
Rafka pulang dengan perasaan hampa. Ingin rasanya ia memeluk Rumi, sekarang. Tetapi, tidak bisa. Rumi masih sakit hati dengan dirinya yang telah mengingkari janji, lalu mencacinya dengan kata-kata yang cukup kasar. Sungguh ia merasa dirinya laknat.
"Rum, aku harap kamu besok maupun lusa maafin aku. Sepertinya saat ini kamu memang lagi ingin sendirian."
Bukan seberapa lama kalian pacaran, tetapi seberapa peduli kalian terhadap pasangan kalian. Semuanya di ukur bukan berdasarkan waktu.
***
Lusanya saat berangkat sekolah, Rafka sengaja berangkat sangat pagi. Karena ia ingin meminta maaf kepada Rumi. Semuanya telah ia susun. Kata-kata yang akan ia ucapkan dan bagaimana harus bersikap. Rafka duduk di depan kelasnya sambil mengawasi kelas Rumi, mungkin-mungkin gadis itu masuk ke dalam kelasnya. Sampai bel berbunyi dan sampai semua orang menuju lapangan upacara untuk melakukan upacara bendera. Rafka sama sekali tidak melihat Rumi. Rumi tidak masuk sekolah. Rafka benar-benar cemas.
Selama upacara kemudian pelajaran berlangsung, Rafka sama sekali tidak tenang. Dirinya bermain ponsel saat istirahat, mungkin-mungkin Rumi meneleponnya.
"Ada apa, Raf? Kenapa lo dari pagi gelisah?" Tanya Andrea yang ikut duduk di sebelah Rafka.
Rafka memegangi kepalanya. "Gue melakukan kesalahan."
Rafka pun menceritakan semua kejadian itu. "Kenapa sih cewek sulit banget di pahami? Gitu aja kok dia marah sih?" Celotehnya.
Kenya yang sedang duduk di depan bangku Rafka, menyahuti. "Cewek itu hatinya lembut, bego! Lo harus lembut sama cewek. Kalau lo mencaci dia kayak gitu terus lo juga meluk cewek lain di depan dia. Ya pasti lo udah 100% tolol! Sorry-sorry aja nih ya..."
"Gitu ya? Terus gimana dia bisa nggak ngabarin kita sama sekali? Kok dia tahan gitu loh." Tanya Rafka.
"Iya... Itu saking sakit hatinya dia sama lo Raf. Btw siapa cewek lo?" Rafka tidak menjawab. Rafka lalu menidurkan kepalanya pada meja.
Andrea tertawa, lalu menggoda Kenya."Ya dikacangin."
Keesokan paginya ia dengan sangat terpaksa menemui teman Rumi, Kresna untuk menanyakan kabar pacarnya itu, karena Rumi sudah tidak masuk dua hari. Ia langsung saja masuk ke dalam kelas itu karena isinya banyak yang saling diam. "Permisi." Ucapnya, namun, seisi kelas sangat diam. Tidak seperti terakhir kali ia kemari. Rafka melihat Kresna yang duduk di bangku Rumi sambil tertidur menutupi wajahnya.
"Bang... Bang." Panggilnya.
Kresna lalu bangun dan mengucek matanya yang merah, seperti habis menangis. "Ada apa?"
"Pacarku kemana?" Tanyanya.
__ADS_1
"Pacar lo? Siapa?"
"Yang duduk bangku ini." Tunjuknya kepada bangku Rumi.
"Hah? Lo nggak tahu?"
"Apa?"
"Kemarin kan dia kecelakaan, waktu berangkat sekolah..."
"HAH? APA?! Kok bisa?"
"Helmnya nggak full face jadi, kepalanya terluka. Dia berusaha menghindari truck dari arah selatan, dia jatuh seorang diri, lalu terlempar. Anak-anak yang berangkat sekolah kemarin banyak yang melihat dia."
Rafka langsung lemas seketika, dirinya terduduk lemas di bangku Kresna. "Hari ini jam 13.00 dia akan melakukan operasi pada bagian kepala belakangnya." Tambahnya lalu merangkul Rafka yang lemas dan kejar.
