
Ketika pulang sekolah tiba Rafka menunggu Rumi di depan perpustakaan, Rafka melihat dari kejauhan, ketika ia melihat pacarnya nanti, ia akan menyusulnya. Rafka juga hendak menanyakan sesuatu kepada Rumi. Tidak lama ia melihat teman-teman Rumi sedangkan Rumi sedang bergurau di baris paling belakang. Melihat itu ia tersenyum lalu berlari menyusul Rumi.
"Hey," Sapanya ketika sampai tepat di samping Rumi.
Rumi tersenyum kepada Rafka, namun Rafka tidak dihiraukan kedatangannya. Rumi masih terus bercerita dan melucu dengan teman-temannya. Karena sabar Rafka menunggu Rumi hingga berpisah dengan teman-temannya di gerbang.
Rumi melambaikan tangan kepada teman-temannya. Lalu menyusul Rafka yang sudah naik ke sepeda motornya.
"Njjir, kamu ngacangin aku tadi..." Rafka mengulurkan helm milik Rumi.
Rumi menerimanya lalu memakainya. "Iya maaf. Kan sayang kalau di potong. Lucu loh cerita yang aku baca kemarin, jadi aku harus berbagi kebahagiaan."
Rafka menyalakan motornya. "Ayo. Kamu harus ceritain aku juga."
Rumi menaiki jok belakang. "Hah? Cerita tadi? Iya nanti pasti aku ceritain. Btw kenapa nggak jalan?"
"Main dulu gimana?" Ajaknya.
"Kemana?"
"Ke rumah Andrea, jadi gini dia minta anterin aku ke rumah pacarnya. Kamu nanti ikut juga kok, dari pada bolak-balik."
Rumi mengangguk-angguk. "Iya udah ayo."
"Oh iya yang, ini penting. Kamu tahu wajah ayah aku dari mana?" Tanyanya lagi.
Rumi tersenyum. "Aku kan sudah bilang, aku tahu semuanya. Bukan hanya nama mereka tetapi juga wajahnya hehehe. Aku juga tahu wajah adek kamu."
"Gimana bisa? Caranya?"
"Aku kan bilang juga kemarin, kekuatan do'a."
'Tiiinnnnn'
"Buruan woy!" Teriak seorang perempuan yang akan keluar tetapi tidak bisa karena terhalang oleh motor Rafka.
Rafka langsung menarik gasnya pelan.
"Do'anya gimana?"
"Aku cuma batin aja sih, ya tuhan aku ingin tahu dia lebih jauh. Eh, pas ke perpustakaan ada data kelas kamu lengkap lagi. Iya udah aku auto jiplak semua."
Rafka tertawa. Mentertawakan Rumi adalah hal yang wajib untuk saat ini. "Kita udah takdir emang." Ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
Rumi hanya diam dan semakin mengeratkan pelukannya.
***
Andrea, Rafka dan Rumi datang tepat pukul 5 sore di rumah Agnes. Rumahnya sangat besar dan sepi. Hanya suara burung cinta yang terdengar sangat ramai. Rumi menggandeng tangan Rafka sejak tadi, karena rasanya nyaman. Andrea mulai mengetok pintu tetapi tidak ada jawaban.
Rumi bertanya karena sangat lama pintu tidak terbuka. "Lo nggak pernah ke sini?"
"Pernah, tapi udah lama nggak ke sini."
"Apa nggak ada bel?"
"Ada. Tetapi di ketok saja, biar lama."
Rafka terheran melihat sikap temannya. "Kok gitu?" Rafka langsung memencet bel yang ada di samping pintu, tidak biasanya Andrea bersikap begitu bodoh. Bahkan saat ini saja Andrea belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri apalagi jika itu masalah hati.
Agnes membuka pintu, ia terlihat begitu kacau. Rambutnya berantakan tak karuan. Bajunya kebesaran dan ia memakai celana pendek sampai tidak terlihat karena tertutup oleh kaos yang di pakainya. Saat melihat pacarnya sikapnya biasa saja. Agnes tidak berusaha merapikan rambutnya. Ia hanya bersedekap. Sepertinya dia sedang kelelahan belajar.
Agnes tiba-tiba berbicara secara kasar kepada Andrea. "Kenapa nggak bisa kesini sendiri sih?! Apa susahnya coba?!"
Suasana rumah Agnes yang begitu sepi seperti tidak berpenghuni, membuat mereka ber-empat hanya saling diam. Setelah Agnes mempersilahkan mereka masuk, Andrea dari tadi sampai sekarang masih menunduk seakan-akan meresapi kesalahannya. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Rumi yang sudah gatal dan tidak tahan dengan suasana ini pun dengan tidak malunya bertanya apakah punya sebuah komputer dan koneksi WI-FI.
