
"Ada apa kamu meneleponku? Masih peduli?" Suara itu terdengar dari ponselnya. Rumi langsung mendekatkan ponselnya pada telinganya.
"Maafkan aku, yang menuntut kamu untuk mengerti aku, tapi aku tidak mau mengerti kamu. Rafka, kenapa kamu nggak sekolah? Aku mencarimu." Rumi tidak mau gengsi lagi tentang perasaannya.
"Aku sekolah, aku di belakangmu."
Rumi melebarkan matanya. "Hah?! Sejak kapan?" Ia langsung menoleh ke belakang, ia bisa melihat Rafka berdiri dengan satu tangan mengangkat telepon dan tangan yang lainnya ia masukkan ke dalam kancing. Ia melihat Rumi sambil tersenyum.
Rafka langsung ikut duduk di sampingnya. "Masih juga nyariin aku lewat tempat parkir. "
"Itu satu-satunya cara untuk aku tahu kamu masuk sekolah atau nggak."
"Mau ngomong apa?" Tanyanya.
Rumi langsung berdiri. "Ikut aku yuk. Ke kantin, aku laper." Rafka langsung mengangguk dan berangkat.
Rafka menyantap makanannya dengan sangat lahap, dengan mulut yang penuh ia menyuruh Rumi untuk berbicara. "Bicaralah."
"Hari ini kamu kelihatan pucat, jadi aku akan bayar makanannya. Aku hanya ingin kamu makan."
Rafka berusaha menelan sisa makanannya dan menahan tangan Rumi tanpa merasa malu banyak yang melihat aksinya. "Apa kamu hanya membiarkanku makan? Jadi, maksud kamu apa meneleponku?"
"Hanya kepencet."
Rafka langsung membanting sendoknya hingga banyak yang melihatnya. Rumi tidak menghiraukannya. Rumi membayar makanan, karena Rumi membawa tas ransel Rafka dengan mudahnya menarik gadis itu. "RAFKAAAAA... LEPASIN NGGAK!" Rafka menarik gadis itu hingga keluar dari kantin. Menariknya dengan cara yang nggak sopan. Rafka lalu menyandarkan Rumi pada dinding di dekat kantin, tempat itu sepi, jadi mereka bisa berbicara dengan mudah. Rafka memukul dinding dan menatap Rumi tajam, jarak wajah mereka hanya 5cm.
"Maksud kamu apa bikin malu, aku?" Tanya Rumi.
Rafka mendengus lalu membasahi bibir bawahnya. "Siapa yang lebih malu, aku atau kamu? Kita ini apa sebenernya? Saling melihat story masing-masing, saling melihat kapan terakhir kali kita membuka WhatsApp, saling stalker di Instagram, saling menunggu siapa yang akan mengirim pesan duluan, saling menunggu siapa yang akan menelepon duluan, siapa yang akan minta maaf duluan, dan saling menunggu siapa yang akan memulai duluan. Bahkan kita juga saling menunggu siapa yang akan mengajak mabar duluan, kita sama-sama suka game. Aku suka game, aku juga suka kamu, kalau kita bosan yang bilang, kita tinggal mabar. Apa salahya? Apa harus aku terus yang mulai? Apa harus kamu terus yang mulai? Jangan malu, buang rasa malu kamu. Kita harus saling jujur. Kenapa harus malu untuk menunjukkan rasa sayang kamu? Tatap aku, Rumi." Rafka mengangkat dagu Rumi dengan jari telunjuk yang terlipat, agar gadis itu menatapnya.
__ADS_1
Rumi menatapnya, lalu ia meneteskan air matanya. "Maafkan aku, sayang." Gadis di depannya ini terisak-isak.
Rafka mengusap kedua pipi Rumi dengan kedua tangannya. "Iya, aku udah maafin. Ayo ngomong dong, kamu mau bilang apa?"
"Aku mau, aku mau kita balikan, aku mau menemani kamu meraih masa depan, mari kita berjuang sama-sama. Aku harap kamu nggak kecewa dengan masa depanku. Aku mau pergi ke rumah kamu, menemui Ayah kamu dan berkata dengan tegas 'SAYA MENCINTAI ANAK BAPAK, TANPA ALASAN APA PUN, JADI SAYA TIDAK AKAN MELEPASKAN ANAK BAPAK APA PUN ITU ALASANNYA' maafin aku, yang. Aku mencintai kamu, aku sayang kamu, aku nggak mau ninggalin kamu, aku mau kita terus sama-sama." Rumi terus meneteskan air matanya. Dan Rafka tersenyum, ia mengusap kedua pipi Rumi.
Rafka melihat keadaan sekitar, apakah ada seseorang yang akan lewat, tetapi sangat sepi. Ia langsung mencium kening pacarnya dengan singkat lalu, memeluk Rumi. "Aku juga mencintai kamu, Rumi. Jalaluddin Rumi. Nama kamu kok jelek sih?"
