Why Does Rafka Hate Rumi?

Why Does Rafka Hate Rumi?
15. Pernikahan


__ADS_3

Sesampainya di tempat pernikahan Katara. Gedung pernikahan yang megah dan tentu saja sangat ramai dengan ribuan orang-orang penting. Rumi berjalan sambil ***-remas tangannya karena gugup, lalu Irfan dari belakang datang menggandeng tangan Rumi. Irfan tersenyum,"Lo harus bikin gue kagum."


Rumi mendekat dan berbisik,"Tenang aja bos."


Dari kejauhan mereka berdua bisa melihat dengan jelas sepasang pengantin baru yang terlihat sangat bahagia. "Sepertinya, suami Katara sangat kaya." Ucap Rumi, namun Irfan hanya diam menatap gadis yang dicintainya menikah dengan laki-laki lain.


Ketika mereka saling bertemu di pelaminan, Rumi tersenyum saat bersalaman dengan Katara. Tetapi tidak dengan Irfan, jika dilihat rasanya Irfan seperti ingin memeluk Katara di sini sekarang. Rumi menggenggam erat tangan Irfan, dan mengajaknya untuk turun. "Ayo turun, jangan dilihat terus."


Rumi mengambil banyak makanan dan minuman, lalu ikut duduk berdampingan dengan Irfan. "Gue laper banget, jadi wajar. Pumpung gratis juga." Irfan hanya tersenyum.


"Fan, lo nggak nangis kan?" Tanya Rumi sambil memakan kue basah.


"Maunya sih begitu, tapi gue ngerti kalau elo sekarang, di sini berperan sebagai cewek gue. Jadi, gue nggak mau nangis."


"Ikut gue," Rumi menarik Irfan agar mengekorinya. Irfan mengikuti tanpa menolak.


Rumi mengajak Irfan naik sampai ke atap gedung. Begitu mereka sampai Rumi melanjutkan makannya. "Lo ke sini ngajak gue cuma buat makan?"


"Udah nangis aja di sini. Gue juga tadi bawa tisu. Kalau mau nangis ya, nangis aja, kalau di tahan nanti sakit fan—" Irfan tiba-tiba memeluk Rumi.


"Huhuhu, Rum kenapa? Kenapa dia sama sekali nggak ngerasa bersalah? Kenapa dia nggak mau ngeliat wajah gue kenapa...?" Rumi membalas pelukan Irfan.


"Hmm, hmm, yang tenang ya Fan. Di sini ada gue yang siap nemenin elo."


Irfan semakin memeluk erat-erat tubuh Rumi.


***


Untuk menceritakan bagaimana keadaan Rafka sekarang itu adalah hal sangat yang sulit. Sebab patah hati Rafka benar-benar sangat membuatnya lemas, tidak terasa lapar, mood buruk dan gangguan kesehatan. Bagaimana tidak, orang yang kamu sayangi telah berselingkuh, lalu melakukan hubungan asusila pula. Mungkin karena ia dulu memaksakan Bella untuk menjadi pacarnya, maka dari itu hasilnya menjadi tidak baik. Karena sesuatu yang di paksakan bukanlah hal yang baik untuk kedepannya.


Hari ini ia terpaksa masuk sekolah, karena ada ulangan yang benar-benar bisa membuat nilainya hancur jika ia mengerjakannya menyusul di kantor guru. Setelah liburan hari minggu kemarin ia sangat lelah dan pegal karena seharian ia hanya berbaring di kasur yang sama sekali nggak mau ditinggalin.

__ADS_1


Rafka sudah tidak mau lagi mendengar kabar dari Bella. Meskipun hubungan keduanya masih terjalin sampai sekarang. Rafka harap Bella mengerti, setelah perbuatan bejatnya Bella seharusnya mengerti bagaimana kelanjutan hubungan mereka yaitu berpisah. Pasti.


Seperti biasa sesampainya di tempat parkir. Rafka melepas jaket hitam yang terbalut pada tubuhnya agar terasa hangat. Jaket ini selalu setia menghangatkan tubuhnya setiap berangkat sekolah. Ia memasukkan jaketnya pada jok motornya. Merangsel tasnya lalu mencabut kunci motornya dan berjalan menuju kelas. Selama perjalanan Rafka berjalan layaknya seekor siput. Ini akan menjadi hari yang benar-benar buruk untuknya, sebab untuk belajar saat ini suasana hatinya kurang mendukung. Ketika sampai di kelokan, Rafka berjalan beriringan dengan seseorang yang dari arah lurus di belakangnya. Ternyata dia adalah Rumi.


