
"Oh, terus tanggal jadian, Inget?" Andrea memberikan pertanyaan lagi karena temannya yang satu ini sungguh-sungguh sudah menjadi bodoh kuadrat karena seorang cewek.
"Oh inget, tanggal 7 Juni. Tapi, entah mengapa cewek gue nggak pernah itu ngucapin Anniversary. Itu tandanya apa?"
Andrea membelalakkan matanya,"Hah? Masak sih? Gue bener-bener nggak tahu sama cewek lo. Gue rasa cewek lo bener-bener keterlaluan dalam menyikapi hubungan, mungkin karena dia bocah SMP jadi, di matanya hubungan itu adalah sebuah permainan atau bisa juga cuma buat status doang. Padahal nih kalau cewek udah sayang dia bakalan inget semua, bahkan cerita hidup lo."
Rafka membuang napas panjang. "Gue nggak pernah pedulikan itu. Yang gue pedulikan hanya dia udah jadi punya gue, gue sayang dia yaudah urusan dia bales perasaan gue apa enggak biar urusan dia."
Andrea berdiri lalu melakukan peregangan,"Hmm, gue harus kumpul lagi."
"Elo nggak ikut ulangan dong?" Tanyanya kepada Andrea yang sudah berjalan sampai pintu kelas.
"Iyaaa..." Jawabnya sambil berteriak.
Mengingat bagaimana susahnya untuk mendapatkan hati Bella dulu membuat Rafka enggan untuk memutuskan atau yang lebih kejam meninggalkan gadis itu seorang diri. Bisa jadi sikap Bella yang seperti itu adalah karena masalah rumah tangganya atau masalah sekolah. Jadi, Rafka tidak terlalu peduli dengan itu. Tapi sayangnya dari dulu hingga sekarang Bella bahkan tidak pernah menceritakan masalahnya kepada kekasihnya Rafka. Bella adalah gadis cerewet, manja dan tertutup.
"Kapan terakhir kali kita makan es oyen?" Tanya Bella.
Rafka nampak berpikir mencoba mengingat-ingat."Eum, pas baru jadian?"
Bella menyandarkan kepalanya pada pundak Rafka,"Argh, jadi rindu."
"Siapa?" Tidak ada jawaban. "Rindu siapa Bella?" Tanya Rafka lagi.
"Rindu pemilik pundak ini." Kata Bella sambil tersenyum lebar dan sangat manis.
Rafka tersenyum mengingat hal itu, yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Rafka jadi ingin bertemu dengan gadisnya.
***
Rumi dan teman-temannya pergi ke perpustakaan karena jam pelajaran sedang kosong sebab gurunya mengantar anak yang ikut olympiade. Seharusnya juga ada tugas tetapi itu bisa dikerjakan nanti di rumah karena dikumpulkan minggu depan. Sungguh pintar anak sekarang.
"Jadi, gimana kelanjutan hubungan kalian?" Tanya Rumi kepada Jiyan yang baru jadian dengan kakak kelas kemarin.
Jihan kembaranya mencibir. "Baru juga kemarin udah ditanya yang aneh-aneh. TERUS GIMANA GUE YANG KAKAKNYA? MASA KAKAKNYA JOMBLO SIH?"
__ADS_1
"Anjir nggak usah ngegas pula." Deya yang telinganya jadi korban merasa tidak terima.
"Kapan-kapan kita jalan yuk? Pergi gitu ke luar kota naik kereta." Rumi tiba-tiba menyela.
"Iya elo yang udah dapet duit banyak kemarin jadi sombong minta jalan-jalan." Ketus Jiyan.
"Hilih, bilang aja nggak mau. Gue bisa sendiri sih, seenggaknya gue udah ngajak kalian." Ucapnya lalu berjalan mendahului teman-temannya, akhirnya Rumi sampai di perpustakaan duluan dan langsung mencari buku yang akan ia baca.
"Eh ikut gue," Rafka menarik lengan Rumi yang hendak duduk di lantai satu. Rafka menengok teman-teman Rumi yang masih belum terlihat dan menarik Rumi hingga ke lantai dua. Rumi hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Kenapa di sini?" Di antara dua rak buku yang tingginya sekitar 3 meter, Rafka dan Rumi bersembunyi di tempat itu.
"Udah, di sini lo nggak bakalan ketahuan temen-temen lo."
"Meskipun ketahuan juga nggak apa-apa hehe." Rumi tertawa.
"Gue mau minta maaf soal yang kemarin sama yang lalu,"
"Rum, Rumi bangun. Lo katanya mau baca buku? Eh sampai sini malah ketiduran."
Jihan menarik lengan Rumi, "Udah ayo balik, lo nggak shalat? Udah waktunya ini."
