Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
38. ENDING


__ADS_3

*Flashback


"Nanti kita ketemuan di mall, malem hari di parkiran bawah! Gue tunggu lo. Lo tahu gue siapa. Dan gue tahu lo siapa."


Malamnya saat Rafka menonton dengan Rumi, Rafka sengaja membiarkan Rumi menonton sendiri agar gadisnya aman. Ia menemui Rama di parkiran. Dengan emosi yang tinggi Rafka langsung menonjok pria itu.


"Pria aneh dan gangguan jiwa." Umpat Rafka.


Rafka terus memukulnya, sampai Rama benar-benar hancur. Rama memang tidak melawan sama sekali. Sangat aneh karena pria itu memintanya bertemu dan hanya memberikan kesempatan untuk Rafka menghancurkan dirinya. Namun, tiba-tiba Rafka di tarik oleh seorang wanita. Wanita tersebut mengecup lehernya sangat lama. Rafka mendorong wanita tersebut tetapi tidak bisa. Tiba-tiba saat sudah selesai, Rama berlari bersama wanita itu. Motif Rama adalah untuk merusak hubungan keduanya. Rafka tidak mengerti apa artinya ini. Tapi saat Rafka menemui Rumi. Gadis itu merasa sakit hati. Hati Rafka benar-benar hancur, ia ingin mengejar Rumi tapi tidak bisa. Jika ia mengejarnya, maka akan semakin sakit hatinya melihat Rumi tersakiti.


Rafka terbaring lemas di uks, beruntung luka-lukanya tidak terlalu parah, hanya saja banyak darah. Rumi menggenggam tangan Rafka yang telah sadar. "Hey, kalau masalahnya mereka kenapa nggak cerita coba? Sekarang aku masih pacar kamu, oke? Masalah kecupan di leher waktu itu nggak apa-apa, aku ngerti kamu pasti ngelakuin sama cewek lain tapi abis itu nyesel kan? Aku nggak peduli."


"Yang, kenapa gitu? Kamu nggak penasaran cerita di baliknya?"


Rumi mencium tangan Rafka. "Nggak nanti hatiku jadi sakit. Aku nggak tahan. Rafka sebenarnya ini prinsip awal diriku saat menyukaimu. Aku tidak peduli apakah kamu membalas perasaanku atau tidak yang terpenting aku selalu bisa melihatmu bersamaku."


"Jangan suka mutusin aku loh, aku beneran nggak biasa waktu kamu bilang gitu. Hati aku itu sakit banget. Aduh masa aku menyakitinya lagi? Aduh apa aku terlalu menyakitinya ya? Aduh apa karena aku di dekatnya aku jadi menyakitinya ya? Aku selalu menanyakan itu saat aku menyakiti kamu, Rum. Aku akan menceritakan kejadian kemarin." Rafka pun menceritakan semuanya dari awal dan Rafka mengerti bagaimana ternyata Rama memiliki nomor ponsel dirinya.


Rafka menunjuk luka merah di lehernya. "Lalu, merah-merah ini namanya cupang?"


Rumi mengangguk. "Aku pernah seperti itu saat sama Rama dulu, maaf harus bilang begini padamu. Jangan pernah percaya apa yang Rama katakan, karena sebagian besar adalah kebohongan."


Rafka berusaha duduk dari tidurannya. Rumi membantunya. "Wah, bibirku sakit banget asli. Merah ya?" Tanya Rafka sambil memegang bibirnya yang tebal dan selalu terlihat merah.


Rumi menyentuh bibir Rafka. "Nggak, bibir kamu seperti biasa."


"Ah, nggak peka!" Rafka ngambek.


Rumi mengerti tetapi, ia berusaha menutupinya. Ya sadar dia karena ini masih di sekolah. "Hah? Maksudnya? Kamu ngambek? Kenapa?"


Rafka memoncongkan bibirnya, Rumi lalu menyentuhnya menggunakan tangan Rafka, lalu ia mengecupnya. "Loh, kenapa gitu?"


"Nanti sakit,"


Rafka merasakan ngilu dan berusaha menahannya. "Yang, aku mau mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Katakan, aku akan mendengarkanmu." Rumi mengangguk lalu, bertopang dagu mendengarkan Rafka.


"Kamu kan pernah nanya nih, kenapa aku sering nggak masuk? Sejujurnya, aku ini pemalas, aku memang tiap malam selalu bermain game untuk menaikkan level dan skill aku saat bermain. Terus, aku juga dulu selalu chatting sama Bella sampai malam karena nungguin dia bales. Tapi, saat aku pacaran sama kamu itu beda banget. Aku sampai heran bagaimana bisa kamu nggak saling kirim pesan denganku heh? Aku tanya kenapa kamu tahan?"


Rumi nampak berpikir. "Kan di sekolah sudah ketemu, terus kita ngobrol setiap istirahat atau pulang. Nah, buat apa pas malem chatting lagi? Kamu tahu kan aku juga sibuk kerja kalau malem, kadang sih."