"Eum... Nes, ada komputer nggak? Terus ada WI-FI juga nggak? Rasanya kita berdua nggak enak kalau ganggu kalian."
Rafka menarik lengan Rumi. "yang apaan sih?! Anjir cewek gue nggak tahu malu." Bisiknya pelan.
"Ada kok, WI-FI juga ada, sandinya 'aku ulang tahun' komputernya ada di sana."
"Heh?!?" Rumi lagi-lagi berbicara dengan lancang, dengan cepat Rafka menarik Rumi agar pergi ke tempat komputer yang dia inginkan.
"Arghh, kalian bicara deh sekarang. Gue mau main game sama Rumi. Bye!" Pamitnya.
Rafka merangkul pundak Rumi lalu menjitaknya. "Kamu pinter juga kalau soal WI-FI. Emang mau ngapain?"
"Aku harus download episode baru drama Korea, kamu download in ya... Ini ponsel aku. Aku mau main game. Yeay!" Rumi memberikan ponselnya lalu duduk di depan komputer, Rafka yang sabar hanya ikut duduk di samping Rumi sebelumnya ia mencari sebuah kursi. Rumi menuliskan judul drama yang akan di download oleh Rafka serta jumlah episodenya. Rafka yang juga sudah terbiasa mendownload pun bisa dengan mudah. Ia mendownload sambil menonton pacarnya sedang main game.
Rafka melihat pacarnya yang sedang fokus. Sebenarnya, Rumi sangat cantik ketika sedang main game. Meskipun terkadang ia menjadi sangat kesal secara tiba-tiba.
"Rum, hari sabtu kan libur, ke rumahku yuk? Kita main PS 3 di sana, sama adek aku."
Rumi langsung menjawab sambil terus fokus pada layar komputer. "Oke."
***
__ADS_1
Hari ini Rumi di antar pulang oleh Rafka tetapi, Rafka juga mengantar Rumi lagi untuk pergi ke cafe. Rafka langsung pulang karena hari sudah malam, ketika Rumi pulang nanti Rafka menyarankan untuk naik ojek online agar tidak berbahaya.
Rumi menolak secara halus. "Dari pada naik ojek nanti bayar mending minta anterin Irfan aja... Nggak apa-apa kan?"
"Jangan, nggak apa-apa nanti aku orderin."
"Hehehehe iya-iya nggak usah." Rumi mendekatkan wajahnya ke Rafka. Jarak wajah mereka hanya 8 cm.
"Njjir ngapain?!" Tanya Rafka tetapi tidak mengalihkan pandangannya.
"Pikiranmu mesum sekali," Rumi mencubit pipi Rafka. "Aku cuma mau bilang..." Rumi mencubit kedua pipi Rafka. "Jangan makan mulu coy! Lihat ini pipimu njjir kek bapao. Astaga..." Rumi menjauhkan wajahnya kali ini.
Rafka melebarkan kedua matanya, apakah tidak salah. Bukankah Rumi yang pipinya seperti bapao? Tetapi ia diam saja, lalu menyindir. "Aku kira kamu mau bilang apa."
Seakan mengerti Rumi lalu melepas helm Rafka lalu berbisik. "Aku sayang kamu, Rafka gyatama wardhana."
***
Andre tersenyum melihat Agnes sejak tadi, seakan Andre mengerti namun pura-pura tidak mengerti. "Kamu kira aku lupa ya sama hari ulang tahun aku?"
Agnes diam.
Andre kemudian mendekati Agnes lebih dekat. "Jangan marah, aku nggak lupa kok, cuma cari waktu yang tepat aja buat ngungkapinya. Selamat ulang tahun yaa, tambah tua nih."
"Apaann sih, kok tambah tuaa??!!" Agnes tertawa, suasana hatinya berbunga-bunga kembali.
Andre mengeluarkan kado dari tasnya. "Sebenarnya ada 4 kado buat kamu."
Agnes bingung tak percaya. Ia langsung sedikit meninggikan suaranya. "Hah? Kok banyak?!"
"Kamu mau jawaban jujur atau bohong?"
"Dua-duanya deh."
"Yang jujur itu kamu harus belajar sabar, yang bohongnya aku nggak punya uang."
Agnes mengerutkan keningnya. " Nggak kebalik itu?"
Andre menggeleng. "iya emang itu."
"Terus gimana ngasihnya?"
"Ada 4 kan, rencananya mau kasih senin depan, tapi kamu keburu marah, nyampe akunya takut, iya udah hari ini satu, besok lagi satu, setiap hari satu deh."
__ADS_1
Agnes tidak henti-hentinya tersenyum, mendengar ucapan pacarnya yang benar-benar tidak ada habisnya ini.
*