Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
11. Dari Rafka untuk Rumi


__ADS_3

"Tunggu, tapi sepertinya sebelum dia ke parkiran, dia menemui seseorang. Soalnya menurut gue dia berusaha menahan air matanya."


"Maksudnya?"


Rafka nampak berfikir. "Ada seseorang yang mungkin berkata menangislah jangan menahannya seperti orang bodoh, mungkin karena itu dia jadi nangis."


Andrea tersenyum,"Lo mungkin benar tetapi belum tentu juga lo benar. Pokoknya gimanapun lo tetep salah!"


"Kayaknya kesalahan gue bener-bener besar ya? Apa gue harus minta maaf? Argh nggak males banget! Udah argh nggak usah dipikirin bodo amat."


Andrea berdecak,"terserah lo deh! Kayaknya lo juga suka dia deh Raf."


***


Setelah pertemuan Rafka dengannya kemarin, Rumi jadi pendiam seketika—wajar sih dia juga seorang introvert—tetapi hanya 65% saja. Rumi juga sudah tidak menangis lagi karena matanya sudah panas akibat menangis. Kejadian ia dipeluk Cia kemarin di depan perpustakaan lama adalah kejadian yang langka sebeb Cia pacar Kresna sangat membenci Rumi tetapi ternyata gadis itu sangat respect ketika melihat orang yang dibencinya tersakiti.


Kemarin ketika Rumi hendak menuju tempat parkir, dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya karena ia tidak mau dibilang terlalu lemah, Rumi juga tidak kuat untuk menoleh ke belakang memastikan seseorang yang ia sukai namun ternyata berani menghinanya pergi dari tempat itu. Sekarang setelah semua ini Rumi malah semakin menyukai cowok itu. Tidak ada satu pun defenisi yang bisa menjelaskan kenapa ia begitu menyukai cowok tersebut. Senyumnya? Tampangnya? Ataukah sesuatu tersembunyi yang membuat Rumi jatuh sejatuh-jatuhnya kepada cowok itu? Entahlah cinta sulit untuk di defenisikan.


Mendung pagi disertai gerimis menemani Rumi untuk berangkat ke sekolah. Ia tidak peduli jika gerimisnya akan semakin deras sebab ia sudah memakai jas hujan. Jas hujan berwarna hitam menyelimuti badannya yang kedinginan. Ia melepaskan jas hujan miliknya lalu melipatnya. Rumi merapikan rambut pendeknya yang berantakan. Menyisirnya menggunakan jari-jemari dan melihat pantulan dirinya lewat cermin. Beberapa detik kemudian ada seseorang yang memanggilnya namanya.


"Rumi." Kresna berlari menghampiri Rumi.


"Hah? Dari mana lo? Kok tumben?" Rumi yang terkejut karena cowok itu muncul dari belakang kelas 12.


"Biasa." Jelasnya.

__ADS_1


"Biasa maksudnya? LO PACARAN DI BELAKANG KELAS 12?"


"Anjir biasa aja nggak usah ngegas! Iya dong abisnya kangen berat sama cewek gue. Ayo ke kelas bareng." Ajaknya sambil merangkul pundak Rumi.


Rumi beranjak dari motornya, kemudian berjalan mengikuti Kresna. Tidak ada percakapan hingga sampai di depan kelas. Namun, setelah ia tahu kelas masih kosong. Kresna angkat bicara sebelum Rumi masuk. "Rum, lo nggak apa-apa kan? Maksudnya perasaan lo baik-baik aja kan?"


"Pffftt, hwahahahahha. Ada apa sama lo?" Rumi malah tertawa tetapi sebenarnya ia berusaha keras menutupi kesedihannya. Tanpa menunggu timbalan dari Kresna Rumi bergegas masuk ke dalam kelas dan membersihkan kelas, hari ini adalah jadwal piketnya.


Rafka mengawasi pergerakan kelas 11 IPA 2 dari pagi tadi. Ia sebenarnya mengawasi Rumi tetapi gadis itu benar-benar tidak keluar kelas sama sekali. Gadis itu apakah benar-benar tidak bosan berada di dalam kelas? Begitu pikirnya. Ia tadi pagi menukar bangku depan di sebelah pintu sehingga ia bisa mengawasi Rumi dari tempat duduknya. Saat istirahat tiba, teman-temannya keluar dan diikuti Rumi yang berada di baris paling belakang. Rafka dengan segera beranjak bertepatan dengan gurunya yang keluar. Lalu ia berlari mengejar Rumi dan menariknya pelan.