"Gimana bisa gue nggak tahu sama sekali?!" Batinnya.
Selemah-lemahnya seorang laki-laki adalah saat ia menangis. Rafka menangis di pelukan Kresna. "Udah, jangan nangis, dia bakal pulih kok. Kan habis ini kenaikan kelas. Dia pengen segera lulus loh."
Rafka duduk di samping tempat berbaringnya Rumi, ia memegangi tangan Rumi, menciumnya berkali-kali. "Sayang, bangun dong." Ucapnya. Banyak orang yang melihat Rafka dan banyak juga saudara Rumi yang menangisi Rumi. Rafka juga berkali-kali mengusap air matanya yang jatuh berkali-kali. Ia terus mengelus, mencium dan menggenggam tangan Rumi. Rafka akan menunggu gadisnya ini sampai terbangun dari tidurnya kembali. Wajah Rumi banyak terluka oleh goresan, tangannya pun begitu tak luput juga kakinya penuh dengan luka-luka. Rafka menangis terus menerus saat melihat keadaan Rumi yang seperti ini.
Andrea yang duduk di antara saudara-saudara Rumi hanya bisa melihat Rafka menangis, ia bisa merasakan bagaimana sakit dan menyesalnya seorang Rafka.
Selama satu jam lebih empat puluh lima menit Rumi tersadar, ia membuka matanya perlahan dan bisa melihat pacarnya yang sedang menggenggam tangannya. Rumi sedikit sulit untuk berbicara dan menyusun kata-kata. "Raa—ka...."
Rafka mendongak dan melihat gadisnya sudah sadar. "Sayang. Maafin aku."
Rumi tersenyum. "Iya."
Kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Rumi. Rumi meminta untuk di lepaskan alat bantu napasnya, dan untungnya tidak apa-apa. Rafka terus menatap gadisnya itu, ia merasa bahagia bisa melihat Rumi tersenyum saat ini.
Setiap hari Rafka menjenguk pacaranya dan bergurau bersama. Bahkan saat teman-teman sekelas Rumi menjenguk, Rafka pun ada di samping Rumi. Ketiga teman Rumi menangis saat bertemu Rumi.
__ADS_1
"Rumi ayo cepat pulih, cerita lo belum di lanjutin." Ucap Deya.
Jiyan berkata."Rum, lihat ini cowok lo. Pas hari kedua lo nggak masuk, dia nangis di kelas kita Rum."
"Iya—kah?" Ucapnya sedikit tersendat.
Rafka jadi malu dan menggaruk-nggaruk kepalanya. "Hehe, iya."
Lalu, tiba-tiba datang lagi seseorang yang sangat di benci Rafka. Dia adalah Irfan. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab seluruh isi kamar ini.
"Oh, bang Ir? Kok kenal sama Rumi?" Tanya beberapa anak yang mengenalnya. Irfan hanya mengangguk, ia langsung menemui Rumi dengan membawa satu parsel buah-buahan dan satu buket bunga mawar.
Rumi tersenyum saat Irfan datang. "Gimana kabarnya?"
"Udah mau sembuh." Jawabnya.
"Eum, ini pacarmu kan?" Tanyanya sambil menunjuk Rafka yang sedang duduk di samping ranjang Rumi. Rumi mengangguk.
"Ayo kenalan dong." Rumi menyalurkan tangan Rafka kepada Irfan.
"Irfan."
"Rafka." Salaman mereka begitu lama, lalu Rumi melepaskannya. "Ada apa sama kalian, hadeh." Namun, tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian, satu persatu dari mereka pamit untuk pulang. Hanya tersisa Irfan dan Rafka. Saat ini sepi tidak ada yang menunggu Rumi karena orang tuanya bekerja. Hanya ada adiknya yang ditinggal di sini.
Rafka merasa risih dengan keberadaan Irfan, akhirnya ia mengatakan. "yang aku nemenin kamu, ya malam ini?"
"Rum, gue aja. Hari ini cafeku sedang tutup kok."
Rumi menatap keduanya satu-persatu. "Berdua aja juga nggak apa-apa kok. Abis dua-duanya pengen nungguin aku," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
*