
"Mungkin memang benar tuhan menakdirkan dia untukmu. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti di masa depan "-Jalaludin Rumi.
Fisika di pagi hari serasa nonton film horor, di mana terjadi senam jantung, mata yang sembab melawan kantuk serta otak harus membuat memori internal lebih besar. "Arghh kenapa sih gue nggak pernah faham sama ini?" Ucapnya frustasi menatap soal di depannya yang harus dikerjakan lalu akan di panggil acak untuk mengerjakan di depan.
"Usaha bentar nanti gue tuntun." Ucap Kresna santai sambil terus menulis.
"Udah, tapi otak gue emang udah nggak nyampek!" Kesalnya sambil mencoret-coret kertas kosong. Kresna melirik sambil geleng-geleng.
"Ayo siapa yang mau maju ke depan?" Tawar Bu Setya kepada murid-muridnya yang mau maju ke depan. Kelas tampak hening seperti tidak ada yang berminat untuk mengorbankan dirinya di pagi hari, lantas tiba-tiba ada celetuk suara, "Rumi bu." Ia adalah Kresna.
Rumi yang tadinya melamun terkejut dan melirik tajam Kresna yang ada di sampingnya,"Kresna..." Geramnya dibalas dengan tawa kecil Kresna.
Rumi berdiri dan dengan jujur berkata,"Saya tidak bisa Bu, saya tidak mampu."
"Iya nggak apa-apa meskipun salah, coba dulu di depan." Rasanya ungkapan itu seperti suara ibu Rumi ketika marah dengan bahasa yang halus.
Dengan terpaksa dan kesal ia berjalan menuju ke depan, menatap rumus di buku dan mulai mengerjakannya, di awali dengan-konsep, diketahui, ditanya kemudian jawab-disitulah ada macet, ya jelas Rumi berhenti di situ karena ia tidak bisa. "Tunggu apa lagi, tinggal masukin aja ke rumus."
Dengan cepat ia memasukkannya ke rumus lalu. "Gimana cara ngitungnya woi?" Batinnya. Tiba-tiba ada sebuah keajaiban, ia teringat ketika ia melirik jawaban milik Kresna tadi, ia sangat ingat dengan jelas. Sambil tersenyum ia menuliskannya dan beruntung sekali Rumi terselamatkan dari ibu Setya.
Begitu ia kembali ke bangku ia mencubit paha Kresna dengan keras hingga Kresna mengeram kesakitan,"RASAIN!" Tegasnya tepat di telinga Kresna. Dan coba tebak apa Kresna menjawab apa? Ia hanya tersenyum penuh kemenangan.
Setelah guru fisika keluar, datanglah ketua kelas yang baru masuk kelas-sebab baru selesai berkumpul organisasi-ia masuk dengan senyuman yang lebar. Karena ada berita yang sangat menyenangkan. "GURU KIMIA NGGAK MASUK KERJAKAN LKS HALAMAN 55 SAMPAI 65, DIKUMPULKAN MINGGU DEPAN!" Teriaknya terdengar sangat melengking.
Kresna memutar duduknya hingga berhadapan dengan Rumi,"Rum, bawa bekal apa?" Pertanyaan itu membuat Rumi semakin kesal. "NGGAK USAH MINTA MAKAN GUE, GUE BUKAN EMAK LO YANG TIAP HARI MASAKIN ELO!" Geramnya lalu pergi begitu saja dengan membawa kotak bekal.
Kresna tentu tidak menyerah begitu saja, ia mengejar Rumi hingga ke depan kelas, "Rumi, Rumi!" Panggilnya.
"Apaan sih?"
"Lo mau makan disini? Sendirian? Lebih baik jangan kan-" di luar kelas sangat banyak murid-murid yang jam pelajarannya kosong sehingga banyak yang sudah pergi mengisi perut. "Lo keliatan menyedihkan makan disini sendiri, mending sama gue."
__ADS_1
"Saran yang bagus," Kata Jiyan yang muncul dari belakang Kresna bersama kembarannya dan Deya.
"Kata siapa gue makan sendirian, wle!" Rumi mengejek Kresna hingga rasanya Kresna sepertinya hari ini akan kelaparan.
"Tapi Rum... Lo tahu sendiri kan?" Ucapnya memelas karena ia tidak pernah membawa uang saku sebab uangnya di tabung untuk masuk kuliah.
