
3 bulan kemudian
Rafka menunggu pacarnya yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya di kelas. Ia menatap pacarnya penuh senyuman, ia bersyukur Rumi tidak meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. Setelah ia menjalani masa kritis 3 bulan lalu, kini Rumi telah sehat kembali dan kembali beraktivitas seperti semua remaja pada umumnya. Kini Rumi duduk di kelas 12, sedangkan Rafka kelas 11—ruangan kelas Rumi dulu. Rafka tidak mau mengganggu pacarnya, lebih baik ia menunggu di depan pintu seperti ini. Rumi selalu memakai topi rajut berwarna pink yang di buatkan oleh ibunya dulu. Memang rambutnya belum kembali karena butuh waktu untuk tumbuh. Sudah tiga puluh lima menit ia menunggu di depan pintu sampai Rumi menyelesaikan tugasnya dan baru tersadar kalau pacarnya sudah di depan.
"Astaga kamu kenapa nggak manggil aku sih? Kelas sepi juga," ucapnya sambil merangsekkan buku pada tas nya.
"Aku kan nggak mau ganggu, sulit kah tugasnya?"
"Sekarang terasa mudah," jawabnya lalu menggandeng tangan Rafka tanpa ada rasa malu-malu lagi. Meskipun jantungnya selalu berdebar-debar.
"Seharusnya aku yang menggandeng dulu, dong!!!" Ucapnya tidak terima.
"Sssttt, berisik. Udah ayo pulang."
Rafka langsung terdiam. Mereka berjalan menuju tempat parkir dengan tangan yang terus-menerus bertaut, masa bodo karena tidak akan ada yang melihatnya karena sekolah sudah sepi.
Rafka memakaikan helm pada Rumi secara berhati-hati, ia juga memasang tali pengikat helmnya, meski nanti ia sulit bernapas, karena ini sangat penting.
Rumi yang sedang bersedekap, tangannya di tarik paksa oleh Rafka. Ia selalu menebeng Rafka karena ia merasa trauma menaiki motornya. "Ayo peluk aku," ucapnya.
Rumi terkekeh. "Takut amat, om."
Ucapan'om' itu membuat Rafka melebarkan matanya. "Heh? Emang aku kelihatan seperti om-om ya?" Tanyanya polos.
"Salah dengar kamu. Udah ayo, sayang kita pulang." Ucapnya semakin mengeratkan lingkaran pelukannya pada perut Rafka. Hal seperti ini sangat membahagiakan.
"Raf, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Ini benar-benar mengangguku selama kita pacaran, bukan lebih tepatnya sejak aku menyukaimu."
"Iya apa?"
"Aku kan setiap hari selalu melihat sepeda kamu di tempat parkir, kalau sepeda kamu ada, berati kamu masuk. Kalau nggak ada berarti kamu nggak masuk. Tapi, aku sering banget mendapati kamu nggak masuk. Aku tahu kamu lebih sering pakai motor ini, kalau motor kamu yang hitam aku nggak tahu nomor platnya. Itu dulu sih, jauh sebelum kita pacaran."
Rafka tertawa. "Segitunya? Hmm kadang aku nebeng sama danu, zainul, kadang juga emang nggak masuk karena ada kepentingan."
__ADS_1
"Kepentingan apa? Tapi di absen kamu kok sakit? Kamu sering sakit."
Rafka tidak menjawab. Ia terdiam. Terdiam sangat lama bahkan ketika sampai di depan rumah Rumi. Rumi tidak menanyakannya lagi karena ia mengerti Rafka akan merasa tertekan.
"Kamu nggak mampir?" Ajaknya sambil melepas helmnya yang berwarna merah, persis seperti milik Rafka. Rafka yang sengaja membelikannya helm yang mirip dengan miliknya.
Rafka menggeleng lalu, tersenyum. "Aku langsung pulang saja, kalau udah nyampe aku chat kamu." Rumi mengangguk lalu melambaikan tangan.
"Sayang," panggilnya saat Rumi hendak berbalik dan masuk.
"Iya?" Rumi berbalik lagi menghadap pacarnya.
Raut wajahnya seperti menyembunyikan kesedihan yang luar biasa, Rumi bisa melihat itu—karena Rumi bisa membaca karakter seseorang bahkan dari ekspresi wajahnya. "Besok pergi jalan-jalan yuk?"
***
Hari ini Rumi berangkat sekolah mencoba untuk menaiki motornya. Tanpa memberitahu Rafka, ia berangkat sangat pagi agar jika Rafka menjemputnya nanti, cowok itu bisa segera berangkat tanpa menunggu Rumi. Ia berusaha untuk menghilangkan traumanya, karena ia tidak mau terbelenggu terus menerus oleh perasaan trauma.
