
"Hey, ada apa denganmu kemarin? Lo jadi trending topik di sekolah njjir..." Tanya Jiyan yang duduk di sampingnya. Mereka sedang menunggu giliran untuk mengerjakan ujian.
Rumi menggeleng.
Jihan kembaran Jiyan yang ada di sampingnya menyikut. "Jawab dong, gue beneran nggak tahu soalnya kemarin gue pulang paling awal."
Rumi menggeleng lagi.
"Ada apa sih? Cerita dong sama kita. Lo anggep kita ini apa? Temen kan? Temen selalu ada di saat lo lagi susah begini." Jihan menimpali.
"Ayah Rafka kemarin ngajak gue ngobrol. Beliau bilang aku membawa dampak buruk untuknya jadi, beliau menyuruh gue untuk ninggalin Rafka." Rumi tidak kuat saat menjelaskan 20 kata tadi. Ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan dasi. Jihan lalu memeluknya.
Jihan ikut meneteskan air mata. "Terus, apa yang lo lakuin sekarang?"
"Lo tahu sendiri kan kalau gue anaknya penurut banget, jadi lo bisa tahu apa yang gue lakuin."
Jiyan yang di samping kirinya ikut memeluk dirinya. "Rum, itu emang keputusan terbaik buat lo yang penurut. Tapi itu bukan keputusan yang baik buat Rafka. Lo juga harus pertimbangin perasaan dia..."
Rumi menangis lagi. Teman-teman sekelasnya yang duduk melingkar di gazebo seperti ini mengerti apa yang Rumi rasakan. "Eh, lo kenapa?" Tanya Rega.
Rumi hanya menggeleng dan berkata. "Nggak apa-apa."
__ADS_1
"Apa karena kemarin?" Tanyanya lagi, lalu ia menceritakan sesuatu karena Rumi tidak menjawabnya. "Kemarin, gue tahu lo ngomong sama polisi, jadi gue kira lo pas berangkat habis ditilang polisi itu. Nah, posisinya gue lagi di depan gerbang sekolah, iya udah karena gue tadinya kesel sama Rafka tapi pasti dia sebagai cowok lo bisa nolongin kan, gue cari itu cowok lo. Astaga susahnya kebangetan, dia nggak pulang asal lo tahu, dia diem aja di dalem kelasnya. Setelah gue capek habis lari dari parkiran ke kelas dia, terus langsung gue kasih tahu Rafka kalau lo ditilang sama polisi, eh dia langsung lari tanpa terima kasih."
"Jadi, seluruh sekolah nge-gosipin gue apa? Astaga perasaan gue nggak terlalu terkenal, eh sekarang dikit-dikit mereka ngebahas gue sama Rafka." Jawab Rumi yang sedikit tidak nyambung.
"Sebenarnya, kita juga nggak tahu, tapi selalu aja, ada yang cerita tentang hubungan kalian. Gosipnya sih, itu ayah Rafka yang marahin lo? Bener nggak?" Salah satu teman sekelasnya yang bernama Hani pun menjawab.
Rega menjawab. "Lo tadi nggak ngedengerin dia cerita? Heh?! Kemana aja lo!"
"Ketimbang lo, bego kuadrat!" Timpal Hani.
"Gue emang bego, iya gue akui itu. Lo bisa hina gue sepuasnya. Kalau dipikir-pikir dari yang lo ceritain ke Jihan sama Jiyan, berati seharusnya gue nggak ngomong ke Rafka kalau lo ditilang."
Rumi menggeleng. "Lo udah ngelakuin sesuatu yang patut di kasih jempol kok. Terima kasih, ya... Lo harus sering-sering nolongin gue."
Rumi langsung mengusap sisa air matanya. "Otak dan hati jangan ngerepotin gue dulu ya, gue jarus ujian, jangan buat adegan aku saat bersama Rafka, agar aku bisa fokus." Batinnya.
Saat Rumi melepas sepatunya, Rafka bersama seluruh teman-teman lelakinya berjalan melewati depan lab komputer. Ia baru menyadarinya ketika Andrea terseyum kepadanya. Saat itu pula Rumi sangat panik. Kresna yang menghalangi jalannya seperti sudah ia rencanakan untuk menganggunya. "Kresna minggir dong, astaga bisa-bisanya tinggal gue doang yang belum masuk."
Kresna tersenyum nakal. "Ssstt, masih kurang 10 menit buat ujian. Noh lihat noh, cowok lo, hehehe. Udah tahu dia cowok setia malah dilepasin gitu aja, dasar cewek. Biarin gue disini sampai Rafka benar-benar ada di belakang lo, lagi lewat."
"Kresna pliss,"
__ADS_1
"Lima langkah lagi, empat langkah lagi, ti—" Rumi langsung mendorong tubuh Kresna lalu, ia langsung masuk ke dalam ruangan itu. Rumi langsung bersembunyi di balik pintu sambil melihat Rafka melewatinya. Rafka melihat dirinya sambil tersenyum menyapa. Niatnya bersembunyi, tetapi tetap saja, Rafka sudah mengenal Rumi yang selalu ingin melihatnya bagaimanapun keadaannya.
