Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
02. Bertengkar


__ADS_3

Deg


Rumi menyentuh dadanya yang sedikit perih,"Maksud lo? Iri apa?"


Cia berjalan mendekati Rumi dan menunjuknya tepat di bawah pundak, Rumi menahan sakit karena tekanan yang di berikan oleh jari Cia semakin dalam. "Lo deketin cowok gue mulu tiap hari. Maka dari itu dia godain lo terus dasar centil!"


Deya, Jiyan dan Jihan berlari menuju temannya yang tertinggal dan sedang di rundung oleh geng Cia. "Woi maksud lo apa ngerundung orang yang lagi sendirian?!" Deya datang dan mendorong Cia.


"Eh gue peringatin sama lo bertiga, yang baru dateng ini, jaga ini temen bego lo, biar nggak centil sama cowok gue." Cia menyeruduk Deya dan mendorong kepala Rumi. Anehnya Rumi hanya diam. Iya mau bagaimana lagi, Kresna adalah teman sebangkunya yang tidak bisa diganggu gugat hingga kenaikan kelas nanti karena ini peraturan ibu wali kelas jadi yang pasti Kresna akan selalu jahil kepada Rumi.


Jiyan dan Jihan yang tadinya diam saja langsung menyerang Cia dan keempat temannya. Mereka akhirnya bertengkar saling menjambak rambut. Rumi tidak melawan ia hanya membalas apa yang dilakukan Cia kepadanya sangat tidak wajar.


"Brengsek lo!" Umpatnya kepada Cia. Akhirnya, ia bisa mengumpat.


Melihat perkelahian ini banyak kelas 11 keluar kelas untuk melihat mereka, teman sekelas Rumi saat tahu tentang hal tersebut berlari untuk melerai pertikaian antara mereka. Kresna yang tadinya minum air yang baru ia ambil dari tas Rumi pun tidak jadi dan langsung berlari karena melihat pacarnya yang tengah menjambak rambut Rumi.


"Brengsek! ***! lepasin anjing!" Deya yang terduduk sampai terjatuh dan berguling-guling sedang bertengkar dengan Gey teman Cia.


"Cia hentikan!" Hampir saja Kresna sampai, namun guru BK sudah datang dan menengahi perkelahian ini yang akhirnya mereka di seret ke ruang BK.


"Bu bukan saya, Rumi yang mulai bu." Bu Wulan menjewer telinga Cia dan Rumi sampai menuju ruang BK dengan dilihat banyak adik kelas dan kakak kelas, betapa malunya mereka sekarang. Sedangkan sisanya di jewer oleh guru BK yang lain.


"Bisa-bisanya ya lo nyalahin gue. Mau gue replay biar jelas?" Tolak Rumi tidak terima.


"Bisa diem nggak kalian, kalau nggak kalian ibu hukum skorsing satu bulan!" Dengan kata-kata itu Cia dan Rumi berhasil diam.


Sesampainya di ruang BK Rumi dan Cia duduk berdampingan. Teman-temannya yang lain pun begitu, duduk berdampingan dengan lawan bertengkarnya tadi. Bu Wulan membawa penggaris kayu yang panjangnya kurang lebih 1 ½ meter


Bu Wulan mondar-mandir. "4 Orang gadis anak IPA dan 5 orang gadis anak IPS. Ini tadi ada yang 1 lawan 2 dong?"


"Iya bu." Jawab serempak.


"Siapa?"


"Saya bu Jiyan, saya di pukul di mata dan pipi." Sudah terlihat jelas pada wajah Jiyan yang babak belur.

__ADS_1


"Siapa yang mukul?"


"Saya bu Afer sama Reka bu."


"Apa masalahnya?"


Akhirnya Rumi menjelaskan masalah yang ia alami meskipun sesekali Cia menyela dan menolak tentang cerita yang sebenarnya terjadi.


"Kalian ini sudah dewasa, bisa-bisanya ya bertengkar seperti anak kecil. Dan permasalahannya sepele sekali. Hukuman tetap hukuman. Kalian ibu poin namun masih ada hukuman lain."


Sontak 9 Anak tersebut mengangkat kepalanya, "Apa bu?" Tanyanya pula secara bersamaan.


"Untuk pihak yang di rugikan, 4 anak ini kalian membersihkan perpustakaan selama 4 bulan! Dan pihak yang merugikan 5 anak ini setiap hari membersihkan masjid bagian tempat wudhu, kantor guru dan ruangan TU selama 2 bulan dan kalian tidak wajib untuk piket kelas. Setiap pagi perpustakaan, masjid bagian tempat wudhu, kantor guru dan ruangan TU harus bersih. Untuk perpustakaan kalian harus merapikan buku-buku ke tempat semula."


