Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
17. I'am be like


__ADS_3

Rafka tertawa. "Ya ampun, kamu tahu dari mana? Astaga, emang nggak salah pilih aku, kamu cerdas banget."


Rumi tersenyum lebar. "Selama aku menjomblo aku belajar banyak hal, belajar kenapa aku kok ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, kenapa aku bego banget kok sampai nggak tahu kalau dia selingkuh. Belajar gimana biar cowok nggak bosan sama kita. Terus gimana biar hubungan itu langgeng. Gitu aja sih, semua itu juga aku bisa mengerti akibat dari menonton drama Korea. Asal kamu tahu setiap malam aku berdo'a semoga kamu selalu sehat dan bahagia sama pacar kamu. Ternyata sebaliknya, hehe."


Rafka memeluk Rumi,"Sekarang, pacar kamu adalah aku, jadi, jangan bahas lagi ya? Btw aku tipikal orang yang mudah bosan Lo... Emang kamu beneran bisa bikin aku nggak bosan? Terus kok kamu suka drama korea?"


"Iya nggak tahu lihat aja nanti, suka banget dong. Oh iya, Rindaman itu siapa? Kamu kok pengen bertarung melawan Rindaman."


Rafka melepas pelukannya lagi dan bertanya heran. "Heh? Tahu dari mana?"


"Hahaha, kamu nggak tahu gimana pro-nya aku sih. Aku tahu dari daftar keinginan kamu, tugas pramuka, ingat?" Rafka ber-oh ria saat mengingatnya. "Aku juga tahu nama ayah kamu, nama ibu kamu, nama adek kamu, alamat rumah, bahkan nomor telepon ayah kamu. Oh iya, ini nomor telepon kamu atau ayah kamu?" Rumi mencari keberadaan ponselnya di tas ransel yang ia lemparkan tadi.


"Kok bisa kamu tahu semuanya?"


Masih mencari ponsel Rumi menoleh ke arah Rafka dan tersenyum,"Kekuatan do'a. Ini coba lihat."


"Ohhh ini nomor ayah, hehe. Kamu kenapa nggak chat beliau aja?" Godanya.


"Instingku mengatakan itu nomor ayah kamu, jadi aku simpan aja." Jelasnya.


"Apa lagi yang kamu tahu?"


Rumi kembali duduk di samping Rafka. "Semua yang kamu tulis di formulir masuk tahun ajaran baru itu aku tahu dan hapal."


"Astaga sungguh bucin pacarku." Rafka menggelengkan kepalanya. Sedangkan Rumi tertawa. "Entah mengapa aku bisa se jatuh cinta ini sama kamu Raf."


"Iya, kamu nggak salah, aku nggak nyalahin. Oh iya, cowok yang nganterin kamu itu... Kenapa deket banget sih."


"Oh dia pemilik cafe tempat aku nyanyi biasanya Raf."


"Lain kali kalau ketemu sama dia, biasa aja ya? Sekarang ada orang yang tingkat cemburunya luar biasa, yaitu aku."


***


"Penantianku setelah sekian lama, akhirnya terkabulkan. Memang benar, kita memang telah di takdirkan untuk bersama. Kuncinya hanya sabar dan yakin." ~Jalaludin Rumi.

__ADS_1


Karena hari ini sepeda motor Rumi belum juga dikembalikan, ia tidak meminta Irfan untuk mengantarkannya. Tetapi, ia nebeng pacarnya yaitu Rafka. Wah, bahagianya setelah sekian lama menjadi bucin akhirnya kesampaian menjadi, tetap jadi bucin sih, bedanya dulu bukan apa-apa sekarang sudah menjadi apa-apanya. Kekasihnya.


"Eh, kenapa sih ini tali pengikat helmnya nggak pernah di pake? Waktu pakai helm merah nggak pernah di pake terus pake helm hitam juga." Ocehnya mengundang tawa Rafka.


"Males aja soalnya nggak bisa napas yang," jelasnya di tambah kata sayang.


Rumi terkejut. "Heh, apa tadi? Astaga deg-degan aku, hehehe."


Lagi, lagi Rafka tertawa. "Udah, ayo! Btw, orang tua kamu?"


"Ayah udah berangkat kerja, ibuku lagi buka tokonya, soalnya kalau beliau nggak kesana nanti anak buahnya lelet."


"Oh gitu, ayo buruan! Mau gimana? Pelan-pelan atau kenceng."


"Terserah lu njjir, kenapa tanya semua?" Akhirnya Rumi bisa ngegas di depan pacarnya.


"Gitu dong ngegas, iam be like."


