
5 Bulan kemudian
Tahun ajaran baru, semester genap telah dimulai. Yang pasti tugas akan semakin banyak dan perjuangan akan semakin besar sebab di semester ke 4 kita harus memperjuangkan nilai agar bisa masuk universitas dengan jalur undangan atau yang disebut SNMPTN. Rumi sudah mengerti bagaimana bentuk nilainya dan ia sudah pasrah tak mau memperjuangkannya lagi.
Berada di jurusan IPA membuatnya selalu pusing, setiap hari ia melakukan apa pun yang diperintahkan oleh gurunya, memperhatikan gurunya dengan benar dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar tetapi entah mengapa semuanya tidak pernah dimengerti oleh Rumi.
Namun, ada satu mata pelajaran yang selalu ia mengerti yaitu sejarah Indonesia. Sudah tahu bahwa passion & minatnya ada di IPS, Rumi malah keluar dari Zona nyaman dan memilih jurusan yang unik menurutnya dan beginilah ciri-ciri siswi salah jurusan.
"Hukuman udah selesai, akhirnya bisa bernafas lega karena nggak perlu berangkat pagi terus-menerus." Gumam Rumi saat akan menuju ke kelas dari parkiran. Sekolahnya juga ada sedikit perubahan yaitu semakin segar dan rindang padahal liburan hanya 2 minggu. Ia juga sudah tidak sabar bertemu dengan seseorang yang masih ia sukai hingga saat ini. Rafka.
Rumi percaya bahwa ada yang bilang ketika kita menyukai seseorang lebih dari 4 bulan maka kita benar-benar sayang. Dan itu memang terjadi pada dirinya. Ia tidak bisa melupakan Rafka yang memiliki pesona tersendiri menurutnya. Ia juga tidak melupakan fakta bahwa Rafka memiliki seorang kekasih.
Kesehariannya setelah pertemuan di kafe saat itu masih tetap sama. Melihatnya ketika lewat, tersenyum ketika Rafka lewat juga. Apa pun yang dilakukan Rafka, Rumi selalu tersenyum melihat itu. Ingin rasanya ia mengirim sebuah puisi untuk Rafka tetapi nomor telepon yang ia tulis beberapa bulan yang lalu di perpustakaan itu adalah nomor telepon ayahnya. Rumi mengetahui fakta itu ketika ia membuka aplikasi LINE dan begitu melihat profil fotonya ternyata ayahnya. Tidak mungkin juga Rumi berani mengirim pesan untuk ayah Rafka yang bekerja sebagai perwira polisi.
Saat Rumi sampai di kelas terlihat Kresna sudah duduk di bangkunya sambil bermain ponsel."Masih sama?"
"Apaan?"
"Yang lo suka." Ucapnya datar.
"Hemmm ganti dong, di tahun baru, gebetan baru." Godanya.
Rumi juga duduk sambil bersedekap,"Maunya begitu, tetapi..." Ia menjeda ucapannya. "Hati gue udah terlajur terukir nama dia yang benar-benar nggak bisa dihilangkan."
"Iya udah jangan di posisi ini terus, perlu gue tolongin?" Tawaran yang bagus itu ditolak mentah-mentah oleh Rumi. "Apaan! Nggak usah ya urus diri lo sendiri sana."
"Dasar cewek nggak mau berjuang!"
"Berjuang kata lo? Dia udah punya pacar Kres, lo maunya gue merusak hubungan mereka gitu? Kalau hubungan gue dirusak gue marah dong."
Kresna terkejut ia hanya mengetahui bahwa Rumi menyukai Rafka tetapi ia tidak tahu fakta menariknya adalah Rafka bukan seorang jomblo. "Eh beneran nggak tahu gue! Masa? Kok lo nggak bilang sama Jiyan atau Deya. Gue tahu semuanya dari mereka."
Rumi melirik. "Btw, ngapain lo ngepoin hidup gue? Hiihh rasanya gue pengen segera kelas 12 biar nggak satu bangku sama lo!"
"Lo bakal kesusahan kalau pelajaran nggak ada gue." Ucapan itu sangat benar, Kresna yang hendak pergi tidak jadi karena Rumi menarik lengannya.