"Apa?! Bu tidak adil bu." Teriakan itu bersalah dari 5 anak yang tidak terima.


"Adil dong. Kalian berlima kan selama 2 bulan sedangkan 4 anak ini 4 bulan." Bu Wulan kembali ke tempat duduknya. "Setelah piket kalian harus absen di saya setiap pagi."


Dalam hati Rumi dan teman-temannya merasa lega karena hanya perpustakaan, tetapi mereka belum tahu kenyataan betapa lebar dan berapa tingkat perpustakaan milik sekolahnya ini, sebab sejak perpustakaan yang baru ini di bangun mereka tidak pernah berkunjung kesana karena sangat ramai.


"Ada apa gaes, uohh Jiyanku kamu kenapa aduh sayangku." Firaz si cowok yang tergila-gila dengan Jiyan bertanya dengan sangat alay sampai terlihat sangat khawatir.


"Ih jijik banget, gue nggak apa-apa. Besok juga hilang ini memar."


"Rumi pinjam sisir dong."


Rumi yang sedang menyisir rambutnya yang pendek menoleh dan memberikan sisirnya. "Arghh rambut gue rasanya rontok semua. Gila!"


Kresna yang tengah bermain ponsel bertanya. "Rum ada apa tadi?"


Rumi mengambil botolnya dan meminumnya sebentar lalu menutupnya dan mendobraknya ke meja. "TANYAIN SANA SAMA CEWEK LO YANG KEKANAKAN ITU!"


"Gitu dong ngegas." Rega cowok yang duduk di belakangnya menunjukkan 2 jempol kepada Rumi.


"Maafin gue Rum, gue mewakili cewek gue."

__ADS_1


Rumi mengangguk dan duduk lalu mendorong Kresna agar pergi, "Sana pergi lo jangan deket-deket gue, gue mau makan entar nggak nafsu gara-gara lihat lo!"


"Apa salahnya coba?"


Rumi melirik. "Kalau lo tetap di sini ketika gue makan itu sama aja gue lagi makan sama cewek lo itu udah pergi aja sebentar sana ke belakang kek."


Kresna tersenyum. "nggak mau! Gue nungguin lo tauk. Gue laper mau ikut makan."


"Kebiasaan banget, serah deh!" Rumi berdiri dan pergi keluar kelas. Meskipun banyak orang berlalu-lalang ia akan berusaha menghabiskan makanannya di sini sendirian.


"Rum! Rumi!!!"


"Apa lagi?" Jawabnya dengan mulut yang penuh.


"Hehehehe biasa aja kali, ini gue mau nemenin lo makan." Ucap Deya sambil membawa bekalnya.


"Eh btw itu cowok yang lo suka juga makan di depan."


Rumi menghentikan makannya dan melihat cowok yang di maksud, benar juga. "Arghh lagi makan tetap juga ganteng."


Deya terkekeh.


***


Esoknya sesuai janji Jiyan, Jihan dan Deya sudah sampai di perpustakaan pukul 6:15.


"Gila juga ini perpus, padahal udah ada tulisan 'kembalikan kembali buku setelah digunakan' masih aja berantakan. Ini juga kenapa sih ini perpustakaan besar banget." Jiyan yang baru juga masuk sudah mengoceh.


"Udah ayo buruan, Jiyan sama Jihan lantai atas, gue sama Deya lantai bawah. Oke?"


"Berangkat! Fighting!" Deya menyemangati.


Rumi membereskan buku-buku yang berserakan dimana-mana serta mengelap kaca dan meja-meja yang sangat kotor. Sedangkan Deya menyapu. Jadi, lebih baik mengelap atau menyapu?


"Aku harap bisa melihat wajahnya untuk saat ini. Arghh gimana bisa aku jatuh cinta secepat ini?" Rumi berkata kepada diri sendiri. Saat SMP ia bertemu dengan cinta pertamanya tetapi, cinta pertamanya jatuh cinta dengan sahabat baiknya. Lalu, ia bertemu cinta kedua dan berpacaran selama 2 tahun tetapi berakhir tragis karena Rumi mencintai, merindukan dan berpacaran sendirian tanpa adanya balasan. Berbulan-bulan ia tersakiti dan berusaha move on dari cinta keduanya lalu bertemulah ia dengan cinta ketiga tetapi ia berpisah tanpa adanya ungkapan perpisahannya dengan kakak kelas yang ia sukai selama setengah tahun.

__ADS_1


__ADS_2