Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
31. Membela


__ADS_3

Rafka memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan. "Saya tidak akan keluar dari rumah, dan saya juga tidak akan memilih keduanya. Karena semua punya bagian-bagiannya ayah. Bagian pertama keluarga, saya memilih Ayah, Ibu, dan Adik saya sebagai keluarga. Bagian kedua teman, saya memilih semua orang sebagai teman saya, bahkan seorang bajingan sekalipun akan saya jadikan teman. Bagian ketiga adalah kekasih, saya memilih Rumi karena itu adalah hak saya memilih siapa yang akan menemani saya sampai saya beristirahat dengan tenang di alam kubur. Semua punya bagian-bagiannya dan jangan pernah mengatur seluruh kehidupan saya Ayah, Rafka sudah besar, tolong jangan terlalu mengatur ataupun ikut campur dalam kehidupan pribadi Rafka, Ayah. Masa depan Rafka tetap yang pertama, namun jika partner Rafka ayah suruh pergi? Bagaimana kelanjutan Rafka, Ayah. Ayah... dia baru saja sembuh beberapa waktu yang lalu dan sekarang Ayah menyakiti hatinya saat ia akan menghadapi ujian. Dia butuh saya, Ayah. Tetapi, dia terlalu penurut dan dengan kalimat ayah kemarin, dia meninggalkan saya sekarang. Saya tahu dia sangat mencintai saya. Ayah... tidak semua hal ayah bisa rubah." Napasnya tersengal-sengal karena terlalu banyak kalimat yang ia lontarkan.


Ayahnya mengangguk. "Baiklah, Ayah tidak akan ikut campur. Tapi perhatikan masa depanmu baik-baik? Oke? Besok bawa gadis itu kemari, Ayah harus bicara kepadanya, Ayah tidak akan menyakitinya,"


Rafka mengangguk. "Rafka tidak bisa janji Ayah, karena dia sudah menghindari Rafka sejauh-jauhnya."


"Bawa saja jika dia sudah kembali padamu." Jelas Ayahnya.


***


Rafka bisa melihat Rumi yang menatap Kresna dengan wajah ketakutan. Ia sampai hafal dengan wajah itu, biasanya ia menatap Andrea dengan wajah bahagia karena di belakang Andrea ada dirinya tetapi, sekarang wajahnya ketakutan. Rafka tertawa dalam hati. Akan butuh waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi untuk mendapatkan gadis itu kembali. Ia sudah bisa menebak bahwa Rumi bersembunyi di balik pintu, akhirnya ia berbalik lalu menatap Rumi sambil tersenyum. Gadis itu terkejut karena ketahuan ingin melihat wajahnya.


Sorenya ia berkunjung ke rumah gadis yang ia kejar-kejar. Kenapa harus ada kejar mengejar jika bersatu saja semudah itu? Karena kita harus tahu perjuangan seseorang akan bertahan sampai kapan. Namun, bisa-bisanya ada seorang Irfan di rumah ini. Dengan terpaksa ia pun masuk, meskipun sudah Rumi suruh pulang. "Pulang aja deh kamu,"


Tetapi, Rafka tetap stay di tempat. "Rumahmu masih luas untuk tempatku duduk."


Irfan yang sedang bermain game tertawa. Rafka langsung masuk ke ruang tamu, namun Rumi menyeretnya keluar. "Rumi kita perlu bicara. Kita harus bicara!"


Rumi bertanya. "Apa lagi yang perlu dibicarakan? Aku mencintaimu? Rafka, aku sudah tidak mencintaimu karena kamu jelek!" Rumi langsung masuk ke dalam rumahnya.


Rafka tercengang mendengar kalimat 'kamu jelek' ia langsung menarik tangan Rumi hingga berbalik menghadap dirinya, Rafka langsung mendekapnya. "Iya udah sekarang aku jelek nggak apa-apa, tapi kamu masih berdebar-debar saat kupeluk, ini artinya kamu masih mencintaiku." Rumi berusaha melepas pelukannya, tetapi Rafka terlalu keras berat untuk ia lepaskan.

__ADS_1


Rumi mengalah karena lelah. "Oke kamu boleh peluk kakak kelasmu ini, tapi jangan melakukan sesuatu yang akan membuatku marah!!!"


Seakan-akan mengerti Rafka menggodanya. "Jadi, kamu mau lebih dari ini?"


