
"Apa ini cemburu?" Batin Rafka sambil memegangi dadanya yang terasa perih. Kemudian Rafka ingat pada serial drama Korea 'bila rasa tak nyaman ini adalah cemburu, maka memang benar aku cemburu' ia jadi merasa ada gunanya juga menonton drama Korea.
Rafka memakai helmnya, ia bisa melihat di luar sekolah, Rumi sudah masuk ke dalam mobil milik pria lain itu. Dengan cepat Rafka menyalakan motornya, ia akan menguntit mereka berdua.
Rafka tidak tahu di mana mobil di depannya ini akan berhenti, tetapi tidak lama mobil itu berhenti di depan rumah ber-cat warna hijau. Ia kemudian berhenti agak jauh untuk memperhatikan pergerakan mereka. Namun, ternyata mobil itu langsung pergi. Dari pada ia hanya bengong di sini tidak mendapat apa-apa, Rafka memutuskan untuk mampir ke rumah Rumi. Bukan mampir, tapi bermain.
Saat Rumi hendak menutup pintu, ia melihat Rafka turun dari motornya sedang di depan rumahnya. Rumi terkejut setengah mati. Ia langsung menaruh tasnya sembarangan, lalu merapikan rambut pendeknya sebentar, lalu dengan cepat berlari ke kamarnya untuk memakai pelembab bibir dan keluar dengan tenang. "Loh kok tahu rumahku?"
Rafka bingung. "E..."
"Iya udah ayo masuk aja..." Ajak Rumi.
Tidak ada angin, tidak ada badai, tidak ada petir dan tidak ada hujan. Rafka tiba-tiba datang ke rumahnya. Bayangkan orang yang kamu sukai tiba-tiba datang ke rumahmu, apa yang akan kalian lakukan?
"Anjir, jujur ya? Ini suasana apaan? Astaga!" Ucap Rumi ceplas-ceplos.
Rafka tengah memikirkan apa yang akan ia katakan. Rafka gugup dengan kata-katanya. Ia bingung. Haruskah ia mengajak gadis di depannya ini pacaran sekarang? Apakah waktunya sudah pas? Ataukah ada yang kurang?
Rafka *** jari-jemarinya. Kemudian, mengigit jemarinya karena merasa panik, namun tiba-tiba Rumi mengajaknya bermain game.
"Sebenarnya, ke sini mau ngapain? Di rumah gue nggak ada orang, jadi ngomong aja... Apa lo mau main game? Gue ada 2 komputer. PS ada sih, tapi lebih enak game online. Yuk?" Ajaknya, karena Rafka bingung jadi ia langsung mengiyakan. Rafka juga lumayan jago kalau soal game online.
Rumi mengajaknya masuk ke dalam kamar, karena komputernya ada di kamar Rumi. "Gimana kalau lo kalah, lo ajak gue jalan-jalan, biar kita bisa kenal lebih jauh. Hahahaha bercanda."
"Oke, kalau gue yang menang, Lo harus nurutin apa yang gue mau." Ucapnya, lalu duduk di tempat yang di tunjuk oleh Rumi. "Kamarnya wangi banget." Batin Rafka.
"Oke, mabar ya, elu jadi musuh? ID gue @adbler. DILARANG KE TEMPAT AMAN! Jangan lupa ambil senjata, bersiaplah untuk kalah. Hehe." Rumi melirik Rafka yang tengah bersiap-siap.
"Apa? Adbler? Jadi, elo. Iya kalau gini, gue pasti kalah dong."
Rumi hendak memakai earphone menoleh. "Kenapa?"
"Elu sih pro itu, uh sedih banget gue, iya udah ayo deh, karena yang lo minta nggak begitu sulit." Rafka menggertakan jari-jemari, melakukan peregangan dan lanjut memakai earphone.
__ADS_1
Jemari Rumi terus menekan keyboard komputer. Ia sangat fokus. Matanya mengikuti alur game. Ia sangat bersemangat untuk bisa jalan-jalan dengan Rafka. Kesempatan yang bagus, tidak boleh di sia-siakan. Tidak lama, salah satu dari mereka berdiri, kemenangan menjadi milik salah satu dari mereka.
