
Rafka sampai di rumahnya. Adik laki-lakinya tengah menunggu kedatangan kakaknya—romantis sekali mereka. "Mas dari mana? Kok tumben?"
Rafka menggaruk-nggaruk rambutnya, ia merebahkan tubuhnya pada kursi tamu. Tidak berkeringat karena sudah hampir malam. Hanya napas yang tidak teratur.
Adiknya yang merasa di kacangin pun langsung berbicara pada intinya. "Mas, ayo main game."
Rafka mengangguk. "Tapi mas harus mandi dulu."
Saat Rafka akan bangkit untuk mandi ibunya datang membawa sepiring makanan. "Ayo makan. Nanti maag kamu kambuh."
Rafka mengangguk, "Rafka cuci tangan dulu."
Ketika Rafka selesai cuci tangan, ibunya tidak kunjung pindah dari tempatnya tadi. Seakan ibunya hendak menanyakan sesuatu. Dan memang benar. "Rafka, ini undangan pernikahan temen kamu, ya?" Ibunya mengeluarkan undangan dari balik kursi.
Rafka tidak tersedak, tetapi ia minum langsung 1 gelas penuh air. Lalu ia melihat undangan itu. Ia bingung harus menjawab apa pada ibunya. Rafka adalah anak yang jujur, jadi Rafka dengan jujur menjawab bahwa itu mantan pacarnya.
"Itu mantan pacar Rafka Bu, dia selingkuh sama cowok yang di nikahinya itu." Ibunya hanya diam dan memiringkan bibirnya seakan-akan merasa jijik melihat mantan pacar anaknya.
"Hamil duluan ya?" Rafka membalas dengan anggukan. "Bukan anak kamu kan, Raf?"
"Bukan ibu, udah ah, Rafka nggak laper." Rafka pergi meninggalkan ruang tamu, karena merasa kesal di interogasi oleh ibunya.
***
Keesokan harinya saat pulang sekolah, Rafka menemui Rumi di depan kelasnya. Seperti biasa Rumi sedang bercerita dan tidak bisa diganggu. Tetapi, Rumi tidak mengabaikan Rafka. Ia melambaikan tangan kepada Rafka dan berkata "Tunggu sebentar."
Tetapi, teman-teman Rumi yang merasa di potong ceritanya oleh seseorang pun menengok ke arah Rumi berbicara dengan seseorang. Jiyan, Jihan dan Deya terkejut setengah mati. "PACAR LO?!"
Rumi meringis, "hehe iya. Kan kemarin kita pulang bareng. Kalian nggak sadar?"
"Astaga gue nggak sadar sama sekali." Deya menimpali.
__ADS_1
"Iya udah lah, aku ke parkiran dulu. Besok aja lanjut lagi. Kasian pangeranku menunggu." Ucapnya sambil berdiri lalu melambaikan tangannya kepada teman-temannya. Rafka hanya tersenyum menyapa. Rumi dan Rafka lalu berjalan beriringan. "Ada apa? Pulangnya kan masih lama? Kita tadi juga nggak berangkat bareng kan?"
Rafka berdeham. "Apa harus ada alasan untuk ngobrol sama kamu, yang?" Tanyanya.
"Nggak, sih. Tapi ini di sekolah, enaknya ngobrol di mana?" Rumi memeriksa keadaan yang masih ramai siswa-siswi menunggu bel berbunyi. "oh iya, gimana kalau di belakang kelas 12? Nakal dikit nggak apa-apa lah ya..." Tanpa menjawab Rafka langsung menarik Rumi untuk berlari segera, padahal Rumi lah yang mengajaknya.
Saat sampai di tempat aman itu mereka berdua menenangkan diri karena napas yang berhembus kencang. Namun, dari kejauhan Rumi bisa melihat teman sebangkunya sedang berpacaran. "ASTAGA! KRESNA!" Teriak Rumi, hingga Kresna dan Cia yang sedang berpelukan sambil menikmati pemandangan ladang jagung pun menoleh. Rafka tidak bertanya hanya melihat.
"Ngapain lo?" Teriak Cia bertanya. Kemudian mereka berdua tidak lagi memperdulikan Rumi dan Rafka.
"Sama kayak elo, dong. Iya udah ayo pacaran berjama'ah." Jawabnya lalu mengajak Rafka untuk duduk di rerumputan tak jauh dari Kresna dan Cia.
"Itu teman sebangku kamu, yang?" Tanya Rafka.
"Iya,"
"Kenapa kok akrab sekali?"
"Oh." Jawabnya lesu.
