakutkan.


"Reka, udah jangan ikut-ikutan urusan gue." Ucap Rumi masih terus fokus menulis.


"Yang lihat aku,"


"Iya aku dengerin kamu."


Rafka menyentuh tangan Rumi yang sedang menulis. "Tatap aku, fokus ke aku dulu."


Rumi langsung menaruh pensil miliknya dan menutup bukunya, matanya tidak lepas dari mata seorang Rafka.


"Yang aku macarin kamu itu karena aku takut, takut kamu di tembak sama cowok lain. Contohnya Irfan,"


"Kenapa bawa-bawa Irfan, sih? Nggak ada hubungannya sama dia."


"Kan cuma temen."


"Iya... Sikap kamu sama dia seperti sepasang kekasih! Aku benci semua laki-laki yang deketin kamu! Aku nggak nyaman ngelihat Irfan sama kamu akrab. Iya udah aku pacarin kamu sebelum dia merebut kamu dariku!" Jelasnya.


Rumi mengangguk. "Jadi, kamu datang kesini tiba-tiba mau jelasin itu aja? Emang ada masalah apa? Gosip?"


Rafka mengangguk.


"Terus kenapa kamu sampai kesini? Kamu kira aku nggak percaya sama kamu?  Aku sibuk, aku harus belajar, masih kurang satu mata pelajaran lagi, jadi jangan ganggu aku. Awalnya aku nggak marah karena aku percaya sama kamu, kalau kamu tulus sama aku, tapi sekarang aku marah karena kamu bawa-bawa Irfan yang sama sekali nggak ada hubungannya sama kita! Sikap aku sama dia itu karena kita udah akrab, kamu tahu sendiri kan dia sumber keuanganku, aku bekerja untuknya, jadi plis nggak usah cemburu lagi sama dia."


Rafka langsung berdiri. "Kamu nggak peduliin perasaanku sama sekali?" Rafka langsung keluar dari kelas itu saat itu juga.

__ADS_1


"Bukan gitu..." Lirih Rumi, ia hanya menatap kepergian Rafka. Dirinya benar-benar terpaku di kursi.


"Eh, kenapa nggak di kejar? Coba kalau itu Andre pasti gue udah kejar." Ucap Agnes yang mendengarkan seluruh pembicaraan mereka di sebelah kiri Rumi.


Ketika pulang sekolah, Rumi berpapasan dengan Rafka, ia sama sekali tidak melirik Rafka dan Rafka pun juga begitu, sama sekali tidak melirik dirinya. Rumi menunggu kedatangan bus di halte, beruntung ia mendapatkan kursi, jadi tidak perlu menunggu bus sambil berdiri. Namun, tiba-tiba seorang bapak-bapak memakai masker dan seragam kepolisian lengkap menyentuh pundaknya. Dari tinggi badannya Rumi sudah bisa melihat itu adalah ayah Rafka. "Dek, mari bicara sebentar sama bapak."


Ayah Rafka mengajak Rumi mengobrol di bawah sebuah pohon, tidak banyak anak menatapnya karena sekolah sudah mulai sepi dan bahkan bus datang saat Rumi mengikuti ayah Rafka. Tatapan wajah beliau sangat serius melihat Rumi.


"Kamu pacaran sama anak saya, ya?" Tanyanya.


Tanpa ragu Rumi langsung menjawab. "Iya, pak."


"Kamu ngerti kan, dia masih kelas berapa? Masa depannya juga masih panjang. Bukannya saya nyalahin kamu, tapi gara-gara kamu, semua nilai akademiknya menurun bahkan dia lebih sering begadang untuk berkirim pesan dengan kamu, kan? Seharusnya, kamu membawa dampak baik baginya, bukan malah merusak dirinya." Penjelasan itu sudah cukup menyeyet hatinya.


"Mohon maaf sebelumnya, pak. Selama saya menjalin hubungan dengan anak bapak, saya tidak pernah bertukar pesan, karena setiap hari kami sudah bertemu. Jadi saya tidak pernah mengerti apa yang dilakukan anak bapak ketika di luar sekolah. Saya tidak menyuruhnya begadang. Saya memang tidak pernah menyuruhnya untuk belajar, tetapi apa pun yang tidak di mengerti anak bapak selalu di tanyakan kepada saya saat di sekolah, jika saya tidak bisa, maka teman-teman saya dengan senang hati membantunya. Jadi, saya rasa, saya membawa beberapa pengaruh baik padanya." Rumi menjelaskan dengan menatap sorot mata Ayah Rafka yang tajam menatap dirinya, seakan-akan di penuhi kebencian.


Ayah Rafka berdiri tegap. "Baik, saya percaya itu, tetapi saat ini saya minta, tolong tinggalkan anak saya, karena saya bapaknya, berhak untuk mengatur kehidupan pribadinya."


Rumi tidak terima. "Apa?! Kenapa saya harus meninggalkan anak bapak?!"


"Karena menurut saya, kamu akan membuat anak saya semakin buruk. Saya pertegas lagi 'TOLONG TINGGALKAN ANAK SAYA!' dengarkan dan pikirkan kata-kata saya. Jika kamu masih belum meninggalkan anak saya, kamu akan menyesali semuanya." Ayah Rafka pergi begitu saja.


Rumi langsung terduduk dengan lututnya, ia menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini ia mengalami hal yang menurutnya sangat menyeramkan. Kejadian ini akan selalu ia ingat seumur hidupnya, karena kejadian ini sangat menyakiti hatinya. Rumi benar-benar menangis, tidak peduli ada seseorang yang menatapnya. Ia merasa, ia telah menyukai seseorang yang levelnya bahkan tidak sama dengan dirinya.


Ia bergegas berdiri meskipun hatinya tidak kuat, tubuhnya lemas lunglai. Ia tidak mau Rafka melihat ini semua. Rumi berjalan duduk di halte bus yang sudah sepi ini. Butuh waktu 45 menit untuk menunggu busnya datang. Ia terpikirkan agar Irfan menjemputnya, tetapi melihat keadaannya saat ini sangat buruk jika Irfan melihatnya, bisa-bisa berbagai macam pikiran negatif ada pada otak Irfan. Ia sangat sensitif melihat mata merah sembab, wajah memerah dan seseorang yang menangis.


Kehidupan cinta Rumi sangat rumit, ia kira semua akan berjalan dengan mudah dan baik-baik saja. Tetapi, bayangan memang tidak pernah sesuai dengan kenyataan. Rumi memegangi kepalanya dan terus menangis. Ia menutupi matanya dengan menundukkan kepalanya. Seseorang datang dan menyuruhnya untuk bangun dan berdiri. Rafka memeluknya erat. "Maafkan aku, aku terlambat menyelamatkanmu dari ayahku."

__ADS_1


  *


__ADS_2