
"Huwahh, bener-bener pengalaman baru ini." Rumi mengusap keringatnya yang deras, senang rasanya bernyanyi bersama fans. Lebih mudah dibilang fansnya Rumi agar membuat dirinya bahagia. Sejujurnya tidak mungkin mereka semua fans Rumi.
"Ini." Irfan mengulurkan air putih.
"Terima kasih suami! Hahahaha." Rumi tertawa sangat keras berniat menggoda Irfan.
"Anjir apa-apaan lo ini. GELI!!!" Ketusnya lalu pergi meninggalkan Rumi.
"Yaaa, niatnya pengen banget bercanda sama Irfan, gue kenapa pengen nangis sih?" Rumi kemudian mengambil tasnya dan bergegas pulang hingga menyalip Irfan yang tengah berjalan. Tetapi ia kembali lagi.
"Gaji gue?"
"Gaji kali ini banyak jadi di transfer aja." Balasnya.
"Oke deh. Gue pulang ya. Bye suamikuhh!" Ucapnya lagi-lagi sambil tertawa sangat keras.
"RUMI, dasar ya."
***
Rafka membuka kotak makan yang belum ia makan sambil mengawasi gadis itu—Rumi yang tengah menunggu dirinya nampak senyum-senyum sambil membaca novel. Sepertinya novel itu sangat seru. Rafka berusaha keras untuk mengintip ke arah jendela sambil menyantap makanannya dan menyeruput air putih. Ia ingin tahu sampai kapan gadis itu menunggunya. Ternyata tidak disangka-sangka. Hingga hampir maghrib gadis itu menunggunya. Rafka merasa bersalah karena telah melakukan tes bodoh yang menyiksa seorang gadis. Ia merutuki dirinya agar tidak akan mengulangi perbuatan bodoh ini lagi. Bahkan saat pulang Rafka mengikuti gadis itu hingga ia mendengar kata suami.
"Siapa? Arghh bercanda ternyata. Eh kenapa gue lega? Bego lagi! Kenapa gue ini." Rafka merasa panik dengan dirinya yang sebenarnya. Namun, saat perjalanan menuju tempat parkir ia tersenyum terus menerus sambil mengelus dadanya.
"Hmmm, biar semua diatur sama tuhan. Aku percaya, aku akan mengenalinya lebih jauh." Gumamnya.
Pagi ini badan Rumi benar-benar remuk dan hancur. Punggungnya seperti orang yang berusia lanjut. "Apa karena faktor usia ya?" Tanyanya kepada Jiyan di depannya. "Bener-bener susah, sakit banget, sebenarnya nggak capek tapi lelah."
"Woi... Rumi mana? Rumi..." Teriak Ang yang baru datang ia teman cowok Rumi yang paling urakan, dia rajin tawuran, rajin tidak mengerjakan pr, rajin membolos dan rajin menonton konser musik.
"Apa? Apa? Gue disini." Ucap Rumi.
"Gila! Keren banget lo kem—" Rumi bergegas berdiri dan menutup mulut Ang lalu menyeretnya keluar kelas.
"Sssttt..."
__ADS_1
"Kenapa ditutup-tutupi sih?" Kata Kresna yang baru datang. "Btw lo kemarin keren emang. Nggak usah malu kali. Justru teman-teman lo itu bangga!"
Rumi melepas tangannya yang menutup mulut Ang dan mengusapkannya pada baju Ang. "Iya lo keren Rum. Gila gue kaget banget pas tahu kalau itu teman sekelas gue! Gue sampai di jotos karena mereka nggak percaya kalau lo temen gue. Ini buktinya." Tunjuknya pada pipinya yang memang besar sebelah.
Sorak-sorai tepuk tangan menggema di kelas itu. "Uwaw," Rumi tidak percaya teman-temannya akan seantusias ini.
"Kalian semua kalau pengen tahu buka aja di YouTube, udah gue kasih link di grup chat kelas." Ucap Kresna lagi kemudian menuju bangkunya dan meniup-niup mejanya yang sedikit kotor.
Rumi menyusul Kresna,"Btw lo kemarin nonton gue?" Tanyanya lalu ikut duduk.
"Iya Cia kan suka sama konser musik. Dia pengen nonton sambil nenangin pikiran katanya, eh kan gue nggak suka nih jadi gue cuma jongkok aja karena pegal. Tiba-tiba pas ada lo Cia lompat-lompat gue jadu terpaksa nonton. Awalnya sih nggak tahu kalau itu lo."
Rumi tersenyum.
"Cia kenapa sekarang jadi baik sih?! Kesel kan gue jadinya."
"Kok kesel?"