Rumi hanya menoleh sebentar, lalu Rafka memberikan kertas kecil berwarna hijau bertuliskan 'Dari Rafka untuk Rumi' Rumi menerimanya dan tersenyum tanpa bertanya. Rafka tersenyum sebentar lalu pergi kembali ke kelasnya.


Nanti jangan pulang dulu. Mari kita bicara di depan kelasmu saat sudah sepi.


Rumi tersenyum membacanya, ber-ekspetasi tentang Rafka yang akan meminta maaf dan kemudian memintanya menjadi teman. Sungguh mimpi yang menjadi kenyataan. Tetapi, apakah benar seperti itu? Kita lihat saja nanti.


Manusia memang tidak dilarang untuk bermimpi, setinggi apa pun itu. Namun, seharusnya juga diikuti dengan kesadaran diri, sejauh mana mimpi itu berada dan harus ada titik terang agar tidak tersesat saat terjatuh.


Saat pulang sekolah tiba, sesuai shalat Rumi kembali ke kelas. Sudah sepi memang tetapi tidak ada yang mengunci kelas jadi dengan kerendahan hati Rumi mengunci kelas dan membawanya pulang—bodo amat dengan hari esok, ia akan berangkat siang salah sendiri tidak ada yang mau mengunci.


Tiga puluh menit, satu jam, satu jam setengah. Hingga senja mulai terlihat Rafka yang memintanya untuk menunggunya tidak kunjung datang. Rumi berusaha keras untuk tidak pulang, "Akan kutunggu 30 menit lagi." Ucapnya sambil mengecek jam di ponselnya.


"Heh, ngapain lo?"


"Eh, Adi... Kok belum pulang?" Tanya Rumi.

__ADS_1


"Gue kan basket. Ini mana kunci kelas? Biasanya juga gue yang kunci. Lo sendiri? Ngapain? Udah hampir maghrib loh, lebih baik lo pulang deh nanti di cariin mama lo kan kasian." Cerocosnya sampai cairan sucinya traveling kemana-mana.


Rumi melihat kelas 10 IPA 2 yang dari tadi sudah sepi dan tidak ada satu pun anak, lalu ia memutuskan bangkit. "Ini." Diberikannya kunci itu kepada Adi teman sekelasnya. "Gue pulang dulu ya... Bye."


"Bye, hati-hati lo maghrib-maghrib pelan-pelan aja." Cerocosnya lagi sambil melihat Rumi berjalan menuju tempat parkir yang jauhnya 88 langkah kaki.


"Iya-iya." Teriaknya. Temannya yang satu ini jarang banget ngobrol berdua sekalinya ngobrol perhatian juga.


Rumi mendengkus kesal,"Gini tadi kalau gue nyanyi udah dapet banyak duit. Kenapa gue goblok banget sih?" Ia merutuki dirinya sendiri.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama 'IRFAN' di sana. Dengan sigap ia langsung mengangkat teleponnya. "Irfan ada apa?"


"Lo dimana? Lo lupa? Katanya lo mau ikut ini."


Rumi mencoba mengingat sesuatu,"Kayaknya gue emang mau ikut sesuatu tapi lupa. Apa?"


"Sekarang kan lo akan tampil di acara konser musik di lapangan dinawan? Lo bener-bener lupa?"


"ASTAGA!!! GUE LUPA! Oke gue udah bawa baju. Nanti anterin gue mandi bentar, 10 menit gue bakal nyampe! Nggak usah mandi juga gue udah cantik hahaha."


"Bisa-bisanya bercanda di saat genting seperti ini. Setengah jam lagi lo bakalan tampil bego! Lo jangan sampai merusak reputasi gue!"


"Iya-iya dasar bawel! Gue jadiin suami lo lama-lama. Bye." Rumi langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Perjalanan 10 menit yang ia janjikan memang benar jadinya, meskipun jarak yang ia tempuh antara sekolah hingga tempat konser adalah 13km. "Irfannn." Teriaknya memanggil Irfan yang tengah makan bakso.

__ADS_1


"Eum, itu kamar mandi." Tunjuknya sambil menyeruput es teh segar. Rumi langsung berlari menuju kamar mandi. Beruntung juga tadi ia sudah izin kepada ibunya sebelum berangkat sekolah. Ia menjadi mendadak lupa dan bego karena surat kecil dari Rafka tadi. Tetapi, ia tidak menyalahkan cowok itu sebab tetap saja sumber kesalahan ada pada dirinya yang terus-menerus menjadi pengganggu hidup cowok itu.


__ADS_2