__ADS_1
"Eh, jangan marah gue nggak beneran kali. Gue suka kok satu bangku sama lo. Meskipun nanti kelas 12 kita satu bangku lagi, gue mah malah seneng."
Kresna menjadi salah tingkah, ia langsung menarik tangannya dan berlari keluar kelas. Ia merasa aneh kepada dirinya sendiri.
"Ada apa dia?" Gumam Rumi.
Kini Rumi sedang membuat puisi untuk Rafka-tanpa ada niatan untuk memberikan puisi itu kepada orangnya. Mana berani.
----------------------------------------------------------
Cinta tak terungkap
Bahagiaku Ketika melihatmu tersenyum dan tertawa
Meskipun kamu bukan milikku
Setiap hari aku menunggu kehadiranmu
Menunggumu lewat di samping kelasku
Dan saat kamu sadar aku sedang melihatmu
Aku ketakutan...
Aku lebih pantas disebut pecundang
Sebab tidak bisa menahan debaran jantungku
Dan tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan
Kamu yang begitu dingin dan aku yang begitu kaku
Mungkinkah takdir akan mempertemukan kita?
Aku seorang kakak kelas perempuan
__ADS_1
Dan kamu adalah adik kelasku
Memang benar kita tidak seumuran
Tetapi, bukankah cinta tidak memandang hal tersebut?
-----------------------------------------------------------
"Arghh kapan cinta dalam diamku berakhir dengan kebahagiaan?" Ucapnya penuh kepasrahan.
***
Ketika pulang sekolah Rumi selalu pulang paling terakhir-saat di parkiran hanya terparkir motornya. Ia sangat malas jika harus tergesa-gesa untuk pulang seperti anak-anak lain. Lagian percuma karena ia hanya di rumah sendirian.
Ibunya menunggu di toko tempat usaha kedua orangtuanya sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik yang pulangnya tidak selalu tepat waktu, karena terkadang lembur. Ia hanya berada di rumah bersama adik laki-lakinya. Hari ini juga ia izin cuti untuk tidak pergi ke kafe karena sedang malas.
"Sialan bensin habis lagi, males banget..." Sambatnya. Dengan lunglai dan malas ia memakai helmnya dan menarik gas motornya pelan hanya dengan kecepatan 20km. Ia mampir ke pom bensin sebentar lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Saat di tengah-tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang yang benar-benar membuat jantungnya berdegup tak karuan. Ia adalah Rafka. Rumi membuka kaca helmnya dan berhenti di tempat Rafka berhenti. Rafka menangis.
"Loh heh! Kenapa nangis?" Tanya Rumi terkejut, untuk saat ini ia mengabaikan jantungnya dan tangannya yang gemetaran untuk menolongnya.
Rafka hanya geleng-geleng kepala. Rumi melihat sepeda motor Rafka yang mungkin saja ada masalah pada motornya dan benar memang. Motornya bannya bocor. "Lah, kalau udah tahu bocor kenapa nggak di tambalin? Astaga lo membuat gue mau ngumpat." Kesalnya melihat kelakuan bego lelaki di depannya ini yang sedang bersedekap di tanah seperti anak kecil. Lagi-lagi ia hanya geleng-geleng.
"Lagi?" Tanya Rumi yang membuat Rafka mendongakkan kepalanya seakan-akan bertanya kenapa lagi.
"Lagi-lagi lo cuma geleng-geleng. Udah berdiri buruan. Gue yakin lo nggak punya uang kan buat tambal ban? Akhirnya pertanyaan dijawab dengan anggukan.
"Terus lo nggak bawa ponsel? Kan lo bisa minta tolong sama temen lo! Atau lo kan biasanya pulang bareng sama temen lo itu si Andrea, kemana dia?"
"Kok lo tahu?" Tanyanya tiba-tiba.
"Arghh..." Rumi tercengang dan berpikir sebentar. "Andrea punya pacar, pacarnya temen gue." Jawabnya singkat. "Udah deh. Ini bawain motor gue, biar gue bawain motor lo buat di tambal! Lo itu cowok tapi bisa-bisanya nangis disini."
"Terus menurut lo cowok nggak boleh nangis saat ada masalah?" Ketusnya.[]
__ADS_1