Rumi melepas tas Ranselnya kemudian mengeluarkan kotak makan,"Aku tadi sengaja nggak makan, feeling ku benar, tadi aku ber-feeling kalau kamu bakal ngajakin aku ngobrol hehe. Iya udah kayaknya makan satu kotak sama kamu romantis deh Raf, ya gak?"
Rafka tersenyum lalu tiba-tiba ia mengajak Rumi pergi. "Iya, yang aku mau nanti sore kamu ikut aku pergi ke nikahannya mantan aku ya?"
Rumi membuka kotak makannya pelan, lalu mengeluarkan satu sendok. Ajakan yang Rafka lontarkan tadi belum juga dibalas oleh Rumi. "Ayo, ini cobain." Rumi mengulurkan satu sendok penuh nasi ke mulut Rafka. "Btw, ini masakan aku sendiri, jadi harus di telan ya, enak nggak?" Tanyanya, Rafka mengangguk dan menunjukkan 2 jempol kepada Rumi yang membuat gadis itu kembali tersenyum.
Rafka mengambil alih kotak makan berwarna hijau itu, lalu menyendok satu sendok nasi dan menyuapkannya pada Rumi. "Ha?" Rumi tersenyum, lalu menerimanya.
"Yang, gimana? Mau kan?" Tanyanya lagi.
Rumi mengambil botolnya, lalu meminumnya. "Kamu tahu nggak? Kenapa aku bawa botol warna hijau?"
__ADS_1
"Biar sama kayak aku kan?" Rumi tertawa mengangguk.
"Kenapa harus datang sih? Belum juga seminggu aku datang ikut ke kondangan mantannya si Irfan, eh sekarang mantan pacarnya pacarku. Akutuh nggak bisa, soalnya aku suka kalap kalau lihat makanan." Sambatnya.
Rafka tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun sayang. Aku kira kamu nggak mau karena cemburu."
"Sebenarnya begitu, tapi aku nggak mau nunjukin kalau aku cemburu. Masih terlalu dini hubungan ini." Batinnya.
"Iya nggak lah, kan udah mantan. Nanti kalau di sana kamu jangan peluk dia ya?"
"Iya, enggak."
"Janji?"
"Janji! Iya udah nanti aku jemput, pukul 7 pas, nanti pulangnya jalan-jalan yuk? Besok kan libur." Rumi mengangguk setuju.
***
Rumi hari ini memakai setelan kebaya modern yang berwarna pink. Lalu, ia juga memakai hijab segi empat berwarna baby pink. Alas kakinya hanya flatshoes bernuansakan pink. Serta slingbag berwana pink cerah. Tidak lupa bagian mata, ia juga memasang kontak lensa berwarna hitam legam, nampak begitu besar bola matanya. Hari ia tetap cantik seperti biasanya, Rumi memakai make up biasa, tidak terlalu tebal. Sayangnya hari ini di rumahnya benar-benar sepi, tapi beruntung juga Rafka mengajaknya ke kondangan karena ia tidak perlu repot-repot lagi untuk memasak.
Rafka menjemputnya menggunakan motor, tetapi itu tidak masalah, karena meski nantinya angin berhembus sangat kencang. Itu tidak akan membuat rambutnya berantakan sebab Rumi memakai jilbab. Rafka hanya memakai atasan batik yang motifnya kebetulan sana dengan bawahan Rumi. Kebetulan yang hakiki. Rumi sudah menunggu di depan rumahnya jadi mereka hanya tinggal berangkat saja.
Rafka harum sekali, Rumi yang di belakangnya bisa mencium baunya terus menerus. Rafka menarik tangan kanan Rumi agar berpegangan lebih erat kepadanya. Lagi lagi mereka berdua diam-diam tersenyum. Rafka mengelus punggung tangan Rumi yang ada di depannya.
Sesampainya di tempat. Rafka langsung menggenggam erat tangan Rumi hingga sampai ke dalam. Ia bisa melihat mantan kekasihnya yang tidak tersenyum sama sekali. Mungkin karena mereka di paksa menikah.
"Ayo Raf, kamu harus sapa dia sama aku." Ajak Rumi.
Saat Rafka bersalaman dengan suami Bella, Rafka biasa saja. Tetapi ketika Rafka hendak bersalaman dengan Bella—Bella tiba-tiba memeluknya—Rumi terkejut karena kejadian ini sangat cepat. Rumi hanya melihat tangan Rafka yang hanya diam tak membalas pelukan itu. Saat Rafka membalas pelukan itu, Rumi akan benar-benar pergi dari sini sendirian.
3 menit, 5 menit mereka berpelukan hingga Bella menangis. Saat itulah Rafka memeluk erat Bella. Merengkuh gadis itu pada pelukannya di depan pacarnya. []
__ADS_1
*