Sesampainya di kelas, ialah yang pertama datang. Daripada bosan, Rumi mengerjakan tugasnya yang kurang sedikit lagi selesai. Matematika ia usahakan. Fisika ia perjuangkan. Kimia ia mengertikan dan Rafka ia setiakan. Ia yakin Rafka sangat setia kepadanya. Kemudian, datanglah Kresna yang tidak biasanya datang sangat pagi. Bangku mereka masih sama, mereka masih teman sebangku.
"ASSALAMUALAIKUM!" Teriaknya.
"Wa'alaikumsalam. Nggak usah teriak juga kali, cuma gue yang ada di sini. Kres ini yang nomor 10 susah amat sih?" Tunjuknya sambil menyodorkan buku tugas matematikanya.
Kresna melihat seksama. "Sebenarnya, gue belum selesai sama sekali. Gue salin dulu ya? Entar sambil gue koreksi." Kresna mengeluarkan buku matematika dengan kasar, lalu mengambil bulpoin milik Rumi.
"Lo itu pinter, tapi kenapa malas amat?"
"Yang penting gue ngerti wleee." Ejeknya. Sekarang Kresna fokus menyalin dan Rumi tidak ngapa-ngapain.
Rumi lalu merapikan topi rajut yang terpasang di kepalanya dengan rapi. Lalu, ia keluar dari kelas mencari udara segar sambil menunggu teman-temannya datang. Kelas barunya ini sangat segar, karena berada di paling pojok. Sebelah kiri kelasnya terdapat ladang yang luas, begitupun di belakangnya. Anginnya sangat kencang dan segar ketika siang dan sore hari. Ia duduk menikmati pemandangan ladang. Lalu, datanglah Deya, Jiyan dan Jihan.
__ADS_1
"Eh, ngelamun aja sih! Ngelamunin Rafka ya?" Goda Jiyan. Mereka bertiga ikut duduk bersama dengan Rumi.
Rumi tersenyum. "Nggak ih, gue sekarang nggak se-khawatir dulu. Dimana tiap hari gue khawatir nggak bisa ketemu dia, gue khawatir dia nggak masuk, gue khawatir kalau pas dia lagi sendirian. Sekarang gue kan pacarnya."
"Iya percaya yang sudah menjadi pro bucin." Deya menimpali.
"Ih, beda dong. Levelnya udah di atas bucin lagi ini." Jawab Rumi.
"Jiyan-jiyan." Panggil Firaz teman sekelas mereka semua.
Jiyan melirik sinis. "APA?!" Jawabnya jahat.
"Duduk lebih dari 12 jam sehari dapat meningkatkan resiko kematian, loh." Ucapnya sambil memasukkan tangannya pada saku. Jiyan, Jihan, Deya dan Rumi memperhatikan dengan seksama.
"Iya gue tahu." Jawab Jiyan.
"Biar nggak cepet mati, gimana kalau kita jalan-jalan?"
Jiyan berdiri lalu memukul lengan Firaz temannya yang paling usil padanya sejak awak masuk SMA. "Telek koen!" (Tai kamu) umpatnya. Sontak Jihan, Deya dan Rumi tertawa terbahak-bahak.
Firaz berusaha menghindar dengan berlari menuju ke dalam kelas. Tentu saja Jiyan terus mengejarnya.
Saat Firaz terus berlari berputar-putar di dalam kelas, ia mengungkapkan perasaannya. "Jiyan, gue tahu lo sekarang udah jomblo, lo udah putus kan sama kakak kelas yang waktu itu? Jadi, gue mau lo jadi pacar gue? Lo mau kan? Gue jamin lo nggak bakalan sedih sama selera humor gue."
Jiyan berhenti, "Kenapa gitu sih? Sok-sok banget lo." Ia mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh, karena ia teringat mantan kekasihnya.
Firaz tercengang. "Eh, maaf. Apa gue salah?" Firaz langsung menghampiri Jiyan. Mendekatinya dengan lembut, lalu mengelus punggung gadis itu. "Maafin gue, gue salah ngomong ya?"
Tidak banyak anak-anak yang melihat mereka, karena kebanyakan sibuk menyalin tugas matematika. "KENAPA SIH SETIAP ADA YANG NEMBAK GUE MOMENNYA GAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA?" Curhatnya dengan cepat.
Firaz tersentuh, ia lalu memeluk Jiyan. Rumi dan kedua temannya melihat itu di depan pintu dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Firaz kemudian berbisik di telinga Jiyan. "Jadi, apa lo mau jadi pacar gue?"
__ADS_1
Jiyan terkekeh di pelukan itu. "Iya, mau hehehe."[]