Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
25. Hatiku terikat padamu


__ADS_3

"Cintailah pujaanmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti jadi kawan sekubu."


(Terjemahan bebas pepatah kuno arab)


Pepatah itulah yang cocok sekali di ungkapkan untuk Jiyan dan Firaz, bahkan Rafka dan Rumi juga bisa. Di mana Jiyan yang dulu sangat membenci Firaz karena jahil, sekarang malah mereka menjadi sepasang kekasih.


Firaz kemudian melepaskan pelukannya karena malu. Tanpa sadar banyak yang melihat mereka berdua. Tanpa sadar. Bahkan Jihan, Deya dan Rumi sampai bertepuk tangan. "Hebat ya, habis putus belum lama udah gandeng cowok baru." Sindir saudara kembarnya Jihan.


Jiyan tertawa. "Kalau ada kesempatan ya harus di ambil. Hehehe."


Deya dan Rumi merangkulkan tangannya kepada Jihan. "Udah, nggak lama lagi, lo akan dapat pacar."


"Tapi gue maunya sama adek kelas yang gue suka." Jawabnya.


Rumi membisikkan sesuatu. "Jihan dengerin gue, ada sebuah pepatah dari pahlawan besar kita yaitu Moh. Hatta. Jika memang cinta kejarlah. Jika tidak bisa berlari, berjalanlah. Jika tidak bisa juga berjalanlah di tempat. Setidaknya kau tidak diam."


Jihan bertanya. "Jadi? Gue harus ngejar dia gitu?"


"Lo lupa sama apa yang gue perjuangin sampai Rafka jadi pacar gue?"


"Apa?! Semua berawal ketika Rafka ban motornya bocor terus lo bantuin."


Rumi mengangguk. "Do'a han. Semua berawal dari do'a gue. Karena gue suka sama dia, ya gue minta sama tuhan. Kalau emang dia jodoh gue, gue minta tolong dekatkan. Kalau bukan ya jauhkan eh, taunya dia malah mendekat kan?"


Jihan tersenyum. "Bener juga. Terus Deya, lo nggak pacaran?" Jihan menoleh ke arah Deya yang ada di sisi sampingnya.


Deya menggeleng. "Masih trauma. Nanti aja, kalau udah sembuh hati gue."

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh ya, buat hati lo." Ucap Rumi untuk Deya.


Sepulang sekolah seperti biasa, Rafka pergi menuju kelas Rumi. Ia melihat Rumi yang sedang bercerita kepada teman-temannya, kali ini berbeda, banyak teman-teman yang mendengarkan ceritanya bahkan para cowok. Itu sedikit membuat Rafka cemburu. Memang benar selera humor Rumi sangat receh, terbukti ketika gadis itu bercerita di depannya. Rafka tertawa terus menerus. Rafka memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Lalu, menghampiri mereka. Mereka sama sekali tidak tergesa-gesa untuk pulang. Rafka ikut duduk di samping teman Rumi yang ia tahu bernama Rega. Rega sesekali tertawa mendengar Rumi. Saat Rafka duduk di sampingnya. Cowok itu mengajak Rafka bersalaman. "Hai bro." Sapanya.


"Hai."


Sampai tempat parkir di depan kelas Rumi tersisa para motornya kelas Rumi. Akhirnya, Rumi mengentikan ceritanya. "Btw, kalian nggak pada pulang?"


"Lanjutin bentar, terus gimana keadaan si masinis?" Kali ini memang Rumi menceritakan cerita urban legend. Sebenarnya Rumi membaca cerita itu di aplikasi Wattpad. Padahal teman-temannya juga bisa membacanya sendiri tetapi kebanyakan mereka tidak suka baca lebih suka di ceritakan.


"Udah, besok aja. Pacar gue nunggu hehe." Ucapan itu membuat Rafka yang sedang mengobrol dengan Rega menoleh lalu melambaikan tangan. Karena itulah teman-temannya tertawa lalu meminta maaf kepada Rafka.


"Eh, sorry ya." Begitulah kiranya permintaan maaf dari beberapa teman-teman Rumi.


Saat Rumi berdiri Rafka langsung menggandeng tangan pacarnya itu lalu mengelusnya. "Kenapa tadi nggak bilang, sih?"


Rafka berdecak. "Ya boleh lah, kenapa nggak boleh?"


Rumi lalu menggandeng lengan Rafka erat, menyandarkan kepalanya pada pundak cowok itu sambil berjalan beriringan. "Iya maafin aku, yang."