Saat di perjalanan Rumi membuka kaca helmnya dan bertanya agar Rafka berbicara. "Raf, apa temen-temen lo nanti bakalan heboh?"


Rumi memukul pelan pundak Rafka,"Jangan panggil yang dong... Malu aku tuh. Iya-iya kamunya aku."


"Hehe, aku pengenya panggil sayang aja. Soalnya kalau ribet-ribet dikira udah nikah."


"Iya sayang."


"Heh? Apa tadi? Ulangi coba," pinta Rafka. Melihat reaksi yang terlalu berlebihan itu Rumi memukul-mukul lagi pundak Rafka. "Buruan! Telat njjir!" Padahal jam 7 masih kurang 15 menit lagi. Karena Rafka tidak punya jam tangan, ia dengan cepat menarik gas motor dengan kencang, membuat Rumi memeluknya erat karena kencangnya kebangetan.


Ternyata, ketika berbelok ke pertigaan arah selatan. Rafka bertemu sang ayah yang sedang bertugas, lantas Rumi melepas pelukannya dan tersenyum ke arah ayahnya. Sedangkan, Rafka hanya mengebel 'tin' . "Kenapa tadi di lepas yang?"


"Takut, hehe."


"Nggak apa-apa, ayahku baik. Kapan-kapan aku ajak ke rumah biar ketemu beliau." Ajaknya, Rumi mengangguk. Ketika sampai di tempat parkir Rumi turun dengan biasa lalu tiba-tiba teman Rafka yang paling dekat dengan Rafka datang dari arah timur, sepertinya dia baru sampai.


"Loh Raf kok sama dia? Padahal nanti kalau pulang gue mau bareng."

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa nanti gue anterin dulu terus balik lagi ke sekolah." Jelasnya sambil melepas jaketnya dan helm. Rumi memberikan helmnya untuk di taruh.


"Rafka baik sekali." Batinnya kagum. "Gimana nggak tambah cinta coba?"


Andrea lalu mendekati Rafka,"Dia? Kok bisa?"


Rafka menoleh ke temannya yang wajahnya di penuhi dengan rasa penasaran. "Dia pacar gue ndre, lo nggak kenal?"


"HAH?!" Teriaknya di tempat parkir, sehingga banyak anak yang baru datang menoleh ke arah mereka. Rumi yang mulai tidak nyaman pun memilih untuk ke kelas duluan. "Raf, aku ke kelas dulu ya? Aku ujian di ruangan 16. Bye?"


Rafka tersenyum ke arah pacarnya. "Iya, bye." Ia juga melambaikan tangannya.


"Heh, ayo buruan. Cepetan ceritain." Andrea menarik tangan Rafka dengan tergesa-gesa tidak sabaran. Mereka berdua menuju kelas tempat mereka ujian sambil bercerita tentang kejadian kemarin. Dimana Rafka menjadikan Rumi secara resmi sebagai kekasihnya. Di perjalanan Andrea sesekali tertawa tak percaya. Bisa-bisanya sahabat baiknya ini. Andrea juga tidak menanyakan kabar Bella. Bagus. Karena itu hanya akan merusak suasana.


"Oke Raf, sekarang lo harus tolongin gue." Andrea memeg tangan Rafka memohon-mohon.


Rafka menarik tangannya dan berdecak kesal,"Astaga homo! Iya apa?"


"Cewek gue marah dari minggu lalu sampai sekarang nggak mau maafin gue."


Rafka kemudian memasukkan tangannya ke dalam celana. "Astaga Andrea, kenapa kamu begitu? Masalah gitu aja kamu nggak bisa nyelesain sendiri?"


Andrea menjelaskan. "Begini Raf, cewek gue sekarang itu berubah jadi aneh. Beneran! Dia itu seperti menyembunyikan sesuatu dari gue. Gue maunya dia itu cerita gitu loh, eh dia malah marah."


Rafka berhenti berjalan. "Terus gue harus bantu apa?"


***


"Kak, Agnes? Nama lo Agnes kan?" Tanya Rafka ketika istirahat tiba, Andrea mengawasi dari kejauhan.


Agnes tengah sendirian sambil menggambar sebuah wajah, tapi wajah itu tertutupi oleh tangannya. "Kenapa? Siapa? Oh temannya Andrea ya?" Rafka tersenyum sebagai balasan.


"Kenapa harus lo coba yang ngebujuk gue? Bilangin ke Andrea, besok suruh datang ke rumahku jam 5 sore. Bilangin juga pekanya di tambahin."


Rafka berdiri. "Oke gampang deh. Bye nes."

__ADS_1


__ADS_2