Sehari sebelum kejadian Ayah Rafka menemui Rumi, di rumah Rafka sudah mulai curiga dengan Ayahnya yang mengeraskan suranya kepada Ibunya. Samar-samar ia mendengar. "Gara-gara gadis itu pasti, gadis yang ia bonceng waktu menyapa Ayah." Begitu Rafka mendengar itu, ia mendekat ke arah jendela kamarnya. Ia bisa mendengar Ayah dan Ibunya yang bercakap-cakap di teras.
Ibu Fiastine mengelak. "Gadis itu anak baik-baik Ayah. Dia sudah pernah ke rumah, tapi saat itu dia memang sedang sakit jadi, Ibu tidak mau merepotkannya. Ibu sangat menyukai pacar Rafka yang ini." Rafka langsung tersenyum mendengar itu.
Namun, saat Ayah Rafka akan menjawab. Tiba-tiba ada seorang tamu yang datang. Jadi, pembicaraan mereka tertunda.
Rafka sangat marah ketika Rumi bahkan membela seseorang yang sangat dibencinya yaitu Irfan mati-matian. Sedangkan, dirinya benar-benar di abaikan. Tetapi, Rafka juga mencoba mengerti, bahwa Rumi juga memiliki kehidupan pribadi, ia bebas mau berteman dengan siapa saja asal ia tahu sampai mana batasnya. Padahal rencananya Rafka yang akan meminta maaf sepulang sekolah, namun ia bingung merangkai kata-kata. Maka dari itu dia memikirkan dan menyusun kata serta Kalimant untuk meminta maaf. Namun, begitu Reka datang dengan napas yang tersengal-sengal berkata bahwa Rumi ditilang, saat itu juga hatinya benar-benar tertusuk pisau tajam. Ia sudah mengerti maksud dari perkataan ditilang adalah Ayahnya datang untuk berbicara kepada Rumi. Rafka benar-benar merasa tersakiti, ia juga takut, takut mungkin saja kalimat yang Ayahnya lontarkan akan membuat Rumi pergi dan memang benar. Ia berlari keluar sekolah sampai ke halte dengan kecepatan tinggi. Tetapi, saat di gerbang ia berpapasan dengan Ayahnya yang berjalan berlawanan dari dirinya. Rafka hanya menyapa Ayahnya sebentar, lalu ia berjalan menghampiri Rumi yang tertunduk menangis. Rasanya ia telah sangat bersalah kepada gadisnya.
Begitu telinganya mendengar kalimat yang dilontarkan gadis kesayangannya. "Ayo kita putus saja." Rafka merasa dunianya telah hancur. Bahkan saat ia sudah sampai di rumah, ia tidak berani menghadapi Ayahnya. Ia ingin marah, memaki tetapi ia masih waras dan tidak akan melakukan hal gila kepada Ayahnya. Rafka menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sudah seperti panda. Selesai ia membuat story dan melihat dirinya yang sedang main game di story Rumi, ia langsung mengirimkan pesan sambil terus menangis. Namun, hanya dua garis centang biru yang terlihat tanpa adanya mengetik. Ia langsung melempar ponselnya pada kasur, ia mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar kacau saat ini. Namun, ia harus berusaha menemui Ayahnya.
Rafka menyisir rambutnya sebelum bertemu Ayahnya. Ia bisa melihat tubuh lelah Ayahnya yang baru saja pulang, tetapi ia akan tetap menanyakannya. "Ayah, apa yang ayah katakan kepada pacar saya? Kenapa ayah menyakiti hatinya? Ia tidak bersalah, Ayah." Rafka benar-benar berbicara dengan sopan kepada Ayahnya karena ia sangat takut kepada Ayahnya.
Ayahnya membuang napas. "Dia sama sekali tidak membawa kebaikan kepada diri kamu, Raf. Ayah tidak bisa."
Rafka menggenggam tangannya, menahan emosi, tetapi ia tidak bisa memelankan suaranya. "Ayah, sejak kapan Ayah mulai ikut campur dengan kehidupan percintaan saya?"
"Rafka! Berani kamu ya?!"
Rafka menggeleng. "Saya selalu mengikuti apa kata Ayah, tetapi tolong jangan mengatur kehidupan percintaan saya ayah..." Ucapnya lalu Rafka menangis.
__ADS_1
Ayah Rafka berdiri dari duduknya. "Kamu pilih Ayah atau gadis itu?! Jika kamu pilih gadis itu, keluar dari rumah sekarang juga dan kamu akan dibuang sama gadis itu karena kamu bodoh dan tidak berpendidikan. Sedangkan kalau kamu pilih Ayah, kamu sudah bisa menebaknya."
*