Karena Rumi baik ia memanggil Kresna,"Sini, satu sendok aja ya? Dari pada nggak makan sama sekali." Kresna mengangguk bersemangat.
Rumi menjejalkan sendok yang penuh nasi dan lauk ke mulut lebar Kresna. Dan Kresna memberi 2 jempol tanda rasanya sangat enak.
***
Pagi ini mood Rafka benar-benar sudah hancur karena kekasihnya yang marah-marah tidak jelas kepadanya. Rafka benar-benar tidak mengerti apa salahnya hingga membuat Bella marah besar di pagi hari.
-----------------------------------------------------------
BELLA❤
Today
Kebiasaan deh nggak pernah ngabarin!
Woii bangun!
Online tapi nggak bales.
Kemana sih?
Eh, ada apa kenapa?
Masih pagi sayang, iya ini dibales.
__ADS_1
Habis sholat sayang
Kamu udah sholat belum?
Eh, gantian.
Terserah!
-----------------------------------------------------------
Jika sudah seperti ini lebih baik Rafka tidak membalas pesan itu. Ia menutup aplikasi chat tersebut. Lalu, berdiri mengambil sepatu dan menyambar Headset yang berada di meja belajarnya. Ia akan lari pagi sebentar untuk memulihkan moodnya.
Apa pun yang ia lakukan, moodnya tetap saja tidak membaik, bahkan ketika ia sudah sampai di sekolah. Ada sesuatu yang benar-benar menancap di hatinya. Ketika ia akan menuju kelasnya, ia melihat gadis yang paling ia benci sedang tertawa bersama teman-temannya. Tanpa sadar Rafka terus melihat gadis itu hingga tiba-tiba terucap pada hatinya,"Gimana bisa dia membangkitkan mood gue?" Ia tersenyum tipis lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas yang sudah heboh dengan tugas matematika wajib di jam pertama.
"Raf, lo udah?" Tanya Kenya teman sebangkunya yang baru di acak minggu ini.
"Yang mana?" Ia melihat soal yang ada di buku Kenya. "Ohhhhhhhhh... Belum."
"Hiihh lo selalu ngeselin tiap hari." Ucap Kenya langsung pergi membawa bukunya untuk mendapatkan contekan.
"Oh lihat, lo nggak senyum ke Kenya yang jelas-jelas gemesin dan cantik. Tapi lo malah senyum saat ngelihat gadis gempal dan player itu? Kenapa harus dia? Dia udah punya pacar gue juga..." bingungnya.
Saat istirahat pertama, sepuluh teman cowok sekelasnya menuju kantin rame-rame. Rafka berada pada barisan nomor 2. Ia suka sekali berada menyempil tetapi kali ini berbeda. Begitu Rafka baru keluar pintu, ia sudah disuguhi dengan pemandangan gadis gempal itu dan pacarnya(masih dikira pacar oleh Rafka) yang sedang berselisih. Tidak lama datang teman-teman gadis itu. Rasanya Rafka ingin melihat adegan saat ini. Beruntung juga beberapa temannya masih ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Rafka dan teman-temannya berjalan menuju kantin. Dan tepat saat Rafka lewat di samping jelas gadis itu, ia melihat dengan sangat jelas gadis itu sedang menyuapi pacarnya.
"Nyuapin pacar di depan kelas?" Mulutnya yang benar-benar bar-bar itu tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang benar-benar tidak bisa ditolerir untuk saat ini. Hingga teman-temannya yang sadar langsung mengerti siapa yang dimaksud.
"Pacar? Kresna? Lo bego apa kudet? Lo nggak tahu kalau Kresna udah punya pacar? Pacarnya itu yang anak dance ituloh, lo tahu kan? Gue taunya pas latihan basket mereka berdua lagi berduaan." Ade temannya menjelaskan.
"Jadi, mereka bukan pacar? Terus kenapa mereka?" Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Rafka dengan keras, ia adalah Andrea, manusia paling sibuk di kelas ini. "Eh mau kemana? Ngapain berhenti disini?" Tanyanya sambil melihat satu-persatu temannya.
"Udah ah, ayo pergi." Ajak Danu temannya.
__ADS_1
Rafka mengangguk dan kembali mengikuti jalan teman-temannya. Sepanjang perjalanan ia kembali memikirkan kata-kata yang di ucapkan oleh Ade. Sekarang yang perlu Rafka cari adalah gadis itu, gadis anak klub dance pacarnya Kresna. []