***


Rafka pergi ke rumah Rumi, mengikuti gadis itu dari belakang. Rafka jadi ingat, bagaimana dulu Rumi seringkali mengikutinya ketika pulang sekolah. Tetapi, Rafka tentu saja berpura-pura tidak tahu, pertama ia merasa kesal, kedua ia merasa was-was, ketiga ia merasa paling bahagia. Sekarang mereka sudah menjadi sepasang kekasih, ia hanya bisa berdo'a semoga hubungannya dengan Rumi tetap baik-baik saja, bisa menyelesaikan masalah bersama-sama dan semoga mereka berdua ditakdirkan untuk bersama. Meskipun dengan pertemuan yang singkat, pengenal yang singkat dan semuanya serba singkat tetapi semoga hubungan mereka tidak singkat.


Rafka bermain ponsel sambil menunggu Rumi untuk mengganti bajunya. Namun, tidak biasanya. Rumi meninggalkan ponselnya di meja di depan Rafka. Ponsel itu terbalik seperti habis tergesa-gesa untuk melakukan hal yang lain. Tidak lama ponsel itu berbunyi. Ada yang meneleponnya. Rafka langsung mengambil ponsel itu. Ia melihat tertera sebuah nama 'Rama' ia bingung dan berpikir sebentar. Setelah Rafka meneliti, ini bukan teman sekelas Rumi. Ia langsung mengangkatnya tetapi tidak berbicara terlebih dahulu.


"Hay, Rum, tumben sekali mengangkat teleponku. Padahal, biasanya nggak pernah. Jangan cuek lah, kamu nggak inget dulu, dulu aku yang selalu cuekin kamu, ninggalin kamu main game, ninggalin kamu sama cewek lain. Dan bahkan hanya karena bosan, aku ninggalin kamu. Rum, kamu belum punya pacar, kan? Balikan yuk? Kalau kamu nggak suka aku, kenapa coba nomor aku kamu simpan sampai sekarang?"

__ADS_1


Rafka mencoba berpikir, apa yang akan ia bicarakan. Hatinya terasa sakit karena cemburu.


"Eh, maaf lama banget ya? Hehe aku habis—" Ucap Rumi, begitu melihat Rafka memegangi kepalanya sambil mendengarkan seseorang yang berbicara di balik ponsel itu, ponsel miliknya. Rumi langsung mengambil ponselnya, membaca siapa yang meneleponnya, mengangkat bicara dan ia memaki. "***! Kenapa lo nelepon gue? Gue udah punya pacar!" Ia langsung mematikan panggilan.


"Raf, dia ngomong apa? Pliss jangan dengerin dia. Aku bener—"


"Jangan-jangan kamu pro banget main game karena dia? Kalau udah putus, kenapa kamu nyimpen nomor dia? Kalau udah putus dan punya pacar baru, ya hapus dong. Udah ah, aku pulang aja."


Rumi mengejar Rafka yang berjalan keluar. "Raf, aku bisa jelasin! Dia emang udah menjadi mantan. Tapi, aku sebagai manusia ya nggak mau memutuskan tali silahturahmi."


Rafka berdecak. "Rum! Apa salahnya memutus tali silahturahmi dengan orang yang menghianati kita?"


Rumi diam sebentar. Tidak lama Rafka kemudian melanjutkan jalannya tetapi, Rumi langsung menarik lengan cowok itu. "Iya aku hapus ini, aku blokir udah." Ia langsung memblokir nomor mantannya itu di depan Rafka dan langsung menghapusnya. Ia menatap mata Rafka yang melihat ponsel Rumi. Benar memang sudah ia hapus semuanya.


Rafka tetap saja berusaha pergi dari Rumi. Tetapi, Rumi menahannya. Rumi menahannya erat. "Mau kemana, sayang?" Tanya Rumi dengan lembut.


Rafka hanya diam tidak berbicara sama sekali. Ia tidak melihat Rumi yang menahannya untuk pergi. Rumi tiba-tiba berjalan lalu berdiri di depan Rafka.


Rumi memegang kedua pundak Rafka, "Dengarkan baik-baik, oke?" Ucapnya.


"Dengarkan apa?" Akhirnya, Rafka berbicara meskipun dengan raut wajah yang masih kesal. Kesal sekali.


Rumi menjelaskan dengan rinci. "Aku paling suka pria bernama Rafka Gyatama Wardhana. Di antara semua pria di dunia ini. Saat ini hatiku sudah terikat erat padamu, jadi percayalah padaku. Oke?"


Rafka langsung tersenyum.


*

__ADS_1


__ADS_2