  ***


Rumi sebenarnya bahagia saat ia tahu Rafka berkunjung ke rumahnya, meskipun ada Irfan yang sedang butuh energi dengan bermain game. Rumi juga sangat bahagia ketika Rafka memeluk dirinya. Tetapi, di samping kebahagiaan itu hatinya terasa tertusuk-tusuk oleh pisau seorang psikopat.


"Maaf Rafka, tapi aku mohon tolong menjauh dariku. Aku harus menuruti apa kata Ayah kamu." Rumi melepaskan pelukan itu dengan mudah karena Rafka membiarkannya.


Rafka tersenyum. "Ayah tidak bermasalah dengan kita Rum, ia ingin berbicara denganmu."


"Tidak, aku takut. Hatiku sudah sangat sakit karena kata-katanya terakhir kali, aku tidak percaya lagi. Tolong pergilah, jangan mendekatiku lagi, kamu harus 5 meter jauhnya dariku. Jika tidak aku akan semakin jauh lebih dari kilometer. Jangan pernah menatapku, menyapaku, tersenyum padaku, peduli padaku. Berhentilah karena sejak kemarin kamu hanyalah seorang adik kelasku."


"Aku tidak mau."


Rafka memaksanya. "Ayolah, nanti kita bisa sama-sama lagi. Aku sudah bilang kepada Ayahku, bahwa aku tidak bisa bertahan dalam keterpurukan masa depan tanpa adanya dirimu."


"Apa pun yang sudah kamu usahakan kepada Ayahmu, aku tetap tidak mau, dalam menjelajahi masa depan tentu saja kamu harus bertahan seorang diri dalam waktu yang sulit."


"Oke kalau itu maumu, aku tidak akan memaksamu lagi." Rafka langsung meninggalkan rumah Rumi.

__ADS_1


"Raf, jangan pergi dong. Paksa aku lagi. Jadilah pemaksa yang handal untuk saat ini. Raf, berhenti, jangan pergi dari rumahku." Rumi hanya membatin, ia melihat kepergian Rafka lalu menangis saat itu juga. "Kenapa aku bodoh sekali? Huhuhu maafkan aku."


Irfan keluar dan langsung membawa gadis itu ke dalam rumah. "Eh, lo kenapa anjir. Ada apa sama hubungan kalian sebenarnya?"


Akhirnya Rumi menceritakan masalahnya kepada Irfan. Sedangkan respon Irfan. "Terus kenapa lo bego banget nggak mau ke rumahnya?"


Rumi menggeleng. "Sebenarnya, gue masih takut sama Ayahnya. Jadi, kalau hati gue bener-bener udah siap. Gue mau."


Irfan menggeleng. "Kalau nunggu hati lo siap itu kapan? Ini kesempatan untuk lo, Rum."


"Lo benar, gue mau."


***


Keesokan harinya ujian sudah selesai, sekarang hanya menunggu hasilnya keluar. Rumi lega dan bahagia karena otaknya sudah berfungsi dengan baik. Ia langsung mencari keberadaan Rafka, karena sekarang sedang istirahat. Rumi seharusnya pulang, tetapi ia akan menemui Rafka terlebih dahulu. Tetapi, saat ia mencari di kelasnya ia tidak bertemu dengannya. Ia mencari ke seluruh penjuru sekolah, dan akhirnya ia terpikirkan satu hal. Tempat parkir. Ia mencari motor Rafka tetapi tidak ada, cowok itu tidak masuk sekolah. Rumi langsung mengecek WhatsApp miliknya dan melihat story Rafka yang belum ia buka dari kemarin. Story terakhir cowok itu adalah foto dirinya yang sedang sendirian menatap langit malam, jadi wajahnya tidak terlihat.


"Maksudnya apa?" Rumi bingung, tidak biasanya ia membuat story aneh dan sulit dimengerti ini. Rumi lalu mengezoom foto itu dan ternyata ada tulisan yang warnanya berbeda sedikit dengan foto gelap itu. Tulisannya 'I love you, but I hate you. Rumi'


Mempunyai mata yang tajam memang sangat berguna. Lalu, ia akhirnya duduk di dekat parkiran, sambil melamun frustasi. Namun, tiba-tiba ia terkejut karena ponselnya bergetar. Ia menelpon Rafka.


"Hoo, nggak ini kesalahan! Ini kesalahan!" Ia menatap ponselnya dengan rasa malu.

__ADS_1


  *


__ADS_2