
Beberapa menit setelah makanan hampir habis Ayah Rafka bertanya kepada Rumi. "Bagaimana rencana masa depan kamu?"
Rumi terkejut dengan pernyataan itu, tetapi ia berusaha baik-baik saja dan stay cool. "Setelah lulus saya akan bekerja, saya tidak kuliah pak."
Ayah Rafka mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Ayah saya mempunyai banyak hutang setelah saya keluar dari rumah sakit, jadi setelah lulus saya akan bekerja di pabrik saham china, saya akan bekerja selama dua tahun, dari setiap bulan saya menghasilkan tiga setengah juta karena gaji UMR ditambah saya juga akan ikut lembur. Setiap bulan uang gaji saya, saya potong untuk membayar hutang ayah saya yaitu satu juta setengah. Beberapa sisanya saya kumpulkan untuk biaya masa depan saya, setelah kontrak pabrik habis saya akan di perpanjang jika absen saya bagus. Saya akan bekerja lagi selama empat tahun, selama dua tahun sebelumnya saya sudah melunasi hutang ayah saya. Selama menghabiskan kontrak empat tahun saya sudah membuka sebuah usaha, yaitu toko accesoris ponsel. Toko tersebut adalah milik ayah saya yang sekarang sedang di sewakan. Saya akan melanjutkan usaha sampingan ayah saya. Di toko tersebut saya akan membuka lowongan pekerja karena saya yakin toko tersebut semakin besar dan terkenal seiringnya saya berusaha. Jadi, total saya berusaha menjaga absensi bekerja saya selama dua tahun agar saya bisa melanjutkan yang kontrak empat tahun itu."
Ayah Rafka nampak berpikir. "Lalu bagaimana jika kamu sakit."
Rumi menatap Ayah Rafka lalu tersenyum. "Saya harus menjaga tubuh saya agar saya tidak sakit. Tapi jika memang akan sakit, saya harus segera memeriksakannya."
Ayah Rafka melahap nasi terkahir pada sendoknya. "Sebelumnya kamu mau jadi apa?"
"Awalnya saya ingin menjadi guru karena Ibu fiastine lulusan sejarah Indonesia dan kebetulan saya menyukai mata pelajaran tersebut. Kemudian, saya berubah pikiran untuk melanjutkan kedokteran saja karena saya dari jurusan IPA tetapi karena musibah kecelakaan yang membuat saya tersakiti dan saya merasa bersalah karena membuat Ayah saya menyewakan tokonya, beserta isinya, lalu beliau juga berhutang banyak kepada teman-temannya, ouh saya merasa 'wah saya sudah mencekik Ayah saya secara diam-diam' sebenernya Ibu saya juga mempunyai sebuah toko pakaian, tetapi toko tersebut tidak bisa untuk satu-satunya usaha Ayah. Jadi, saya memang berniat untuk bekerja dan membuka usaha, nah daripada memulai lagi dari nol, saya akan melanjutkan toko ponsel, ayah saya."
"Bagaimana jika rencana kamu gagal? Terus kenapa tidak ayah kamu saja yang membayar hutang-hutangnya?"
Rumi berpikir sejenak. "Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yg menentukan. Sematang apa pun kita merencanakan sesuatu, jika Allah tidak bekehendak iya... tidak akan kejadian. Saya tidak ingin menyusahkan beliau di usia yang menginjak masa tua, saya juga sangat menyayangi Ayah saya."
Rafka terkesan mendengar perencanaan Rumi yang benar-benar di luar dugaan. Ibu Rafka juga sangat terkesan saat mendengarnya. Hanya Ayah Rafka yang tidak berekspresi.
Ayah Rafka lalu bersedekap dan berpikir sangat lama. "Kamu hebat, di usia delapan belas saja kamu punya keyakinan yang kuat bahwa rencana kamu akan berhasil. Kamu sangat optimis. Saya sangat terkesan dan menurut saya, kamu sangat cerdas dan berpegang teguh pada keyakinan. Saya mau tanya satu hal lagi, bagaimana pertemuan kisah cinta kalian berdua?"
Rumi mencelus seketika, beberapa detik yang lalu ia merasa lega karena Ayah Rafka menyukai rencananya. Namun, pertanyaan yang terakhir, ia benar-benar tidak bisa menjawabnya. Rumi lalu meminum air putih satu gelas penuh sambil mengode Rafka yang ada di depannya.
__ADS_1
Rafka mengerti dan hanya mengangguk-angguk. "Eung... kami bertemu saat ban motor Rafka bocor dan dia bantuin Rafka, Ayah. Kebetulan waktu itu Rafka tidak membawa uang, jadi Rumi yang membayar semuanya. Awalnya saya jadi mempunyai hutang kepada Rumi, lalu selama dua hari saya menyicil membayar hutang saya. Tetapi, saya tiba-tiba jatuh cinta dengannya. Begitulah ayah." Ayahnya langsung tertawa.