"yeay,"
Rafka melompat-lompat bahagia, Rumi merasa kecewa karena ia gagal kali ini. Padahal, biasanya ialah yang menjadi juara. Tapi, melihat Rafka saat ini bahagia kegirangan membuat hatinya benar-benar berbunga-bunga. Ia merasa bahagia saat melihat tawa Rafka yang menggemaskan.
Lagi, lagi ia berusaha menyadarkan dirinya. Rumi kemudian duduk di kasurnya lalu bertanya,"Jadi, gue harus nurutin elo buat apa?"
Rafka menenangkan napasnya yang tersengal-sengal. "lo harus jadi pacar gue!"
Rumi terkejut. Benar-benar terkejut hingga mau pingsan. Ia berdiri. "Tunggu, bukannya elo udah punya pacar? Yang di cafe waktu itu? Sorry ya Raf, gue nggak bisa jadi orang ketiga."
"Gue suka sama lo Rum,"
"Raf, jangan ninggalin orang yang lo sayang, demi orang yang elo suka. Karena rasa suka itu cuma sementara, paling-paling bertahan 4 bulan."
Rumi mendorong Rafka untuk keluar dari kamarnya. "Dengerin gue dulu."
"Apa ini anjir, Raf. Jangan maksa. Jangan bikin hati gue nggak bisa nolak elo."
Rafka mendekapnya erat. "Iya itu mau gue," Rafka mencium dahi Rumi 'cup'.
Rumi memukul-mukul punggung Rafka,"Jangan gitu Rum, elo tahu nggak? Gue habis di selingkuhin sama Bella cewek gue, banyak yang belum elo tahu tentang gue. Jadi, pumpung kita di sini cuma berdua, gue mau cerita semuanya. Gue nggak mau salah pilih lagi, Rum." Rumi berhenti memukul diganti dengan balasan pelukan.
Dasar bucin.
"Hem, elo lucu juga, hehe..." Rafka menambahkan lagi kecupan di dahi Rumi 'cup' sebelum ia melepas pelukannya.
"Selama gue suka sama elo, adegan kayak gini hanya ada di khayalan gue Raf." Kata Rumi.
"Gimana ceritanya elo bisa suka sama gue coba?" Tanyanya sinis.
"Itu rahasia, tapi Raf gue kan lebih tua satu tahun lebih dua hari dari elo. Apa lo nggak apa-apa pacaran sama gue?" Tanyanya.
__ADS_1
"Bagi gue elo hanya wanita. Gue nggak mandang apa pun."
"Anjirr, lo bikin gue malu." Rumi bersembunyi di balik bantal kecil di ruang tamu.
Rafka mendekatkan wajahnya tepat di depan Rumi. "Jadi gimana? Mau nggak?"
"MAU!" Jawabnya spontan.
Rafka tertawa terbahak-bahak. "Sini, uluh-uluh bucin banget sih Rum," Rafka memeluk Rumi erat.
"Btw, ada yang kemakan omongannya sendiri nih." Sindir Rumi.
"Siapa?" Tanya Rafka.
Rumi melepas pelukannya lalu bersedekap. "Kamu."
"Cie, manggilnya kamu cie."
Rumi tersenyum, saat ini ia sama sekali tidak bisa menahan senyumannya,"Jangan gitu dong, coba inget-inget kamu kemakan omongan apa."
Rafka mencoba mengingat-ingat tetapi tidak bisa. "Ih Rafka, kamu pernah bilang nggak suka dilihatin aku, nggak suka aku ganggu loh, kamu juga bilang benci banget sama aku..."
"Ohh yang itu, hehe kamu bener, sekarang aku kena karma." Ucapnya merasa malu.
"Makanya kalau benci sama seseorang itu sewajarnya aja, terus kalau sayang dan cinta sama aku juga sewajarnya aja ya... Hehehe."
Rafka merasa heran, padahal dengan Bella dulu hampir semua rasa sayangnya ia berikan kepada Bella."Kenapa loh?"
"Rafka," Rumi menyentuh kedua pundak cowoknya ini. "Cintai diri kamu sendiri dulu, lebih dari apa pun terus kalau kamu terlalu sayang aku, nanti tuhan cemburu. Kamu tahu kan kalau tuhan cemburu, tuhan bakalan ngapain kamu?"
*
[Jangan lupa tinggalkan vote dan komen ya, untuk membuat author ini semangat:") lagi pengen di semangatin nih]
__ADS_1