"Eh, tapi gue makasih sama cewek lo karena udah peluk gue waktu gue bener-bener hancur,"
"Ada deh pokoknya. Hehe."
"APA?!"
Jiyan dan Jihan terkejut ketika mendengar Adi bercerita kalau Rumi tidak pulang kemarin hingga maghrib. Begitu mendengar itu Jiyan dan Jihan langsung menghampiri Rumi yang sedang duduk-duduk di depan kelas bersama Deya. "Eh, lo kemarin ngapain? Jangan bilang lo nungguin adek kelas nggak tahu diri itu?"
"Nggak apa-apa Jiyan, Jihan. Udah sini duduk."
"Kenapa sih lo ini? Kenapa goblok banget gitu lo. Padahal karena elo pelajaran bahasa Jepang gue jadi bagus." Jelasnya lalu si kembar itu ikut duduk.
"Lo bego menyukainya? Sebaiknya lepaskan saja dia." Ucap Deya tiba-tiba.
"Mau kutaru dimana dia? Di bank? Supaya dapat bunga?" Balas Rumi. "Saat lo menyukai seseorang lo harus belajar menunggu, itu yang gue dapet dari serial korea. Jadi, intinya ini adalah awal dari perjuangan gue. Bahkan bisa dibilang perjuangan gue belum dimulai."
Jiyan, Jihan dan Deya tercengang. Mereka bertiga memeluk Rumi dengan mesra. "hem, kalian ini. Suasananya jadi kelihatan sedih kan." Rumi berusaha menahan air matanya karena ini di depan kelas banyak mata yang memperhatikan, termasuk Rafka yang terus memperhatikan gadis itu dari tadi.
__ADS_1
Bagaimana pun Rumi menahan air matanya tetap saja air mata itu memaksa keluar lalu meluncur dengan mulus melewati pipi tembam Rumi. "Huhuhu..." Ia terisak-isak dan Jiyan semakin erat memeluknya.
Rafka yang melihatnya dari jauh jadi semakin bersalah,"Kenapa harus nangis sih? Cewek nangis itu kelemahan gue, sedangkan cewek gue nggak pernah sekalipun nangis karena gue. Nangisnya cuma waktu minta sesuatu hmm, tapi gue sayang banget sama cewek gue." Gumamnya.
Sejak tadi pagi Andrea sama sekali tidak mengajak dirinya mengobrol. Mata Rafka berkelana mencari keberadaan Andrea tetapi tidak ditemukan. "Kenapa sih disaat kayak gini si Andrea sibuk amat sama tugas negaranya? Hati gue pengen curhat biar tenang."
Karena bosan akhirnya, Rafka membuka ponselnya memeriksa apakah ada sebuah pesan dan ternyata iya. Pesan itu dari pacarnya yang sangat ia cintai. Perbuatan kejar-mengejarnya dulu membuatnya tidak mau melepaskan Bella begitu saja, meskipun saat ini hatinya sedang bimbang. Kepada siapa hatinya sebenarnya berlabu? Itulah pertanyaannya.
____________________________________
BELLA❤
Sekolah?
Iya sayang, gimana sekolah kamu? Masih semangat kan? Katanya mau masuk SMA favorit.
Mending ngawasin kamu, siapa tahu kamu udah jatuh cinta lagi sama cewek lain. Jangan gitu ya? Aku bisa lebih kejam dari apa yang kamu bayangkan!
Kenapa tiba-tiba begitu?
Kalau kamu selingkuh, aku bakalan kawin!
Hah?
Why?
Aku bosan bye!
Sayang kenapa sih selalu begini? Aku lagi, gitu, yang salah? Kamu kenapa selalu memutuskan topik sepihak sih? Iya udah sekarang terserah kamu!
____________________________________
Lagi dan lagi ketidak jelasan sikap ceweknya yaitu selalu saja marah-marah. "Anjir, lo kira gue se bego lo gitu? Mentang-mentang banget jadi cewek. Nggak bisa menghargai seorang cowok sama sekali. Tau ah bodo amat. Apa mungkin karena gue dulu yang maksa dia buat jadi pacar gue? Mangkanya dia jadi gini..." Gumamnya lalu ia menyalakan mode pesawat untuk ponselnya agar tidak ada gangguan lagi.
"Pacaran itu harus saling mengerti satu sama lain. Bukannya gini, apaan ini nggak ada harmonisnya sama sekali? Udah berapa lama lo sama dia? Aduh lo itu cowok kenapa lemah banget kalau sama cewek?" Begitu Andrea datang, Rafka langsung curhat deh.
__ADS_1
"Baru sekitar 1 tahun?"