"Beneran?" Ayahnya bertanya di sela-sela tertawa.
"Iya ayah,"Jawab Rafka sambil mengangguk begitu juga dengan Rumi.
Ayahnya lalu bercerita pertemuannya dengan Ibu fiastine. "Ayah dan Ibumu malah bertemu saat Ayah membeli es jus, lalu Ayah tidak membawa uang. Dengan baik hati Ibumu menyuruh Ayah kembali lagi besok untuk membayar, meskipun suaranya meninggi. Cerita kalian berdua hampir mirip dengan Ayah." Rumi sangat terkesan tetapi, Rafka tidak karena sudah mendengarnya.
Seusai Rumi mencuci piring. Ia menghampiri Rafka yang sedang bermain game. "Yuk sini, duduk. Ayah, Ibu sama adek lagi keluar nggak tahu kemana." Ia menunjuk pahanya untuk tempat Rumi duduk.
"Apa-apaan?! Nggak ah, aku duduk di sini, aja." Rumi langsung duduk di kursi belakang Rafka, yang sedikit jauh letaknya.
Rafka berdecak. "Sini kok! Ngeyel amat sih?" Paksanya.
Rumi menolak. "Nggak mau, aku berat. Kamu nggak ingat gitu dulu pernah bilang aku gempal?"
Rumi berguman. "Kata-katamu ambigu."
Rafka lalu mundur dengan kursinya, ia langsung menarik Rumi untuk duduk di pangkuannya. Rumi hanya mengikuti apa mau Rafka. Dalam hati ia tersenyum. "Sekarang, kalau aku berhasil ngekill satu aja kamu harus cium aku, terus kalau aku berhasil menyerang turtle sendiri di level 7 kamu harus cium aku lebih dari kecupan."
Rumi berterus terang. "Ya nggak mau!!! Menyerang turtle di level 7 tapi sebelum menit ke 7 gimana?"
Rafka tersenyum miring. "Oke gampang. Pokoknya kamu harus mau. Hehehe."
"Ya nggak mau, kan di rumah kamu lagi nggak ada orang. Kita nggak boleh gitu." Tukas Rumi.
__ADS_1
"Kata siapa? Penunggu rumah ini kan orang juga dulunya. Lagian kita nggak ngapa-ngapain emang kamu maunya kita ngapain?"
Rumi menolak lagi. "Nggak aku nggak mau."
Rafka mengarahkan kedua tangan Rumi agar melingkar di lehernya. "Kamu menolak tanda setuju." Rafka langsung memulai permainan mobile legend-nya.
"Rafka!!! Maksa ih," Rafka tidak menjawab, ia fokus pada game-nya.
Selama di menit-menit awal, Rafka hanya membunuh minion, junggel, dan kelomang. Lalu, pada level 7 ia menyerang turtle di menit ke 5. Rumi mengerutkan dahi, melihat layar komputer. "Arghhh!" Ia mendesah kesal, karena melihat Rafka berhasil menyerang turtle sendiri.
"Tenang aja, nanti dulu kalau aku udah mulai nge-kill biar plus-plus gitu..."
"Kenapa harus aku, sih?" Ungkapnya yang membuat Rafka melihat wajahnya.
"Terakhir kamu cium aku buat putusin aku, nggak sopan tahu hati aku seneng kamu cium aku, eh tau-taunya." Rumi hanya menyeringai.
Tim Rafka memenangkan permainan. Jumlah ia menge-kill adalah 14. Terbunuh 0 dan ia membantu teman satu tim sebanyak 7 kali. Rumi menatap wajah Rafka yang tersenyum menatap layar komputer, Rumi sama sekali tidak berani menatap layar komputer.
"Lihat coba."
"Aku udah bisa nebak. Aku nggak berani cium kamu." Bisiknya yang kelewat terlalu jujur. Rafka tertawa. "Astaga..." Ia menatap Rumi, wajahnya sangat lucu. Mereka saling bertatapan. "Ayo nggak apa-apa. Nggak berani apa sih? Aku kan pacar kamu? Ayo buruan, kamu udah di pangkuan aku ini udah lama loh,"
"Kamu sendiri yang bilang suka, sekarang kenapa sambat?"
Rafka mematikan komputernya, ia memutar kursinya berbalik. "Itu liat, aku kasian sama kursinya." Ucap Rafka sambil menatap kursi tiga kaki yang tidak terjadi apa-apa pada kursinya.
__ADS_1
Rumi memeluk Rafka, sehingga Rafka menegakkan punggungnya. Gadis itu bersembunyi. "Apa kamu nangis?" Tanyanya tetapi Rumi menggeleng. Rafka mendorong pelan Rumi yang memeluknya. Rafka menyentuh kedua pipi Rumi dan kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
*