"Hai." Sapa Rumi sambil tersenyum menunjukkan gigi ginsulnya yang manis.


Rafka tersenyum.


OMG!!! Rafka benar-benar tersenyum. Moodnya menjadi sangat baik ketika bertemu Rumi. "Oh hai." Balasnya.


Meski jantung Rumi berdebar-debar kencang ia tetap berusaha bersikap biasa saja,"Kebetulan yang sangat jarang terjadi, hehe." Kata Rumi.


Rafka tertawa. "Iya, benar juga."


Hanya delapan langkah Rumi sudah sampai di kelasnya,"Duluan ya... Bye?" Rafka mengangguk sambil tersenyum menunjukkan gigi kelincinya.


"Kayaknya kejadian di perpustakaan bukan mimpi..." Batin Rumi.


***


"Bukan begitu, ini gue kagak ngarti sama pelajarannya Kres, gimana dong? Dari pada gue belajar mati-matian nanti nggak ada yang keluar? Disitu sakit banget dong." Ucap Rumi mengeles.


"Tapi kan—" Belum selesai Kresna berbicara Rumi memotong pembicaraannya.


"Udah dulu ya, pacar gue yang paling ganteng udah dateng, bye!" Bukan pacarnya sih. Lebih tepatnya Irfan.


"Abis telepon siapa?" Tanyanya.


"Kresna, eh di depan ada Ayah kan?"


"Iya, tadi gue ngomong bentar sama beliau, btw lo nggak belajar? Bukannya besok senin?"

__ADS_1


Rumi mengernyitkan."Senin? Masa sih? Bukannya sekarang masih sabtu ya?"


Irfan tertawa melihat tingkah bodoh Rumi,"Lu bego banget sih anjir... Ayo belajar, gue temenin. Meski gue begini tapi gue masih inget mata pelajaran 2 tahun lalu." Ucapnya bullshit.


Rumi tersenyum ramah. "Terus alesan lo ke rumah gue cuma buat nemenin gue belajar?" Irfan menggeleng sambil bermain ponsel.


Rumi membuka bukunya,"Lah, terus?"


Irfan menatap Rumi dan mengabaikan ponselnya. "Kangen."


***


Duduk di kursi panas ujian adalah hal yang memusingkan, membosankan, mengesalkan dan menakutkan. Satu jam setengah Rumi menatap soal itu tanpa bergerak dan hanya mengatakan. "Heh?"


Beruntung Kresna duduk tepat di belakangnya, ia akan menunggu waktu ujian ketika tersisa 20 menit lagi. Pasti sekarang Kresna belum selesai. Tetapi, tiba-tiba Kresna berbisik. "Hey, penggaris dong." Dengan cepat penggaris datang dan Rumi menoleh ke belakang. Menyalin semua jawaban dengan cepat. Kecepatan saat mencontek adalah hal yang penting. Kresna hanya menatap Rumi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ckckck. Buruan!!!" Titahnya.


"Yossaa!!! Sudah bos, terima kasih..." Ucapnya lalu kembali bersantai menunggu waktu ujian habis. Pengawas ujian sedang asyik menonton drama Korea karena pengawasnya seorang k-drama, k-popers dan ditambah dengan Wibu akut. Pengawas yang satu ini sungguh-sungguh anti-mainstream. Pengawas ujian ini adalah guru Bahasa Jepang. Guru favorit Rumi yang baik.


"Rum, ini penggaris lo." Kresna mengulurkan penggaris padanya. "Lo nggak nyalin yang gambar?"


"Nggak usah, repot-repotin tangan gue, takutnya juga nanti nilai gue jadi lebih bagus dari pada elo."


Kresna menarik napas. "Iya wes tenanan loh ya?" (Iya beneran loh ya?) Rumi membalas dengan jari berlubang.


"Ntar pelajaran sejarah, contekin gua." Tambahnya lagi.


"Oke beres!"


***


Hari ini Rumi berangkat di antar oleh Irfan. Terlihat Irfan tersenyum sambil menunggunya di gerbang sekolah. Rumi terpaksa untuk memintanya mengantar, karena sepeda motornya tiba-tiba di pinjam pamannya. Kejadian itu seperti sudah di setting. Rumi melambai,"Hai."

__ADS_1


Rafka yang sedang menuju parkiran melihat Rumi yang melambaikan tangan kepada laki-laki lain. Lebih mudah menyebutnya seperti itu. Rafka menatap sinis percakapan mereka berdua hingga Rumi merasa peka ada yang sedang memperhatikannya. Tepat saat menoleh mata mereka bertemu. Rumi tersenyum ke arah Rafka—namun tidak dengan Rafka.


__ADS_2