Rumi menangis sambil tertawa, ia memukul punggung Rafka. "Namaku itu ada artinya, dalam bahasa jawa artinya daya tarik, dalam islam artinya yang berkata indah tentang tuhan. Emang untuk sayang sama seseorang harus melihat nama ya?"
Rafka mengeratkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu tanpa alasan."
Tiba-tiba ada sebuah teriakan seorang cowok dengan suara yang keras. "WOII ADA YANG PACARAN DI SEKOLAH WOII."
"Eciee balikan... Selamat yaaaa..." Ternyata suara Danu, teman sekelasnya berteriak membuat Rafka dan Rumi dengan cepat melepas pelukannya. Namun, saat Rumi melihat ia jadi sangat malu. Teman-teman Rafka yang biasanya bersama dengan Rafka menggoda mereka saat ini. Rumi bersembunyi di balik tubuh Rafka yang menghadap teman-temannya dengan wajah bingung. "Aku malu," bisik Rumi.
Rafka dengan cepat tersadar. "Hehe, kalian ini ya ngagetin aja. Ini pacarku malu ini. Tanggung jawab!" Teman-teman Rafka langsung berlari ke arah Rafka.
Rafka mengambilnya. Ia dan Rumi berjejer dengan di tengah mereka berdua memegang bunga mawar yang hanya satu tangkai. Sedangkan, teman-teman Rafka mengambil foto untuk awalan. Kemudian, mereka berfoto bersama, dengan berbagai macam gaya.
"Salah satu pasangan teromantis kita ini, bernama Rafka dan Rumi. Mereka berdua selalu berharap kisah cintanya seperti film romantis tapi selalu menjadi melodrama." Ucap Zainul yang berbicara dengan kamera. Ia merekam. Rumi hanya tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkah konyol teman-teman Rafka.
Rumi tidak terima lalu menjawab. "Nggak gitu juga kali. Banyak romantisnya kok."
Zainul lalu bertanya. "Oke, sebutkan dua hal paling romantis apa yang paling lo inget sama dia, yang sampai sekarang nggak bisa lupa."
Rumi menoleh ke arah Rafka, sedangkan Rafka. "Coba, aku juga penasaran."
"Aku malu wkwk."
__ADS_1
Rafka memaksa. "Ayo dong,"
"Pertama, waktu gue sakit dia pernah nyanyiin aku lagu yang judulnya 'aku mau'. Kedua adalah saat kita berdua main game, menurut gue itu hal yang paling romantis karena kita saling mencaci saat terbunuh hahaha. Seharusnya, marahnya kan ke musuh, kalau kita marahnya ke kawan sekubu wkwkwk."
Rafka langsung tersenyum dan tertawa, ia merangkul pundak Rumi.
"Wah, seru tuh yang kedua. Menurut kalian romantis nggak gaes? Komen dibawah yak... Jika video ini ada 10.000 like gue akan bikin video khusus kisah romantis mereka deh." Zainul langsung menutup kameranya.
Andrea lalu merangkul pundak Rafka yang sedang merangkul Rumi. "Udah bro ya pacarannya. Nanti lanjut lagi, sekarang waktunya jam masuk sekolah."
"Semangat. Aku pulang dulu hehehe, ujianku udah selesai."
Rafka tersenyum memperlihatkan gigi rapinya. "Nanti aku jemput jam 7 oke?"
Rumi mengangguk sambil memberikan Rafka finger love menggunakan jempol dan jari telunjuknya. Rafka menjawab dengan senyuman dan memegangi dadanya.
"Aku jatuh cinta lagi dengannya,"
***
Malamnya Rumi bersiap dengan pakaian yang sangat rapi. Ia sangat bingung mau memakai baju seperti apa. Akhirnya, ia memakai dress batik dengan menggerai rambutnya. Sederhana. Rafka menjemputnya tepat pukul 7 malam. Dan kata pertama yang keluar adalah. "Wah tumben."
Rumi langsung cemberut. "Aku bingung mau pakai baju apa... Biasanya ibu bisa ini milihin baju yang cocok tapi ibu lagi di toko, uh pengen nangis."
"Kamu cantik. Maksudnya itu tumben kamu cantik. Biasanya jelek banget, bobrok, apalagi kalau aku kesini mau main game, kamu bobrok banget."
Rumi bersedekap. "Kamu juga jelek, tapi mampu membuatku terpesona hanya dalam satu kali lihat hehehe."
Rafka merasa malu. "Udah ah ayo!" Ajaknya.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah Rafka, Rumi di sambut baik oleh Ibu fiastine, ibunya Rafka. Rumi dan Rafka masuk ke dalam ruang makan bersama dengan Ibu Fiastine. Dan di ruang makan sudah terlihat Ayah Rafka yang duduk menunggu kedatangan Rumi. Ayahnya tersenyum ke arah Rumi.
*