"Kamu nggak kangen?"


"Tentu saja aku selalu merindukanmu."


"Terus? Aku mau chatting kamu tapi takut ganggu, kalau aku nungguin kamu, kamu nggak bakal ngirim pesan. Jahat banget gituloh kamunya."


Rumi tertawa. "Chatting aja, aku balas kok. Aku juga rindu tahu. Terus apa lagi?"


"Hemm, aku kan pemalas, kalau emang di sekolah benar-benar nggak ada pelajaran iya udah aku nggak sekolah. Terus sekarang, buat nggak sekolah itu sayang banget hehehe."


"Iya sih. Nanti malam jalan yuk? Aku pengen makan di luar sama kamu." Ajaknya, Rumi langsung mengangguk.


Malamnya mereka berdua membeli Bakso. Rafka memakai Hoodie yang di berikan oleh Rumi, Rumi juga begitu.


"Aku makan di sini aja, di sampingmu."


Rafka tersenyum dan mengangguk sambil merapikan poni Rumi. "Perasaan, sejak kita pacaran kamu kok jadi tambah cantik?" Rumi tidak menjawab, ia hanya tersenyum.


Selesai mereka membeli bakso. Rafka mampir di tepi gunung. "Itu lihat, depan kita itu namanya gunung penanggungan."


"Sudah tahu saya," Jawab Rumi. Mereka berdua berjejer menatap gunung di malam hari. Hanya gelap, namun ada suasana romantis sedikit.


Rumi lalu memeluk Rafka dari belakang. "Heran deh, kamu tinggi banget ya. Masa aku yang lebih tua kalah?"


Rafka menggenggam tangan Rumi yang di perutnya. "Coba panggil aku mas,"


Tanpa menolak Rumi langsung memanggilnya mas, karena ia juga sejak dulu ingin memanggilnya mas. "Mas, aku sayang kowe mas, ojok tinggalke aku ngge?" (Kak, aku sayang kamu, jangan tinggalkan aku ya?)


"Nggeh dek, mas nggeh sayang pean." (Iya dek, kakak juga sayang kamu.) Mereka berdua langsung tertawa karena sangat lucu menurut mereka.

__ADS_1


Kebahagiaan akan selalu datang setelah beberapa kesedihan. Ibaratnya kita meminum sebuah obat, obat itu kan terasa pahit, tapi kita harus menelannya agar kita sembuh. Begitu juga pahitnya hidup, kita juga harus menelannya agar kita segera bertemu kebahagiaan.


***


*Tambah kisahnya Agnes dan Andre Yap:)


"Eh, Rum. Dengerin gue bentar deh. Ini tentang gue sama Andre," Agnes memegang lengan Rumi saat Rumi sedang membaca novel.


"Iya-iya. Apa sih?" Tanyanya antusias.


"Kemarin gue kan habis teleponan nih sama si Andre, jujur sih selama kita pacaran nggak pernah banget teleponan."


"Hah? Gila apa?! Gue yang nggak lengkap satu bulan aja udah sering telepon, lah lu yang udah lama?" Rumi tertawa tak percaya.


"Beneran! Terus kemarin dia itu nunggu ada sinyal gitu, iya udah terus kita telepon, tiba-tiba dia nggak ada sinyal. Lah itu bertepatan ketika mama gue masuk kamar terus matiin WI-FI."


"Hahahaha KASIHANN!"


"Ya gitu,,, nggak jadi teleponan sampai tadi pagi. Sedih akutuh."


[Tamat]


Alhamdulillah cerita telah selesai:)


*Gimana nih, endingnya? Sejujurnya saya nggak pandai bikin ending, karena kalau saya menciptakan suatu karya selalu menyangkut pautkan sama kehidupan pribadi, Maksud saya ibaratnya, jika cerita ini sad ending saya benar-benar takut itu akan terjadi di kehidupan nyata saya pribadi, karena saya memiliki trauma berat tentang masalah seperti ini, hehehe. Jadi, mohon maklum.


Sejujurnya saya nggak mau cerita ini tamat, saya ingin cerita ini berlanjut sampai Rafka dan Rumi menikah, dan sampai Rama benar-benar hancur. Tetapi cerita ini sudah terlalu overdosis kata. Jadi, sekian sampai di sini.


Terima kasih, buat yang sudah baca cerita saya, kebaikan kalian akan di balas oleh ALLAH SWT. 


Saya yang bernama samaran Afsen, mohon maaf sebesar-besarnya, bila cerita ini terlalu berantakan dan membuat mata kalian ngilu. Saya hanya ingin berkarya dan menuliskan isi hati dan mengekspresikan diri saya di sini. Saya sama sekali tidak berniat untuk menerbitkan cerita ini, tetapi bila masih ada umur dan dukungan saya akan menerbitkannya bila Allah menghendaki.


TERIMA KASIH GAES, SEE YOU.


JANGAN LUPA CINTAI DIRI KALIAN:*

__ADS_1


__ADS_2