"Hah? Segitu lamanya?" Rumi terkejut dengan dirinya yang sudah tidur selama dua jam. Pantas saja lehernya terasa sakit. Ia merasa aneh, padahal pikirnya kejadian Rafka meminta maaf seperti benar-benar terjadi padanya barusan.
***
"Huh, capek banget gila!" Napas Rafka tersengal-sengal karena habis berlari dari perpustakaan hingga kelasnya. Sebab, ia melihat guru pengajarnya masuk ke dalam kelasnya.
Kenya menatap heran teman sebangkunya lalu bertanya,"Dari mana aja lo?"
"Dari perpustakaan," Jawabnya dengan napas yang masih memburu.
Kenya menyodorkan tugas kelompok—sebangku dua orang—tentu saja Rafka mengerti apa yang dimaksud oleh Kenya, yaitu Rafka-lah yang akan mengerjakannya. Tanpa bertanya lagi Rafka mengambil bulpoin dan pergi meninggalkan bangku untuk mencontek Andrea. (Jangan ditiru ya teman-teman)
"Eh, Sana tolong minggir dong, ya? Lo bisa duduk sama Kenya, lo kan deket sama dia." Perintahnya kepada Sana teman sebangku Andrea sekarang.
__ADS_1
Begitu Rafka duduk Andrea langsung bertanya,"Gimana?"
"Beres, gue udah minta maaf sama dia. Gila, menurut gue. Dia benar-benar ngebucin gue banget ndre."
"Maksudnya?" Timpal Andrea sambil terus mengerjakan tugasnya.
"Dia itu bener-bener suka banget sama gue, suka levelnya sudah sampy kuadrat!" Ketusnya.
Andrea memberikan tugasnya,"Ini buruan! Sebentar lagi gurunya bakalan balik."
Rafka langsung menyalin tugasnya dengan kecepatan kilat. Sungguh hal yang sudah biasa Rafka lakukan. Andrea yang mengerjakan, Rafka yang menyalin.
Mengingat betapa imutnya Rumi tadi Rafka jadi tersenyum. Tanpa sadar hatinya perlahan-lahan mulai terbagi.
Saat pulang sekolah, Rafka berpapasan dengan Rumi yang tengah bersama Kresna, mereka sedang membicarakan tugas. Rumi tersenyum kepada Rafka saat melihat Rafka tepat didepannya. Rafka pun juga membalas senyuman itu.
"Lo aja yang kerjain, tugas hitung-hitung begini gue nggak se-jago elo. Jadi, kalau ada tugas bahasa atau sejarah biar gue oke? Gue pulang dulu, bye." Rumi mengucapkan kalimat itu dengan ucapan yang cepat lalu berlari dengan cepat meninggalkan Kresna yang kebingungan.
"Oh oke deh." Timpalnya tanpa berpikir. Namun, dengan cepat dia tersadar. "Woi, Rumi nggak adil ini!?" Percuma saja, karena Rumi sudah menaiki motornya.
Di depan gerbang sekolah, Rumi berhenti karena ada Irfan yang menunggunya. Ia terheran-heran kenapa Irfan ada di depan sekolahnya. Rumi turun dari motornya lalu membuka kaca helm,"Loh ada apa Ir?" Namun, tiba-tiba Irfan memeluknya. Rumi terkejut lah karena banyak murid-murid yang melihat mereka berdua. "Heh, lepasin ada apa? Cerita baik-baik sama gue."
Irfan menangis, "Pacar gue, kemarin, gue... Huhuhuhuhuhu."
Rumi menatap Irfan yang tinggi itu lekat-lekat, meskipun banyak suara motor yang keluar dari sekolah. "Buruan ngomong aja. Ada apa fan?"
Irfan yang hidungnya sudah merah, mata yang merah dan sembab dengan rambut yang acak-acakan. Mengeluarkan sebuah amplop putih, ia mengeluarkan isi amplop itu dan memberikannya kepada Rumi. Rumi langsung membukanya ternyata itu adalah undangan pernikahan pacar Irfan dengan cowok lain. "Apa-apaan ini?" Rumi marah.
Irfan semakin menangis tanpa malu banyak yang melihatnya. "Udah ayo kita pergi dari sini. Banyak adik kelas lo dulu di sini, lo nggak malu?" Ajak Rumi. Irfan yang alumni sekolah SMA Pandan ini tidak merasa malu sebab hatinya sangat sakit.
"Elo nggak bawa motor?" Tanya Rumi mencari keberadaan motor milik Irfan ternyata tidak ada. "Elo kesini naik apa?"
Diam sejenak sambil melamun. "Ojek online."
"Iya udah, ayo naik motor gue. Gue boncengin."
__ADS_1